Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

ISU GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Sep 2016
  • print Cetak
Moechtar Nasution

Moechtar Nasution

Oleh :  Moechtar Nasution
Wakil Direktur GEREP Institute

 

A.PENDAHULUAN

Isu gender bukanlah hal baru untuk diperbincangkan dalam konteks pembangunan sumber daya manusia akan tetapi pengarusutamaan gender ini sepertinya hanya berlaku untuk hal-hal yang lebih banyak menyedot perhatian publik semisal politik, ekonomi, pendidikan dan kepemimpinan. Untuk kategori yang disebutkan tadi, sangat jelas sekali jika pengarusutamaan gender menjadi wajib diaplikasikan. Ini ditandai dengan banyaknya regulasi negara yang mengaturnya mulai dari pusat hingga daerah.

Membincangkan isu gender dalam hal penanggulangan bencana sepertinya terlewatkan begitu saja-jika tidak boleh disebut terabaikan padahal sesuai dengan Undang-undang kebencanaan sama sekali disebutkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, masyarakat dan juga dunia usaha. Tidak ada diketemukan dalam regulasi tersebut ada perbedaan diskriminatif antara peran laki-laki dengan perempuan dalam penanggulangan bencana. Karena itu peran serta perempuan dalam penanggulangan bencana merupakan suatu kewajiban dan perintah negara baik pada pra-bencana, saat bencana maupun pasca bencana.

Isu gender dalam penanggulangan bencana memang menjadi tantangan bagi pemerintah dalam kerangka membangun sistim penanggulangan bencana yang handal guna mewujudkan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.Ruang yang diberikan masyarakat terhadap keterlibatan perempuan masih sangat terbatas bila dibandingkan dengan laki-laki dan ini melemahkan perempuan secara kultural dan sosial padahal sejatinya perempuan juga memiliki potensi yang hampir sama dengan laki-laki.

 

KELOMPOK RENTAN

Ada beberapa kelompok yang sangat rentan mendapat imbas dari bencana yakni perempuan, anak – anak, para usia lanjut dan penyandang cacat. Mereka merupakan kelompok yang paling dominan menjadi korban saat bencana. Keberadaan mereka selalu di rumah akan sangat sulit mendapatkan akses informasi saat bencana tiba. Alhasil, mereka kerap menjadi sasaran amukan bencana yang datang tanpa mengenal waktu. Memang, secara fisik perempuan memiliki kondisi yang relatif lebih lemah dan tidak sesigap laki-laki.

Dan bukan hanya karena fisik semata namun juga secara kultural perempuan lebih sering berada didalam rumah untuk urusan rumah tangga sehingga banyak kemudian informasi-informasi terkini yang tidak terserap dengan baik. Fakta yang tidak terbantahkan saat tsunami meluluhlantakkan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 membuktikan yang dominan menjadi korban adalah kalangan perempuan dan anak-anak.

Ini menjadi fakta empiris yang menyedihkan.Kendatipun perkembangan zaman sudah masuk abad milinium,namun realitasnya saat bencana datang masyarakat sering tidak siap bahkan panik menghadapinya.Tanggung jawab perempuan saat bencana datang menjadi lebih berat karena mereka biasanya berada dalam rumah bersama anak-anak.

Selain menyelamatkan dirinya sendiri, mereka juga harus menyelamatkan anak-anak dan barang-barang. Minimnya pengetahuan dasar bencana bagi perempuan menyebabkan banyak diantara mereka yang lebih fokus menyelamatkan barang-barang berharga sehingga mereka gagal menyelamatkan diri.

Kepanikan yang timbul menyebabkan mereka sering berpikir untuk lebih menyelamatkan barang-barang berharga karena bisa jadi memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sembari mempertaruhkan jiwanya padahal bencana hanyalah bicara sepersekian detik. Harus diakui, tanggung jawab dalam diri perempuan terhadap keluarganya sangat begitu tinggi.

 

PENINGKATAN KAPASITAS PEREMPUAN

Berbicara tentang perempuan tentunya tidak bisa dilepaskan dari gambaran keuletan, keteguhan, dan juga pengabdian. Walaupun secara kekuatan fisik tidak sama dengan laki-laki namun dibalik itu mereka memiliki yang tidak banyak dimiliki laki-laki. Dibalik kerasnya kehidupan dan kerentanan sosial, ekonomi dan budaya, banyak perempuan yang mampu membuktikan kesanggupan untuk bertahan hidup.Jika anda sudah berkeluarga, simaklah dengan baik bagaimana tangguhnya perempuan dalam mengurusi rumah tangga. Mereka menjadi perempuan yang tangguh dan perkasa- yang tidak bisa berdiam diri untuk mengurusi anak dan rumah ditengah keterbatasan yang dimilikinya.

Tentunya potensi ini harus dilirik untuk menjadi  kekuatan yang akan difungsikan membantu penanggulangan bencana. Bukan hanya itu saja, keefektifan perempuan dalam komunikasi publik juga sudah dibuktikan. Pengorganisasian mereka dalam komunikasi akan terlihat nyata ketika mereka membaur dengan sesama. Lihatlah bagaimana pengajian kaum ibu dipedesaan. Nyatanya, mereka mampu mengorganisir diri.

Pengorganisasian yang di pelopori oleh perempuan ini sangat bermanfaat untuk kepentingan mengurangi resiko bencana. Mereka lebih sering berada di rumah dan keberadaannya hampir selalu ada di lingkungan mulai dari pengajian, arisan,kelompok tani bahkan sampai ditapian (pemandian). Potensi ini sangat berguna untuk penyebarluasan informasi dan komunikasi tentang bencana. Selain itu tentu saja ini bisa menjadi kelompok komunal yang bisa difungsikan  sebagai media konsolidasi,saling membagi informasi dan untuk koordinasi.

Ditempat-tempat seperti inilah mereka bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan sekaligus mempererat jalinan silaurrahim. Luar biasa jika potensi ini dikembangkan. Untuk itu, potensi perempuan dalam penanggulangan bencana perlu untuk lebih diberdayakan melalui  beragam kegiatan yang bermuara kepada peningkatan kapasitas. Akan lebih menarik lagi jika peningkatan kapasitas ini juga dibarengi dengan kajian kearifan lokal (local wisdom) dan simulasi kebencanaan secara massif. Paling tidak, harus mendapatkan pengetahuan dasar standar penyelamatan dan juga paham tentang rute evaluasi.

Dengan adanya peningkatan kapasitas perempuan ini diharapkan akan berdampak positif dalam mengurangi jatuhnya korban saat bencana. Pemberdayaan kelompok komunal ini juga berfungsi sebagai alat untuk menanamkan nilai kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

 

KEARIFAN LOKAL DAN PERAN PEREMPUAN

Pentingnya penanaman kembali nilai kearifan lokal ditengah masyarakat sangat mendesak ditengah perputaran zaman yang semakin modern.Banyak hal yang bisa dipetik dari kearifan lokal ini untuk diaplikasikan sebagai bentuk tanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya lagi dalam hal pengurangan resiko bencana dan mitigasi.

Hal ini terbukti di Kabupaten Simeuleu, hanya memakan korban sebanyak 7 orang saat tsunami melanda Aceh, karena di tengah-tengah masyarakat sudah terdidik pengetahuan lokal menyangkut dengan kesiagaan bencana. Padahal jika dilihat dari wilayahnya, kabupaten ini merupakan wilayah paling dekat dengan episenter gempa, secara logika pasti akan banyak memakan korban

Sosialisasi bencana yang melibatkan peran perempuan memang sangat efektif melalui kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi/budaya. Banyak hal yang juga dapat dilakukan bercerita kepada anak – anak melalui hikayat – hikayat atau sering disebut cerita rakyat.Seorang ibu dapat menceritakan masalah bencana sesaat sebelum anak-anak tidur. Pendidikan model seperti ini jauh lebih efektif dan efesien jika dibandingkan dengan pendidikan formal. Pendidikan dengan cara seperti ini akan cenderung melekat kuat pada anak karena bahasa ibu terhadap anaknya sangat melekat secara psikologis.

Jika sedari kecil, anak dibiasakan mendengar cerita tentang bencana, maka hal ini akan melekat dalam jiwa mereka. Selain bercerita, kebiasaan lainnya juga sangat mendukung semisal bernyanyi atau mendendangkan syair-syair. Dari syair – syair dan cerita rakyat tersebut, orang tua—terutama ibu—dapat menceritakan sesaat sebelum anak – anak tidur, sehingga menjadi pendidikan yang sangat baik untuk memberitahukan kepada generasi penerus bahwa bila terjadi seperti apa yang didengar dalam syair tersebut, maka harus segara mencari tempat yang aman. Bahkan melalui syair – syair tersebut para ibu juga dapat mensosialisasikan pentingnya melestarikan hutan untuk mencegah banjir dan kekurangan air di kemudian hari nanti. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMK Negeri Siabu Juara

    SMK Negeri Siabu Juara

    • calendar_month Sabtu, 7 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, SMK Negeri Siabu tampil sebagai juara turnamen bola voli antar Pelajar SLTA se Kabupaten Mandailing Natal yang berakhir Jumat (6/1). Sedangkan SMK Negeri II Panyabungan berada di urutan kedua, SMK Negeri I Panyabungan di posisi ketiga, dan juara IV diraih oleh SMA Negeri I Panyabungan. Bupati Mandailing Natal, HM Hidayat Batubara SE ketika menutup […]

  • Pasar Baru Butuh Pembangunan Jalan Keliling

    Pasar Baru Butuh Pembangunan Jalan Keliling

    • calendar_month Jumat, 6 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    strong>MADINA- Sejumlah pedagang di Pasar Baru Panyabungan Kabupaten Madina berharap agar pemerintah membangun atau mengapspal jalan keliling di pasar. Saat ini jalan keliling hanya sebagian yang diaspal dan sebagian lagi memperihatinkan. Akibatnya, para pelanggan enggan mengelilingi pasar, padahal masih banyak pedagang yang berjualan di sekitar jalan yang rusak karena belum diaspal itu. Pengaspalan ini juga […]

  • Bantu Pemenangan Harun-Ichwan, DPD Gerindra Sumut Jangka Dekat Turun ke Madina

    Bantu Pemenangan Harun-Ichwan, DPD Gerindra Sumut Jangka Dekat Turun ke Madina

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Medan ( Mandailing Online ): Semakin dekatnya hari pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), DPD Partai Gerakan Indonesia Raya ( Gerindra ) Sumut jangka dekat akan turun ke Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) dalam rangka pemenangan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati nonor urut 1 Harun Mustafa Nasution […]

  • Derita Palestina, Derita Kita

    Derita Palestina, Derita Kita

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Suci Hati, S.M Aktivis Dakwah Kota Medan Berita tentang seorang jurnalis yang mengalami tindak kejahatan yang dialami jurnalis Fatima tewas beserta tujuh anggota keluarganya telah menjadi target sasaran serangan brutal tentara Israel karena foto-foto yang menjadi hasil karya dokumentasi beliau terhadap warga Gaza (19/04). Mengingat tentang kondisi saudara kita yang ada di Palestina penderitaan […]

  • Inspektorat Madina : Kades Batang Gadis Wajib Kebalikan Gaji Dobel yang Diterima

    Inspektorat Madina : Kades Batang Gadis Wajib Kebalikan Gaji Dobel yang Diterima

    • calendar_month Senin, 10 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – (Mandailing Online) –  Masih ingat Erwinsyah Pasaribu seorang Kepala Desa Batang Gadis, di Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang nekat memiliki dua jabatan dan penerimaan gaji yang dobel dari negara. Inspektorat Madina menegaskan sang Kades harus mengembalikan uang negara jika benar terima 2 sumber gaji yang berasal dari APBD. […]

  • Pasca Meninggalnya Satu Orang, Warga Pagur Divaksinasi

    Pasca Meninggalnya Satu Orang, Warga Pagur Divaksinasi

    • calendar_month Selasa, 22 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Puskesmas Gunung Baringin bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Madina melakukan vaksinasi terhadap warga Desa Pagur, Panyabungan Timur. Vaksinasi ini sebagai uapaya memutus sebaran bakteri Corynebacterium diphtheriae penyebab penyakit difteri yang menyerang salah satu warga dan telah meninggal dunia pekan lalu. Kepala Tata Usaha Puskesmas Gunung Baringin, Subari Ikhsan menjawab wartawan, Selasa […]

expand_less