Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

PETI dan Jatuhnya Korban Jiwa: Bukti Kegagalan Pemerintah Mengurus Rakyat

  • account_circle Muhammad Hanapi
  • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
  • print Cetak

 

Oleh : Irwan H Daulay | Pemerhati Ekonomi

Menurut pemberitaan Mandailing Online, telah terjadi musibah di lokasi PETI Dompeng, Desa Simanguntong, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, pada Rabu (18/3/2026).

Laporan yang diterima menyebutkan tiga orang tertimbun material tambang. Dua orang dinyatakan meninggal dunia, sementara satu orang lainnya berhasil selamat. Hingga saat ini, identitas korban belum terkonfirmasi. Camat Batang Natal, Wahyu Siregar, saat dikonfirmasi belum memberikan keterangan, demikian juga pihak Polsek setempat.

Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan cermin nyata dari kegagalan negara dalam mengurus rakyatnya.

Di tengah kelesuan ekonomi, rakyat tetap harus bertahan hidup. Kebutuhan makan tidak cukup hanya sekali sehari dan bagi anak —sebagaimana narasi bantuan yang sering didengungkan oleh proyek MBG—melainkan makan minimal tiga kali sehari untuk seluruh anggota keluarga: ayah, ibu, anak, hingga orang tua yang tinggal dalam satu atap. Itu baru kebutuhan dasar, belum termasuk kebutuhan hidup lainnya.

Ketika negara gagal menyediakan lapangan kerja yang layak, rakyat dipaksa mencari jalan sendiri. Pilihan yang tersedia sering kali adalah pekerjaan berisiko tinggi seperti PETI, tanpa standar keselamatan yang memadai. Akibatnya, tragedi demi tragedi terus berulang—dan nyawa menjadi taruhannya.

Ironisnya, kejadian seperti ini di Mandailing Natal bukanlah yang pertama. Namun, tidak terlihat adanya sense of crisis dari pemerintah. Tidak ada langkah sistematis dan berkelanjutan untuk menghentikan siklus kematian ini. Respons yang muncul kerap bersifat insidental—sekadar menunjukkan empati sesaat, tanpa menyentuh akar persoalan.

Padahal, setiap nyawa yang hilang adalah tanggung jawab pemerintah, tanggungjawab pemilik kekuasaan.

Ke depan, tragedi seperti ini tidak boleh lagi dianggap sebagai risiko biasa. Harus ada upaya serius dan terukur untuk mencegahnya: pembukaan lapangan kerja yang layak, penertiban aktivitas tambang ilegal melalui layanan perizinan yang mudah, murah dan mengikuti standar keselamatan kerja serta penyediaan alternatif sumber-sumber perekonomian yang aman bagi masyarakat.

Pemerintah dituntut tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga kemauan untuk menyelesaikan masalah. Tanpa kedua hal tersebut, tragedi serupa akan terus berulang. Kemauan dan kemampuan adalah standar minimal memecahkan masalah publik, tanpa ke duanya niscaya masalah-masalah seperti ini akan terus berulang dan menimbulkan korban yang lebih banyak.

Kejadian ini sangat tragis, apalagi peristiwa ini terjadi menjelang Idul Fitri—momen di mana banyak kepala keluarga berjuang keras untuk membahagiakan orang-orang tercinta. Namun, harapan itu justru berakhir tragis, niat bahagia berakhir duka.

Nyawa tidak boleh dianggap remeh. Negara harus hadir, bukan sekadar memberi respons, tetapi benar-benar mengambil tanggung jawab penuh dan memastikan kejadian seperti ini tidak terulang kembali.(*)

  • Penulis: Muhammad Hanapi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Partispasi Rendah, Siapa Salah?

    Partispasi Rendah, Siapa Salah?

    • calendar_month Selasa, 15 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Amir, warga Desa Parbangunan, Panyabungan, memilih ke ladang ketimbang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Pria berusia sekitar 41 tahun ini, merasa rugi kalau harus menyambangi TPS. Soalnya, memberikan hak pilih justru akan membuat dia rugi secara ekonomi. Dia mengaku, andai bekerja di ladang selama sehari, uang yang akan didapat bakal cukup untuk memenuhi kebutuhan […]

  • Inspektorat Diminta Evaluasi Dana Desa Muara Mais

    Inspektorat Diminta Evaluasi Dana Desa Muara Mais

    • calendar_month Sabtu, 1 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      TAMBANGAN (Mandailing Online) – Pihak Inspektorat Madina diminta melakukan evaluasi terhadap penggunaan anggaran Dana Desa di Desa Muara Mais, Kecamatan Tambangan, Madina. Khususnya penggunaan Dana Desa TA 2018 untuk proyek pembangunan jalan jenis rabat beton di kawasan Aek Kapias, Muara Mais. Hal itu dikatakan sejumlah warga yang mengaku penduduk Muara Mais kepada wartawan, Kamis […]

  • Di Madina, Dana Desa Telah Gagal Membangun Ekonomi Desa

    Di Madina, Dana Desa Telah Gagal Membangun Ekonomi Desa

    • calendar_month Senin, 3 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penggunaan Dana Desa di Mandailing Natal sejauh ini telah gagal membangun perekonomian warga desa. Indikasi kegagalan itu berdasar data pengalokasian yang menunjukkan mayoritas pemerintah desa di Mandailing Natal (Madina) masih fokus menetapkan Dana Desa di sektor pemukiman, baik pembangunan gang pemukiman atau parit gang pemukiman. “Hanya ada satu dua desa […]

  • Budidaya Jengkol Belum Diseriusi

    • calendar_month Senin, 3 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Mandailing Natal (Madina) belum ada petani yang menekuni budidaya jengkol secara terrencana dan tertata dan berskala luas. Meski ada yang sengaja menanam, tetapi hanya sebatas tanaman sampingan. Padahal, kebutuhan terhadap buah jengkol termasuk cukup tinggi di pasaran. Di Madina saja, dalam perhari sekitar 800 kilo gram mampu diserap konsumen. “Belum […]

  • Hidayat-Dahlan Harus Segera Tuntaskan Persoalan Listrik

    Hidayat-Dahlan Harus Segera Tuntaskan Persoalan Listrik

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho melantik Bupati-Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Periode 2011-2016 Hidayat Batubara-Dahlan Hasan Nasution di Gedung Serba Guna Pemkab Madina, Panyabungan, Selasa (28/06/2011). Pengambilan sumpah Bupati-Wakil Bupati Hidayat -Dahlan berdasarkan SK Mendagri No: 131.12-468 Thn 2011 dan SK Mendagri No: 132.12-469 Tahun 2011 tentang penetapan pengangkatan Bupati-Wakil Bupati […]

  • Kinerja Kabupaten/Kota di Sumut, Psp Peringkat 66, Tapsel 205

    Kinerja Kabupaten/Kota di Sumut, Psp Peringkat 66, Tapsel 205

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Kinerja kabupaten/kota di wilayah Sumut mengecewakan. Untuk tingkat kabupaten misalnya, dari 344 kabupaten se-Indonesia, tidak satu pun kabupaten di Sumut yang masuk 10 besar. Terbaik di Sumut adalah Kabupaten Tapanuli Utara yang menduduki peringkat 48 dengan skor 2,5876. Menyusul kemudian Serdang Bedagai 63 (2,5639), Langkat 103 (2,4669), Samosir peringkat 107 (skor 2,4592), Deli Serdang […]

expand_less