Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Angka Bunuh Diri Generasi Tinggi, Apa Solusinya?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 29 Okt 2023
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt

Mahasiswa merupakan sosok intelektual dambaan umat. Tak sedikit masyarakat menumpukan harapannya di pundak mahasiswa. Mahasiswa seharusnya menjadi sosok yang segaris dengan harapan bangsa. Yakni menjadi insan cerdas nan mumpuni memberi solusi bagi umat.

Namun, ditengah gempuran sekuler (pemisahan agama dengan kehidupan) terbentuklah pemuda yang lemah iman, mudah menyerah, putus asa, optimis, serta pragmatis.

Hal tersebut menyebabkan maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Dalam 2 hari, 2 kasus bunuh diri terjadi. Dilansir dari Republika (13/10/23) dua kasus dugaan bunuh diri terjadi di Semarang, pertama dilakukan NJW (20) warga Ngaliyan, Semarang, mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri yang ditemukan tewas di Mal Paragon Semarang, Selasa (10/10/2023). Kasus kedua, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Semarang berinisial EN (24) warga Kapuas, Kalimantan Tengah, yang ditemukan meninggal dunia di dalam kamar indekosnya, Rabu (11/10/2023).

Kedua kasus tersebut hanya sebagian kecil dari sekian banyak kasus yang terjadi. Pasti ada kasus bunuh diri yang tidak masuk dalam berita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 mencatat bahwa Indonesia memiliki rasio bunuh diri sebesar 2,4 per 100 ribu penduduk. (Tempo, 14/10/23)

Apa penyebabnya?

Selama masih hidup di dunia, manusia akan senantiasa mengalami masalah. Tidak ada satupun insan di muka bumi yang bebas dari masalah. Maka, sebagai insan yang beragama harusnya setiap apapun masalahnya dikembalikan kepada solusi Islam, bukan menjadikan bunuh diri sebagai solusi. Jika ditelusuri penyebab bunuh diri dijadikan solusi bisa beragam. Misalnya persoalan akademik, asmara, keluarga ataupun perundungan.

Secara umum disadari atau tidak, kondisi psikis seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar yang buruk dan individu yang tidak memahami hak sesama seringkali menyebabkan gangguan mental. Misalnya, circle pertemanan yang jauh dari agama akan menyebabkan toxic circle. Perkataan yang keluar dari lisan yang jauh dari agama akan menyakiti perasaan dan gangguan mental.

Tekanan psikis bisa juga terjadi karena kondisi keluarga yang tak harmonis. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat penuh kasih sayang namun sayangnya menjadi tempat yang penuh masalah. Maka, saat anak memiliki permasalahan, keluarga tidak dapat memberikan solusi. Walhasil pelariannya di luar rumah. Kondisi lingkungan sekitar pun toxic. Akhirnya setelah merasa tak menemukan solusi, bunuh diri pun menjadi pilihan. Seolah-olah semua masalah selesai dengan bunuh diri. Padahal, itu hanya akan membuat sengsara di akhirat. Nauzubillah.

Tentu, kejadian seperti ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Mesti ada upaya memahami akar permasalahannya dan mencari solusi dari masalah tekanan mental agar tidak terus-terusan memakan korban.

Akar Persoalan

Saat ini, negara kita dipengaruhi sekuler yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Sehingga pemahaman ini menuntun manusia untuk berbuat sekehendaknya tanpa mempertimbangkan terpuji atau tercela dengan kacamata agama. Oleh karena itu wajar jika pemahaman ini membentuk arah pandang manusia hari ini.

Pada interaksi sosial, baik di keluarga, masyarakat umum ataupun komunitas-komunitas, banyak yang tak menggunakan Islam dalam pengaturannya. Padahal, aturan Islam pasti akan menenangkan manusia dan memberikan solusi terbaik bagi seluruh permasalahan yang terjadi.

Jadi tak heran, sangat mudah didapatkan komentar atau tatapan negatif yang tertuju pada individu yang kondisinya jauh dari standar duniawi. Tanpa disadari, berbagai toksik di kehidupan sosial berpengaruh pada kondisi psikis seseorang.

Realitas ini sesungguhnya lahir dari sistem hidup yang bukan dari pencipta manusia, melainkan berasal dari buatan manusia. Rapuhnya kesehatan mental ini tak terlepas dari kondisi internal dan sistem sosial yang diterapkan saat ini. Sebagai seorang muslim kita sangat perlu untuk menata agar kondisi internal dan sistem sosial berjalan sesuai syariat. Pada kondisi internal terkait bagaimana seseorang mampu menata perasaan dan pikiran dalam menyikapi masalah. Sedangkan sistem sosial terkait dengan lingkungan antar sesama manusia yang terjalin. Bagaimana caranya?

Menata Pikiran dan Perasaan

Ketika seseorang meyakini bahwa tujuan hidupnya adalah untuk ibadah dan meraih keridaan Allah, maka ia akan senantiasa yakin bahwa setiap masalah dan ujian akan meningkatkan derajatnya. Kesadaran dan keyakinan seperti ini tentu hanya akan lahir dari keimanan yang kokoh. Maka, dengan ini perasaan-perasaan kecewa, sedih, kesal yang merupakan perasaan manusiawi akan dapat dikelola dengan baik sesuai dengan syariat.

Sejatinya, seorang mukmin tidak layak untuk melakukan tindakan bunuh diri bahkan hanya sekedar berniat pun tak layak. Karena seyogianya kehidupan seorang mukmin sangat menakjubkan. Hal ini senanda dengan hadis dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Tentu pemahaman ilmu agama menjadi kunci agar tercipta keimanan yang kokoh. Sehingga, perkataan Allah dan Rasulullah senantiasa menjadi panutan dalam kehidupan. Maka, semua ini hanya akan didapatkan jika setiap orang sadar akan pentingnya mengikuti kajian Islam kaffah. Dengan mengikuti kajian intensif maka, hati dan pikiran akan senantiasa dapat dikelola agar sesuai dengan syariat bukan syahwat belaka.

Sistem Sosial Islami

Jika perasaan dan pikiran telah dikelola dengan baik, insyaallah benteng awal pertahanan anti bunuh diri telah diraih. Namun hal ini saja tidak cukup. Sangat dibutuhkan sistem sosial Islami. Karena terkadang perasaan dan pikiran terpengaruh dari interaksi sosial di masyarakat.

Negara dalam hal ini penguasa, sangat berpengaruh dalam menciptakan sistem sosial yang sehat di tengah-tengah masyarakat. Islam, mampu menyelesaikan segala problem kehidupan. Baik dalam penataan hati dan pikiran ataupun pengaturan interaksi antar sesama manusia. Bahkan Islam mengatur hubungan bernegara.

Negara, dalam hal ini penguasa, wajib memberikan edukasi kepada masyarakat dan memastikan sistem sosial berlangsung dengan baik. Negara akan memastikan kebutuhan masyarakat (sandang, pangan, papan) tercukupi agar enggak ada masyarakat yang mengalami tekanan hidup yang terlalu berat. Karena keluarbiasaannya sistem Islam, negara mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi setiap individu rakyat.

Negara juga berperan membuat kondisi sosial yang sehat dan jauh dari lingkungan toksik. Misalnya dengan cara memperhatikan aspek interaksi sosial secara mendetail. Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (Sahih Bukhari).

Pada hadis tersebut jelas bahwa seorang muslim harus senantiasa menjaga lisannya agar tidak mengatakan perkataan yang sia sia seperti membully, mengolok-olok, berbohong, menyakiti erasaan saudaranya, dan sejenisnya. Di sisi lain, ia harus menjaga hak saudaranya dengan tidak mengambil milik orang lain tanpa izin.

Sistem informasi Islam juga senantiasa dikontrol oleh penguasa agar tidak ada sekelompok orang atau individu yang menyebar aib ataupun membuat suasana menjadi toksik bagi lainnya. Negara berupaya membuat sirkulasi informasi yang sehat, sehingga informasi-informasi negatif yang dapat menstimulus kejahatan atau penyelesaian masalah-masalah dengan bunuh diri tidak akan ditemukan.

Dalam ranah keluarga, agar terwujudnya saling kasih mengasihi serta keharmonisan maka negara membekali setiap individu ilmu yang mumpuni melalui sistem pendidikan Islam. Dengan ilmu syar’i maka anak ataupun orangtua akan memahami hak dan kewajibannya masing-masing. Sehingga lingkungan sehat dalam ranah keluarga akan diraih.

Jelas sekali, bahwa sistem sosial Islami hanya akan tegak dalam naungan sistem Islam bukan dalam naungan sistem sekuler. Antara sistem sosial, pendidikan, ekonomi juga saling berkaitan. Maka sebagai seorang muslim kita berkewajiban untuk sama-sama menegakkan sistem Islam dalam naungan negara Islam. Allahu a’lam bishowab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MARSIDAO-DAO (episode 44)

    MARSIDAO-DAO (episode 44)

    • calendar_month Selasa, 6 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara “Itu rumah kakek kalian, Nak. Paman kalian sekarang yang tinggal di sini. Namanya Hamzah. Dia adik ayahmu,” ning dadaboru i tu Si Poso. Inotnoti Si Poso bagas i. “Onma najolo bagas ni ayangku,” ning roana. Bagas i ngada saru godang, hum sa bagas ni alai na i Mandailing i […]

  • Warga 4 Desa Minta Lahan Mereka Dikeluarkan dari Izin Lokasi KP USU

    Warga 4 Desa Minta Lahan Mereka Dikeluarkan dari Izin Lokasi KP USU

    • calendar_month Sabtu, 14 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga empat desa di Kecamatan Muara Batang Gadis meminta bupati Mandailing Natal mengeluarkan lahan seluas 2.542 hektar dari Izin Lokasi KP USU. Ini mengindikasikan, bahwa kebijakan pemerintah di era bupati Amru Daulay yang memberikan izin lokasi kepada KP USU tak berterima di tingkat rakyat di empat desa selaku pemilik lahan. Juga […]

  • Terkait 17 Rumah dan 3 Kendaraan Dibakar

    Terkait 17 Rumah dan 3 Kendaraan Dibakar

    • calendar_month Jumat, 20 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    41 Warga jadi Tersangka 8 Ditahan TAPSEL– Polres Tapsel menetapkan 41 tersangka kasus pembakaran dan pengrusakan 17 rumah dan kantor serta 3 kendaraan PT Tanjung Siram. Dari 41 tersangka, 8 ditahan, sementara 33 tersangka lainnya tidak ditahan. Kapolres Tapsel, AKBP Subandriya SH MH melalui Kasat Reskrim, AKP Lukmin Siregar mengatakan, pihaknya menetapkan 41 tersangka yang […]

  • Fahrizal Efendi: Pesantren Harus Tampil Hapus Stigma Madina Daerah Ganja

    Fahrizal Efendi: Pesantren Harus Tampil Hapus Stigma Madina Daerah Ganja

    • calendar_month Minggu, 11 Jul 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut terlanjur populer sebagai daerah penghasil ganja di Indonesia. Bahkan nomor 2 setelah Aceh. Diperlukan upaya melibatkan semua pihak mengatasinya. Pesantren diharapkan tampil untuk perlahan merubah stigma itu. Karena mampu menjadi penggerak melawan peredaran narkoba dan budaya tanaman ganja. “Tanggung jawab kita semua menghapus stigma itu. Diharapkan para ulama, ustad dan […]

  • Mahasiswa Tuntut Kepala Inspektorat Dicopot

    Mahasiswa Tuntut Kepala Inspektorat Dicopot

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli (AMP) Madina kembali berunjuk rasa di depan kantor Inspektorat Kabupaten Madina, Rabu (1/6). Mereka menuntut Kepala Inspektorat Madina, Sayuti Lubis dicopot. Koordinator aksi Faisal Ardiyansyah dalam orasinya menyampaikan hasil pengumuman tim verifikasi dan validasi pengangkatan Sekretaris Desa (Sekdes) menjadi CPNS di Madina diindikasikan ada manipulasi data. […]

  • Dua Unit Rumah di Banjar Pagur Terbakar

    Dua Unit Rumah di Banjar Pagur Terbakar

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Kebakaran melanda 2 unit rumah di Banjar Pagur, Kelurahan Kota Siantar, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina siang ini Jum’at 27/6/2025 sekitar pukul 13.30 wib. Dari keterangan warga, belum diketahui pasti awal mula api dari mana karena saat kejadian warga baru selesai melaksanakan sholad jum’at. ” warga yang keluar dari masjid yang […]

expand_less