Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Talenta Dari Seorang Munir Lubis Memainkan Alat Musik Budaya Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 15 Apr 2013
  • print Cetak

KOTANOPAN (Mandailing Online) : Mungkin  bagi anda  yang terbiasa melihat penampilan Gordang Sambilan, pesta adat  atau acara- acara penyambutan Pejabat dan  tamu-tamu penting yang  memakai Gordang Sambilan sebagai musik pengiring,  anda mungkin kenal dengan sosok yang satu ini. Betapa tidak, hampir di setiap acara-acara  seperti itu,  beliau tidak pernah absen mempersembahkan Tor-tor Sabe-sabe atau Gondang Sabe-sabe (ucapan selamat datang) kepada para tamu, bahkan terkadang beliau mempersembahkan pencak silat (Marmoncak, Mandailing- Red).

Beliau adalah Munir Lubis, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Munir  Pargondang. Setiap tampil, beliau biasanya mempunyai ciri khas, yaitu memakai baju kebesaran Jangat (warna merah dan ikat kepala merah). Sambil manortor dan terkadang maronang-maronang, beliau meliuk-liukkan tangannya ke atas dan kebawah di hadapan para tamu yang  datang.

Seorang Munir Lubis memiliki talenta yang hebat terhadap alat musik  budaya Mandailing. Hampir semua alat music budaya  Mandailing mampu dimainkannya,mulai dari Gordang, Talempong, Gondang Dua, Sasayap, Ogung, Udong, Panyili, Jagat, Manortor, Pencak Silat,  bahkan Maronang-onang atau Marende. Bakat dan talenta  yang dimiliknya tentunya sangat susah mendapatkannya saat ini.

Dijumpai di rumahnya di Desa Tambang Bustak, Kecamatan Kotanopan, Kab. Mandailing Natal, Munir Lubis sedang asyik memukul Gondang Duanya. Jadi pemain musik tradisional Mandailing sudah mulai anak-anak usia 10 tahun atau sekitar tahun 1963. Darah seni yang mengalir di tubuhnya warisan dari orangtua. “Saya belajar alat musik ini mulai  sejak kecil, kebetulan di rumah ketika itu ada beberapa jenis alat musik yang disimpan orang tua, jadi diwaktu-waktu senggang alat musik itu saya mainkan.

Pengakuannya,  hampir semua alat musik tradisonal Mandailing bisa  dimainkan.  Paling sering  dilakoni membawakan Gondang Alap-alap atau Tor-tor sabe-sabe, pencaksilat (moncak) dan lainnya.  Itu tergantung kebutuhan dan situasi di lapangan, jadi tidak harus terpaku kepada satu alat musik saja.

Dirinya pun sudah sering di undang untuk penampilan Gordang Sambilan di beberapa daerah di luar Kabupaten Mandailing Natal, misalnya ke Jambi, Palembang, Jakarta, Medan, Pekan Baru, Pasaman Barat, Pasaman Timur dan tempat-tempat lainnya.   Untuk konteks Mandailing  Natal semua daerah sudah hampir  dilaluinya, begitu juga saat pesta adat raja-raja adat di Madina  hampir selalu ikut.

Motivasinya  menjadi pemain alat musik, agar alat-alat musik tradisional Mandailing  ini tetap lestari.  Selain itu, jadi pemain musik tradisional ini adalah panggilan hati. “Ada semacam kepuasan kalau kita memainkan dan mendengarkan alat-alat musik tradisional ini. Sejak kecil saya sudah suka alat musik tradisional Mandailing dan hampir sepanjang usia saya tetap memainkan ini,” ucapnya.

Diakuinya, dirinya sangat khawatir kedepan, alat musik ini tidak begitu dikenal lagi oleh warga Mandailing. Kekhawatiran ini sangat beralasan, mengingat belakangan ini sangat minim orang yang bisa memainkan alat musik ini. “Kalau kita berbicara jujur, sekarang ini saya rasa hitungan jari  jumlahnya yang bisa bermain Gordang dan alat musik lainnya. Jadi wajar saja kita khawatir alat musik tradisional ini nanti akan hilang dari peredaran karena tidak ada lagi yang mewarisi.”

Saya rasa sudah saatnya kita berbenah,   kita kenalkan kembali kepada anak-anak, keluarga dan masyarakat  alat musik tradisional ini dan cara menggunakannya. Kita juga berharap  masyarakat agar memperbanyak even-even atau pagelaran alat musik tradisional. Kepada pihak-pihak terkait, seperti pemerintah kiranya ini perlu menjadi pemikiran bagaimana caranya agar alat musik ini tetap lestari dan  bisa di mainkan warga. Begitu juga para raja-raja yang sebagai pemegang adat, perlu kiranya mencarikan suatu solusi bagaimana caranya agar alat-alat musik tradisional ini tetap berterima di hati masyarakat.

Kenapa  alat musik tradisional  daerah lain bisa lestari dan terkenal, sedangkan kita tidak?. Apa yang salah dengan kita…,! Apakah pembinaan yang tidak ada.?, atau warganya yang kurang peduli.  Sangat jarang kita jumpai warga yang usianya di bawah  tiga puluhan tahunan pandai memainkan alat ini. Kalau tidak di buat semacam “gebrakan, keberadaan Gordang dan alat musik tradisional ini akan semakin hilang.

Gebrakan yang di maksud dengan  membuat dan mengaktifkan kembali pelatihan-pelatihan, festival, membentuk kelompok-kelompok Gordang di setiap desa atau jenis lain yang di anggap bisa melestarikan alat ini.  Tanpa hal itu, budaya tradisional ini akan hilang tergilas zaman.

Selain itu, Gordang Sambilan dan alat musik pendukung lainnya sebagai suatu musik tradisional Mandailing perlu dikenalkan kepada siswa atau usia pelajar di Mandailing Natal. Saya sangat setuju dengan pendapat rekan-rekan yang lain yang mengatakan, pelajaran budaya Mandailing, termasuk alat musiknya di ajarkan kepada siswa, masalah mekanisme dan caranya bisa di atur. Bisa saja di buat dalam kegiatan ektrakurikuler yang kegiatannya tidak menganggu kegiatan proses belajar mengajar.

Peran pemerintah untuk melestarikan budaya ini sangat  besar. Karena tanpa dukungan Pemerintah setempat,  kecil kemungkinan akan terlaksana. Pemkab Madina seharusnya memberdayakan tokoh-tokoh adat dan budayawan untuk melestarikan budaya ini. Sekarangkan sudah ada perkumpulan tokoh-tokoh adat di Madina, jadi berdayakan mereka untuk melestarikan budaya dan alat musik tradisional ini.

Sudah saatnya Pemkab Madina menganggarkan dana dari APBD Madina untuk pelatihan  alat musik tradisional ini. Tanpa ada back up dana dari Pemkab, pelatihan ini tidak akan berkesinambungan.  (Lokot Lubis)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Batalnya Sunnatullah Karena Allah  Memenangkan Suatu Kaum

    Batalnya Sunnatullah Karena Allah  Memenangkan Suatu Kaum

    • calendar_month Jumat, 20 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Alfisyah Ummu Arifah, S.Pd Pendidik dan Pegiat Literasi Islam Kota Medan Terkadang manusia lupa akan satu perkara yang dihadapinya. Dia sejenak lupa bahwa dia hidup bersandar pada yang lainnya. Faktor x tempat dia bersandar itu, bahkan tak dipikirkannya. Saat kesulitan menimpa manusia tadi, manusia lupa ingin mengadu kepada siapa. Begitulah, sesuai namanya. Al-Insan yang […]

  • Desa Kumpulan Setia Hutabargot Masih Jalan Tanah

    Desa Kumpulan Setia Hutabargot Masih Jalan Tanah

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    HUTA BARGOT (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing sudah berusia 15 tahun lebih, namun masih banyak desa-desa yang masih minim infrastruktur jalan, termasuk Desa Kumpulan Setia Kecamatan Huta Bargot yang hanya berjarak beberapa kilo meter dari ibukota kabupaten, Panyabungan. Desa ini juga berada di kecamatan yang terkenal dengan tambang batuan emasnya. ”Jalan masih tanah, apabila dalam […]

  • Oww.. Ternyata Ini Modus DPRD Rajin Kunker ke Luar Daerah

    Oww.. Ternyata Ini Modus DPRD Rajin Kunker ke Luar Daerah

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Tak berlebihan jika rombongan DPRD kota maupun daerah sering mendatangi kementerian atau lembaga. Sebab, dari kunjungan kerja itu, mereka bisa mendapatakn tambahan pemasukan. “Ya memang rata-rata anggota DPRD 70-80 persen waktunya ada di luar daerah. Padahal harusnya mereka kan mengabdi di daerahnya. Bisa kunker tapi porsinya cukup 40 persen saja,” kata Bambang Riyanto, […]

  • Banyak Desakan Produksi Film “Biola Namabugang 2”

    Banyak Desakan Produksi Film “Biola Namabugang 2”

    • calendar_month Sabtu, 18 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    Film “Senandung Willeam” Butuh Setting Asli Tahun 1800-an Panyabungan (MO) – Sutradara film “Biola Na Mabugang”, Askolani Nasution, Jum’at (17/2) mengakui bahwa saat ini banyak desakan untuk lebih dulu meluncurkan film “Biola Namabugang II” dan membelakangkan produksi film film “Senandung Willeam”. Desakan itu berdasar banyaknya publik yang menunggu lanjutan kisah hidup Maliki dan Hanapi. Selain […]

  • Ratusan Pemuda di Madina Ikuti Seminar Internasional

    Ratusan Pemuda di Madina Ikuti Seminar Internasional

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online)- Penyelenggaraan seminar kepemudaan di aula Gedung Serbaguna, Panyabungan, Mandailing Natal, Sukses dihadiri 700 anak muda Madina, Syafi’i Efendi M.M (Motivator Muda Indonesia) berikan pemahaman pentingnya mindset serta mental wirausaha bagi Peserta yang hadir. Minggu, (10/9/2023). Event Internasional Seminar Youth Power dengan sub tema ” Kekuatan Pemuda dalam tatanan Kewirausahaan”, berlangsung meriah […]

  • Siswa Disiapkan Hadapi UN

    Siswa Disiapkan Hadapi UN

    • calendar_month Kamis, 28 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jumlah Siswa SLTA yang akan mengikuti Ujian Nasional (UN) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sebanyak 6.673 orang, terdiri dari 4.622 murid SMA/Aliyah. 2051 murid SMK. UN akan dilaksanakan secara serentak mulai 15 hingga 19 April mendatang. Sejauh ini pihak Dinas Pendidikan Madina mengaku sudah melakukan pembinaan terhadap para murid menghadapi UN […]

expand_less