Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Harapan Baru di Selatan Sumut: IKANAS Madina dan Jalan Panjang Nasution untuk Nusantara

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada yang perlahan bergerak dari selatan Sumatera Utara.

Bukan suara ledakan politik.
Bukan pula gegap-gempita proyek negara.

Tetapi denyut lama yang seperti hendak dibangunkan kembali:
kesadaran tentang persaudaraan, kehormatan sosial, dan tanggung jawab antargenerasi di tengah dunia yang semakin individualistik.

Di Mandailing Natal, geliat itu mulai terasa melalui bangkitnya kembali DPC Khusus IKANAS Madina.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya agenda organisasi marga:
musyawarah cabang, pemilihan pengurus, konsolidasi biasa.

Tetapi bagi yang memahami lanskap sosial Mandailing, peristiwa seperti ini tidak pernah sesederhana itu.

Karena di dalam masyarakat Mandailing, organisasi marga bukan sekadar wadah genealogis.

Parsadaan ini adalah bagian dari struktur peradaban sosial.

Nasution Tidak Pernah Berdiri Sendiri

Banyak orang luar keliru membaca marga.

Mereka mengira marga hanyalah nama belakang:
identitas administratif yang selesai di kartu keluarga.

Padahal dalam dunia Mandailing, marga bekerja jauh lebih dalam.

Klan adalah jaringan:
* kehormatan,
* tanggung jawab,
* perlindungan sosial,
* hubungan budaya,
* bahkan distribusi pengaruh antarkelompok.

Dan Nasution, sebagai salah satu marga besar Mandailing, hidup di tengah jaringan itu selama ratusan tahun.

Karena itu, Nasution tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Begitu IKANAS berbicara tentang:
> kahanggi, mora, dan anakboru,

Maka, sesungguhnya organisasi paguyuban ini sedang membuka pintu menuju seluruh ekosistem sosial Mandailing.

Saat menyebut anakboru, Ikanas langsung berkaitan dengan seluruh marga yang mengambil boru Nasution:
* Harahap,
* Lubis,
* Hasibuan,
* Daulay,
* Pulungan,
* Batubara,
* dan lainnya.

Begitu pula ketika berbicara tentang mora, Nasution tidak pernah bisa dilepaskan dari hubungan historis dan kultural dengan, terutama Lubis, dalam banyak struktur sosial Mandailing. Mereka adalah pihak-pihak kekuarga yang memberi boruna untuk the next generation Nasution.

Artinya, Ikanas bukan hanya organisasi internal Nasution.

Titik tumpu ikatan sosial-budaya ini memiliki potensi menjadi simpul sosial yang jauh lebih besar:
penghubung antarmarga, ruang konsolidasi budaya, sekaligus jangkar solidaritas masyarakat Mandailing modern.

Struktur Formal dan “Mesin Tak Terlihat”

Di sinilah rumit sekaligus menariknya organisasi marga di Mandailing.

Di permukaan, ada struktur formal:
* DPC,
* DPW,
* DPP,
* AD/ART,
* musyawarah,
* kepengurusan.

Tetapi di bawah permukaan, bekerja struktur lain yang jauh lebih tua:
* harajaon,
* legitimasi adat,
* pengaruh tokoh,
* keseimbangan kahanggi,
* relasi mora-anakboru,
* hingga memori sejarah antarkelompok.

Kadang, dua dunia itu berjalan harmonis.
Kadang saling menegangkan.

Karena itu, memimpin organisasi seperti Ikanas tidak cukup hanya pandai berpidato atau mengelola administrasi.

Personalitasnya harus mampu membaca:
* psikologi adat,
* keseimbangan penghormatan,
* ego sosial,
* dan dinamika budaya Mandailing yang sangat halus.

Sebab di Mandailing, konflik sering tidak meledak di meja. Kerap bergerak diam-diam melalui rasa hormat yang terganggu. Dan kehancuran organisasi sering dimulai bukan karena kekurangan uang, tetapi karena hilangnya keseimbangan sosial.

Madina Sedang Menjadi Episentrum Baru

Di titik inilah Mandailing Natal menjadi penting.

Hari ini Madina bukan lagi sekadar kabupaten di ujung selatan Sumut.

Madina mulai berubah menjadi:
* pusat memori kolektif Mandailing,
* titik temu diaspora,
* ruang pulang emosional,
* sekaligus laboratorium sosial baru.

Banyak tokoh Mandailing lahir dari tanah ini.
Banyak jejaring sosial dan ekonomi Mandailing masih bertumpu pada hubungan emosional dengan Madina.

Karena itu, ketika DPC Khusus Ikanas Madina bergerak, gaungnya tidak berhenti di Panyabungan. Terus bisa menjalar ke:
* Medan,
* Jabodetabek,
* Riau,
* Sumbar, bahkan
* Diaspora Mandailing di luar negeri.

Sebab, bagi orang Mandailing, Madina bukan sekadar wilayah administratif.

Mandailing adalah pusat rasa.

Krisis Besar Indonesia: Putusnya Ikatan Sosial

Dan justru di sinilah relevansi besar Ikanas muncul.

Indonesia hari ini menghadapi krisis yang jarang dibicarakan:
krisis kohesi sosial.

Modernitas melahirkan manusia yang makin individual.
Kota-kota besar dipenuhi orang yang hidup sendiri-sendiri.

Organisasi formal makin birokratis.
Partai politik makin transaksional.
Hubungan sosial makin dingin dan kering.

Generasi muda kehilangan jangkar:
* tercerabut dari akar budaya,
* jauh dari sejarah keluarga, dan
* tumbuh dalam dunia digital yang sering minim ikatan emosional.

Di banyak daerah, struktur sosial tradisional sudah runtuh.

Tetapi Mandailing masih menyimpan sesuatu yang langka:
hubungan mora-kahanggi-anakboru masih hidup.

Adat masih bekerja. Rasa malu sosial masih ada. Penghormatan masih punya makna. Kekerabatan masih bisa menjadi energi kolektif.

Dan itu adalah modal sosial yang sangat mahal di masa depan.

Dari Organisasi Seremonial ke Organisasi Strategis

Tetapi peluang besar itu hanya akan hidup jika Ikanas mampu keluar dari jebakan lama. Terlalu banyak organisasi marga mati pelan-pelan akibat:
* sibuk seremoni,
* perebutan posisi,
* konflik elite,
* nostalgia kosong,
* atau sekadar hidup saat pesta dan kematian.

Padahal jika dikelola dengan visi modern, Ikanas bisa berubah menjadi:
* pusat database diaspora Nasution,
* jaringan pendidikan,
* beasiswa generasi muda,
* forum bisnis antarkeluarga,
* penguatan UMKM,
* pusat dokumentasi sejarah Mandailing, bahkan
* kekuatan sosial lintas daerah.

Dan ketika Ikanas bicara anakboru dan mora, maka potensi itu otomatis meluas ke seluruh jejaring antarmarga Mandailing.

Di situlah kekuatan sejatinya.

Jalan Panjang untuk Nusantara

Karena itu, kebangkitan DPC Khusus Ikanas Madina sebenarnya tidak hanya penting bagi keluarga besar Nasution.

Ikanas juga menyimpan pertanyaan besar untuk Indonesia:
> apakah komunitas budaya masih bisa menjadi tenaga sosial modern bagi Nusantara?

Mandailing mungkin sedang mencoba menjawab itu.

Bahwa modernitas tidak harus membunuh akar budaya.
Bahwa kemajuan tidak harus memutus persaudaraan.
Bahwa organisasi sosial tidak harus kehilangan ruh.

Dan mungkin dari Panyabungan hari ini sedang tumbuh satu pesan penting untuk Indonesia:
> masa depan Nusantara tidak cukup dibangun hanya oleh negara dan pasar.

Tetapi juga oleh komunitas-komunitas yang masih percaya:
bahwa manusia tidak hidup sendiri,
bahwa kehormatan sosial masih penting,
dan bahwa persaudaraan antargenerasi adalah energi peradaban.

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya bertahan oleh kekuatan ekonomi.

Nation bertahan karena masih ada orang-orang yang bersedia menjaga ikatan satu sama lain.

Dan di selatan Sumatera Utara, Ikanas Madina tampaknya sedang mencoba menghidupkan kembali ikatan itu. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Curah Hujan Tinggi Produksi dan Harga Karet di Madina Turun

    Curah Hujan Tinggi Produksi dan Harga Karet di Madina Turun

    • calendar_month Minggu, 7 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Hujan yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam satu pekan terakhir mengakibatkan produksi dan harga getah karet di pasar-pasar lelang karet menurun. Seperti di Kelurahan Kota Siantar, harga getah karet turun dari semula Rp15.000 menjadi Rp13.500 per kilogramnya. Begitu juga di Desa Gunungtua Kecamatan Panyabungan, harganya hanya Rp13.000 per kg, dan di […]

  • Kondisi Jalan Batahan Disampaikan Kepada Yusuf Kalla

    Kondisi Jalan Batahan Disampaikan Kepada Yusuf Kalla

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Beginilah kondisi jalan raya di Kecamatan Batahan, Mandailing Natal (Madina). Jalan ini berada di titik menjeleng Desa Muara Pertemuan, Batahan. Jalan di kawasan Pantai Barat Mandailing terus menjadi wacana yang memprihatinkan karena tak mendapat penanganan serius dari pemerintah daerah. Kondisi jalan ini menyebabkan masyarakat di sana terbelenggu, tak bisa bergerak, […]

  • Pemkab Madina Galang Dana Untuk Palestina

    Pemkab Madina Galang Dana Untuk Palestina

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melakukan pengajian akbar sekaligus penggalangan dana bagi perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina, Selasa (9/12) di mesjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan. Pengajian akbar tersebut menampilkan Sekretaris Umum Ulama Council of Palestina, Al Ustadz Syekh Ahmad Muqbil selaku pembicara di Sekda Madina M. Yusuf Msi, MUI Madina, […]

  • Alumni Musthofawiyah Dukung Musthafa Bakri Calon Bupati Madina

    Alumni Musthofawiyah Dukung Musthafa Bakri Calon Bupati Madina

    • calendar_month Kamis, 1 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Alumni Pesantren Mustofhawiyah Purba Baru mendukung penuh Mudir Almukarrom, H Musthafa Bakri Nasution sebagai Calon Bupati Mandailing Natal. Itu dikatakan, Ketua Himpunan Alumni Musthofawiyah (HAM) Madina, Muhammad Ali Nasution kepada wartawan di Panyabungan, Kamis (1/8/2019) Dikatakannya menjalang perhelatan Pilkada Madina 2020 yang akan masuk tahapan September 2019, bahwa dalam memilih pemimpin […]

  • Generasi Muda Amburadul Akibat Sistem Sekularisme

    Generasi Muda Amburadul Akibat Sistem Sekularisme

    • calendar_month Minggu, 21 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd Pemerhati Generasi Muda dan Anggota Komunitas Forum Kajian Akhwat Islam Generasi muda adalah generasi penerus yang mana di tangan merekalah perubahan suatu bangsa itu berada, baik perubahan ke arah yang baik atau pun rusak. Semua itu tergantung bagaimana generasi ini dididik. Oleh karena itu, sangat penting sekali memperhatikan bagaimana pendidikan […]

  • Kapolres Madina Berganti

    • calendar_month Sabtu, 1 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jabatan Kepala Polisi Resort (Kapolres) Mandailing Natal (Madina) berganti. Kursi kapolres yang selama ini diduduki AKBP Achmad Fauzi Dalimunthe S.Ik, kini digantikan oleh AKBP Mardiaz Kusin Dwihananto, S.Ik. Ahmad Fauzi Dalimunthe kini menduduki jabatan Kapolres Kabupaten Labuhan Batu. Dia memimpin Polres Madina sekitar 2 tahun. Sementara Mardiaz Kusin sebelumnya menjabat Kapolres […]

expand_less