Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Angkola-Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 8 Sep 2022
  • print Cetak

Catatan ringkas: Askolani Nasution
Budayawan

Dalam bahasa Mandailing-Angkola “batang” bermakna muara sungai. Misalnya, sungai Batang Natal, artinya sungai yang bermuara ke Natal. Seluruh geografis yang dilewati sungai itu sampai bermuara ke Natal dinamai “alak” Batang Natal.

Sungai Batang Angkola artinya sungai yang bermuara ke wilayah Angkola. Jadi, semua kawasan yang dilalui sungai itu disebut “alak” Angkola.

Semua kawasan yang dilalui sungai Barumun disebut “alak” Barumun. Semua yang dilewati Batang Gadis disebut “alak” Mandailing. Dan seterusnya.

(Lalu, apa Batang Gadis juga sungai yang bermuara ke Gadis? Ya, itu ke Singkuang, pelabuhan perdagangan. Gadis = jual, dagang. Singkuang justru nama yang diberikan pedagang Tionghoa.)

Itu pengelompokan wilayah geografis. Bukan pengelompokan budaya. Budayanya hanya satu: namanya budaya Mandailing-Angkola. Lalu dibuat lebih simpel oleh orang di kawasan itu. Orang yang tinggal di wilayah geografis Mandailing menyebut “adat Mandailing”. Orang yang bermukim di wilayah geografis Angkola menyebutnya “adat Angkola”. Tidak ada kebudayaan Padang Bolak. Tidak ada kebudayaan Sipirok, Batang Toru, dan lain-lain.

Mandailing dan Angkola hanya beda aksentuasi saja. Bukan dua adat dan budaya yang berbeda. Ketika di kawasan geografis Padang Bolak, beda sentuhan lagi. Tentu karena beda alamnya: dominan padang rumput, kerbau dan lembu, buah malaka, dan lain-lain. Karena itu masakannya juga sedikit berbeda. Juga ketika di Sipirok karena alamnya yang sejuk. Sampai ke aroma kopinya juga berbeda.

Terus, yang berbeda budaya apa (untuk kawasan Tabagsel)? Itu suku Ulu Muara Sipongi, suku Lubu di lembah Tor Sihite, dan suku Pesisir di Pantai Barat Mandailing. Hanya itu.

Mandailing dan Angkola tidak juga berbeda bahasa. Tidak juga berbeda aksara. Bedanya hanya di tingkat lafal saja. Misalnya kata [kampung] dalam logat Mandailing diucapkan menjadi [kappung] dalam logat Angkola. Penulisannya sama. Makanya Sidimpuan tidak ditulis Sidippuan.

Tidak percaya? Coba baca naskah-naskah lama yang ditulis oleh Soetan Martoea Radja Siregar (Doea Sadjoli), Sutan Pangurabaan Pane (Tolbok Haleon), dan buku berbahasa Mandailing-Angkola lain yang terbit sebelum merdeka. Penulisannya ya seperti bahasa di Mandailing sekarang. Karena memang tidak berbeda.

Sejarah juga tidak berbeda. Sama-sama mengalami dominasi kerajaan Sri Wiyaya, Majapahit, Aru, dan lain-lain.

Hanya pusat peradaban yang berpindah-pindah karena kolonialisme. Kerajaan Mandala Holing atau kerajaan Kalingga yang berpusat di delta sungai Barumun memang wilayah kekuasaannya sampai ke Mandailing. Kata Mandailing juga dipercaya berasal dari Mandala Holing, atau kerajaan orang Kalingga. Makanya aneh kalau orang di bekas wilayah kerajaan Kalingga tidak merasa orang Mandailing.

Istilah Angkola muncul karena serbuan pasukan Rajendra Chola I ke wilayah Barumun hingga Mandailing tahun 1030 masehi. Rajendra Chola itu dari India. Lalu mereka memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan apa yang disebut Angkola sekarang. Sebelum 1030 tidak ada istilah Angkola. Bahkan saat itu namanya baru Chola.

Penguatan istilah Angkola terjadi pada masa kolonialisme Belanda. Tahun 1840 muncul Asisten Residen Mandailing Ankola (ankola, tidak pakai huruf G).

Mengapa ada yang tidak mau disebut Mandailing atau Angkola. Itu karena egosentris raja-raja tradisional yang menguasai kawasan Tabagsel sebelum merdeka. Misalnya Mandailing Julu dikuasai marga Lubis, Mandailing Godang dikuasai raja Nasution, Dalimunthe menguasai Sigalangan, dan seterusya.

Padahal, jauh sebelum kerajaan-kerajaan yang muncul di abad ke 15 itu, semua satu kawasan sejarah yang sama.

Itu diperburuk lagi oleh pemerintah yang seakan-akan membedakan Mandailing dan Angkola. Lalu dibuatlah kamus Bahasa Angkola oleh Balai Bahasa Sumatera Utara. Dibuat juga kamus Bahasa Mandailing oleh yang lain. Seolah-olah dua sistem bahasa yang berbeda. Padahal kamus itu, semua orang Tabagsel (Tapanuli Bagian Selatan) bisa memahaminya, baik Angkola maupun Mandailing. Mengapa dua bahasa yang makna bahasanya sama, dikelompokkan atas dua bahasa yang berbeda?

Maksud saya hanya ingin mengatakan bahwa Mandailing dan Angkola itu sama. Jangan merasa berbeda dan membuat perpecahan hanya karena ego personal atau karena tidak tahu sejarah. Sebutan Mandailing saja atau Angkola saja, hanya untuk memperpendek kata, sebatas penunjuk kawasan geografis; jangan diartikan dua budaya yang berbeda. Hanya kawasan yang berbeda karena pemukiman di dua bantaran sungai yang berbeda. Bantaran itu berbeda karena beda gunung sebagai sumber sungai: Dolok Malea, Dolok Lubuk Raya, Sibual Buali, Sanggarudang, dan lain-lain.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolda Sumut Bertekad Ciptakan Medan Tetap Kondusif

    Kapolda Sumut Bertekad Ciptakan Medan Tetap Kondusif

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kota Medan merupakan Ibukota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan tentunya menjadi barometer di Sumut. Jadi apapun yang terjadi di Medan, akan berimbas ke daerah lain di Sumut. Misalnya, seperti perdagangan atau adanya ketidakkondusifan di Medan, maka akan bisa berimbas kepada daerah lain yang ada di Sumut. Oleh karena itu Kapoldasu Irjen Pol Wisnu Amat […]

  • MARSIDAO-DAO (2)

    MARSIDAO-DAO (2)

    • calendar_month Jumat, 19 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Naisuratkon : Dahlan Batubara Dung salose mambuot parira, kehe alai lao marpalan-palan mamolus gadu saba sareto pupu mamangani parira. Tarpaiada ji alai talaga ni tobat tar bahat tarida gulaen piri-piri dot capet. Adong muse tarida namalkot ilambung liang ni talaga i, na igalbuk ni aruting. Dodasna, pala adong namanggalbuk tar miduk mei gulaenna, […]

  • 66 Siswa SMA Negeri 3 Panyabungan Masuk PT Jalur Undangan

    66 Siswa SMA Negeri 3 Panyabungan Masuk PT Jalur Undangan

    • calendar_month Rabu, 3 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dari 186 total jumlah siswa lulus di SMA Negeri 3 Panyabungan, sebanyak 66 mendapat undangan masuk perguruan tinggi negeri. “Ini membanggakan. Dan kami mengucapkan terimakasih kepada kepala sekolah Bu Doharni Siregar serta seluruh guru,” kata Komite Sekolah Bidang Pembangunan SMA Negeri 3 Panyabungan, Mandailing Natal,  Ali Musa Lubis kepada Mandailing Online, […]

  • Polisi Lakukan Autopsi Pada Jasad Evi Yang Ditemukan Mengambang di Aliran Sungai Pintu Air

    Polisi Lakukan Autopsi Pada Jasad Evi Yang Ditemukan Mengambang di Aliran Sungai Pintu Air

    • calendar_month Kamis, 25 Apr 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): guna memastikan penyebab kematian Evi (19) warga Desa Sidojadi, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang ditemukan jasadnya mengambang di sungai aek pintu air siang tadi Jum’at 25/4/2024. Polres Madina membawa jasad korban ke RSU Bhayangkara di Medan. Ipda Bagus Seto Plh Kasi Humasy Polres Madina yang […]

  • Mengapa Kekerasan Seksual Tak Kunjung Usai?

    Mengapa Kekerasan Seksual Tak Kunjung Usai?

    • calendar_month Selasa, 11 Jan 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Dahlena Pulungan, S.Pd Pengajar, tinggal di Sidimpuan   Memasuki tahun 2022 jagad media sosial dihebohkan kembali dengan kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang aktivis kampus. Media sosial diramaikan dengan viralnya dugaan pemerkosaan 3 mahasiswi yang dilakukan demisioner BEM (UMY).(POJOKSATU.id) Mengerikan, intelektual yang seharusnya  memikirkan perubahan negeri, cerminan budi pekerti yang tinggi, telah berubah […]

  • MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (4)

    MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (4)

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    oleh : Z. Pangaduan Lubis Mandailing dan Perang Paderi Pada tanggal 13 agustus 1814, Inggris dan Belanda melakukan perjanjian yang isinya menyatakan bahwa jajahan Belanda di Kepulauan Nusantara yang telah diambil Inggris harus dikembalikan kepada Belanda. Dengan dijalankan perjanjian itu pada tahun 1816, maka Belanda kembali berkuasa di Padang. Pada masa itu peperangan antara kaum […]

expand_less