Minggu, 9 Agu 2026
light_mode

Apa Kabar Islam Politik?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 24 Apr 2018
  • print Cetak

Gerakan 212 umat Islam di Jakarta

 

 

Oleh : Lukman Hakiem*

Hubungan antara Islam di Indonesia dan politik modern bisa ditelusuri ‘bermula’ pada awal abad 18 M.

Kala itu, di belahan Barat terjadi revolusi industri dan Revolusi Prancis. Imbasnya tentu saja mengalir ke tanah Hindia Belanda selaku jajahan kongsi dagang Belanda, yakni VOC. Kedua revolusi itu merengut segalanya. Bahkan, revolusi Prancis berhasil mengusir Ratu Belanda mengungsi ke Inggris. Sementara, tanah jajahannya yang ‘mahaluas’ di Hindia Belanda ikut berpindah tangan dengan hadirnya Gubernur Jenderal Daendels sebagai pihak baru yang berkuasa. Kekuasaan Prancis sempat begitu berdaya, seiring juga dengan tenggelamnya kongsi VOC ke dasar sejarah pada awal tahun 1800.

Tentu saja di Hindia Belanda terjadi berbagai peristiwa besar. Secara perlahan tapi pasti negeri ini masuk ke dalam ‘penjajahan model baru’ yang bersendikan kapitalisme modal. Dunia pun makin rakus dengan munculnya berbagai penaklukan, mulai dari penaklukan Kerajaan Ternate hingga penaklukan sekaligus peristiwa ‘perampokan’ akbar Kerajaan Mataram oleh legiun Inggris yang dengan legiun tentara Bengala dan Gurkha-nya.

Peristiwa itu tentu saja mengubah suasana politik, apalagi kemudian muncul Perang Padri hingga Perang Diponegoro. Lalu, hadiah terbesarnya justru jatuh ke tangan Belanda, seiring dengan kemenangannya pada kedua perang itu. Ini karena semenjak 1830, mulailah secara nyata negara Belanda resmi menjajah negara ini: usaha ini dirintis mulai tahun 1800 setelah VOC bangkrut.

Dalam banyak hal, kekuatan politik Islam yang merupakan ‘pelawan utama’ kaum penjajah kini mulai disingkirkan. Di Kerajaan Mataram, Yogya–seiring dengan hadirnya Tanam Paksa–Belanda memulai kebijakan amputasi penyingkiran Islam dari kekuasaan. Para pangeran dan kaum priyayi tak boleh lagi kawin dengan sanak keluarga para kyai di pesantren. Mereka juga tak boleh menempuh pendidikan di sana. Kenangan menjadi anak pesantren, seperti dilakukan para Sultan Mataram hingga Pujangga Rangawarsita, hanya tinggal kenangan.

Bukan hanya itu, raja hanya dipakai sebagai lambang budaya karena esensi gerak pemerintahan itu di tangan gubernur jenderal Hindia Belanda melalui tangan ‘patih kerajaan’. Semua lambang yang bernuansa ‘Islam politik’ diberangus. Hanya yang bernilai ‘ibadah pribadi’ dan budaya agama, seperti Sekatenan, yang kala itu masih dibolehkan. Sultan Mataram sekilas tampak masih eksis, tetapi sebenarnya kekuasaannya sudah dipreteli. Contohnya pada kasus penahanan Pangeran Diponegoro. Meskipun secara nyata Belanda adalah keluar sebagai pemenang, Kesultanan Mataram diharuskan membiayai seluruh biaya kehidupan dari Diponegoro selama hidup dalam penjara. Sultan Mataram seolah hanya berkuasa di bawah pundak lain, yakni dibawah penindasan Belanda.

Ketiadaan Islam politik juga terbukti sangat berperanguh pada perkembangan agama Islam. Kala itu warga yang beragama Islam menjadi warga pinggiran. Kalau ingin menikmati sejumput kekuasaan, mereka harus melepaskan ‘baju agamanya’ atau minimal tak lagi setaat laizimnya sebagai orang ‘putihan’ atau santri. Teritori Islam dalam bidang kenegaraan tersudut. Kawasan wilayah kerajaan yang dahulu hanya boleh didirkan masjid, kini menjadi dimasuki pihak lain. Orang Jawa–sekitar 40 tahun– dari usai perang Jawa mulai muncul pembatisan masal. Padahal, sebelum perang Jawa, VOC pun enggan memasuki wilayah sensitif ini, tetapi kala itu sontak berubah saat arus kekuasaan juga berubah.

Di Jawa, perlawanan kemudian meredup. Ulama dan para haji hanya mampu meletupkan kerusuhan kecil, yang buahnya hanya sekadar pemberontakan kecil layaknya perlawanan Iman Syafi’i di sekitar Pekalongan dan Pemberontakan Petani Banten, atau hingga sekadar ribut di pinggiran Batavia dengan Pitung dan Entong Gendut. Islam tersingkir dari percaturan. Bahkan kemudian menjadi sunyi senyap ketika kaum Muslim memutuskan melakukan ‘uzlah’ dalam politik kenegaraan.

****

Gairah Islam politik baru muncul kembali ketika kaum santri di Laweyan Solo mulai menggeliat. Di sini ada penyebabnya. Mereka melalakukan gerakan Islam politik karena terpengaruh dari ‘Pan Islam’ hingga perlawan terhadap dominasi asing. Awalnya memang berasal dari organisasi pendidikan. Namun kemudian berubah menjadi gerakan kongsi dasar melalui Sarekat Dagang Islam. Ada yang mengatakan gerakan ini lebih dahulu dari berdirinya organisasi Priyayi Jawa ‘Boedi Oetomo’ karena dia mengaku punya akta pendiriannya yang tercantum tahun 1904.

Perlahan tapi pasti ‘kesadaran Islam politik’ muncul kembali. Saat itu ada rayuan kebijakan dari Snouk Hurgronje agar Islam didekati secara pasif: Islam ibadah dibiarkan, Islam politik dilarang atau diberangus! Target kaum Islam politik bertabrakan dengan cita pemerintah kolonial. Yang satu ingin bentuk negara merdeka atau mandiri, sementara pihak kolonial ingin bentuk negara yang lebih ‘soft’: semacam Uni Belanda atau pesemakmuran ala Inggris.

Lagi Islam Politik berjalan dan tersingkir sendirian. Tapi letupan kian menyala ketika kemudian berdiri Sarekat Islam yang menjadi pangganti Sarekat Dagang Islam. Ketuanya adalah anak bupati yang santri yakni Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto. Pergerakan Islam politik yang semula mati kini bangkit lagi. Arahnya jelas mencapai negara bebas dari kolonial. Dan Islam menjadi alat pemersatunya karena alat selain itu –idiologi nasionalisme — belum tersedia. Berbagai kisah perjuangan masa lalu pun muncul kembali. Poster tentang sosok Pangeran Diponegoro misalnya, yang marak bermunculan. Saat itulah orang awam mulai menyadari siapa sosok Pangeran Yogyakarya yang suka bersurban dan berjubah itu.

Langsung saja Sarikat Islam menyambar ide pemikiran publik dengan menjadi organisasi yang luar biasa besar. Tak hanya orang biasa, para bangsawan dan Raja Kesultanan Mataram baik Solo mapun Jogja mendukungnya baik secara terang-terangan maupun diam-diam. Untuk raja Pakubuwono X di Solo misalnya merestui putranya untuk menjadi pimpinan Sarekat Islam di Jawa Tengah. Taman Sriwedari pun menjadi ajang aneka pertemuan organisasi masa Islam itu. Sedangkan Sultan Yogyakarta terlihat secara nyata merestui sebagian abdi dalem ‘Pametakan (Keputihan)-nya’ mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Sultan membiarkan KH Akhmad Dahlan menggerakan organisasi yang pusatnya berada tak jauh dari Istana Raja itu sendiri.

Zaman terus berlalu, Sarekat Islam kemudian pecah dan melemah karena digerogoti unsur komunis yakni anggota SI Merah. SI Merah sempat berkembang namun kemudian layu setelah melakukan kudeta tahun 1927. Dan SI yang asli (akrab disebut juga Sarekat Hejo) berusaha kompromi dengan represi kolonial yang sibuk membentuk parlemen (Volksraad). Para pemimpinnya, seperti Cokro Aminoto dan Agus Salim menjadi anggotanya. Mereka berada di sana untum memanfaatkan sempitnya kesempatan walau mereka tahu bila Volksraad hanya sekedar arena komedi omong sebagai imbas dari politik etis.

Tapi apa boleh buat, Islam politik terus berjalan. Setelah Belanda bertekuk lutut kepada Jepang, para aktvis gerakan Islam menjalin cikal bakal organisasi umat Islam (yang kemudian berubah setelah merdeka menjadi Masyumi). Tak cukup ikut berdebat dan merancang dasar negara melalui rapat BPUPKI mereka beberapa tahun berikutnya menjadikan organisasi para ulama itu menjadi Partai Masyumi. Mereka terang terangan ingin mendirikan negara berdasarkan ajaran agama Islam dan menjadi ‘lawan tangguh’ dari idelogi nasionalsme yang diusung murid bapak SI, yakni Sukarno.

Rivalitas ide ini berlangsung seru. Mulai bertabrakan secara diametral semenjak masa pembuangan Sukarno di Ende dengan adanya perdebatan ulama asal Bandung A Hassan dengan Sukarno. Atau hingga perdebatan keras di BPUPKI antara kelompok Islam dengan sokongan tokohnya Ki Bagus Hadikusumo dan KH Wahid Hasyim. Dan juga sebelumnya adanya perdebatan antara M Natsir dan Sukarno tentang Islam dan kemoderenan.

Tapi sekeras apa pun perdebatan itu akhirnya jalan tengah bisa dicapai yakni dengan hadirnya Piagam Jakarta yang didalamnya ada butir lima aturan berbangsa yang kemudian disebut Pancasila. Sesaat, minimal antara tahun 1945-1950, terkesan perbedaan soal Islam politik meredup dengan adanya kesibukan perang kemerdekaan. Namun, perdebatan Islam politik ini muncul kembali pada dekade 1950-an hingga menjelang Pemilu 1955. Bahkan, kemudian semakin seru ketika hadir dalam bentuk pembahasan Badan Konstituante hingga tahun 1959. Sukarno kemudian mengeluarkan kebijakan pamungkas berupa Dekrit Presiden.

Setelah 1959, antara gerakan Islam Politik dan kekuasaan seperti terjadi perang dingin. Perpecahan makin keras ketika Sukano membubarkan keanggotaan Badan Konstituante yang angggotanya terpilih melalui ajang pemilu. Antara Islam Politik dan gerakan nasionalis berpisah jalan. Keadaan menjadi semakin akut ketika pecah pemberontakan PRRI dan Permesta. Dan makin seru karena pemainnya bertambah yakni kekuatan PKI dan tentara. Dan kekuatan Islam Politik diberangus habis ketika kemudian timbul penangkapan, ancaman pembubaran organisasi Islam (HMI), hingga penangkapan dan pemenjaraan tanpa pengadilan berbagai tokoh gerakan Islam. Gerakan Islam Politik menjadi layu atau bergerak diam-diam di bawah permukaan dan jauh dari ‘sorotan lampu kekuasaan.

Dan, seiring jatuhnya Sukarno dari tampuk kekuasaan, gerakan Islam sempat akan bangkit kembali. Ada usaha untuk menghidupkan Masyumi. Ada juga usaha pendirian partai umat Islam yang digagas oleh proklamator dan mantan wakil presiden Moh Hatta. Namun usaha ini gagal total karena rezim melihat Islam politik adalah gerakan berbahaya yang ingin mengganti dasar negara.

Maka sejarah kemudian berlangsung di mana Islam sepanjang masa Orde Baru mengalami pembonsaian. Partai Islam kemudian di awal 1970-an dipreteli. Tokohnya disortir. Hanya yang sesuai dengan selera penguasa yang bisa duduk menjadi pemimpin. Sinyalemen pada dekade 1960-an di mana Kaum Sarungan harus diwaspadai betul-betul terjadi. Islam Politik bergerak bergentayangan hanya di daerah pinggiran.

Namun Islam politik kembali berada di tengah ketika Soeharto mendekat ke Islam. Ini dimulai dengan penerimaan asas tunggal Pancasila dan adanya peradilan agama yang mandiri. Beberapa pihak yang tidak sepakat dan menjadi arsitek penguasa Orde Baru kala itu langsung mengecap sebagai ‘gerilya untuk kembali kepada Piagam Jakarta’. Stetmen ini bagi yang paham politik saat itu menjelaskan sikap phobia terhadap segala hal yang berbau Islam.

Tapi Pak Harto dan roda zaman berjalan terus. Di kemudian hari ada organisasi para cendikawan muslim (ICMI) hingga pendirian Bank Muamalat. Islam politik terus berjalan hingga datangnya masa Reformasi. Kala itu untuk pertama kalinya Muslim santri, yakni KH Abdurrahman Wahid, mampu menjadi presiden. Tapi sayangnya ini tak berlangsung lama. Dia jatuh di tengah jalan justru ketika penguasaan politik di tangan aktivis organisasi Islam seperti Amien Rais (ketua MPR) dan Akbar Tandjung (Ketua DPR).

Ya, apa boleh buat. Apa pun itu peristiwanya yang lalu mesti berlalu. Pada saat yang sama partai Islam kini muncul lagi persis seperti dekade 50-an. Organisasi Islam, seperti NU dan Masyumi beranak pinak. Ada PBB, PAN, PNU, PPP, PKB, PK/PKS, Partai Abdul Yatama hingga partai berbasis masa Islam lainnya. Hasilnya ada yang mendapat suara lumayan atau kecil yang artinya harus gulung tikar. Tapi semua partai yang ada sejak zaman reformasi belum ada yang menyamai perolehan suara Masyumi atau NU. Partai Bulan Bintang (PBB) yang mengaku sebagai ‘anak kandung’ Masyumi belum mampu secemerlang induknya dahulu. Begitu juga dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga belum bisa mempunyai kursi seperti partai pemilu NU di tahun 1955 dan tahun 1971.

Namun, pada Pilpres 2019 ini ada peristiwa menarik. Organisasi NU dan Masyumi yang diwakili PBB bertemu kembali menjelang putusan Bawaslu soal partai peserta pemilu. NU seperti membuka jalan bagi PBB untuk tampil kembali ke gelanggang Islam politik. Hasilnya, PBB kemudian memenangkan gugatan dan tampaknya Komisi Pemilihan Umum ‘mengikhlaskan’ partai ini untuk maju dalam Pemilu 2019. Apalagi pemilu tahun depan itu begitu penting karena dilakukan bersamaan antara pemilu legislatif dan pilpres. Sosok Muhaimin Iskandar sudah ingin maju sebagai calon wakil Presiden. Yusril Ihza Mahendra hingga Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi sudah ada yang mendorong-dorong menjadi calon presiden.

Akhirnya, akankan Islam Politik kemudian tercampak ke pinggiran kembali? Hanya waktu yang akan bisa menjawabnya. Tapi yang pasti dengan berkaca pada sejarah ‘Islam Politik’ tak akan pernah bisa mati!

*Lukman Hakiem, peminat sejarah , mantan staf M Natsir dan Mantan Staf Ahli Wapres Hamzah Haz.

Disadur dari : Republika Online

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nakhodai Srikandi PP Madina, Ida Rosita: Kita Bangkitkan Pergerakan Perempuan

    Nakhodai Srikandi PP Madina, Ida Rosita: Kita Bangkitkan Pergerakan Perempuan

    • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Nakhoda Baru Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Ida Rosita yang terpilih secara aklamasi pada Musyawarah Cabang I mengatakan saatnya pergerakan kaum perempuan dibangkitkan. “Melalui Srikandi kita bangkitkan pergerakan perempuan di Madina. Ini sesuai dengan tema Muscab kita, yaitu Mengukuhkan Kiblat Pergerakan Perempuan,” katanya dalam sambutan usai terpilih. Ia […]

  • Biografi Darmin Nasution

    Biografi Darmin Nasution

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Nama Lengkap : Darmin Nasution Alias : Darmin | Nasution Profesi : – Agama : Islam Tempat Lahir : Tapanuli, Sumatera Utara Tanggal Lahir: Selasa, 21 Desember 1948 Zodiac : Sagittarius Warga Negara : Indonesia BIOGRAFI Sebelum menjabat Deputi Gubernur Senior di Bank Indonesia, Darmin menjabat sebagai Direktur Jendral Pajak periode 2006-2009, Ketua Bapepam dan […]

  • Pilkada 2024, Pedagang di Madina Harapkan Perubahan

    Pilkada 2024, Pedagang di Madina Harapkan Perubahan

    • calendar_month Minggu, 6 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Dimomen pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2024, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), seperti beberapa pedagang tradisional Pasar Baru Panyabungan, Kecamatan Panyabungan, mengharapkan perubahan Madina kedepan. Selain memberikan perubahan, beberapa pedagang juga mengharapkan calon bupati dan wakil bupati ini dapat membawa harapan baru untuk Madina. Mereka beralasan, ditengah tingginya harga beberapa kebutuhan […]

  • Sekda Palas nyaris aniaya wartawan

    Sekda Palas nyaris aniaya wartawan

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIBUHUAN – Sekda Kabupaten Padanglawas (Palas), Gusnar Hasibuan, nyaris menganiaya salah seorang wartawan di ruang kerjanya. Namun hal tersebut sempat dihindari wartawan. “Kalau tidak menghindar dan menjauh saat diserang, kemungkinan saya sudah babak belur ditinju oknum sekda itu,” ujar Sunardy, oknum wartawan, tadi malam. Dikatakan, kejadian tersebut berawal dari berita yang berjudul “Anggaran Pembinaan Keagamaan […]

  • Ombudsman RI Menilai Security LP Kelas IIB Panyabungan Lemah

    Ombudsman RI Menilai Security LP Kelas IIB Panyabungan Lemah

    • calendar_month Rabu, 2 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Disaat Lapas kelas IIB Panyabungan kecolongan karena seorang Nara Pidana kasus narkoba kabur pada senin 31/7/2023 kemaren,  Ombudsman RI melakukan inspeksi mendadak ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Panyabungan, Kanwil Kemenkumham Sumatera Utara. Rabu 2/8/2023. Saat melakukan sidak, anggota Ombudsman RI Jemsly Hutabarat bersama Kepala Ombudsman RI perwakilan Sumut Abyadi […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 34)

    MARSIDAO-DAO (episode 34)

    • calendar_month Minggu, 7 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Aruar sikola i, tu parjagalan i ma Si Pikek mangalao. Tarbegesa anggina madung tangis ianggunan i. “Nabaru ngot dei ia. Tarbisuk do uida anggimu, Inang. Inda jot-jot tangis” ning parjagal i. “Olo, etek. Tarimokasi ma tu etek,” ning Si Siti sareto mangela anggina tingon anggunan i. Si Poso pe […]

expand_less