Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

ISU GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Sep 2016
  • print Cetak
Moechtar Nasution

Moechtar Nasution

Oleh :  Moechtar Nasution
Wakil Direktur GEREP Institute

 

A.PENDAHULUAN

Isu gender bukanlah hal baru untuk diperbincangkan dalam konteks pembangunan sumber daya manusia akan tetapi pengarusutamaan gender ini sepertinya hanya berlaku untuk hal-hal yang lebih banyak menyedot perhatian publik semisal politik, ekonomi, pendidikan dan kepemimpinan. Untuk kategori yang disebutkan tadi, sangat jelas sekali jika pengarusutamaan gender menjadi wajib diaplikasikan. Ini ditandai dengan banyaknya regulasi negara yang mengaturnya mulai dari pusat hingga daerah.

Membincangkan isu gender dalam hal penanggulangan bencana sepertinya terlewatkan begitu saja-jika tidak boleh disebut terabaikan padahal sesuai dengan Undang-undang kebencanaan sama sekali disebutkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, masyarakat dan juga dunia usaha. Tidak ada diketemukan dalam regulasi tersebut ada perbedaan diskriminatif antara peran laki-laki dengan perempuan dalam penanggulangan bencana. Karena itu peran serta perempuan dalam penanggulangan bencana merupakan suatu kewajiban dan perintah negara baik pada pra-bencana, saat bencana maupun pasca bencana.

Isu gender dalam penanggulangan bencana memang menjadi tantangan bagi pemerintah dalam kerangka membangun sistim penanggulangan bencana yang handal guna mewujudkan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.Ruang yang diberikan masyarakat terhadap keterlibatan perempuan masih sangat terbatas bila dibandingkan dengan laki-laki dan ini melemahkan perempuan secara kultural dan sosial padahal sejatinya perempuan juga memiliki potensi yang hampir sama dengan laki-laki.

 

KELOMPOK RENTAN

Ada beberapa kelompok yang sangat rentan mendapat imbas dari bencana yakni perempuan, anak – anak, para usia lanjut dan penyandang cacat. Mereka merupakan kelompok yang paling dominan menjadi korban saat bencana. Keberadaan mereka selalu di rumah akan sangat sulit mendapatkan akses informasi saat bencana tiba. Alhasil, mereka kerap menjadi sasaran amukan bencana yang datang tanpa mengenal waktu. Memang, secara fisik perempuan memiliki kondisi yang relatif lebih lemah dan tidak sesigap laki-laki.

Dan bukan hanya karena fisik semata namun juga secara kultural perempuan lebih sering berada didalam rumah untuk urusan rumah tangga sehingga banyak kemudian informasi-informasi terkini yang tidak terserap dengan baik. Fakta yang tidak terbantahkan saat tsunami meluluhlantakkan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 membuktikan yang dominan menjadi korban adalah kalangan perempuan dan anak-anak.

Ini menjadi fakta empiris yang menyedihkan.Kendatipun perkembangan zaman sudah masuk abad milinium,namun realitasnya saat bencana datang masyarakat sering tidak siap bahkan panik menghadapinya.Tanggung jawab perempuan saat bencana datang menjadi lebih berat karena mereka biasanya berada dalam rumah bersama anak-anak.

Selain menyelamatkan dirinya sendiri, mereka juga harus menyelamatkan anak-anak dan barang-barang. Minimnya pengetahuan dasar bencana bagi perempuan menyebabkan banyak diantara mereka yang lebih fokus menyelamatkan barang-barang berharga sehingga mereka gagal menyelamatkan diri.

Kepanikan yang timbul menyebabkan mereka sering berpikir untuk lebih menyelamatkan barang-barang berharga karena bisa jadi memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sembari mempertaruhkan jiwanya padahal bencana hanyalah bicara sepersekian detik. Harus diakui, tanggung jawab dalam diri perempuan terhadap keluarganya sangat begitu tinggi.

 

PENINGKATAN KAPASITAS PEREMPUAN

Berbicara tentang perempuan tentunya tidak bisa dilepaskan dari gambaran keuletan, keteguhan, dan juga pengabdian. Walaupun secara kekuatan fisik tidak sama dengan laki-laki namun dibalik itu mereka memiliki yang tidak banyak dimiliki laki-laki. Dibalik kerasnya kehidupan dan kerentanan sosial, ekonomi dan budaya, banyak perempuan yang mampu membuktikan kesanggupan untuk bertahan hidup.Jika anda sudah berkeluarga, simaklah dengan baik bagaimana tangguhnya perempuan dalam mengurusi rumah tangga. Mereka menjadi perempuan yang tangguh dan perkasa- yang tidak bisa berdiam diri untuk mengurusi anak dan rumah ditengah keterbatasan yang dimilikinya.

Tentunya potensi ini harus dilirik untuk menjadi  kekuatan yang akan difungsikan membantu penanggulangan bencana. Bukan hanya itu saja, keefektifan perempuan dalam komunikasi publik juga sudah dibuktikan. Pengorganisasian mereka dalam komunikasi akan terlihat nyata ketika mereka membaur dengan sesama. Lihatlah bagaimana pengajian kaum ibu dipedesaan. Nyatanya, mereka mampu mengorganisir diri.

Pengorganisasian yang di pelopori oleh perempuan ini sangat bermanfaat untuk kepentingan mengurangi resiko bencana. Mereka lebih sering berada di rumah dan keberadaannya hampir selalu ada di lingkungan mulai dari pengajian, arisan,kelompok tani bahkan sampai ditapian (pemandian). Potensi ini sangat berguna untuk penyebarluasan informasi dan komunikasi tentang bencana. Selain itu tentu saja ini bisa menjadi kelompok komunal yang bisa difungsikan  sebagai media konsolidasi,saling membagi informasi dan untuk koordinasi.

Ditempat-tempat seperti inilah mereka bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan sekaligus mempererat jalinan silaurrahim. Luar biasa jika potensi ini dikembangkan. Untuk itu, potensi perempuan dalam penanggulangan bencana perlu untuk lebih diberdayakan melalui  beragam kegiatan yang bermuara kepada peningkatan kapasitas. Akan lebih menarik lagi jika peningkatan kapasitas ini juga dibarengi dengan kajian kearifan lokal (local wisdom) dan simulasi kebencanaan secara massif. Paling tidak, harus mendapatkan pengetahuan dasar standar penyelamatan dan juga paham tentang rute evaluasi.

Dengan adanya peningkatan kapasitas perempuan ini diharapkan akan berdampak positif dalam mengurangi jatuhnya korban saat bencana. Pemberdayaan kelompok komunal ini juga berfungsi sebagai alat untuk menanamkan nilai kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

 

KEARIFAN LOKAL DAN PERAN PEREMPUAN

Pentingnya penanaman kembali nilai kearifan lokal ditengah masyarakat sangat mendesak ditengah perputaran zaman yang semakin modern.Banyak hal yang bisa dipetik dari kearifan lokal ini untuk diaplikasikan sebagai bentuk tanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya lagi dalam hal pengurangan resiko bencana dan mitigasi.

Hal ini terbukti di Kabupaten Simeuleu, hanya memakan korban sebanyak 7 orang saat tsunami melanda Aceh, karena di tengah-tengah masyarakat sudah terdidik pengetahuan lokal menyangkut dengan kesiagaan bencana. Padahal jika dilihat dari wilayahnya, kabupaten ini merupakan wilayah paling dekat dengan episenter gempa, secara logika pasti akan banyak memakan korban

Sosialisasi bencana yang melibatkan peran perempuan memang sangat efektif melalui kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi/budaya. Banyak hal yang juga dapat dilakukan bercerita kepada anak – anak melalui hikayat – hikayat atau sering disebut cerita rakyat.Seorang ibu dapat menceritakan masalah bencana sesaat sebelum anak-anak tidur. Pendidikan model seperti ini jauh lebih efektif dan efesien jika dibandingkan dengan pendidikan formal. Pendidikan dengan cara seperti ini akan cenderung melekat kuat pada anak karena bahasa ibu terhadap anaknya sangat melekat secara psikologis.

Jika sedari kecil, anak dibiasakan mendengar cerita tentang bencana, maka hal ini akan melekat dalam jiwa mereka. Selain bercerita, kebiasaan lainnya juga sangat mendukung semisal bernyanyi atau mendendangkan syair-syair. Dari syair – syair dan cerita rakyat tersebut, orang tua—terutama ibu—dapat menceritakan sesaat sebelum anak – anak tidur, sehingga menjadi pendidikan yang sangat baik untuk memberitahukan kepada generasi penerus bahwa bila terjadi seperti apa yang didengar dalam syair tersebut, maka harus segara mencari tempat yang aman. Bahkan melalui syair – syair tersebut para ibu juga dapat mensosialisasikan pentingnya melestarikan hutan untuk mencegah banjir dan kekurangan air di kemudian hari nanti. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Usai Karnaval Budaya, Dua Kelompok Pemuda di Panyabungan Saling Hantam

    Usai Karnaval Budaya, Dua Kelompok Pemuda di Panyabungan Saling Hantam

    • calendar_month Rabu, 16 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Keributan terjadi usai karnaval budaya memeriahkan HUT ke 78 RI di Mandailing Natal ( Madina ) rabu 16/8/2023. Dua kelompok pemuda saling lempar batu di depan kantos Kas Bank Mandiri Panyabungan. Belum diketahui pemicunya, namun sejumlah warga seleaai menonton kegiatan karnaval budaya itu terkena imbasnya. Seorang pemuda dikabarkan mengalami luka bocor […]

  • Video Mesum Mirip Petinggi PKS, Polisi Lacak Akun Fahri Israel

    Video Mesum Mirip Petinggi PKS, Polisi Lacak Akun Fahri Israel

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Tim dari Cyber Crime Bareskrim Mabes Polri melakukan penelusuran terhadap video dengan tampilan pasangan seorang pria mirip wajah Sekjen PKS, Anis Matta dan seorang perempuan cantik, sebagaimana di-share oleh akun twitter Fahri Israel. Seorang sumber di Bareskrim membenarkan soal penyelidikan video ini. “Iya, ini sedang kali dalami, kami selidiki dulu sama anggota Cyber,” ujarnya. […]

  • Banjir Akibat Illegal Logging?

    Banjir Akibat Illegal Logging?

    • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Instansi terkait diminta mengusut penyebab terjadinya bencana banjir di dua desa Kecamatan Ranto Baek beberapa hari lalu sekaligus melakukan tindakan hukum apabila ada kemungkinan terjadinya illegal logging di kawasan hutan hulu sungai. Hal itu disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Mandailing Natal As Imran Khaitami di Panyabungan, Kamis (02/12/2010), usai meninjau lokasi banjir bersama Bupati Aspan […]

  • Akhirnya Si Naknun Masuk Film

    Akhirnya Si Naknun Masuk Film

    • calendar_month Jumat, 5 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Pimred Mandailing Online Tak lama lagi penggemar cerbung “Si Naknun” akan bisa menyaksikan karya Askolani Nasution ini dalam bentuk film. Saya termasuk yang menantikannya. “Insyaallah, syuting perdana akan dilakukan Minggu lusa,” ungkap Askolani di Panyabungan, Jum’at (5/3/202) di sela kegiatan pendalam karakter para calon pemain Si Naknun. Saya juga ikut main […]

  • MENGGAGAS WAJIB BELAJAR 15 TAHUN

    MENGGAGAS WAJIB BELAJAR 15 TAHUN

    • calendar_month Senin, 19 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rahmad Daulay* Wajib Belajar 15 Tahun? Kenapa tidak. Utopis? Ya memang utopis. Tapi menurut saya realistis dengan syarat harus dilakukan dengan beberapa langkah progresif terukur dan sistematis. Dalam era digitalisasi sekarang ini yang dulunya tidak mungkin sekarang ini sudah menjadi mungkin terjadi. Semua pergerakan kebangsaan Indonesia harus merujuk kepada UUD 1945. Dalam bidang […]

  • 8 Fraksi DPRD Sumut Setuju hak Interpelasi

    8 Fraksi DPRD Sumut Setuju hak Interpelasi

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Delapan dari sepuluh fraksi di DPRD Provinsi Sumatera Utara menyetujui untuk mengajukan hak interpelasi terhadap sejumlah kebijakan Pelaksana Tugas Gubernur Gatot Pujo Nugroho. Dalam rapat di DPRD Sumut di Medan, Senin, 22 Agustus 2011 delapan fraksi yang menyetujui interpelasi itu adalah Fraksi Partai Golkar, PDI Perjuangan, Hanura, Gerindra Bintang Reformasi, PPP, PAN, PDS, dan PPRN. […]

expand_less