Minggu, 4 Okt 2026
light_mode

Menakar Urgensi Sekolah Rakyat di Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Subuh Iskandar Batubara
Pegiat di GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

 

Frasa itu kembali mengapung di tahun-tahun belakangan ini. Yang sempat tenggelam dari memori kita, namun tetap tersimpan di lembar sejarah. Frasa itu adalah Sekolah rakyat. Sekolah yang pada masanya diperuntukkan bagi kaum bumiputra, sebagai konsekwensi logis dari Politik Etis pemerintah Kolonial Belanda pada masanya.

Sekedar berbagi ingatan sejarah, politik etis adalah antitesis dari cultuurstelsel (sistem tanam paksa yang diterapkan oleh pemerintah Kolonial Belanda). Sehingga banyak kalangan yang menyebut politik etis ini adalah politik balas budi pihak Kolonial terhadap kaum bumiputera, atau rakyat jajahan, yang nota bene sudah dieksploitasi selama ratusan tahun lamanya.

Conrad Deventer, seorang politisi Belanda yang berpikiran progresif, dengan sangat tajam mengkritik kebijakan tanam paksa. Kritikan tersebut dia tuangkan dalam buku Een Eereschuid (Utang Kehormatan). Karena kritikan dalam buku tersebut maka lahirlah  tiga program utama pemerintah Kolonial. Dikenal sebagai Trias Van Deventer, yaitu irigasi, emigrasi dan edukasi.

Konon, kebijakan pertama dan kedua – irigasi dan emigrasi – disalahgunakan pihak Belanda. Mereka membangun irigasi hanya di perkebunan-perkebunan milik Belanda saja. Melakukan emigrasi atau pemindahan penduduk juga hanya ke daerah perkebunan untuk tetap dijadikan sebagai pekerja rodi.

Dari ketiga program tersebut yang tergolong berhasil adalalah kebijakan edukasi. Karena kebijakan inilah kemudian lahir cikal bakal sekolah Bumiputera, yang di kemudian hari berubah nama menjadi Sekolah Rakyat. Para alumni awal  Sekolah Rakyat ini pulalah kelak yang mempelopori pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sekolah Rakyat di Masa Sekarang

“Pendidikan berfungsi sebagai instrumen untuk mewujudkan keseimbangan atau kebebasan”. Itu kata Paulo Freira (seorang filsuf, pemerhati dan kritikus dunia pendidikan) dalami bukunya yang terkenal “Pedagogy of Opressed”.

Setali tiga uang dengan ungkapan sang filsuf, maka kemudian pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial mencetuskan berdirinya Sekolah Rakyat. Karena sekali lagi, mengutip Paulo Freira, tanpa pendidikan kehidupan yang setara dan berkeadilan tidak akan tercapai. Juga, tanpa pendidikan masyarakat tidak akan terbebaskan dari mata rantai kemiskinan. Ungkapan tersebut juga memang relevan dengan visi sekolah rakyat. Yaitu, mencetak agen perubahan pada setiap keluarga miskin, melalui pendidikan berkualitas guna memutus transmisi kemiskinan antar generasi (halaman Kementerian Sosial).

Dari visi Sekolah Rakyat, sepertinya pemerintah faham bahwa lokomotif utama pemutus rantai kemiskinan adalah pendidikan. Lalu, dalam konteks Sekolah Rakyat, negara harus hadir, untuk memfasilitasi masyarakat miskin demi bisa mengecap pendidikan. Di titik ini program tersebuti baik belaka adanya. Asesment ini diperkuat dengan angka kemiskinan yang masih tergolong tinggi di negara kita. BPS mencatat tahun 2025, tingkat kemiskinan tersebut ada di angka 8,25% dari total populasi penduduk. Artinya 23,36 juta rakyat Indonesia masih dikategorikan masyarakat miskin.

“Sekolah Rakyat tidak berfokus hanya pada pengajaran ilmu saja. Tapi juga memberdayakan orang tua siswa dan memuliakan warga kurang mampu”, kata Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, dimuat sejumlah media di Jakarta. Agus Jabo melanjutkan, penyediaan akses pendidikan bagi masyarakat miskin melalui Sekolah Rakyat adalah bentuk nyata dari upaya negara menghadirkan Keadilan Sosial, sebagaimana diamanatkan pasal 33 Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Mandailing Natal dan Sekolah Rakyat

Catatan BPS Provinsi Sumatera Utara tahun 2025, angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk di Kabupaten Mandailing Natal adalah 9,22 tahun. Artinya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat di Mandailing Natal hanya sampai jenjang Sekolah Menengah Pertama saja. Artinya juga, tingkat anak putus sekolah di kabupaten ini masihlah tinggi.

Bandingkan dengan dua kabupeten dan kota tetangga kita, Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan. Tapanuli Selatan misalnya, RLS di sana adalah 9,59 tahun. Sedang Kota Padangsidimpuan angkanya jauh lebih tinngi, yaitu mencapai 11,23 tahun.

Namun mereka jeli, sangat respek terhadap program pendidikan. Dua daerah itu pengusul Sekolah Rakyat. Bahkan di Tapanuli Selatan, gedung sebagai fasilitas sekolah ini sudah hampir rampung dikerjakan, tidak mai-main nilainya. Menurut portal resmi infografis Kemenkeu Indonesia, nilai bangunan dan fasilitas Sekolah Rakyat tersebut mencapai 150 hingga 200 milyar rupiah.

Lalu, kenapa Madina tidak memanfaatkan peluang membangun sekolah Rakyat tersebut seperti halnya kabupaten/kota tetangga kita?

Apakah di daerah Mandailing Natal dengan luas wilayah 662.070 ha tidak mampu mendapatkan lokasi sekolah yang hanya seluas lebih kurang 5 hektare ?

Kita tidak tahu pasti.

Frasa Sekolah Rakyat itu kembali mengapung. Frasa yang sempat hilang dari memori kita, namun tetap tersimpan di lembaran sejarah. Di saat orang-orang ramai membicarakannya. Ketika kita kembali ingat pada ucapan-ucapan Paulo Freira, sang filsup dan kritikus dunia pendidikan. Bahwa jawaban terhadap ketidak-adilan dan pembebasan dari kemiskinan hanya pendidikan, ya pendidikan.

 

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Marsialapari Tradisi Gotong Royong Masyarakat Mandailing

    Marsialapari Tradisi Gotong Royong Masyarakat Mandailing

    • calendar_month Selasa, 13 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Harvina, S.Sos Tradisi gotong royong telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Tradisi ini dapat terlihat dari kebiasaan masyarakat kita yang saling membantu dalam melakukan setiap kegiatan, misalnya dalam prosesi pernikahan, kematian, menjaga lingkungan dan bercocok tanam. Namun, beberapa tahun terakhir, tradisi gotong royong tanpa disadari mulai terkikis keberadaannya, terutama pada masyarakat yang hidup di […]

  • Pelantikan Bupati Padang Lawas Ditunda

    Pelantikan Bupati Padang Lawas Ditunda

    • calendar_month Senin, 12 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta memutuskan pelantikan Ali Sutan Harahap sebagai bupati defenitif Padanglawas (Palas), Sumatera Utara ditunda. Keputusan PTUN Jakarta tersebut dikeluarkan Jumat (9/11) lalu.“Kami sudah menerima salinan putusan PTUN Jakarta itu,”kata kuasa hukum mantan Bupati Palas Basyrah Lubis dari Kantor Hukum Izha & Izha, Jamaluddin Karim di Jakarta, Minggu […]

  • Proses Tender Di Dinas PUP Madina Tak Transparan

    Proses Tender Di Dinas PUP Madina Tak Transparan

    • calendar_month Kamis, 23 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Merasa Tender Paket Proyek di Dinas PUP Kabupaten Mandailing Natal tidak transparan dan di duga sarat KKN, CV Karya Indah melayangkan surat penyanggahan tertanggal 06 September 2010 lalu kepada Bupati Madina cq pengguna anggaran yang dalam hal ini Kadis PU Madina. Setelah mendapat surat sanggahan, Kadis PUP menjawab dengan isi surat sanggahan yang di jawab […]

  • Sampah Menumpuk di Depan SDN 0102 Sibuhuan

    Sampah Menumpuk di Depan SDN 0102 Sibuhuan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PALAS – Sejak seminggu terakhir, sampah dibiarkan menumpuk di depan SDN 0102 Sibuhuan. Dilokasi ini juga tidak disediakan tong sampah sehingga sampah berserakan dan terlihat jorok. Ahmad Zuhri salah satu warga kepada wartawan kemarin mengatakan, melihat kondisi sampah sejak lama didiamkan di depan SD tersebut. Dan tidak jarang pula sampah dibakar. Kemudian sampah ini juga […]

  • Polisi Masih Selidiki Kepemilikan 11 Escapator Tambang Emas Ilegal di Madina

    Polisi Masih Selidiki Kepemilikan 11 Escapator Tambang Emas Ilegal di Madina

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online) : sampai hari ini, Tim penyidik Polres Mandailing Natal ( Madina), masih terus melakukan penelusuran terhadap kepemilikan 11 alat berat escapator yang di amankan polisi saat razia tambang emas ilegal di Kecamatan Kota Nopan. Dari 12 alat berat yang disita polisi, baru satu alat berat yang sudah di ketahui kepemilikannya dan […]

  • Wilayah Calon Kabupaten Pantai Barat Mandailing 45 Persen

    Wilayah Calon Kabupaten Pantai Barat Mandailing 45 Persen

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon kabupaten Pantai Barat Mandailing memiliki luas sekitar 45 persen, sementara kabupaten induk Mandailing Natal (Madina) tersisa 55 persen. Calon kabupaten ini juga memiliki sumber daya alam lengkap, yaitu perkebunan, kehutanan, pertambangan, sungai, laut dengan panjang garis pantai sekitar 170 km serta 24 pulau-pulau kecil. Kepala Bagian Humas Pemkab Madina, Arbiuddin […]

expand_less