Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

ISU GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Sep 2016
  • print Cetak
Moechtar Nasution

Moechtar Nasution

Oleh :  Moechtar Nasution
Wakil Direktur GEREP Institute

 

A.PENDAHULUAN

Isu gender bukanlah hal baru untuk diperbincangkan dalam konteks pembangunan sumber daya manusia akan tetapi pengarusutamaan gender ini sepertinya hanya berlaku untuk hal-hal yang lebih banyak menyedot perhatian publik semisal politik, ekonomi, pendidikan dan kepemimpinan. Untuk kategori yang disebutkan tadi, sangat jelas sekali jika pengarusutamaan gender menjadi wajib diaplikasikan. Ini ditandai dengan banyaknya regulasi negara yang mengaturnya mulai dari pusat hingga daerah.

Membincangkan isu gender dalam hal penanggulangan bencana sepertinya terlewatkan begitu saja-jika tidak boleh disebut terabaikan padahal sesuai dengan Undang-undang kebencanaan sama sekali disebutkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, masyarakat dan juga dunia usaha. Tidak ada diketemukan dalam regulasi tersebut ada perbedaan diskriminatif antara peran laki-laki dengan perempuan dalam penanggulangan bencana. Karena itu peran serta perempuan dalam penanggulangan bencana merupakan suatu kewajiban dan perintah negara baik pada pra-bencana, saat bencana maupun pasca bencana.

Isu gender dalam penanggulangan bencana memang menjadi tantangan bagi pemerintah dalam kerangka membangun sistim penanggulangan bencana yang handal guna mewujudkan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.Ruang yang diberikan masyarakat terhadap keterlibatan perempuan masih sangat terbatas bila dibandingkan dengan laki-laki dan ini melemahkan perempuan secara kultural dan sosial padahal sejatinya perempuan juga memiliki potensi yang hampir sama dengan laki-laki.

 

KELOMPOK RENTAN

Ada beberapa kelompok yang sangat rentan mendapat imbas dari bencana yakni perempuan, anak – anak, para usia lanjut dan penyandang cacat. Mereka merupakan kelompok yang paling dominan menjadi korban saat bencana. Keberadaan mereka selalu di rumah akan sangat sulit mendapatkan akses informasi saat bencana tiba. Alhasil, mereka kerap menjadi sasaran amukan bencana yang datang tanpa mengenal waktu. Memang, secara fisik perempuan memiliki kondisi yang relatif lebih lemah dan tidak sesigap laki-laki.

Dan bukan hanya karena fisik semata namun juga secara kultural perempuan lebih sering berada didalam rumah untuk urusan rumah tangga sehingga banyak kemudian informasi-informasi terkini yang tidak terserap dengan baik. Fakta yang tidak terbantahkan saat tsunami meluluhlantakkan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 membuktikan yang dominan menjadi korban adalah kalangan perempuan dan anak-anak.

Ini menjadi fakta empiris yang menyedihkan.Kendatipun perkembangan zaman sudah masuk abad milinium,namun realitasnya saat bencana datang masyarakat sering tidak siap bahkan panik menghadapinya.Tanggung jawab perempuan saat bencana datang menjadi lebih berat karena mereka biasanya berada dalam rumah bersama anak-anak.

Selain menyelamatkan dirinya sendiri, mereka juga harus menyelamatkan anak-anak dan barang-barang. Minimnya pengetahuan dasar bencana bagi perempuan menyebabkan banyak diantara mereka yang lebih fokus menyelamatkan barang-barang berharga sehingga mereka gagal menyelamatkan diri.

Kepanikan yang timbul menyebabkan mereka sering berpikir untuk lebih menyelamatkan barang-barang berharga karena bisa jadi memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sembari mempertaruhkan jiwanya padahal bencana hanyalah bicara sepersekian detik. Harus diakui, tanggung jawab dalam diri perempuan terhadap keluarganya sangat begitu tinggi.

 

PENINGKATAN KAPASITAS PEREMPUAN

Berbicara tentang perempuan tentunya tidak bisa dilepaskan dari gambaran keuletan, keteguhan, dan juga pengabdian. Walaupun secara kekuatan fisik tidak sama dengan laki-laki namun dibalik itu mereka memiliki yang tidak banyak dimiliki laki-laki. Dibalik kerasnya kehidupan dan kerentanan sosial, ekonomi dan budaya, banyak perempuan yang mampu membuktikan kesanggupan untuk bertahan hidup.Jika anda sudah berkeluarga, simaklah dengan baik bagaimana tangguhnya perempuan dalam mengurusi rumah tangga. Mereka menjadi perempuan yang tangguh dan perkasa- yang tidak bisa berdiam diri untuk mengurusi anak dan rumah ditengah keterbatasan yang dimilikinya.

Tentunya potensi ini harus dilirik untuk menjadi  kekuatan yang akan difungsikan membantu penanggulangan bencana. Bukan hanya itu saja, keefektifan perempuan dalam komunikasi publik juga sudah dibuktikan. Pengorganisasian mereka dalam komunikasi akan terlihat nyata ketika mereka membaur dengan sesama. Lihatlah bagaimana pengajian kaum ibu dipedesaan. Nyatanya, mereka mampu mengorganisir diri.

Pengorganisasian yang di pelopori oleh perempuan ini sangat bermanfaat untuk kepentingan mengurangi resiko bencana. Mereka lebih sering berada di rumah dan keberadaannya hampir selalu ada di lingkungan mulai dari pengajian, arisan,kelompok tani bahkan sampai ditapian (pemandian). Potensi ini sangat berguna untuk penyebarluasan informasi dan komunikasi tentang bencana. Selain itu tentu saja ini bisa menjadi kelompok komunal yang bisa difungsikan  sebagai media konsolidasi,saling membagi informasi dan untuk koordinasi.

Ditempat-tempat seperti inilah mereka bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan sekaligus mempererat jalinan silaurrahim. Luar biasa jika potensi ini dikembangkan. Untuk itu, potensi perempuan dalam penanggulangan bencana perlu untuk lebih diberdayakan melalui  beragam kegiatan yang bermuara kepada peningkatan kapasitas. Akan lebih menarik lagi jika peningkatan kapasitas ini juga dibarengi dengan kajian kearifan lokal (local wisdom) dan simulasi kebencanaan secara massif. Paling tidak, harus mendapatkan pengetahuan dasar standar penyelamatan dan juga paham tentang rute evaluasi.

Dengan adanya peningkatan kapasitas perempuan ini diharapkan akan berdampak positif dalam mengurangi jatuhnya korban saat bencana. Pemberdayaan kelompok komunal ini juga berfungsi sebagai alat untuk menanamkan nilai kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

 

KEARIFAN LOKAL DAN PERAN PEREMPUAN

Pentingnya penanaman kembali nilai kearifan lokal ditengah masyarakat sangat mendesak ditengah perputaran zaman yang semakin modern.Banyak hal yang bisa dipetik dari kearifan lokal ini untuk diaplikasikan sebagai bentuk tanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya lagi dalam hal pengurangan resiko bencana dan mitigasi.

Hal ini terbukti di Kabupaten Simeuleu, hanya memakan korban sebanyak 7 orang saat tsunami melanda Aceh, karena di tengah-tengah masyarakat sudah terdidik pengetahuan lokal menyangkut dengan kesiagaan bencana. Padahal jika dilihat dari wilayahnya, kabupaten ini merupakan wilayah paling dekat dengan episenter gempa, secara logika pasti akan banyak memakan korban

Sosialisasi bencana yang melibatkan peran perempuan memang sangat efektif melalui kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi/budaya. Banyak hal yang juga dapat dilakukan bercerita kepada anak – anak melalui hikayat – hikayat atau sering disebut cerita rakyat.Seorang ibu dapat menceritakan masalah bencana sesaat sebelum anak-anak tidur. Pendidikan model seperti ini jauh lebih efektif dan efesien jika dibandingkan dengan pendidikan formal. Pendidikan dengan cara seperti ini akan cenderung melekat kuat pada anak karena bahasa ibu terhadap anaknya sangat melekat secara psikologis.

Jika sedari kecil, anak dibiasakan mendengar cerita tentang bencana, maka hal ini akan melekat dalam jiwa mereka. Selain bercerita, kebiasaan lainnya juga sangat mendukung semisal bernyanyi atau mendendangkan syair-syair. Dari syair – syair dan cerita rakyat tersebut, orang tua—terutama ibu—dapat menceritakan sesaat sebelum anak – anak tidur, sehingga menjadi pendidikan yang sangat baik untuk memberitahukan kepada generasi penerus bahwa bila terjadi seperti apa yang didengar dalam syair tersebut, maka harus segara mencari tempat yang aman. Bahkan melalui syair – syair tersebut para ibu juga dapat mensosialisasikan pentingnya melestarikan hutan untuk mencegah banjir dan kekurangan air di kemudian hari nanti. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Real Count Data C-1 Pleno: SAHATA Menang 50,6 %, ONMA 49,4 %

    Real Count Data C-1 Pleno: SAHATA Menang 50,6 %, ONMA 49,4 %

    • calendar_month Kamis, 28 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution – Atika Azmi Utammi Nasution mendeklarasikan kemenangan dalam Pilkada Madina 2024, Rabu (27/11/2024) malam. Dalam deklarasi itu, Paslon Saipullah-Atika (SAHATA) didampingi oleh Ketua Tim Pemenangan Khoiruddin Faslah Siregar, para pimpinan partai politik pengusung dan pendukung, […]

  • Sekretaris Golkar Sumut : KPU Madina Tak Punya Hak Menyatakan Rekomendasi Bawaslu Cacat Hukum

    Sekretaris Golkar Sumut : KPU Madina Tak Punya Hak Menyatakan Rekomendasi Bawaslu Cacat Hukum

    • calendar_month Selasa, 26 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ):  – Pernyataan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Madina dalam surat nomor 1512/PL.02.3-SD/1213/2/2024 tentang Tindak lanjut surat rekomendasi Bawaslu nomor 098/PP.00.02/K.SU-11/2024 yang menyatakan surat rekomendasi itu cacat hukum, tampaknya membuat Sekretaris DPD Partai Golkar Sumatera Utara, Ilhamsyah bereaksi. Ilhamsyah menilai pernyataan KPU Madina itu tak memiliki dasar. Hal ini dikarenakan dalam Undang-undang […]

  • Jangan Sampai RUUPKS Disahkan

    Jangan Sampai RUUPKS Disahkan

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Novida Sari Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal Sebuah program televisi untuk anak-anak di Denmark menampilkan adegan berupa beberapa orang dewasa yang dikumpulkan, kemudian mereka berdiri tanpa menggunakan busana di depan penonton anak-anak dalam rangka melawan body shaming. Produser acara televisi Denmark tersebut mengatakan bahwa program ini dimaksudkan sebagai alat pendidikan untuk melawan rasa […]

  • Perda Tambang Rakyat Sudah Pernah Terbit, Tatapi Terbentur Regulasi Pemerintah Pusat

    Perda Tambang Rakyat Sudah Pernah Terbit, Tatapi Terbentur Regulasi Pemerintah Pusat

    • calendar_month Rabu, 13 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPRD Madina sudah pernah menerbitkan peraturan daerah tentang tambang rakyat pada tahun 2014 lalu. Hanya saja, peraturan daerah yang diterbitkan itu gagal diberlakukan akibat munculnya regulasi pemerintah pusat dalam bentuk Undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang bertentangan dengannya. Itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina), Zubeir Lubis di gedung DPRD […]

  • Bangun Kepercayaan Publik

    Bangun Kepercayaan Publik

    • calendar_month Senin, 15 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Riani,S.Pd.I Guru tinggal di Medan Sudah genap setahun sejak maret 2020 virus corona masuk ke indonesia, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebarannya, namun hingga kini corona belum juga sirna, malah muncul mutasi varian baru corona B117. Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kini akan diterapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro (PPKM […]

  • Indra Porkas Lubis-Firdaus Nasution Menolak

    Indra Porkas Lubis-Firdaus Nasution Menolak

    • calendar_month Selasa, 1 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sebanyak tiga pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) menandatangani kesepakatan pilkada damai di Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Madina, Panyabungan, Kamis (24/02/2011). Ketiga pasangan calon yang menandatangani kesepakatan yakni, Calon Bupati Nomor Urut 2 Aswin Parinduri, Calon Bupati Nomor Urut 5 Arsyad Lubis, Calon Bupati-Wakil Bupati Nomor Urut 6 Hidayat Batubara-Dahlan Hasan Nasution. Sedangkan […]

expand_less