Minggu, 30 Agu 2026
light_mode

Atika dan Rasionalitas Kebangkitan Ekonomi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 9 Nov 2020
  • print Cetak

Atika Azmi Utammi Nasution, B.AppFin.MFin

Oleh : Roy Samsuri Lubis
Editor / Pegiat Literasi

Satu bulan jelang Pilkada Madina 2020 riuh politik semakin terasa. Cara-cara kampanye semakin beragam. Mulai dari yang sesuai aturan sampai kampanye hitam. Tentu saja menyerang pribadi para calon tak lepas dari terjangan netizen atau simpatisan lawan politik. Pilihan, katanya, masih menunggu arahan dari Bung Karno dan Bung Hatta lewat kertas warna merah yang mampu meredam amarah.

Setiap yang punya hak suara berarti punya hak untuk memberikan pandangan politik. Pandangan politik tentu punya dasar tersendiri. Ada yang berkaca pada visi misi, harapan perubahan, simpati, benci, dendam dan tentu saja uang. Setiap alasan itu adalah hak dan tak bisa diintimidasi oleh orang lain. Namun, tentu saja penyampaiannya di ruang publik tidak boleh menyerang pribadi para paslon atau tim pemenangan.

Saya memilih untuk mendukung SUKA pada Pilkada Madina tahun ini. Tentu saja dengan alasan yang saya yakini. Saya bersikap dan berpikir serasional mungkin. Pertama, dari tiga pasangan calon tidak mungkin menghadirkan pemerintahan yang benar-benar bersih. Lobi-lobi keuntungan dan sogok menyogok masih akan ada. Bisa jadi semakin terang-terangan. Tim manapun yang terpilih, praktik kotor birokrasi masih akan menjadi momok.

Kedua, tidak satupun paslon yang terdengar menggaungkan anti korupsi. Ketiga, tak ada paslon yang terdengar menyampaikan strategi kebangkitan setelah pandemi. Artinya, pada hal-hal yang substansial seperti itu semua terkesan menutup mata.

Alasan paling kuat menjatuhkan pilihan pada SUKA adalah komitmen membangkitkan ekonomi. SUKA menjadi satu-satunya paslon yang gencar melakukan edukasi dan orasi revolusi ekonomi. Sudah tentu paslon lain pun punya visi misi dalam sektor ekonomi. Namun, tidak terlihat dalam pergerakan pemenangan.

Ekonomi punya peranan penting dalam mencapai religiusitas dan pembangunan infrastruktur. Susah mencari orang bisa menjalankan agama dengan baik jika ia masih bingung beras untuk besok pagi masih sebatas angan dan kesulitan ekonomi masih membelenggu. Baik dalam agama maupun sosial budaya, ekonomi dipandang penting. Bahkan Nabi menyampaikan kefakiran dekat dengan kekufuran. Lalu, tindak kriminal umumnya selalu berbanding lurus dengan kemiskinan.

Selanjutnya, sejarah telah mengajarkan bahwa pemerintahan yang otoriter akan menghadirkan pembangunan infrastruktur secara jor-joran. Tentu saja bukan berarti pembangunan tidak penting, tapi tentu ada prioritas. Mari berkaca pada pemerintahan SBY. Dalam 10 tahun ekonomi stabil meski tak ada pembangunan infrastruktur yang jor-joran. Jalan memang perlu, tapi untuk apa jalan yang bagus kalau masyarakat tidak punya uang?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah paradoks pemerintahan. Meskipun militer, SBY justru menghadirkan pemerintahan yang menjunjung tinggi supremasi sipil. Ini karena orang-orang di sekelilingnya diisi oleh kaum sipil. Bandingkan dengan Pemerintahan Jokowi yang di sekelilingnya ada Moeldoko, Hendropriyono, Wiranto, dan tentu saja Prabowo beserta Tim Mawar di Kementerian Pertahanan.

Dalam sejarah panjang pemerintahan militer di dunia selalu menghasilkan pemerintahan yang terkesan ‘semau gue’. Tentu masih jelas teringat dalam ingatan bagaimana Pak Edy Rahmayadi mempertanyakan hak jurnalis untuk bertanya kepada beliau. Selain itu trauma militerisme masih cukup menghantui banyak masyarakat. Buktinya, Prabowo dua kali gagal ke Istana meski dalam kampanyenya selalu dihadiri banyak orang. Bahkan lebih banyak dari massa kampanye Jokowi pada waktu itu.

Tentu saja saya tidak akan menilai ini secara global. Dahlan-Aswin bukan otoriter dan Sofwat-Beir belum tentu menghadirkan pemerintahan yang militeris. Sudah pasti perubahan dan harapan kemajuan ada juga pada pasangan calon Dahlan-Aswin dan Sofwat-Beir. Kalau tak ada harapan sudah pasti tak akan ada dukungan. Namun, bagi saya dan ini hak prerogatif saya pribadi, SUKA adalah pilihan paling masuk akal.

Perubahan besar selalu dihasilkan oleh kaum muda. Soekarno menjadi pilar perjuangan di masa muda. Saat sudah renta, Bung Besar seperti lebih peduli dengan kekuasaannya dibandingkan rakyat. Budiman Soedjatmiko, Fadjroel Rachman, Jusuf Kalla dan masih banyak lagi yang berjuang berdarah-darah di masa muda, tapi berujung berpelukan mesra dengan kekuasaan di tengah himpitan kesulitan rakyat.

Atika masih muda. Ia punya semangat perubahan yang besar. Salah satu langkah, tak akan membuatnya rembuk dengan kenyamanan. Toh, kenyamanan itu pula yang ia tinggalkan untuk bertarung dalam kontestasi politik ini.

Pemerintahan Sofwat-Beir atau Dahlan-Aswin sudah pasti punya sisi baik dan bisa jadi lebih baik dari SUKA. Namun, berkaca dari berbagai pertimbangan: ekonomi dan kepedulian terhadap sejarah adalah poin utama bagi saya untuk menentukan pilihan.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MARSIDAO-DAO (episode 43)

    MARSIDAO-DAO (episode 43)

    • calendar_month Sabtu, 3 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Marayak pukul 5.20 potang ni ari tolap ma motor i i huta Bilah i. Ipaso parmotor i ma motor i. Idokonsa tu Si Isrot na madung tolap alai tu huta i.  Mambege na madung tolap tu huta Bilah i, naniligi si Pikek dot Si Poso ma tu ruar, manaili […]

  • Kafir Politis

    Kafir Politis

    • calendar_month Sabtu, 15 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Esai : Emha Ainun Najib Kafir Politis     Kalau menjelaskan pada jemaah-jemaah kecil kaum muslimin yang awam tentang kufur atau kafir, biasanya saya memakai entry point soal bersih atau kebersihan. Misalnya begini: sepanjang seseorang masih mandi dan makan tiap hari, maka ia tak bisa disebut sebagai kafir dalam arti total. Orang mandi, ightisal alias […]

  • Antisipasi Banjir, Warga Minta Sungai Aek Mata Panyabungan di Dikeruk

    Antisipasi Banjir, Warga Minta Sungai Aek Mata Panyabungan di Dikeruk

    • calendar_month Selasa, 10 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Diawal  musim penghujan ini, warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai aek mata mulai khawatir banjir, kekawatiran itu akibat terjadinya pendangkalan dan tunpukan sampah di sungai aek mata. Memang ketika musim penghujan tiba, sejumlah pemukiman warga di sepanjang sungai aek mata selalu menjadi langganan banjir. Ini yang membuat Sobir warga pasar […]

  • Jalan Rusak Madina vs Kantor Sementara Nias: Kebijakan Pilih Kasih Gubsu

    Jalan Rusak Madina vs Kantor Sementara Nias: Kebijakan Pilih Kasih Gubsu

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      … MEDAN (Mandailing Online) — Gubernur Sumatera Utara Bobbi Afif Nasution dinilai pilih kasih dalam kebijakan pembangunan di Sumut. Salah satu barometernya adalah ketimpangan perhatian antara Nias dengan Madina (Mandailing Natal). Keprihatinan itu disampaikan tokoh masyarakat Madina yang berdomisili di Medan, H. Syahrir Nasution kepada Mandailing Online, Ahad (2/8/2026). Langkah gubernur Sumatera Utara beserta […]

  • Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014. Ruang I. (Sesi I) Hari :  Jumat, Pukul : 08.00 s/d 10.00 wib Tanggal : 19 Desember 2014   NO.   RUANG UJIAN   NO. PESERTA   NAMA PESERTA 1 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 52132001419 DEWI AGUSTINA SIHOMBING 2 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB […]

  • Pro Kontra Tambang Emas Ilegal Terus Bergulir, Seribuan Massa Unjukrasa ke DPRD Madina

    Pro Kontra Tambang Emas Ilegal Terus Bergulir, Seribuan Massa Unjukrasa ke DPRD Madina

    • calendar_month Rabu, 13 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pro kontra terhadap keberadaan tambang emas illegal di perbukitan Hutabargot, Mandailing Natal terus bergulir. Setelah beberapa waktu lalu massa sejumlah organisasi pemuda dan mahasiswa melakukan  unjukrasa menolak tambang illegal, kini, hari ini massa pro tambang melakukan unjukrasa balasan. Lebih seribu massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Peduli Tambang (AMPT) melakukan […]

expand_less