Senin, 20 Jul 2026
light_mode

Arsitektur Rumah di Mandailing: Satu Kajian Sejarah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 29 Des 2021
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Falah Nasution
Guru Sejarah SMAN 2 Plus Panyabungan

Kawasan Mandailing pada abad ke-14 sudah disebut dalam kitab Negarakertagama, ditulis Mpu Prapanca, sejarawan dari Majapahit. Mandailing menjadi salah satu daerah eksvansinya di luar pulau Jawa. Masuknya Majapahit di kawasan Mandailing menunjukkan bahwa pada masa itu Mandailing sudah memiliki peradaban, bahkan jauh sebelum Majapahit datang.

Selain berita dari Mpu Prapanca, di kawasan Mandailing dapat ditemukan beberapa peninggalan zaman batu besar (Megalithikum), seperti menhir dan arca. Kedua benda tersebut merupakan hasil kebudayaan masyarakat praaksara periode sebelum mereka mengenal perunggu. Hal itu tentu membuktikan bahwa di kawasan Mandailing pada masa praaksara sudah membentuk sebuah perkampungan. Kedatangan mereka diperkirakan melewati jalur sungai Batang Gadis, dari pantai barat Sumatera menuju kawasan Mandailing.

Berdasarkan penjelasan di atas, pada kawasan Mandailing dari masa praaksara sampai masa Hindu-Budha telah mendapat pengaruh, baik dari segi budaya maupun kepercayaan. Namun, kawasan Mandailing tidak hanya berada pada kedua masa, melainkan mengalami etape, masa kerajaan-kerajaan tradisional yang dipimpin oleh marga-marga di Mandailing, masa Islamisasi, masa kolonial Belanda, dan masa perjuangan nasional, serta masa pasca kemerdekaan (kontemporer). Masa-masa itu semua telah memperkaya budaya Mandailing.

Terbentuknya satu kebudayaan Mandailing tentu sangat menarik untuk dilakukan kajian, khususnya berdasarkan kajian ilmu sejarah. Dalam hal ini yang menjadi fokus kajiannya terletak pada hasil kebudayaan berupa bangunan, yaitu arsitektur rumah-rumah masyarakat Mandailing sebelum kemerdekaan. Terdapat keunikan dan ciri khas tersendiri pada rumah-rumah masyarakat Mandailing. Desain bangunan itu merupakan hasil perwujudan berdasarkan nilai-nilai budaya yang memerlukan pemahaman dalam pengembangannya sehingga terbentuk dalam wujud fisik, yaitu rumah.

Pola permukiman pada masyarakat Mandailing era kerajaan memiliki orientasi ke komplek kediaman raja yang terdiri dari bagas godang dan sopo godang, serta alaman bolak. Bagas Godang (rumah besar/istana raja) dan Sopo Godang (pondok besar) memiliki arsitektur tertentu yang berbeda dengan rumah-rumah masyarakat biasa di sekelilingnya, walaupun semua rumah identik rumah panggung. Disamping itu, baik rumah raja dan masyarakat biasa pada umumnya memiliki material dari alam sekitar, seperti bambu (dinding), kayu (kerangka rumah), dan ijuk (atap), walaupun pada dewasa ini sebagian bahannya sudah terganti dengan material modern.

Desain rumah di kawasan Mandailing berupa rumah panggung memiliki tiga bagian utama, yaitu taruma ni bagas (kolong rumah), bagas (rumah tempat tinggal), dan parapi (atap).

Muhammad Falah Nasution di halaman satu dari beberapa rumah tua di Mandailing. Lokasi Desa Simalagi, Hutabargot, Mandailing Natal. Foto: Muhammad Falah Nasution

Rumah panggung ini jika dilihat dari bagian bagas-nya (rumah tempat tinggal) bermaterial dari bambu yang dianyam (gogat) dan papan. Sedangkan dari bagian atap terdapat perbedaan antara satu kampung dengan kampung lainnya. Pada atap rumah di kawasan Mandaling terdiri dari 3 jenis bentuk atap, yaitu atap silingkung dolok pancucuran (atap bentuk melengkung), atap sarotole, atap saracino. Atap bentuk melengkung dan datar identik dengan adanya gable segitiga pada depan atap yang diidentifikasi sebagai rumah raja.

Dilihat dari perspektif sejarah dapat dijelaskan bahwa rumah-rumah di Mandailing mendapat pengaruh dari alam sekitar dan budaya masyarakat luar, misalkan alasan rumah berpanggung. Hal itu dikarenakan keadaan alam pada masa itu masih banyak berkeliaran binatang-binatang liar, sehingga rumah panggung menjadi pilihan. Jika dilihat pada kehiudpan masyarakat praaksara, rumah dibangun berpanggung sebagai solusi dari keadaan alam. Atap rumah yang asumsi sementara juga diadopsi dari alam sekitar, misalnya bentuk gunung, bentuk tanduk kerbau. Adanya hubungan bentuk rumah dengan alam sekitar menunjukkan masyarakat Mandailing masih tergantung dengan alam. Selain itu, pengaruh kepercayaan pada masa sebelum Hindu-Buddha, yaitu pada ornamen atau hiasan pada bolang Bagas Godang, seperti warna-warna pada bolang. Hal itu ada kaitannya dengan sistem kepercayaan terhadap roh. Gambar-gambar pada bolang seperti Jagar-jagar, Bona bulu, Bindu, dan Raga-raga. Hal itu merupakan adopsi dari falsafah masyarakat Mandailing, yaitu dalihan na tolu (tungku yang tiga).

Adapun pengaruh agama Islam terhadap rumah tradisional di kawasan Mandailing dapat dilihat dari perubahan warna oranamen yang berkaitan dengan dalihan na tolu yang lebih menampilkan stilasi dan penyederhanaan, yang dapat dilihat terutama dalam bentuk-bentuk geometris. Dikarenakan dalam karya seni Islam lebih cenderung kepada bentuk-bentuk abstrak dan geometris daripada gambar manusiawi.

Bangunan rumah tradisional di kawasan Mandailing berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi akulturasi dari budaya dan sistem kepercayaan masyarakat pendahulunya dan yang datang ke kawasan Mandailing. Sehingga terbentuk rumah tradisional yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Pada dewasa ini, bangunan rumah tradisonal di kawasan Mandailing sudah jarang ditemukan, jumlahnya sedikit, dan sebagian material rumah digantikan dengan material modern. Terjadainya perubahan pada rumah tradisional Mandailing masih menunjukkan bentuk dan keunikannya.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Naik Darah Tinggiku Ngurus Kartu Keluarga di Pemkab Madina Ini”

    “Naik Darah Tinggiku Ngurus Kartu Keluarga di Pemkab Madina Ini”

    • calendar_month Senin, 15 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    “Katanya bupati sekarang berjanji pelayanan ngurus KTP sama Kartu Keluarga mudah untuk rakyat Madina. Apanya yang mudah. Susahnya bikin darah tinggi saya naik,” kata Sarimuddin, warga Desa Gunung Tua Lumban Pasir, Kecamatan panyabungan, Sabtu (13/8) lalu di warung tak jauh dari Dinas Dukcapilsosnakertrans Madina. Betapa tidak naik pitam, sejak hari Rabu (10/8/2016) dia mengurus Kartu […]

  • Gran Max Terjun ke Sungai di Kotanopan, 8 Orang Tewas

    Gran Max Terjun ke Sungai di Kotanopan, 8 Orang Tewas

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kecelakaan maut terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Desa Usor Tolang, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Senin (14/03/2011) dini hari. Sebuah mobil Daihatsu Gran Max Nopol BK 1380 KO, terjun ke sungai. Gran Max yang terjun ke sungai dengan ketinggian 20 meter dari badan jalan mengakibatkan 8 orang tewas. Korban tewas yakni Darmawati (40) […]

  • Angkola-Mandailing

    Angkola-Mandailing

    • calendar_month Kamis, 8 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan ringkas: Askolani Nasution Budayawan Dalam bahasa Mandailing-Angkola “batang” bermakna muara sungai. Misalnya, sungai Batang Natal, artinya sungai yang bermuara ke Natal. Seluruh geografis yang dilewati sungai itu sampai bermuara ke Natal dinamai “alak” Batang Natal. Sungai Batang Angkola artinya sungai yang bermuara ke wilayah Angkola. Jadi, semua kawasan yang dilalui sungai itu disebut “alak” […]

  • Silangitkoi Pilihan Tepat untuk Buka Bersama

    Silangitkoi Pilihan Tepat untuk Buka Bersama

    • calendar_month Minggu, 3 Apr 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wisata sawah tiga dimensi Silangitkoi Hutasiantar bisa menjadi pilihan tepat bagi Anda dan keluarga atau kolega untuk tempat berbuka puasa bersama. Tempat wisata yang belakangan viral di Mandailing Natal ini menawarkan berbagai makanan dan minuman yang tentunya menggugah selera, seperti asam padeh, ikan mas bakar, rendang belut, dan berbagai masakan khan […]

  • Nis’at Siddiq : Harun Mustafa Nasution Pigur yang Jujur

    Nis’at Siddiq : Harun Mustafa Nasution Pigur yang Jujur

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Nis’at Siddiq mengungkapkan Harun Mustafa Nasution merupakan pigur yang jujur. Hal ini diungkapkan oleh Nis’at Siddiq menilai sosok Harun yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatra Utara periode 2019-2024. “Pak Harun menurut saya adalah sosok yang […]

  • Tahun Ini jumlah Caloh Haji Madina 459 Orang

    Tahun Ini jumlah Caloh Haji Madina 459 Orang

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tahun 2016 ini jumlah calon haji dari Kabupaten Mandailing Natal sebanyak 459 orang. Data itu diketahui saat Pemkab Mandailing Natal (Madina) menggelar zikir dan doa di penutupan manasik akbar keberangkatan haji tahun 2016 yang diselenggarakan di mesjid agung  Nur Ala Nur, Panyabungan, Senin (1/8). Staf Ahli Bidang Pemerintahan Umum Pemkab Madina, […]

expand_less