Rabu, 7 Okt 2026
light_mode

BISNIS KRIPIK SINGKONG BANJARKOBUN DARI PINGGIR JALAN (Bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Cara Membaca dan Mengisi Celah Ekonomi Mikro di Madina

Di Mandailing Natal, usaha kecil sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Bisnis ini hanya bergerak pelan.

Kadang nyaris tak terlihat.

Kadang muncul sebentar lalu tenggelam lagi.

Di sudut pasar tradisional, di dapur rumah-rumah kecil, di warung kopi pinggir jalan, di lorong desa yang aroma minyak gorengnya merayu hidup di sore hari — ekonomi rakyat terus bernapas.
Ada ibu-ibu yang memarut singkong sejak subuh. Ada anak muda yang mencoba jualan lewat Tiktok.

Ada warung kopi yang sudah menaruh kripik lokal – kerupuk singkong parut ala Banjarkobun di dekat etalase yang mencolok.

Masalahnya, bukan karena orang Madina tidak bisa usaha.

Usaha-usaha kecil sejenis itu justru sudah lama tumbuh mandiri dan, sayangnya, banyak pelaku yang senang “main” sendiri-sendiri.

Iya, menggeliat sendiri-sendiri. Mereka memproduksi sendiri. Menjual sendiri. Promosi sendiri. Lelah sendiri. Lalu, banyak yang akhirnya, perlahan hilang sendiri.

Padahal, di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit, justru ekonomi mikro seperti inilah yang paling mungkin bertahan.
Dan salah satu produk paling potensial sebenarnya sangat sederhana: kripik singkong parut ala Banjarkobun.

Keunggulan jenis bisnis kecil ini bukan karena produknya luar biasa modern. Tapi karena usaha itu memenuhi syarat paling penting dalam ekonomi rakyat:
• bahan baku tersedia,
• mudah diproduksi,
• bisa dikerjakan rumahan,
• pasar selalu ada,
• dan modalnya relatif kecil.

Namun pertanyaan sebenarnya, bukan: “Bisakah membuat kripik?”

Melainkan: “Bagaimana membangun pasar dan ekosistemnya?” Dimana peluang bisnisnya?

CELAH BESAR BISNIS: BUKAN PRODUK, TAPI JALUR PASAR

Kalau kita perhatikan lebih teknis, UMKM Madina hari ini punya problem yang hampir sama:
• produksi ada,
• rasa lumayan,
• harga bersaing,
• tapi pasar sempit.

Artinya, ruang kosongnya bukan di dapur produksi. Yang kosong adalah: jalur ekonomi – jalur pasar.

Maka orang yang paling potensial sukses di ekonomi mikro Madina saat ini, tidak selalu yang paling jago bikin produk.

Tetapi, yang sangat mungkin, adalah yang bisa menghubungkan produk dengan pasar. Menjadi satu mata rantai.

Dan menariknya, untuk masuk ke ruang itu tidak selalu butuh modal besar.
Bisnis kecil ini justru butuh:
• keberanian mulai,
• kemampuan membaca perilaku pasar,
• dan konsistensi kecil tapi rutin.

LANGKAH PERTAMA:
Mulai dari Skala Kecil, Tak Harus Besar

Ini kesalahan paling umum di bisnis UMKM kecil. Baru mulai usaha, langsung berpikir:
• cetak ribuan bungkus,
• sewa tempat,
• beli alat mahal, dan
• stok besar.

Padahal, pasar belum terbentuk. Dan, cara paling realistis justru sebaliknya: mulai dari distribusi produk dalam skala kecil selaku pengusaha di sektor mikro.
Bagaimana gambaran cara? Yakni, dengan:

1. Mulai dengan 5 pembuat kripik rumahan

Tidak perlu langsung punya dapur sendiri. Datangi:
• ibu-ibu pembuat kripik,
• penjual gorengan,
• usaha kecil rumahan,
• tetangga yang sudah produksi.

Lalu, tawarkan: “Saya bantu pasarkan.”

Banyak UMKM kecil sebenarnya tidak kuat menjual. Mereka kuat memproduksi.
Ini celah pertama untuk berbisnis di sektor UMKM.

2. Buat merek bersama sederhana

Jangan pakai nama terlalu rumit.
Yang penting:
• mudah diingat,
• ada nuansa lokal,
• mudah dicetak di stiker.

Contoh:
• Parut Madina,
• Kriuk Mandailing,
• Singkong Panyabungan,
• Balado Batang Gadis.

Tidak perlu langsung legalitas lengkap.

Awalnya cukup:
• logo sederhana,
• stiker ukuran kecil,
• nomor WhatsApp,
• akun medsos.

Modal desain bahkan bisa dibuat lewat Canva.

3. Fokus pada kemasan

Dalam ekonomi modern, kemasan sering lebih menentukan daripada rasa.

Karena konsumen pertama kali membeli lewat mata. Maka:
• gunakan plastik tebal bening,
• buat label rapi,
• beri warna konsisten,
• cantumkan tanggal produksi,
• beri slogan pendek.

Contoh slogan:
“Kriuknya Orang Mandailing.”
atau:
“Teman Kopi dari Pinggir Sawah.”
Kecil. Tapi membangun identitas. (bersambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merebut Kedaulatan SDA dari Cengkeraman Oligarki Asing

    Merebut Kedaulatan SDA dari Cengkeraman Oligarki Asing

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Muhammad Ludfan Nasution   Catatan Pengantar Tulisan ini merupakan olahan dari diskusi panjang di grup WhatsApp @Satgas Pembentukan Sumteng yang diikuti antara lain @Ongku P Hasibuan, @Zainuddin Jr Lubis dan Kali Raja Harahap. Topiknya mengangkat kritik struktural terhadap pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan arah kebijakan politik ekonomi Indonesia. Indonesia memang kaya raya […]

  • Tak Ada Traffic Light, Jalan Alternatif Lingkar Timur Rawan Laka Lantas

    Tak Ada Traffic Light, Jalan Alternatif Lingkar Timur Rawan Laka Lantas

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA; Jalan alternatif lingkar timur di Kota Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal rawan laka lantas. Soalnya, sepanjang jalan itu tidak satupun kelihatan traffic light, sebagai pengatur lalu lintas. Pantauan METRO, di sepanjang jalan sekitar 15 kilometer tersebut terlihat ada beberapa simpang empat. Di simpang tersebut juga termasuk lokasi ramai pengendara dan terletak di pemukiman masyarakat. Di […]

  • Warga Singkuang I Unjuk Rasa di Kantor PT Rendi, Ini Tuntutannya

    Warga Singkuang I Unjuk Rasa di Kantor PT Rendi, Ini Tuntutannya

    • calendar_month Kamis, 13 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Desa Singkuang I, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut berunjuk rasa di depan kantor PT Rendi Permata Raya. Salah satu tuntutannya menagih janji Bupati H. M. Jafar Sukhairi Nasution untuk mencabut IUP (Izin Usaha Perkebunan) PT Rendi Permata Raya yang tak kunjung memenuhi kewajiban membangun kebun plasma. […]

  • Sepanjang tahun 2025 ada 33 TKA di Madina, Didominasi Warga China 

    Sepanjang tahun 2025 ada 33 TKA di Madina, Didominasi Warga China 

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengakuan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Mandailing Natal Hingga November 2025 Ada 33 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang diketahui melakukan pekerjaan di Perusahaan atau PT yang beroperasi di Madina. Data orang Asing bersumber dari pihak Imigrasi yang dilaporkan pada Disnaker dengan data yang fluktuatif. Kamis, (06/11/2025). “Kalo datanya memang sampai ke […]

  • Abituren di Yaman Kembali Gelar Haul Syekh Musthafa Husein Nasution

    Abituren di Yaman Kembali Gelar Haul Syekh Musthafa Husein Nasution

    • calendar_month Senin, 19 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TARIM, YAMAN (Mandailing Online) –   Keluarga Abituren Musthafawiyah (KAMUS) di Yaman kembali menyelenggarakan haul Syekh Musthafa Husein Nasution dan Milad pesantren Musthafawiyah Purba Baru ke 110 tahun. Kegiatan berlangsung di aula Masbah Syahir, Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman, Jumat (16/12/22). Pesantren Musthofawiyah berada di Purba Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara, Indonesia. Tokoh pendirinya adalah Syekh Musthafa […]

  • Panduan untuk Puasa di Jejaring Sosial selama Ramadhan

    Panduan untuk Puasa di Jejaring Sosial selama Ramadhan

    • calendar_month Selasa, 7 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ini bukan mengatakan bahwa semua media sosial adalah omong kosong, tetapi tujuannya adalah untuk memberikan keseimbangan dalam hidup Anda. Sudah semestinya setiap kali menemui bulan Ramadhan, kita membuat target yang berorientasi untuk meningkatkan kualitas diri untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Ada dua cara untuk memenuhi target ini, apakah dengan meningkatkan kebiasaan baik […]

expand_less