Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Atika dan Rasionalitas Kebangkitan Ekonomi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 9 Nov 2020
  • print Cetak

Atika Azmi Utammi Nasution, B.AppFin.MFin

Oleh : Roy Samsuri Lubis
Editor / Pegiat Literasi

Satu bulan jelang Pilkada Madina 2020 riuh politik semakin terasa. Cara-cara kampanye semakin beragam. Mulai dari yang sesuai aturan sampai kampanye hitam. Tentu saja menyerang pribadi para calon tak lepas dari terjangan netizen atau simpatisan lawan politik. Pilihan, katanya, masih menunggu arahan dari Bung Karno dan Bung Hatta lewat kertas warna merah yang mampu meredam amarah.

Setiap yang punya hak suara berarti punya hak untuk memberikan pandangan politik. Pandangan politik tentu punya dasar tersendiri. Ada yang berkaca pada visi misi, harapan perubahan, simpati, benci, dendam dan tentu saja uang. Setiap alasan itu adalah hak dan tak bisa diintimidasi oleh orang lain. Namun, tentu saja penyampaiannya di ruang publik tidak boleh menyerang pribadi para paslon atau tim pemenangan.

Saya memilih untuk mendukung SUKA pada Pilkada Madina tahun ini. Tentu saja dengan alasan yang saya yakini. Saya bersikap dan berpikir serasional mungkin. Pertama, dari tiga pasangan calon tidak mungkin menghadirkan pemerintahan yang benar-benar bersih. Lobi-lobi keuntungan dan sogok menyogok masih akan ada. Bisa jadi semakin terang-terangan. Tim manapun yang terpilih, praktik kotor birokrasi masih akan menjadi momok.

Kedua, tidak satupun paslon yang terdengar menggaungkan anti korupsi. Ketiga, tak ada paslon yang terdengar menyampaikan strategi kebangkitan setelah pandemi. Artinya, pada hal-hal yang substansial seperti itu semua terkesan menutup mata.

Alasan paling kuat menjatuhkan pilihan pada SUKA adalah komitmen membangkitkan ekonomi. SUKA menjadi satu-satunya paslon yang gencar melakukan edukasi dan orasi revolusi ekonomi. Sudah tentu paslon lain pun punya visi misi dalam sektor ekonomi. Namun, tidak terlihat dalam pergerakan pemenangan.

Ekonomi punya peranan penting dalam mencapai religiusitas dan pembangunan infrastruktur. Susah mencari orang bisa menjalankan agama dengan baik jika ia masih bingung beras untuk besok pagi masih sebatas angan dan kesulitan ekonomi masih membelenggu. Baik dalam agama maupun sosial budaya, ekonomi dipandang penting. Bahkan Nabi menyampaikan kefakiran dekat dengan kekufuran. Lalu, tindak kriminal umumnya selalu berbanding lurus dengan kemiskinan.

Selanjutnya, sejarah telah mengajarkan bahwa pemerintahan yang otoriter akan menghadirkan pembangunan infrastruktur secara jor-joran. Tentu saja bukan berarti pembangunan tidak penting, tapi tentu ada prioritas. Mari berkaca pada pemerintahan SBY. Dalam 10 tahun ekonomi stabil meski tak ada pembangunan infrastruktur yang jor-joran. Jalan memang perlu, tapi untuk apa jalan yang bagus kalau masyarakat tidak punya uang?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah paradoks pemerintahan. Meskipun militer, SBY justru menghadirkan pemerintahan yang menjunjung tinggi supremasi sipil. Ini karena orang-orang di sekelilingnya diisi oleh kaum sipil. Bandingkan dengan Pemerintahan Jokowi yang di sekelilingnya ada Moeldoko, Hendropriyono, Wiranto, dan tentu saja Prabowo beserta Tim Mawar di Kementerian Pertahanan.

Dalam sejarah panjang pemerintahan militer di dunia selalu menghasilkan pemerintahan yang terkesan ‘semau gue’. Tentu masih jelas teringat dalam ingatan bagaimana Pak Edy Rahmayadi mempertanyakan hak jurnalis untuk bertanya kepada beliau. Selain itu trauma militerisme masih cukup menghantui banyak masyarakat. Buktinya, Prabowo dua kali gagal ke Istana meski dalam kampanyenya selalu dihadiri banyak orang. Bahkan lebih banyak dari massa kampanye Jokowi pada waktu itu.

Tentu saja saya tidak akan menilai ini secara global. Dahlan-Aswin bukan otoriter dan Sofwat-Beir belum tentu menghadirkan pemerintahan yang militeris. Sudah pasti perubahan dan harapan kemajuan ada juga pada pasangan calon Dahlan-Aswin dan Sofwat-Beir. Kalau tak ada harapan sudah pasti tak akan ada dukungan. Namun, bagi saya dan ini hak prerogatif saya pribadi, SUKA adalah pilihan paling masuk akal.

Perubahan besar selalu dihasilkan oleh kaum muda. Soekarno menjadi pilar perjuangan di masa muda. Saat sudah renta, Bung Besar seperti lebih peduli dengan kekuasaannya dibandingkan rakyat. Budiman Soedjatmiko, Fadjroel Rachman, Jusuf Kalla dan masih banyak lagi yang berjuang berdarah-darah di masa muda, tapi berujung berpelukan mesra dengan kekuasaan di tengah himpitan kesulitan rakyat.

Atika masih muda. Ia punya semangat perubahan yang besar. Salah satu langkah, tak akan membuatnya rembuk dengan kenyamanan. Toh, kenyamanan itu pula yang ia tinggalkan untuk bertarung dalam kontestasi politik ini.

Pemerintahan Sofwat-Beir atau Dahlan-Aswin sudah pasti punya sisi baik dan bisa jadi lebih baik dari SUKA. Namun, berkaca dari berbagai pertimbangan: ekonomi dan kepedulian terhadap sejarah adalah poin utama bagi saya untuk menentukan pilihan.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kertas Suara Salah Cetak, Pilkades 6 Desa di Madina Ditunda Beberapa Jam

    Kertas Suara Salah Cetak, Pilkades 6 Desa di Madina Ditunda Beberapa Jam

    • calendar_month Senin, 21 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Pelaksanaan Pilkades serentak di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut hari ini Senin (21/8/2023) berlangsung, namun ada sejumlah masalah yang terjadi seperti di Desa Gunubg Barani, Kecamatan Panyabungan. Surat suara mengalami salah cetak, akibatnya pelaksanaan Pilkades di desa itu di tunda beberapa jam menunggu cetak ulang kertas suara selesai. Salah cetak […]

  • Mini Bus Masuk Jurang, 3 Penumpang Wafat

    Mini Bus Masuk Jurang, 3 Penumpang Wafat

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN SELATAN (Mandailing Online) – Satu mini bus masuk jurang di titik Desa Hutarimbaru, Payabungan Selatan, Mandailing Natal, Selasa petang (3/3/2020) sekira pukul 18.30 WIB. Tiga pelajar dilaporkan meninggal dunia, satu luka parah, lainnya mengalami luka-luka. Data yang dihimpun, korban meninggal adalah Muhammad Iqbal (15), Muhammad Ansori (15), dan Husni (16). Ketiganya  beralamat di […]

  • Inspektorat Diminta Evaluasi Dana Desa Muara Mais

    Inspektorat Diminta Evaluasi Dana Desa Muara Mais

    • calendar_month Sabtu, 1 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      TAMBANGAN (Mandailing Online) – Pihak Inspektorat Madina diminta melakukan evaluasi terhadap penggunaan anggaran Dana Desa di Desa Muara Mais, Kecamatan Tambangan, Madina. Khususnya penggunaan Dana Desa TA 2018 untuk proyek pembangunan jalan jenis rabat beton di kawasan Aek Kapias, Muara Mais. Hal itu dikatakan sejumlah warga yang mengaku penduduk Muara Mais kepada wartawan, Kamis […]

  • Ima Madina : Kondisi Madina Makin Parah, Ridwan Rangkuti : Bupati Madina Harus Rangkul Semua Elemen

    Ima Madina : Kondisi Madina Makin Parah, Ridwan Rangkuti : Bupati Madina Harus Rangkul Semua Elemen

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Madina harus merangkul semua elemen agar roda pemerintahan sukses lima tahun ke depan. “Kalau tidak, yakinlah bupati dan wakil bupati akan kewalahan di masa mendatang,” kata Ketua Persatuan Advokad Indonesia Wilayah Tabagsel, Ridwan Rangkuti,SH.MH yang dilansir Malintang Pos, Sabtu (20/8/2016). “Saya pikir setelah mengamati selama hampir tiga bulan ini, langkah […]

  • Jumlah Lowongan Kerja Bertambah di Job Fair Madina

    Jumlah Lowongan Kerja Bertambah di Job Fair Madina

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Dahlan Batubara
    • 0Komentar

      … PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jumlah lowongan kerja yang akan ditawarkan pada Job Fair Madina 23-24 September 2026 bertambah menjadi 304 lowongan dari sebelumnya 245 lowongan. Pertambahan itu terkait bertambahnya jumlah perusahaan yang akan ikut serta di Job Fair Madina, dari 13 perusahaan menjadi 15 perusahaan. Kenaikan ini menjadi anugrah bagi masyarakat usia angkatan […]

  • Pengeroyokan Terus Terjadi: Islam Solusi Hakiki

    Pengeroyokan Terus Terjadi: Islam Solusi Hakiki

    • calendar_month Selasa, 30 Mei 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd Aktivis Dakwah Hari ini kita dikejutkan dengan banyaknya berita pengeroyokan anak dibawah umur. Bukan hanya anak yang menjadi korban tetapi pelakunya juga seorang anak dibawah umur. Seperti kasus pengeroyokan anak laki-laki kelas dua SD berinisial MHD, usia 9 tahun, warga Sukaraja, Kabutapen Sukabumi, Jawa Barat yang tewas akibat dikeroyok oleh […]

expand_less