Senin, 11 Mei 2026
light_mode

BISNIS KRIPIK SINGKONG BANJARKOBUN DARI PINGGIR JALAN (Bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Cara Membaca dan Mengisi Celah Ekonomi Mikro di Madina

Di Mandailing Natal, usaha kecil sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Bisnis ini hanya bergerak pelan.

Kadang nyaris tak terlihat.

Kadang muncul sebentar lalu tenggelam lagi.

Di sudut pasar tradisional, di dapur rumah-rumah kecil, di warung kopi pinggir jalan, di lorong desa yang aroma minyak gorengnya merayu hidup di sore hari — ekonomi rakyat terus bernapas.
Ada ibu-ibu yang memarut singkong sejak subuh. Ada anak muda yang mencoba jualan lewat Tiktok.

Ada warung kopi yang sudah menaruh kripik lokal – kerupuk singkong parut ala Banjarkobun di dekat etalase yang mencolok.

Masalahnya, bukan karena orang Madina tidak bisa usaha.

Usaha-usaha kecil sejenis itu justru sudah lama tumbuh mandiri dan, sayangnya, banyak pelaku yang senang “main” sendiri-sendiri.

Iya, menggeliat sendiri-sendiri. Mereka memproduksi sendiri. Menjual sendiri. Promosi sendiri. Lelah sendiri. Lalu, banyak yang akhirnya, perlahan hilang sendiri.

Padahal, di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit, justru ekonomi mikro seperti inilah yang paling mungkin bertahan.
Dan salah satu produk paling potensial sebenarnya sangat sederhana: kripik singkong parut ala Banjarkobun.

Keunggulan jenis bisnis kecil ini bukan karena produknya luar biasa modern. Tapi karena usaha itu memenuhi syarat paling penting dalam ekonomi rakyat:
• bahan baku tersedia,
• mudah diproduksi,
• bisa dikerjakan rumahan,
• pasar selalu ada,
• dan modalnya relatif kecil.

Namun pertanyaan sebenarnya, bukan: “Bisakah membuat kripik?”

Melainkan: “Bagaimana membangun pasar dan ekosistemnya?” Dimana peluang bisnisnya?

CELAH BESAR BISNIS: BUKAN PRODUK, TAPI JALUR PASAR

Kalau kita perhatikan lebih teknis, UMKM Madina hari ini punya problem yang hampir sama:
• produksi ada,
• rasa lumayan,
• harga bersaing,
• tapi pasar sempit.

Artinya, ruang kosongnya bukan di dapur produksi. Yang kosong adalah: jalur ekonomi – jalur pasar.

Maka orang yang paling potensial sukses di ekonomi mikro Madina saat ini, tidak selalu yang paling jago bikin produk.

Tetapi, yang sangat mungkin, adalah yang bisa menghubungkan produk dengan pasar. Menjadi satu mata rantai.

Dan menariknya, untuk masuk ke ruang itu tidak selalu butuh modal besar.
Bisnis kecil ini justru butuh:
• keberanian mulai,
• kemampuan membaca perilaku pasar,
• dan konsistensi kecil tapi rutin.

LANGKAH PERTAMA:
Mulai dari Skala Kecil, Tak Harus Besar

Ini kesalahan paling umum di bisnis UMKM kecil. Baru mulai usaha, langsung berpikir:
• cetak ribuan bungkus,
• sewa tempat,
• beli alat mahal, dan
• stok besar.

Padahal, pasar belum terbentuk. Dan, cara paling realistis justru sebaliknya: mulai dari distribusi produk dalam skala kecil selaku pengusaha di sektor mikro.
Bagaimana gambaran cara? Yakni, dengan:

1. Mulai dengan 5 pembuat kripik rumahan

Tidak perlu langsung punya dapur sendiri. Datangi:
• ibu-ibu pembuat kripik,
• penjual gorengan,
• usaha kecil rumahan,
• tetangga yang sudah produksi.

Lalu, tawarkan: “Saya bantu pasarkan.”

Banyak UMKM kecil sebenarnya tidak kuat menjual. Mereka kuat memproduksi.
Ini celah pertama untuk berbisnis di sektor UMKM.

2. Buat merek bersama sederhana

Jangan pakai nama terlalu rumit.
Yang penting:
• mudah diingat,
• ada nuansa lokal,
• mudah dicetak di stiker.

Contoh:
• Parut Madina,
• Kriuk Mandailing,
• Singkong Panyabungan,
• Balado Batang Gadis.

Tidak perlu langsung legalitas lengkap.

Awalnya cukup:
• logo sederhana,
• stiker ukuran kecil,
• nomor WhatsApp,
• akun medsos.

Modal desain bahkan bisa dibuat lewat Canva.

3. Fokus pada kemasan

Dalam ekonomi modern, kemasan sering lebih menentukan daripada rasa.

Karena konsumen pertama kali membeli lewat mata. Maka:
• gunakan plastik tebal bening,
• buat label rapi,
• beri warna konsisten,
• cantumkan tanggal produksi,
• beri slogan pendek.

Contoh slogan:
“Kriuknya Orang Mandailing.”
atau:
“Teman Kopi dari Pinggir Sawah.”
Kecil. Tapi membangun identitas. (bersambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014. Ruang I. (Sesi II) Hari : Kamis, Pukul : 10.15 s/d 12.15 wib Tanggal : 11 desember 2014   NO.   RUANG UJIAN   NO. PESERTA   NAMA PESERTA 1 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 52132000205 MIRA FATIMAH 2 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 […]

  • Mahasiswa Sumut Demo di Depan Kantor SMGP Jakarta

    Mahasiswa Sumut Demo di Depan Kantor SMGP Jakarta

    • calendar_month Rabu, 10 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Mahasiswa asal Sumut berunjukrasa di depan kantor PT SMGP di Jakarta, Senin, mendesak penutupan PLTP Sorik Marapi dan tuntutan hukuman bagi Presiden Direktur SMGP. Puluhan yang mengatas namakan Forum Mahasiswa Sumatera Utara (Formasu) Jakarta itu menggelar aksi di depan gedung PT. Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) di   Recapital Building, jalan […]

  • Siabu Hingga Barumun Diyakini Pusat Peradaban Mandailing Abad 9 Masehi

    Siabu Hingga Barumun Diyakini Pusat Peradaban Mandailing Abad 9 Masehi

    • calendar_month Kamis, 3 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Kawasan Siabu hingga Barumun diyakini sebagai pusat peradaban Mandailing di abad 9-11 masehi, jauh sebelum priodeisasi marga-marga. Hipotesa itu dikuatkan oleh banyaknya temuan-temuan artefak, situs dan material candi mulai dari arah Siabu menuju arah Barumun di Padang Lawas yang dilakukan Timpanum Novem Multimedia. Temuan terakhir terjadi pada Rabu (2/3/2016) oleh tim […]

  • Merusak Konstruksi Tanah, Tinjau Ulang Izin PT BME di Siabu

    Merusak Konstruksi Tanah, Tinjau Ulang Izin PT BME di Siabu

    • calendar_month Sabtu, 7 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN, Secara empiris semua perusahaan tambang pasti akan merusak lingkungan, terutama tambang emas, batubara dan timah, karena bahan tambangnya ada di perut bumi yang harus dibor atau digali baik secara manual maupun secara modern. “ kibatnya kontruksi tanah pegunungan dan lingkungan hidup lainnya akan rusak baik hutan, batuan dan sumber daya alam hayati, flora dan […]

  • Bibit Padi Yang Diduga Kadaluarsa, Dinas Pertanian Madina Tuding Dinas Pertanian Sumut

    Bibit Padi Yang Diduga Kadaluarsa, Dinas Pertanian Madina Tuding Dinas Pertanian Sumut

    • calendar_month Rabu, 8 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Dinas Pertanian Madina belum memberikan konfirmasi soal bantuan bibit padi varietas Mekongga yang diterima petani sebagai bibit yang diduga kadaluarsa. Mandailing Online tak berhasil menemui Kepala Dinas Pertanian Mandailing Natal (Madina), Taufik Zulhandra Ritonga, ketika Mandailing Online mendatangi kantornya, Rabu (8/2/2016). Kepala Bidang Holtikultura, Juli juga tak ditemukan di kantor […]

  • Peran Penting Media dalam Mencerdaskan Umat

    Peran Penting Media dalam Mencerdaskan Umat

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Rima Sarinah Media adalah sarana atau alat yang menjadi wasilah untuk menyampaikan berbagai informasi  kepada masyarakat. Media juga memiliki peran penting untuk mengedukasi dalam rangka mencerdaskan masyarakat. Sebab, dari media tersebut masyarakat akan mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan penting yang mereka butuhkan dan semakin memperluas cakrawala berpikir tentang segala sesuatu. Berbagai macam media bisa […]

expand_less