Perempuan Bersuara di Mandailing Online
- account_circle Moechtar Nasution
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak
(Catatan Menjelang Ulang Tahun ke-16 Mandailing Online)

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)
Pernahkah anda membayangkan sebuah ruang diskusi ideal yang dulu sering digagas oleh Jurgen Habermas, filsuf dan sosiolog terkemuka asal Jerman yang lahir pada 18 Juni 1929? Tokoh penting ini melahirkan sebuah konsep besar bernama ruang publik (public sphere), di mana siapa saja tanpa peduli apa latar belakang kelas sosial atau gendernya bisa duduk bersama, menyesap kopi hangat, lalu berdebat dengan kepala tegak tentang arah masa depan peradaban mereka. Sesuatu yang indah di atas kertas, namun sayangnya, realitas sosial di lapangan sering kali tidak seramah itu. Bagi perempuan di daerah, ruang diskusi publik semacam itu kerap kali terkunci rapat oleh dua lapis gembok yang tebal yakni arus informasi yang terlalu homogen dan jerat budaya patriarki lokal yang masih sangat kuat melekat.
Di tengah sunyinya suara perempuan di panggung publik inilah, sebuah portal digital lokal bernama Mandailing Online hadir membawa angin segar, sekaligus menjadi kunci pembuka gembok tersebut. Media ini tidak sekadar bertindak sebagai papan pengumuman digital atau penyalur informasi berita bagi masyarakat Tapanuli Bagian Selatan. Lebih dari itu, ia telah menjelma menjadi sebuah panggung inklusif yang meruntuhkan batasan, memberikan ruang merdeka bagi jemari para penulis perempuan daerah untuk mengutarakan pendapat, kegelisahan, dan hasil kajian mereka tanpa rasa takut.
Selama berpuluh-puluh tahun, produksi pengetahuan dan opini publik seolah menjadi hak eksklusif mereka yang beruntung tinggal di pusat kota besar. Penulis dari daerah, terutama perempuan, kerap mengalami marginalisasi ganda. Mengirim tulisan ke media cetak nasional sering kali berakhir dengan penolakan otomatis akibat bias geografis atau selera pasar yang terlalu komersial. Mandailing Online memotong mata rantai isolasi tersebut dengan memanfaatkan kekuatan literasi digital. Melalui sistem ruang redaksi yang terbuka terhadap kontributor publik, platform ini mendemokratisasi akses menulis.
Jarak geografi dilebur menjadi angka nol. Kini, seorang dosen yang menetap di Panyabungan, seorang guru sekolah dasar di pelosok desa, hingga siswi sekolah menengah memiliki hak dan kesempatan yang sama persis untuk melempar gagasan mereka ke ruang global. Jarak tidak lagi menjadi alasan pembenar bagi perempuan untuk tetap memilih diam. Saya sudah membuktikan hal ini, saat Malika Arrasyidah Nasution–anak saya nomor dua saat itu masih sekolah MTs Negeri 2 Panyabungan membuat cerpen dan begitu dikirim ke redaksi hanya menunggu jeda satu hari langsung “dinaikkan”.
Secara kultural di bumi Mandailing, kita semua tahu bahwa tradisi tutur seperti Markobar (sidang adat yang penuh petuah dan nasihat) secara struktural hampir selalu didominasi oleh kaum laki-laki. Perempuan umumnya menempati ruang domestik di belakang layar, atau menjadi pendengar yang pasif di sudut gelanggang adat. Menariknya, ruang tanpa batas di media digital secara perlahan merekonstruksi tatanan sosiologis ini tanpa memicu konflik terbuka di dunia nyata. Melalui tulisan, para penulis perempuan berhasil menciptakan ruang “Markobar Digital” mereka sendiri. Di balik layar telepon pintar, mereka menyampaikan argumen, mengupas ketimpangan sosial, dan menawarkan solusi visioner tanpa harus menabrak pakem adat fisik yang kaku. Ini adalah sebuah bentuk emansipasi literasi yang sangat anggun, sebuah gerakan kebudayaan yang tidak bising namun dampaknya meresap jauh ke akar rumput.
Ketika hari ini Mandailing Online memberikan karpet merah bagi tulisan kritis perempuan, media lokal ini seolah sedang menjemput kembali takdir sejarah yang pernah digoreskan oleh Sati Nasution atau Willem Iskander ratusan tahun silam terkait dengan Pendidikan yang memerdekakan tak terkecuali kepada Perempuan.
Konsistensi perempuan menulis opini hari ini bukanlah sebuah riak kecil, melainkan lurus melangkah menyambung garis api perjuangan intelektual yang luhur. Sebuah pembuktian bahwa suara perempuan kini benar-benar telah menemukan ruang merdekanya sendiri.
Komitmen inklusivitas ini nyatanya bukanlah sebuah kebetulan sejarah atau dampak otomatis dari modernisasi teknologi belaka.” There is a mature ideological design and empathy behind its editorial room”. Dalam sebuah diskusi hangat di suatu malam di kediaman saya di Jalan Bermula Raya, saya menegaskan dihadapan Dahlan Batubara selaku Pimpinan Umum Mandailing Online sebuah refleksi penting dan empiris bahwa di tengah realitas budaya di mana hegemoni penulisan opini dan kajian strategis daerah dan nasional dianggap sebagai monopoli mutlak kaum laki-laki namun faktanya Mandailing Online justru berani berdiri tegak melahirkan sebuah antitesis yang nyata. Kepeloporan ini nyata disini, memberikan porsi kepada perempuan untuk menuliskan ide, gagasan dan kegelisahannya menatap sesuatu permasalahan.
Kebijakan redaksi yang “mempersilahkan” dan memberikan karpet merah bagi para perempuan untuk mengutarakan pendapat secara merdeka di kolom opini adalah sebuah terobosan progresif yang luar biasa. Langkah Dahlan Batubara ini membalikkan piramida dominasi wacana lokal membuktikan bahwa Mandailing Online tidak sekadar memburu statistik jumlah pembaca atau klik, tidak sekedar mencari popularitas dan validasi semata, tidak juga selalu memikirkan ketepatan algoritma dan yang lainnya, melainkan sedang melakukan rekayasa sosial demi kesetaraan intelektual di daerah. Terobosan berharga ini adalah mercusuar literasi yang tidak boleh padam namun wajib dipertahankan bahkan ditingkatkan skalanya di masa-masa mendatang.
Keberanian dan kepeloporan Mandailing Online dalam konteks ini tidak boleh dibaca sebagai langkah jurnalisme yang biasa-biasa saja. Di tingkat lokal, meloloskan tulisan perempuan yang membedah isu-isu makro dan strategis adalah sebuah pertaruhan redaksional (redactional bravery). Di tengah tren media lokal hari ini yang sering kali terjebak dalam pragmatisme, menjadi corong seremonial atau sekadar humas instansi untuk dan alasan kepentingan—Mandailing Online justru tampil sebagai pelopor yang kukuh. Dahlan Batubara secara sadar menolak tunduk pada arus pragmatisme tersebut. Dia konsisten memilih untuk terus memajang tajamnya nalar perempuan di halaman oponi untuk membuktikan bahwa idealisme jurnalisme berdiri di atas segalanya. Ini adalah sebuah maklumat ideologis yang menegaskan bahwa bagi media ini, membuka sumbatan suara publik jauh lebih berharga .
Komparasi Bersama Lanskap Media Online Lokal
Untuk mengukur seberapa mahal nilai kepeloporan ini, kita perlu meletakkan Mandailing Online di dalam cermin komparasi bersama lanskap media online lokal sewilayah. Jika kita mengamati potret jurnalisme siber di Mandailing Natal, sebagian besar portal berita lokal cenderung mengadopsi model hard news konvensional. Fokus utama mereka adalah melaporkan peristiwa baik kriminal, kasus hukum, agenda kedinasan seremonial, hingga dinamika politik praktis harian. Dalam struktur pemberitaan semacam itu, ruang bagi artikel opini dan esai mendalam (kolom) sangatlah sempit, bahkan sering kali absen sepenuhnya.
Di sinilah Mandailing Online menciptakan garis demarkasi dan pembeda yang sangat tegas. Media ini memisahkan diri dari pakem ketergantungan berita seremonial dengan secara berani mengalokasikan beberapa halaman utama secara utuh bagi penulisan opini analitis. Melalui rubrikasi pemikiran yang konsisten, platform ini tidak memosisikan perempuan sebagai objek laporan, melainkan sebagai konseptor kebijakan. Ketika media lokal lain sibuk mengejar aktualitas berita peristiwa, Mandailing Online justru berinvestasi pada kedalaman ide, mengubah platform berita menjadi ruang diskusi teoretis-empiris yang merdeka dan setara bagi perempuan.
Paradoks Panyabungan: Kota Intelektual yang Sunyi dari Suara Perempuan
Namun, ketika kita melihat realitas empiris di lapangan secara jujur dan objektif, kita harus mengakui bahwa menemukan perempuan yang bisa dan berani bersuara dalam bentuk tulisan di media massa adalah perkara yang amat sangat sulit. Ini adalah sebuah kelangkaan intelektual yang nyata. Sungguh sebuah ironi yang memprihatinkan, mengingat di kota Panyabungan ini sekarang sudah berdiri megah berbagai perguruan tinggi. Sudut-sudut kota ini dipenuhi oleh papan nama kampus yang sering dijuluki publik sebagai rahim lahirnya kaum akademisi. Panyabungan sering kali dijuluki sebagai mukimnya para intelektual, tempat di mana gelar sarjana diproduksi secara massal setiap tahunnya.
Namun, mengapa kelimpahan institusi akademik ini tidak berbanding lurus dengan lahirnya penulis opini perempuan? Di sinilah letak “paradoks sosiologis” itu bersemayam. Menjamurnya ruang kuliah ternyata hanya melahirkan “intelektual menara gading” yang jago berteori di dalam kelas, namun gagap dan ciut ketika harus menuangkan pemikiran ke ruang publik digital.
Ada dua ganjalan psikologis dan kultural yang mendalam di balik fenomena ini. Pertama, adanya “budaya nerimo intelektual”. Banyak perempuan berpendidikan tinggi di daerah terjebak dalam rasa aman akademis, mereka merasa tugas intelektualnya selesai ketika nilai kartu hasil studi mahasiswa keluar atau ketika jam mengajar di kampus usai. Menulis opini di media membutuhkan keberanian untuk dikritik, didebat, dan berhadapan langsung dengan publik merupakan sebuah risiko sosial yang sering kali dihindari oleh kaum terpelajar daerah demi menjaga kenyamanan status sosial mereka. Ketika opini tersebut sudah diwilayah publik, maka bisa jadi akan ada tanggapan, koreksi bahkan adu argumen dan itu sah-sah saja untuk diuji melalui debat atau tanggapan. Saya sendiri sudah beberapa kali terlibat dalam debat intelektual dengan penulis lainnya. Saling berdialektika itu sebagai seni berselencar tanpa harus saling menjatuhkan. Debat yang diposisikan untuk saling melengkapi sehingga pertukaran informasi dan wacana tidak berlangsung dalam emosi intelektual.
Yang kedua, masih kuatnya stigma internal (self-censorship). Di lingkungan mukim intelektual sekalipun, perempuan sering kali merasa tidak percaya diri atau merasa bahwa membahas isu-isu makro (seperti fiskal, regulasi energi, atau geopolitik) adalah wilayah domain laki-laki. Dan pemikiran ini salah besar dan harus dirombak.
Perguruan tinggi di Panyabungan terbukti berhasil mentransfer ilmu pengetahuan secara mekanis, namun sering kali gagal menumbuhkan karakter petarung pemikiran pada diri mahasiswi maupun dosen perempuannya. Walhasil, panggung literasi tetap sepi, dan kelangkaan ini membuat keberadaan perempuan yang mau menulis menjadi sesuatu yang sangat mewah.
Sebagai buah manis dari antitesis politik redaksi tersebut, roda pemikiran perempuan di platform ini berhasil digerakkan oleh dua pilar utama yang paling konsisten dari tahun ke tahun. Ketika kontributor lain datang dan pergi secara situasional, kedua figur perempuan inilah yang secara disiplin menjaga agar api ruang publik digital ini tetap menyala.
Tersebutlah sebuah naman yakni Mariani Siregar, M.Pd.I. sebagai akademisi dan dosen Pendidikan Islam yang terpampang dalam esainya, ia konsisten menyumbangkan buah pikirannya di kolom opini sejak tahun 2022. Tulisan-tulisannya tidak main-main, terbukti dalam artikelnya seperti “Komersialisasi Kursi Perguruan Tinggi, Bukti Pendidikan Berwajah Kapitalistik” hingga analisis makronya mengenai pergeseran peta kekuasaan pasca-gencatan senjata Hamas di Gaza, ia konsisten menggunakan pisau analisis tajam untuk membedah cengkeraman sistem ekonomi sekuler-kapitalistik global.
Estafet literasi ini kemudian diperkuat sejak tahun 2023 dengan hadirnya pilar kedua, yakni Dewi Soviariani. Sebagai seorang Ibu dan pemerhati umat yang sangat produktif, fokus kajiannya bergerak dinamis dari mulai membentengi moralitas generasi muda dari infiltrasi sekularisme liberal, hingga secara vokal membedah ketimpangan kebijakan publik yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak di daerah. Kemarin beberapa hari yang lalu, dia menulis fenomena LGBT.
Keberadaan Mariani dan Dewi di tengah gersangnya kultur menulis di mukim intelektual kaum hawa ini adalah sebuah oase yang luar biasa. Mereka berdua mendobrak kemapanan akademis yang pasif, membuktikan bahwa seorang intelektual sejati tidak diukur dari seberapa megah kampus tempatnya bernaung, melainkan lurus melangkah dari ruang teori menuju ruang publik nyata untuk mengawal nasib umat.
Karakteristik Isu
Jika ditelisik lebih mendalam, arah pemikiran yang ditiupkan oleh dua pilar konsisten ini membawa karakteristik yang berani mendekonstruksi bias gender. Isu-isu makro yang biasanya dianggap sebagai “domain laki-laki” justru dikuliti secara mendalam oleh mereka. Jejak advokasi ini terlihat sangat terang benderang dalam artikel opini karya Dewi Soviariani yang bertajuk “Sebaran Listrik Belum Merata, Negara Abai Rakyat Menderita”. Melalui tulisan tersebut, ia membongkar realitas pahit ketimpangan infrastruktur energi yang kontras dengan melimpahnya kekayaan alam wilayah.
Substansi penting dari tulisan-tulisan mereka adalah kemampuannya melompat dari sekadar kritik menjadi tawaran solusi alternatif. Baik Mariani maupun Dewi tidak membiarkan artikel mereka berakhir sebagai keluhan namun mereka menawarkan rekonstruksi tata kelola berbasis regulasi, energi, sosial, dan pendidikan yang berkeadilan serta menuntut negara hadir menjamin hak-hak mendasar rakyat tanpa jerat komersialisasi. Lewat kekuatan substansi ini, mereka membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas penuh sebagai konseptor kebijakan publik. Keberanian mereka untuk menulis sesuatu hal itu patut diapresiasi. Keberadaan kedua tokoh ini menegaskan bahwa kehadiran suara perempuan di Mandailing Online bukanlah riak kecil yang instan, melainkan sebuah gerakan pemikiran yang memiliki stamina intelektual yang panjang dan berdaulat.
Ketika ruang publik dibuka selebar-lebarnya tanpa batasan bagi perempuan, efek domino yang dihasilkan melampaui jumlah hitungan klik atau statistik pembaca. Kehadiran figur penulis perempuan yang kritis secara ajeg di Mandailing Online berfungsi sebagai stimulus intelektual bagi pembaca perempuan lainnya. Melihat rekam jejak konsisten dari Mariani dan Dewi yang terus mengudara dari tahun 2022 hingga kini, dan berani mengutarakan kritik dan analisis di media publik jelas akan mengikis rasa rendah diri sosiologis (inferiority complex) kalangan perempuan. Pola interaksi digital ini melahirkan kesadaran baru di kalangan generasi muda bahwa ruang debat, ruang menulis, dan ruang intelektual adalah milik semua gender secara adil tanpa diskriminatif.
Namun, tentu saja untuk merawat demokratisasi ruang publik digital ini tentu bukan tanpa kerikil tajam. Perjuangan para penulis perempuan di daerah masih dibayangi tantangan nyata di lapangan. Yang paling nyata kemungkinan adanya risiko perundungan siber (cyberbullying) berupa komentar negatif dari pembaca yang belum siap menerima kritik tajam dari seorang perempuan. Oleh karena itu, konsistensi portal seperti Mandailing Online tidak boleh berhenti hanya pada penyediaan kolom tulisan, melainkan juga harus berevolusi menjadi benteng perlindungan digital yang menjamin bahwa ruang aman ini tetap nyaman, inklusif, dan bebas dari intimidasi.
Menatap langkah panjang ke depan, bertepatan dengan momentum emas hari jadinya yang ke-16 di bulan Agustus nanti, Mandailing Online kini dihadapkan pada tantangan untuk tidak sekadar menjadi wadah penampung pasif, melainkan bertransformasi menjadi laboratorium kaderisasi literasi. Ada tanggung jawab moral untuk memecah kebuntuan “Paradoks Panyabungan” secara struktural. Harapan saya suatu hari nanti, Redaksi dapat memulainya dengan menginisiasi gerakan MO Writing School—sebuah ruang pelatihan penulisan esai yang menyasar langsung mahasiswi di berbagai kampus lokal. Langkah jemput bola ini penting untuk memastikan bahwa api konsistensi yang selama ini dijaga oleh Mariani Siregar, Dewi Soviariani dan penulis perempuan lainnya akan menemukan estafet penerusnya.
Selain itu, pemberian apresiasi tahunan seperti “Anugerah Pena Perempuan” bisa menjadi stimulus visual yang kuat untuk meruntuhkan dinding ketidakpercayaan diri sosiologis di kalangan intelektual perempuan muda. Dengan memperluas ekosistem ini, media ini tidak lagi sekadar menyediakan karpet merah, melainkan sedang menanam benih-benih pemikir masa depan daerah.
Namun, sebagai catatan reflektif menjelang usianya yang ke-16, kepeloporan Mandailing Online juga tidak boleh lepas dari otokritik yang jujur. Kita harus berani mempertanyakan Sejauh mana ruang merdeka ini benar-benar telah menyentuh akar rumput perempuan Mandailing? Jika dibedah secara sosiologis, ruang opini di media ini nyatanya masih menjadi “kemewahan kelas” yang didominasi oleh kaum perempuan elite terdidik dan akademisi kampus. Mandailing Online masih menghadapi pekerjaan rumah yang besar untuk meruntuhkan barikade bahasa akademik yang kaku, agar kaum perempuan dari kalangan petani, pedagang pasar, hingga ibu rumah tangga biasa di Muara SIpongi, Sihepeng atau di Panggautan Natal tidak merasa minder untuk ikut menuliskan kegelisahan mereka.
Merawat Peradaban yang Inklusif
Pada akhir esai ini, demokratisasi ruang publik bukan hanya tentang memberikan hak suara bagi Perempuan di bilik suara saat pemilu, melainkan menjamin hak setara untuk mewarnai ruang pemikiran. Komitmen portal Mandailing Online dalam menyediakan panggung bebas sensor pragmatisme bagi penulis perempuan adalah investasi sosial yang tak ternilai harganya.
Sejak didirikan pertama kali pada 27 Agustus 2010, media ini melangkah pasti menuju usia perjalanannya yang ke-16 tahun pada tanggal 27 Agustus nanti. Melalui ketikan jemari para perempuan tangguh yang konsisten hingga kini menuju masa depan, itu mengartikan bahwa Mandailing Natal tidak hanya sedang membaca berita hari ini, tetapi sedang merawat sebuah peradaban yang inklusif, adil, dan tercerahkan.
Wallohu Aqlam Bisshawab.
- Penulis: Moechtar Nasution
- Editor: Dahlan Batubara

