Rabu, 22 Apr 2026
light_mode

Kisah Nyai Jepang dan Praktek Prostistusi di Aceh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 5 Agt 2022
  • print Cetak

Ketika Jepang masuk ke Aceh, mereka juga membawa ratusan perempuan dukungan, pemuas birahi para tentara dalam perang dunia kedua.

Orang Aceh menyebut para perempuan itu sebagai Nyai Jepang, sementara orang Jepang sendiri menamainya Jugun Ianfu .

Kisahnya hampir sama dengan tempat prostistusi masa kolonial Belanda berkuasa di Aceh yang dibangun pensiunan tentara berkebangsaan Yahudi bernama Bolchover.

Kisah tentang tempat pelacuran Bolchover ini bisa dibaca dalam buku Peutjoet. Buku yang ditulis oleh Tjoetje mantan pegawai Kolonial Belanda di Bestuurs Meulaboh, Aceh Barat, diterbitkan pada tahun 1972. Isi buku masih menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Sementara kisah Nyai Jepang di Aceh, bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan. Buku ini ditulis oleh Teuku Alibasyah Talsya, diterbitan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh.

Talsya menceritakan, ketika kekuasaan Jepang berakhir di Aceh. Residen Aceh mengambil alih berbagai kantor pemerintahan dan merebut senjata-senjata Jepang untuk menghalau kemungkinan masuknya tentara NICA dan sekutu ke Aceh.

Dalam suasana pesta pernikahan tersebut, ada suatu masalah meyangkut kehidupan di Aceh, yakni keberadaan-wanita peliharaan Jepang.

Pada 8 November 1945, Residen Aceh mengeluarkan maklumat berisi pengumuman bahwa praktek mainan dan pemeliharaan nyai, dilarang, mulai tanggal 9 November 1945, jam 01.00, meskipun sebelumnya sudah mendapat izin dari Gunseibu (Pemerintah Jepang).

Dalam maklumat tersebut Residen Aceh juga melarang penjualan minuman keras (arak) yang pada masa pendudukan Jepang diperjualbelikan secara bebas. Izin praktek mainan dan penjualan minuman keras dari Gunseibu tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi, karena Residen Aceh sudah membentuk pemerintahan baru. Senjata api yang tidak memiliki surat izin diminta untuk segera diserahkan kepada pihak yang berwajib (Residen Aceh).

Masalah kemudian adalah, bagaimana dengan keberadaan para wanita peliharaan di tempat prostistusi (Nyai Jepang) tersebut setelah keluar dari Aceh, sementara para perempuan peliharaan tersebut merupakan wanita-wanita dari luar Aceh yang dibawa ke Aceh sebagai wanita perhatian.

Kisah tempat prostistusi di Aceh juga terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Adalah Bolchover mantan tentara Belanda berkebangsaan Yahudi yang membuka tempat prostistusi pertama di Aceh.

Ketika pensiun dari dinas kemiliteran, Bolchover membangun sebuah perkebunan di bekas tempat pemeliharaan kuda kalvaleri militer Belanda, letaknya di sebelah selatan Kerkhof Peucut komplek kuburan Belanda di Banda Aceh.

Awalnya Bolchover hanya berkebun di sana, tapi kemudian ia membangun tempat penginapan, lengkap dengan bar dan tempat hiburan malam. Para tentara Belanda kelas bawah yang kelelahan dari tugas dinas kemiliterannya di Aceh, sering datang ke tempat Bolchover tersebut untuk mencari hiburan.

Begitu juga dengan para istri tentara Belanda yang disimpan di luar Banda Aceh. Mereka sering mendengar musik, berdansa, dan menikmati minuman keras di tempat Bolchover, sehingga kemudian terjadi berbagai kisah perselingkuhan antara tentara Belanda dengan para istri rekannya yang melakukan operasi militer dan di luar Banda Aceh.

Dari kisah perselingkuhan, kemudian tempat-tempat tersebut tumbuh menjadi tempat prostistusi. Bolchover yang semula membangun perkebunan, kini lebih banyak mendapat keuntungan dari bar dan rumah penginapannya, sehingga tempat Bolchover tersebut menjadi tempat yang sangat negatif. Tjoete menyebut tempat itu sebagai komplek perkebunan dan tempat pembohong seks.

Setelah Belanda kalah, ketika Jepang masuk ke Nusantara, tempat-tempat prostistusi seperti taman Bolchover tersebut tidak hilang, malah praktik prostistusi semakin bertambah dengan adanya wanita-wanita peliharaan yang dibawa oleh Pemerintah Jepang dari wilayah lain ke Aceh.

Tempat-tempat praktek prostistusi malah diberi izin oleh Gunseibu (Pemerintah Jepang) sebagai tempat beroperasinya para wanita yang dibawa Jepang sendiri ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan biologis pejabat dan tentara Jepang.

Praktek protistusi baru benar-benar hilang di Aceh setelah Residen Aceh Teuku Nyak Arief berhasil melucuti kekuasaan Jepang. Terhitung sejak 9 November 1945 pukul 01.00 siang semua tempat prostistusi resmi ditutup, dan minuman keras dilarang beredar di Aceh.

Penulis: Iskandar Norman
Dikutip dari: Facebook akun Teuku Malikul Mubin

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Madina Tangkap Pencuri Sepeda Motor

    Polres Madina Tangkap Pencuri Sepeda Motor

    • calendar_month Jumat, 27 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Polres Madailing Natal menangkap satu orang pencuri sepeda motor. Penangkapan ini merupakan hasil pemburuan terhadap pelaku pencurian kendaraan bermotor yang akhir-akhir ini sangat meresahkan masyarakat. “Tersangka berinisial NT (20 tahun) warga Jalan Lintas Timur, Panyabungan,” ungkap Kasat Reskrim Polres Madina, AKP Hendro Sutarno kepada wartawan, Jum’at (27/5) di Mapolres Madina. “Pada […]

  • Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-; Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Mandailing Natal (AMP2M) bersama Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) berdemonstrasi ke kantor Pemkab dan DPRD Madina, Kamis (28/10). Mereka meminta pejabat terkait bertanggung jawab atas defisit anggaran tahun 2010 yang berjumlah Rp19,7 miliar, dan mendesak Pejabat (Pj) Bupati Aspan Batubara dan DPRD membentuk tim auditor defisit anggaran tersebut. […]

  • PLN Putus Listrik BPM, Indikasi Sistem Birokrasi Madina Melemah

    PLN Putus Listrik BPM, Indikasi Sistem Birokrasi Madina Melemah

    • calendar_month Rabu, 19 Apr 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kasus pemutusan listrik di gedung Badan Pemberdayaan Masyarakat  Mandailing Natal (Madina) dinilai sebagai indikator kian melemahnya sistem birokrasi Kabupaten Madina masa kini. Pihak PLN memutus listrik ke gedung Badan Pemberdayaan Masyarakat  Madina dua pekan lalu karena instansi itu tak mampu membayar tagihan. Kondisi ini dinilai kalangan DPRD Madina sebagai gambaran bahwa […]

  • Oleh-oleh yang Dibawa PDM dari Pesta Sains Nasional di IPB

    Oleh-oleh yang Dibawa PDM dari Pesta Sains Nasional di IPB

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masuk Kategori 3 Besar Guru Terbaik dan Segudang Pengalaman BORNEO-TAPSEL; Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) bersaing ketat di Pesta Sains Nasional IPB Bogor, pada Jumat (12/11) sampai Minggu (14/11) lalu. Pada ajang bergengsi tersebut, guru Darul Mursyid atas nama Lailina SP masuk 3 besar kategori guru terbaik pada Workshop Cara Belajar Sains yang […]

  • KEMAUAN MENUNTASKAN POLEMIK

    KEMAUAN MENUNTASKAN POLEMIK

    • calendar_month Minggu, 16 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Di triwulan pertama 2013 dua hal yang yang bisa dicatat di Madina. Pertama penghentian sementara aktivitas PTPN IV. Kedua peristiwa amuk massa di Naga Juang terkait tambang rakyat. Meski tak terkait, benang merahnya ada. Yakni, dilema antara kenyamanan investor dan melindungi rakyat. Pemerintah daerah tentu harus mampu berada di antara kedua kutup ini. PTPN IV […]

  • KTNA Madina Rembug Perdana, Bahas 5 Issu Pertanian Perkebunan

    KTNA Madina Rembug Perdana, Bahas 5 Issu Pertanian Perkebunan

    • calendar_month Kamis, 24 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah dilantik bulan lalu, pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Mandailing Natal (Madina) melakukan rembug pertama, Kamis (24/4/2014) membahas sekitar 5 poin issu pertanian dan perkebunan. Upaya mengembangkan kembali jeruk maga di kawasan Sibanggor menjadi salah satu topik bahasan. Jeruk Maga yang sempat terkenal dari Madina sempat punah akibat serangan virus […]

expand_less