Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

Angkola-Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 8 Sep 2022
  • print Cetak

Catatan ringkas: Askolani Nasution
Budayawan

Dalam bahasa Mandailing-Angkola “batang” bermakna muara sungai. Misalnya, sungai Batang Natal, artinya sungai yang bermuara ke Natal. Seluruh geografis yang dilewati sungai itu sampai bermuara ke Natal dinamai “alak” Batang Natal.

Sungai Batang Angkola artinya sungai yang bermuara ke wilayah Angkola. Jadi, semua kawasan yang dilalui sungai itu disebut “alak” Angkola.

Semua kawasan yang dilalui sungai Barumun disebut “alak” Barumun. Semua yang dilewati Batang Gadis disebut “alak” Mandailing. Dan seterusnya.

(Lalu, apa Batang Gadis juga sungai yang bermuara ke Gadis? Ya, itu ke Singkuang, pelabuhan perdagangan. Gadis = jual, dagang. Singkuang justru nama yang diberikan pedagang Tionghoa.)

Itu pengelompokan wilayah geografis. Bukan pengelompokan budaya. Budayanya hanya satu: namanya budaya Mandailing-Angkola. Lalu dibuat lebih simpel oleh orang di kawasan itu. Orang yang tinggal di wilayah geografis Mandailing menyebut “adat Mandailing”. Orang yang bermukim di wilayah geografis Angkola menyebutnya “adat Angkola”. Tidak ada kebudayaan Padang Bolak. Tidak ada kebudayaan Sipirok, Batang Toru, dan lain-lain.

Mandailing dan Angkola hanya beda aksentuasi saja. Bukan dua adat dan budaya yang berbeda. Ketika di kawasan geografis Padang Bolak, beda sentuhan lagi. Tentu karena beda alamnya: dominan padang rumput, kerbau dan lembu, buah malaka, dan lain-lain. Karena itu masakannya juga sedikit berbeda. Juga ketika di Sipirok karena alamnya yang sejuk. Sampai ke aroma kopinya juga berbeda.

Terus, yang berbeda budaya apa (untuk kawasan Tabagsel)? Itu suku Ulu Muara Sipongi, suku Lubu di lembah Tor Sihite, dan suku Pesisir di Pantai Barat Mandailing. Hanya itu.

Mandailing dan Angkola tidak juga berbeda bahasa. Tidak juga berbeda aksara. Bedanya hanya di tingkat lafal saja. Misalnya kata [kampung] dalam logat Mandailing diucapkan menjadi [kappung] dalam logat Angkola. Penulisannya sama. Makanya Sidimpuan tidak ditulis Sidippuan.

Tidak percaya? Coba baca naskah-naskah lama yang ditulis oleh Soetan Martoea Radja Siregar (Doea Sadjoli), Sutan Pangurabaan Pane (Tolbok Haleon), dan buku berbahasa Mandailing-Angkola lain yang terbit sebelum merdeka. Penulisannya ya seperti bahasa di Mandailing sekarang. Karena memang tidak berbeda.

Sejarah juga tidak berbeda. Sama-sama mengalami dominasi kerajaan Sri Wiyaya, Majapahit, Aru, dan lain-lain.

Hanya pusat peradaban yang berpindah-pindah karena kolonialisme. Kerajaan Mandala Holing atau kerajaan Kalingga yang berpusat di delta sungai Barumun memang wilayah kekuasaannya sampai ke Mandailing. Kata Mandailing juga dipercaya berasal dari Mandala Holing, atau kerajaan orang Kalingga. Makanya aneh kalau orang di bekas wilayah kerajaan Kalingga tidak merasa orang Mandailing.

Istilah Angkola muncul karena serbuan pasukan Rajendra Chola I ke wilayah Barumun hingga Mandailing tahun 1030 masehi. Rajendra Chola itu dari India. Lalu mereka memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan apa yang disebut Angkola sekarang. Sebelum 1030 tidak ada istilah Angkola. Bahkan saat itu namanya baru Chola.

Penguatan istilah Angkola terjadi pada masa kolonialisme Belanda. Tahun 1840 muncul Asisten Residen Mandailing Ankola (ankola, tidak pakai huruf G).

Mengapa ada yang tidak mau disebut Mandailing atau Angkola. Itu karena egosentris raja-raja tradisional yang menguasai kawasan Tabagsel sebelum merdeka. Misalnya Mandailing Julu dikuasai marga Lubis, Mandailing Godang dikuasai raja Nasution, Dalimunthe menguasai Sigalangan, dan seterusya.

Padahal, jauh sebelum kerajaan-kerajaan yang muncul di abad ke 15 itu, semua satu kawasan sejarah yang sama.

Itu diperburuk lagi oleh pemerintah yang seakan-akan membedakan Mandailing dan Angkola. Lalu dibuatlah kamus Bahasa Angkola oleh Balai Bahasa Sumatera Utara. Dibuat juga kamus Bahasa Mandailing oleh yang lain. Seolah-olah dua sistem bahasa yang berbeda. Padahal kamus itu, semua orang Tabagsel (Tapanuli Bagian Selatan) bisa memahaminya, baik Angkola maupun Mandailing. Mengapa dua bahasa yang makna bahasanya sama, dikelompokkan atas dua bahasa yang berbeda?

Maksud saya hanya ingin mengatakan bahwa Mandailing dan Angkola itu sama. Jangan merasa berbeda dan membuat perpecahan hanya karena ego personal atau karena tidak tahu sejarah. Sebutan Mandailing saja atau Angkola saja, hanya untuk memperpendek kata, sebatas penunjuk kawasan geografis; jangan diartikan dua budaya yang berbeda. Hanya kawasan yang berbeda karena pemukiman di dua bantaran sungai yang berbeda. Bantaran itu berbeda karena beda gunung sebagai sumber sungai: Dolok Malea, Dolok Lubuk Raya, Sibual Buali, Sanggarudang, dan lain-lain.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alat Berat Milik Penambang Emas Ilegal di Kotanopan Kembali Beroperasi. Sebutan Todung Mulya Lubis Polisi dan Pemerintah ” Ommission ” Takberarti

    Alat Berat Milik Penambang Emas Ilegal di Kotanopan Kembali Beroperasi. Sebutan Todung Mulya Lubis Polisi dan Pemerintah ” Ommission ” Takberarti

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Kotanopan ( Mandailing Online ): Pelaku tambang emas ilegal kembali mengoperasikan alat berat jenis excavator  di wilayah hukum Polsek Kota Nopan tepatnya di antara desa jambur tarutung dan aek kapesong, di Kecamatan Kota Nopan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ). Dalam video pendek yang dikirimkan warga pada Minggu sore 16/3/2025 terlihat alat berat milik pelaku […]

  • Warga Aek Nabara Akhirnya Nikmati Listrik

    Warga Aek Nabara Akhirnya Nikmati Listrik

    • calendar_month Selasa, 12 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – Akhirnya penduduk Desa Aek Nabara Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Nata menikmati aliran listrik. Ini kali pertama desa itu terang di malam hari sejak Indonesia merdeka. Arus listrik itu diperoleh dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibangun pemerintah desa setelah menerima anggaran Dana Desa Tahun 2015. Desa Aek Nabara […]

  • Gerakan Pangan Murah Pemkab Madina, Harga Diklaim Paling Murah

    Gerakan Pangan Murah Pemkab Madina, Harga Diklaim Paling Murah

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Ketahanan Pangan gelar pasar murah. Agenda tersebut merupakan atensi pemerintah bagi masyarakat lantaran melonjaknya harga beras Jelang Ramadhan. Pantau Mandailing Online, pasar beras murah yang dilaksanakan di pasar lama panyabungan pagi tadi 4/3/2024 langsung di serbu warga. Antrian mendapatkan beras yang harga perkilonya Rp.10.250 itu […]

  • DCS Dapil 1 Gerindra Madina

    DCS Dapil 1 Gerindra Madina

    • calendar_month Sabtu, 6 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    DAFTAR CALON SEMENTARA ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014 Partai Gerakan Indonesia Raya ( GERINDRA ) Dapil 1 Madina

  • ATM Nasabah BNI Dibobol

    ATM Nasabah BNI Dibobol

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sidimpuan, Muhammad Ikbal Siregar (38) penduduk Batunadua, Kota Padang Sidimpuan, menjadi korban kriminal atas pengambilan uang melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BNI Padang Sidimpuan yang berada di Kantor PLN Padang Sidimpuan. Kepada wartawan di Sidimpuan, Jumat (28/01/2011), Ikbal mengatakan nasib naas yang dialaminya terjadi pada Kamis (27/01/2011). “Pada hari itu saya bermaksud mengambil sejumlah uang […]

  • Produser  Penentu Masa Depan Musik Mandailing

    Produser Penentu Masa Depan Musik Mandailing

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    Dalam sebuah wawanacara dengan pemerhati musik Mandailing yang juga penulis sekaligus sutradara film “Biola na Mabugang”, Askolani Nasution mengatakan, produser menjadi faktor utama penentu masa depan musik etnik Mandailing. Menurutnya, produser musik Mandailing belum mau mengoptimalkan kualitas produksinya, terutama dalam hal kemasan baik dalam sampul maupun faktor ekstrinsiknya. Jika dicermati lebih jauh, lanjut Askolani, tidak […]

expand_less