BISNIS KRIPIK SINGKONG BANJARKOBUN DARI PINGGIR JALAN (Bagian 2-selesai)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 43 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
LANGKAH KEDUA: Kuasai Pasar Kecil Dulu
Jangan langsung berpikir minimarket besar.
Justru lebih strategis mengisi pasar paling realistis, yaitu:
• warung kopi,
• kantin sekolah,
• loket travel,
• kios bensin,
• meja kasir toko kecil.
Dan inilah teknik paling penting, “mainkan” sistem titip jual, konsinyasi – laku barang baru bayar.
CARA MASUK KE WARUNG KOPI
Datangi warung kopi satu-satu. Tunjukkan sampel, barang contoh.
Lalu, jangan dulu langsung bicara harga. Bilang saja: “Bang, titip dulu 10 bungkus. Yang laku baru dibayar.”
Kenapa model pasar ini efektif?
Karena pemilik warung kecil biasanya takut rugi karena stok, modalnya terbatas. Kalau penawaran awal tanpa risiko, mereka lebih mudah menerima.
Target awalnya, jangan besar. Cukup:
• 10 warung, dan
• masing-masing 10 bungkus.
Dengan begitu, berarti produk yang beredar di pasar sudah 100 bungkus.
Dari pola ini mulai terlihat:
• rasa mana paling laku,
• harga cocok atau tidak,
• kemasan menarik atau tidak.
Ini namanya: tes pasar murah.
LANGKAH KETIGA:
Gunakan Medsos sebagai Pasar
Banyak pelaku UMKM salah memahami media sosial. Mereka berpikir harus tampil mewah.
Padahal algoritma sekarang lebih suka:
• suasana asli,
• dapur asli,
• suara kriuk asli,
• wajah kampung yang jujur.
Maka kontennya tidak perlu rumit. Cukup:
• video minyak mendidih,
• singkong diparut,
• cabai ditabur,
• orang makan sambil ngopi.
Durasinya, cukup 15–30 detik saja. Gunakan lagu yang sedang tren sebagai latar.
Lalu upload rutin. Minimal: 2 video sehari.
Tujuan awalnya bukan untuk viral, tapi untuk membuat produk terlihat hidup.
LANGKAH KEEMPAT:
Bangun Jaringan Reseller Kecil
Ini tahap yang paling sering dilupakan. Padahal reseller adalah mesin pertumbuhan UMKM.
Caranya sederhana. Buka peluang untuk:
• pelajar,
• mahasiswa,
• anak warung,
• admin medsos,
• ibu rumah tangga.
Skemanya:
• ambil 20 bungkus,
• bayar setelah laku,
• untung Rp1.000–Rp2.000 per bungkus.
Kelihatannya kecil. Tapi kalau ada 20 orang reseller, masing-masing menjual 20 bungkus, maka produk kripik singkong sudah bergerak sebanyak 400 bungkus.
Dan menariknya:
reseller kecil biasanya menjual lewat hubungan sosial.
Mereka jual ke:
• teman,
• tongkrongan,
• kantor,
• sekolah,
• grup WhatsApp.
Artinya, pasar tumbuh lewat jaringan manusia. Bukan lewat iklan yang mahal.

LANGKAH KELIMA:
Bangun Ciri “Oleh-Oleh Madina”
Ini tahap naik kelas.
Banyak daerah sukses dalam pemasaran produk UMKM bukan karena produknya luar biasa.
Tetapi karena berhasil melekatkan identitas daerah ke fisik produknya.
Karena itu, kripik singkong jangan dijual sekadar sebagai makanan ringan. Tapi sebagai bagian dari cerita Madina. Misalnya:
• foto sawah Mandailing,
• narasi kopi dan hujan,
• cerita dapur kampung,
• budaya nongkrong.
Hari ini orang membeli bukan cuma rasa. Mereka membeli:
• nostalgia,
• identitas,
• dan pengalaman.
SIAPA YANG PALING BERPELUANG MENGISI CELAH INI?
Menariknya, yang punya peluang untuk mengisi celah bisnis ini bukan pengusaha besar. Justru:
• anak muda kreatif,
• mahasiswa,
• perantau pulang kampung,
• freelancer desain,
• admin TikTok,
• pemilik warung kecil.
Karena ekonomi mikro digital hari ini lebih membutuhkan:
• jaringan,
• kreativitas,
• kemampuan komunikasi,
• dan konsistensi.
Bukan modal ratusan juta.
TANTANGAN TERBESAR:
Mentalitas Bisnis Egois
Ini problem paling dalam.
Banyak usaha kecil di daerah gagal bukan karena produknya jelek. Tetapi, terkadang, karena semua pelaku bisnisnya ingin berjalan sendiri.
Padahal ekonomi rakyat hanya kuat kalau:
• distribusi bersama,
• promosi bersama,
• pasar bersama,
• identitas bersama.
Karena usaha kecil yang terhubung akan jauh lebih kuat daripada usaha besar yang sendirian.
PENUTUP
Jual Kripik, Bangun Jaringan
Mungkin bagi sebagian orang, kripik singkong hanya makanan murah pinggir jalan.
Tetapi di tangan yang tepat, produk UMKM bisa menjadi:
• penggerak ekonomi rumah tangga,
• pasar untuk petani,
• lapangan kerja anak muda,
• bahkan identitas ekonomi lokal.
Dan mungkin, masa depan ekonomi rakyat Madina memang tidak selalu lahir dari gedung besar.
Kadang ia justru dimulai dari:
• suara parutan singkong,
• minyak yang mendidih,
• dan seseorang yang cukup berani mengetuk pintu warung kopi pertama.
***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

