Tabagsel Mulai Bergerak, Jangan Berhenti di Foto Bersama
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Episentrum
Ada sesuatu yang berbeda dari pertemuan para kepala daerah Tapanuli Bagian Selatan di Padangsidimpuan beberapa hari lalu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, publik melihat sinyal bahwa elite daerah mulai berbicara bukan sekadar atas nama kabupaten masing-masing, tetapi atas nama kawasan.
Isu yang dibahas memang tentang bandara:
* Bandara Aek Godang di Padang Lawas Utara,
* dan Bandara Jenderal Besar AH Nasution di Mandailing Natal.
Namun sesungguhnya, yang sedang dipertaruhkan jauh lebih besar daripada urusan penerbangan.
Yang sedang dicari adalah masa depan konektivitas dan arah pembangunan regional Tabagsel.
Dan itu penting.
Karena terlalu lama kawasan ini berjalan dalam pola yang terpecah:
kabupaten sibuk sendiri,
kota berjalan sendiri,
anggaran sendiri,
ego sendiri,
dan pembangunan sendiri-sendiri.
Akibatnya, Tabagsel kaya potensi tetapi miskin akselerasi.
Padahal kawasan ini memiliki hampir semua modal dasar:
sumber daya alam,
perkebunan,
pertanian,
jalur perdagangan,
budaya kuat,
sejarah panjang,
hingga posisi geografis strategis di pantai barat Sumatera.
Yang lemah hanya satu:
konektivitas.
Maka ketika para kepala daerah mulai duduk bersama membahas bandara, jalan penghubung, dan transportasi regional, itu patut diapresiasi sebagai langkah awal yang sehat.
Inisiatif yang dimotori Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution setidaknya menunjukkan satu hal:
elite Tabagsel mulai sadar bahwa mereka tidak akan mampu berlari cepat bila terus bergerak sendiri-sendiri.
Namun di titik inilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Sebab sejarah pembangunan daerah terlalu sering dipenuhi:
rapat koordinasi,
penandatanganan notulen,
foto bersama,
dan pernyataan dukungan,
tetapi minim eksekusi nyata.
Karena itu, forum ini jangan berhenti sebagai seremoni politik regional semata.
Tabagsel membutuhkan agenda konkret yang langsung terasa dampaknya bagi mobilitas masyarakat dan ekonomi kawasan.
Salah satu yang paling mendesak adalah pemantapan jalur Padangsidimpuan–Malintang.
Ini jalur strategis.
Kalau kualitas ruas ini benar-benar ditingkatkan secara serius — mulus, aman, minim hambatan, dan terkoneksi baik — maka perjalanan Sidimpuan–Malintang sangat mungkin ditempuh sekitar satu jam dengan rata-rata kecepatan kendaraan 75 kilometer per jam.
Dampaknya tidak kecil.
Jalur cepat ini akan:
* memperpendek psikologi jarak antarwilayah,
* mempercepat akses menuju Bandara AH Nasution,
* memperlancar distribusi barang,
* memudahkan mobilitas mahasiswa, pedagang, ASN, dan investor,
* sekaligus menjadikan bandara benar-benar hidup karena ditopang hinterland yang luas.
Karena bandara tanpa akses jalan cepat hanyalah bangunan mahal yang sepi penumpang.
Di sinilah pentingnya melihat Tabagsel sebagai satu kesatuan ekonomi regional.
Padangsidimpuan tidak cukup hanya menjadi kota administratif. Ia harus menjadi simpul jasa dan perdagangan kawasan.
Mandailing Natal tidak cukup hanya menjadi daerah kaya sumber daya. Ia harus menjadi gerbang konektivitas pantai barat.
Padang Lawas dan Padang Lawas Utara harus terhubung cepat agar tidak terus terisolasi secara logistik.
Sementara Tapanuli Selatan harus memainkan peran sebagai penguat hinterland regional.
Artinya, pembangunan Tabagsel ke depan tidak bisa lagi memakai pola lama:
“siapa dapat apa.”
Tetapi harus bergerak dengan paradigma baru:
“apa yang membuat kawasan ini tumbuh bersama.”
Kalau konektivitas udara berhasil,
jalan lintas regional dipercepat,
dan ego antardaerah mulai dikurangi,
maka Tabagsel sebenarnya memiliki peluang besar menjadi poros pertumbuhan baru di Sumatera Utara bagian selatan.
Dan mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
kita mulai melihat tanda-tanda awal ke arah sana.
Sekarang tinggal satu pertanyaan:
apakah semangat ini akan benar-benar dibangun sampai tuntas, atau kembali menguap sebagai arsip rapat dan dokumentasi protokoler belaka?(*)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

