Minggu, 3 Mei 2026
light_mode

IKANAS Sumut Antara Panggung dan Manuver 90 Hari

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Hari ini (Ahad, 3 Mei 2016), DPD Ikatan Keluarga Nasution dohot Anakboruna (Ikanas) Sumatera Utara periode 2026-2031 menjalani prosesi pelantikan. Momentum ini kerap dianggap sebagai puncak kerja dan beban terbesar dalam berorganisasi.

Suasana tentu meriah. Heboh. Tamu penting dan undangan kehormatan menempati jejeran sopa di baris terdepan. Yang jauh pun merapat. Membludak. Banyak yang tak kebagian tempat duduk. Hingga aula besar terasa sesak.

Ada panggung yang megah. Susunan acara yang apik. Doa husyuk berkumandang. Tak lupa, hiburan gordang sambilan yang terasa segar penuh spirit pun menambah kesemarakan.

Ada kecenderungan yang berulang:
– kepemimpinan yang dianggap cukup dengan penampilan, termasuk dalam rapat-rapat persiapan dan pemasangan billboard acara untuk publikasi;
– Lampiran atau sambutan disusun rapi dan penuh semangat;
– gestur terlihat amat meyakinkan; dan
– agenda padat dan tingkat kehadiran undangan yang tinggi.

Padahal, di banyak organisasi, justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai: setelah panggung selesai, baru tampak siapa yang terus berjuang dan yang mana yang benar-benar bekerja.

Apakah Ikanas Sumut akan maju melejit ke depan? Stagnan atau mundur?

 

Riak Panggung Semarak

Masa-masa landai selesai. Masuk jalan yang mulai terjal. Kadang menukik. Habis turunan, tikungan. Apakah sang sopir cukup lihai, masih jadi pertanyaan banyak pihak.

Ibarat pasukan, apakah kepengurusan ini cukup solid untuk bersinergi? Bisa saling mengisi dan menggiring bola layaknya tim sepak bola? Lengkap, kompak dan berdampak?

Lebih dari itu, capaian akhir dari kepengurusan periode sebelumnya, termasuk pe-er yang belum tuntas, juga menjadi satu patokan penting. Tingkat keberhasilan dalam pembentukan DPC di Sumut, misalnya, merupakan titik awal kinerja kepengurusan yang baru.

Akselarasi tim baru ini berhadapan dengan beban untuk tidak hanya melanjutkan progres, tapi juga mestinya mampu melampai prestasi pengurus lama. Tanpa kepemimpinan, beban bawaan ini pasti bikin perjalanan justru melambat, tersendat atau terhenti.

Di depan, visi dan misi membentang. Tantangan program jelas makin berat. Ujian kegiatan makin ketat pekan ke pekan. Bulan ke tahun hingga satu periode.

Maka, Ikanas Sumut harus mengatasi dua beban berat, yaitu: 1) beban lama dan 2) beban baru. Salah-salah identifikasi masalah, bisa berakibat fatal. Bukankah keadaan ini sebenarnya sudah seperti di ujung tanduk?

Ketika riak jadi ombak, yang semarak pun bisa berantakan. Seperti mobil, yang dibutuhkan tak cuma kendali supir. Harus ada hitungan timing, skil.

Namun, sejatinya, penggerakan tidak terjadi karena kesan yang ditampilkan. Air beriak bukan karena kesemarakan yang ada di atasnya. Seperti semua organisasi, Ikanas Sumut hanya menggeliat gesit dengan keputusan yang tepat, tindakan cepat dan kerja kreatif yang konsisten.

Masalahnya, tidak semua pengurus yang sudah siap tampil pun, mampu memahami medan perjuangan nyata yang kompleks seperti itu.

Apalagi jika kepemimpinan yang muncul datang dari pengalaman yang masih tipis dan konsepsi organisasi yang kering.

 

Ketua Baru, Medan Baru

Ikanas bukan organisasi biasa. Ini adalah organisasi primordial yang senantiasa menampilkan medan baru dan tantangan berat.

Struktur formal, relasi kultural, tata nilai yang tidak selalu tertulis dan budaya organisasi yang tiba-tiba berubah dapat menjadikan jalan perjuangan yang makin terjal.

Ketika pemimpin belum cukup mengenal medan, dia cenderung:
– menyederhanakan persoalan yang kompleks, atau sebaliknya;
– ragu-ragu mengambil keputusan yang sebenarnya perlu segera.

Di posisi ini pun, kesalahan paling halus sering terjadi: bukan pada niat, tetapi pada cara membaca situasi menjawab problematika yang mencuat.

 

Hatobangan: Penjaga Arah dan Marwah

IKANAS memiliki kekuatan kultural yang tidak dimiliki kebanyakan organisasi, yaitu: unsur hatobangan.

Masalahnya, bukan karena peran ini menghambat. Justru yang sering terjadi adalah sebaliknya: mereka tidak dilibatkan secara utuh dalam menetapkan arah dan menjaga marwah organisasi, namun hanya diingat ketika pengurus harian butuh legitimasi.

Di titik ini, kepemimpinan diuji:
– apakah mampu membangun sinergi yang tulus, atau
– hanya menjadikan dimensi adat sebagai pelengkap seremoni.

Padahal, tanpa hubungan yang sehat dengan hatobangan, debut organisasi mudah goyah — meski terlihat berjalan normal.

 

Kolektivitas yang Rentan

Kepemimpinan kolektif di level DPD adalah kekuatan yang terhubung langsung dengan perintah DPP di atas dan tuntutan DPC di bawah.

Namun tanpa kejelasan peran, konsistensi dan disiplin pada partitur yang ada: Kolektivitas bisa berubah menjadi kebersamaan tanpa beban dan tanpa tujuan (hampa).

Semua boleh hadir. Semua berbicara. Namun tidak semua pengurus harian mau dan siap bergerak.

 

DPD dan Ilusi Aktivitas

Ada kalanya organisasi mengalami stagnasi. Rapat berjalan. Agenda tersusun. Dokumentasi tersedia. Bahkan publikasi boleh saja live di medsos.

Namun pertanyaan sederhana tetap relevan: Apa yang berubah dari kinerja dan capaian dalam memenuhi semua tuntutan organisasional?

Jika DPP dan DPC belum merasakan manfaat, maka yang terjadi bukan kemajuan — melainkan ilusi gerak.

 

Ujian Nyata: 90 Hari yang Menentukan

Organisasi tidak butuh waktu panjang untuk menunjukkan arah dan kinerja.

Mengacu dari kompleksitas pengorganisasian di atas, Ikanas Sumut dapat membuat hitungan 90 hari.
Maka, di 30 hari pertama, Ikanas Sumut sudah: 1) membaca, mempola dan merapikan; 2) melakukan validasi pengurus DPD dan anggota di seluruh DPC; 3) aktivasi kanal komunikasi yang hidup; dan 4) konsolidasi awal dengan hatobangan (arah & nilai perjuangan).

Selanjutnya, di 30 hari kedua, kekuatan nyata mulai terlihat. Organisasi mulai bekerja, setidaknya, untuk:
1) Memainkan program ekonomi sederhana berbasis anggota; 2) menjalankan program pendidikan (mentoring/beasiswa mikro); dan 3) Aktivasi nyata DPC dan divisi (Wanita IKANAS & Naposo Nauli Bulung Ikanas).

Manfaat organisasi mulai terasa.

Lalu, pada 30 hari ketiga, Ikanas Sumut semestinya sudah dapat membuktikan bahwa: 1) Mayoritas DPC memiliki program yang berjalan; 2) Laporan berbasis dampak, bukan kegiatan; dan 3) Pola kerja yang bisa direplikasi

Ikanas Sumut mulai menampakkan wajah kerja yang energik.

 

Manuver Elegan: Ukuran Kepemimpinan

Semua fakta dan gejala tidak membutuhkan gebrakan keras. Yang dibutuhkan adalah manuver elegan:
– Bergerak cepat tanpa gaduh;
– Melibatkan tanpa kehilangan arah,
– Menghormati tanpa kehilangan ketegasan.

Dan, di sinilah peran ketua menjadi penentu: bukan sebagai pusat perhatian, tetapi sebagai “penjaga ritme dan arah”.

 

Kembali ke Amanah

Pada akhirnya, DPD IKANAS Sumut tidak berdiri sendiri. Memikul amanah dari:
– DPP sebagai arah organisasi, dan
– keluarga besar IKANAS sebagai sumber legitimasi.

Amanah ini tidak meminta penampilan. Tapi menuntut kerja nyata. Terasa.

 

Penutup: Setelah Panggung Sepi

Ketika pelantikan usai, yang tersisa bukan tepuk tangan — melainkan tanggung jawab. IKANAS tidak membutuhkan pemimpin yang terlihat bergerak. IKANAS butuh pemimpin yang benar-benar menggerakkan.

Jika tidak, organisasi ini akan tetap besar di nama, namun perlahan kehilangan makna, peran dan legitimasi.

Selamat dan bersiaplah, Ketua dan segenap pengurus DPD Ikanas Sumut 2026-2031.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemeriahan HUT Madina

    Kemeriahan HUT Madina

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Salah Satu Stand Pameran Pembangunan yang memeriahkan Hari ulang tahun kabupaten Madina yang ke 17. Telihat dalam foto Stand RSUD Panyabungan yang menjadi salah Satu Favorit pengunjung dengan Maket Master Plan Perencanaan Pengembangan RSUD Panyabungan.

  • KEK, realistis dan ilutif

    KEK, realistis dan ilutif

    • calendar_month Kamis, 19 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Siapapun pasti ingin ada KEK di wilayahnya. Daerah manapun pasti ingin ada KEK di daerahnya. Kapitalis macammanapun pasti ingin ada KEK di basis usahanya. Rakyat manapun pasti setuju ada KEK di kabupaten mereka. Harapan itu wajar. Keingingan itu alamiah. Karena KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) akan menguntungkan dari sisi pengembangan ekonomi. Tetapi, berkhayal dan berilusi […]

  • Kapolres Madina Berganti

    • calendar_month Sabtu, 1 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jabatan Kepala Polisi Resort (Kapolres) Mandailing Natal (Madina) berganti. Kursi kapolres yang selama ini diduduki AKBP Achmad Fauzi Dalimunthe S.Ik, kini digantikan oleh AKBP Mardiaz Kusin Dwihananto, S.Ik. Ahmad Fauzi Dalimunthe kini menduduki jabatan Kapolres Kabupaten Labuhan Batu. Dia memimpin Polres Madina sekitar 2 tahun. Sementara Mardiaz Kusin sebelumnya menjabat Kapolres […]

  • Komisi I DPR Sepakati Usulan Penetapan Kabupaten Pantai Barat Mandailing

    Komisi I DPR Sepakati Usulan Penetapan Kabupaten Pantai Barat Mandailing

    • calendar_month Rabu, 5 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Komisi I DPR menyepakati pengusulan penetapan pendirian Provinsi Sumatera Tenggara dan Kabupaten Pantai Barat Mandailing. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya penandatanganan dan usul penetapan Daerah Otonomi Baru Provinsi Sumatera Tenggara Sumatera dan Kabupaten Pantai Barat Mandailing antara para kepala daerah se-Tabagsel dengan anggota Komisi I DPR RI di gedung Nusantara […]

  • Nama-nama 26 Anggota DPRD Madina Yang Mengajukan Hak Interpelasi

    Nama-nama 26 Anggota DPRD Madina Yang Mengajukan Hak Interpelasi

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dokumen usulan hak interpelasi kepada bupati Mandailing Natal (Madina) resmi diajukan oleh 26 anggota DPRD Madina kepada pimpinan DPRD Madina, Rabu (10/12) di gedung dewan. Dalam dokumen usulan hak interpelasi bernomor 170/837/DPRD/2014 tertanggal 10 Desember 2014 itu, nama-nama yang menandatangani adalah : 1. As Imran Khaitamy Daulay (Fraksi Golkar), […]

  • Aspirasi Ade Melalui Mural

    Aspirasi Ade Melalui Mural

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Diurnarii Publisher / Zakiyah Rizki Sihombing “Dalam mural aku bukan cuma sekedar coret-coret dinding, tapi ada makna yang ingin aku ungkapkan lewat mural ini” Ungkap Ade di sela-sela kesibukannya mengaduk cat sebelum memural. Pada kenyataannya setiap orang memiliki ekspresi yang berbeda dalam kehidupan. Profesi, skill, bakat menjadi modal utama bagi seseorang dalam […]

expand_less