Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

CANDI SIMANGAMBAT, RIWAYATMU KINI

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 12 Okt 2016
  • print Cetak

Catatan Ringkas : Askolani Nasution
Ketua Pendiri Gerep Institute

Reruntuhan Candi Siwa di Simangambat

Reruntuhan Candi Siwa di Simangambat

Candi Simangambat diyakini telah ada sejak abad ke-9 masehi dari masa Hindu-Budha klasik. Lebih tua dari candi-candi lainnya di kawasan Mandailing, misalnya Candi Bahal atau Candi Portibi yang selama ini lebih populer di wilayah bekas kabupaten Tapanuli Bagian Selatan. Kawasan candi di Padang Lawas baru dibangun pada abad 11 masehi. Jadi ada rentang waktu 200 tahun setelah candi kawasan Simangambat dibangun.

Candi Simangambat menguatkan deskripsi tentang kawasan kebudayaan Mandailing yang tertera dalam Kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365 masehi. Candi ini juga membuktikan bahwa penduduk sudah ada yang menatap di kawasan Mandailing yang usianya jauh lebih tua dari klaim tarombo (legenda silsilah) dari etnik Toba. Candi ini juga mementahkan anggapan yang diyakini selama ini bahwa penduduk Mandailing terbentuk dari sebaran penduduk dari Utara yang katanya terjadi pada abad ke-15 masehi.

Berdasarkan penelitian Arie Sudewo dari Balai Arkeologi beberapa tahun lalu, Candi Simangambat memiliki konstruksi yang sama dengan candi Sewu di Jawa Tengah. Candi Sewu sendiri dibangun pada abad delapan masehi. Adanya kesamaan konstruksi itu menimbulkan asumsi berpikir bahwa kebudayaan (dengan tujuh unsurnya) penduduk di sekitar candi Sewu setara dengan kebudayaan penduduk di kawasan Mandailing pada abad yang sama. Dengan begitu, abad ke delapan masehi, Mandailing sudah memiliki peradaban yang tinggi.

Asumsi lainnya, jika candi Sewu memiliki ratusan candi, (sewu sendiri berarti seribu), maka di sekitar Candi Simangambat juga terdapat “banyak” candi lainnya yang belum ditemukan. Asumsi terakhir ini semakin kuat dengan adanya candi “Saba Siabu” dan rangkaian candi yang diyakini tertimbun di sekitar Aek Milas Siabu hingga sepanjang aliran sungai Aek Siancing – Aek Badan – dan Aek Sipuruk yang mengalir di bawah jembatan Bonandolok.

Dari konstruksinya dan patahan arca “kepala kala”, Candi Simangambat, juga diyakini merupakan pintu gerbang sebelah Barat dari sebuah kerajaan besar. Klaim itu juga menimbulkan asumsi baru bahwa sebelah Timur Candi Simangambat merupakan sebuah kawasan kerajaan besar yang membentang sekurang-kurangnya hingga sepanjang aliran Sungai Aek Siancing – Aek Badan – dan Aek Sipuruk.

Selain itu, beberapa catatan tentang adanya jejak peradaban yang membentang dari Candi Simangambat hingga ke daerah aliran sungai Barumun juga menimbulkan asumsi baru bahwa kawasan antara Candi Simangambat-aliran Sungai Aek Badan hingga ke arah Utara pernah menjadi pusat peradan besar.

Candi ini pada awalnya dipublikasikan oleh peneliti Belanda, Bosch dan Schintger, tahun 1920. Tahun 2008 dilakukan penelitian oleh tim peneliti Universitas Sumatera Utara. Tahun 2009 kembali dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi Medan. Hasil-hasil penelitian itu dipublikasikan dalam berbagai laporan, termasuk laporan yang amat mendetail dari Arie Sudewo.

Struktur Candi Simangambat masih ditemukan dengan jelas dari susunan batu bata merah di bagian dalam dan batu pasir di bagian luar. Ditemukan juga struktur batu berhias dan patung kepala kala. Pembangunan candi ini dengan bentangan yang luas menimbulkan asumsi besarnya jumlah penduduk kawasan ini pada saat itu. Selain itu, candi dengan ornamen yang khas, menunjukkan tingginya ilmu arsitektur masyarakat sekitar.

Semua asumsi itu tentu saja memerlukan kajian arkeologi dan entografi yang mendalam terutama peran pemerintah daerah dan lembaga pelestarian kebudayaan Mandailing. Sekurang-kurangnya dengan sebuah studi yang mendalam, plus pelestarian, akan mampu menjelaskan secara komprehensif tentang manusia Mandailing di masa lalu, itu yang menjadi kita hari ini. Bukan macam sekarang, semua serba mengambang. Seolah-olah kita yang sekarang ada begitu saja tanpa sejarah yang lengkap.

Lebih buruk lagi lagi kita menganggap bahwa pelestarian budaya itu yang sampai pada tahap menuliskan nilai-nilai adat dan budaya saja, yang implementasinya hanya sebatas pemberian marga, gelar kehormatan, dan prosesi adat lainnya. Tanggung jawab kita hari ini adalah bagaimana mewariskan sejarah dan kebudayaan itu kepada generasi setelah kita, selagi semuanya masih membekas.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wabup Atika: Senam untuk Kesegaran Fisik dan Pikiran

    Wabup Atika: Senam untuk Kesegaran Fisik dan Pikiran

    • calendar_month Jumat, 18 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengatakan kegiatan senam bersama yang dilaksanakan setiap Jumat di lapangan kantor Bupati Lama, Kelurahan Dalan Lidang, baik untuk kesegaran fisik dan pikiran. “Program senam bersama ini merupakan salah satu platform dalam penyegaran fisik dan pikiran,” kata Atika kepada wartawan usai mengikuti senam, […]

  • Solusi Komprehensif Menangani Banjir agar Tak Berulang

    Solusi Komprehensif Menangani Banjir agar Tak Berulang

    • calendar_month Senin, 7 Des 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nelly, M.Pd Akademisi dan Aktivis Peduli Negeri Banjir kembali melanda Kota Medan, Binjai dan Kabupaten Deli Serdang, Jumat (4/12/2020). Di sejumlah titik, air belum juga surut, masih ada rumah yang terendam hingga atap rumah. Khususnya yang ada di bantaran sungai. Informasi yang dihimpun, ada enam warga yang dinyatakan hilang di kawasan sunggai. Tiga orang […]

  • Menteri Agama Lantik Torkis Lubis Ketua STAIN Madina

    Menteri Agama Lantik Torkis Lubis Ketua STAIN Madina

    • calendar_month Kamis, 22 Mar 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin resmi melantik Dr. H. Torkis Lubis, Lc., D.E.S.S sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal. Torkis Lubis dilantik di kantor Kementerian Agama RI, Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Selasa (20/03/2018) bersama 5 ketua dan rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) lainnya. […]

  • Konflik Pemuda Desa Tabuyung dan Bintuas, Ketua Pemuda Pancasila: Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

    Konflik Pemuda Desa Tabuyung dan Bintuas, Ketua Pemuda Pancasila: Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

    • calendar_month Minggu, 30 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Konflik antar pemuda Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG) dan Desa Bintuas, Kecamatan Natal yang bermula pada sekitar 2 bulan berujung pembakaran gudang ikan dan gudang minyak warga Bintuas pada Sabtu (29/1) malam. Akibatnya sebagian warga Bintuas dikabarkan terpaksa mengevakuasi diri ke tempat yang aman. Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Majelis […]

  • Warga Desa Lancat di Lingga Bayu Dikejutkan Penemuan Mayat Ditimpa Batu Besar

    Warga Desa Lancat di Lingga Bayu Dikejutkan Penemuan Mayat Ditimpa Batu Besar

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Linggabayu ( Mamdailing Online ): warga desa Lancat di Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal dihebohkan dengan penemuan mayat yang tertimpa batu di pinggiran sungai batangnatal. Penemuan mayat itu sontak membuat warga sekitar mendatangi lokasi. Dalam video yang beredar di media sosial sekujur tubuh korban tertimpa batu kecuali bagian kepala korban. Belum diketahui pasti identitas […]

  • Diskriminasi Akibat Islamphobia

    Diskriminasi Akibat Islamphobia

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ross A.R Aktivis Dakwah Medan Johor   Viral di jagad sosial media tentang pemberitaan seorang ustadz tanah air yaitu Ustadz Abdul Somad yang lebih sering di panggil UAS. Pasalnya UAS dan keluarga dicekal di Singapura pada saat akan berlibur. Dan yang lebih mirisnya lagi, menurut pemerintah Singapura itu dikarenakan UAS pernah berceramah terkait tentang […]

expand_less