Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

B A B I A T (Episode 2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
  • print Cetak

Karya: Halak Kotanopan

Sesampai di desa terdekat, sang suami menghentikan motor mereka di depan warung kopi pertama yang mereka temukan.

Sang istri turun dan langsung jatuh pingsan di pinggir jalan. Sang suami tidak punya kekuatan lagi untuk membantu istrinya. Dia hanya sanggup mendekati istrinya sebelum terjatuh lunglai.

Tidak urung kejadian ini membuat orang orang di warung kopi berhamburan keluar. Memang, pada pagi hari biasanya warung kopi sudah banyak didatangi oleh para lelaki. Sudah seperti sebuah kebutuhan, mereka terbiasa  menyeruput secangkir kopi ditambah sepotong  pisang goreng sebagai pengisi perut sebelum berangkat ke kebun untuk menyadap karet. Kalau istri di rumah belum sempat menyiapkan sarapan, mereka juga bisa menyantap sedikit beras ketan di warung kopi, sambil bersenda gurau.

“Ada apa…? Apa yang terjadi..? tanya seorang lelaki yang paling dahulu sampai ke dekat suami istri tersebut sambil mencoba mendudukkan sang suami.

Tidak ada jawaban, kedua suami istri tersebut masih tidak bisa menjawab. Keduanya masih pucat pasi.

“Tolong ambilkan air..!”, kata yang lain.

Segera mereka memberi minum sang suami dan mencoba menyadarkan sang istri dengan membasuhkan air pada mukanya.

Tidak lama kemudian, orang orangpun mulai ramai dan mereka segera menggotong kedua suami istri tersebut masuk ke dalam warung kopi.

“Ada apa lae…? Apa yang terjadi? Mereka mencoba kembali mencari tahu informasi dari sang suami yang sudah mulai membuka matanya.

“A… a.. adong nagkin na Gogoi”, jawab sang suami pelan, seperti berbisik, seolah olah takut kedengaran yang lain.

“Maksudmu kalian tadi ketemu Raja i?”, tanya yang lain dengan suara seperti tersedak.

Na Gogo i maksudnya adalah yang Kuat, ini merupakan kata panggilan untuk harimau di daerah itu. Dari namanya sendiri sudah jelas menggambarkan keperkasaan hewan yang satu ini. Kadang masarakat di daerah tersebut menamakannya juga sebagai Raja i, yang berarti sang Raja.

Sebenarnya bahasa daerah untuk harimau sendiri adalah babiat. Tapi masyarakat sana punya pantangan untuk menyebut langsung nama babiat. Pantang menyebut langsung nama babiat, seperti kita pantang memanggil nama dari orang yang lebih tua dari kita. Tidak sekedar ditakuti, sebenarnya keberadaan babiat di daerah tersebut cenderung disegani, bahkan dihormati.

Ada juga yang memanggilnya dengan Ompung i. Malah salah satu marga di daerah tersebut mengangkat babiat sebagai mora mereka. Na Mora i, begitu mereka memanggilnya.

Tidak ayal mendengar nama Na Gogo i, membuat semua yang hadir, langsung terdiam, terhenyak. Kemunculan nama Na Gogo i juga memunculkan berbagai pemikiran di masing masing benak mereka. Sang kepala desa yang sudah hadir pun segera memberikan instruksi pada warganya.

“Badaruddin…, segera umumkan ke warga kalau hari ini tidak boleh ada yang berangkat ke kebun maupun ke sawah!”.

“Anak anak yang mau ke sekolah juga harus diantar oleh orang dewasa!”, lanjut kepala desa memberikan arahan pada Badaruddin, pemuda yang menjadi ketua Karang Taruna di desa tersebut.

Segera cerita tersebut tersebar dengan cepat. Tidak cuma di desa itu, tapi juga ke desa sebelah dan akhirnya membuat geger semua desa di kecamatan tersebut. Cerita tersebut ramai diperbincangkan di kedai kopi. Setiap ada momen untuk berkumpul, baik itu ada hajatan untuk syukuran maupun saat ada kemalangan, cerita kemunculan babiat itu tidak pernah luput dari topik pembicaraan.

“Kemarin, warga di desa Manambin memukul cenang untuk memanggil pulang para petani dari kebun”, kata si Puddin, pemuda yang pekerjaan sehari harinya menarik becak mesin tersebut.

“Soalnya, saat Oji Latif lewat di batas desa, tiba tiba dia merasa ada yang melompat ke atap mobil”, lanjutnya.

Oji Latif adalah salah seorang saudagar kopi di daerah tersebut. Dia sering mendatangi para pedagang pengumpul langsung ke desa desa mereka.

“Begitu Oji Latif berhenti sejenak, dia kemudian sadar bahwa na Gogo i lah yang sedang bertengger di atap mobilnya. Tentu saja Oji Latif dan seorang pegawainya hanya bisa terdiam di dalam mobil sampai Raja i turun dan melompat ke dalam hutan”, lanjut si Puddin seolah olah melihat sendiri kejadian tersebut.

“Wah… berarti daerah jelajahannya sudah semakin jauh ya…” kata yang lain , menanggapi cerita si Puddin.

Cerita kemunculan harimau di daerah tersebut terus bertambah, baik yang melihat langsung bagaimana harimau tersebut sedang menyeret seekor kijang maupun yang hanya menemukan jejak kaki peninggalan sang Raja hutan di sawah maupun kebun mereka.

Lama kelamaan cerita cerita keluarnya sang Raja hutan dari kediamannya itu mulai mengganggu penduduk. Tidak hanya keamanan keluarga yang terancam, beberapa orang sudah mulai merasa terancam perekonomiannya.  Ya, terancam karena pendapatan utama mereka sangat tergantung pada hasil sadapan karet mereka. Belanja mingguan sang istri didapat dari hasil menyadap karet  tiap minggunya. Sekarang sudah lebih dua minggu mereka tidak berani menyadap karet. Tabungan mereka yang tidak begitu banyak sudah terpaksa harus diambil.

“Bah, apa yang harus kita perbuat nih…?”, tanya si Lokot suatu ketika saat duduk duduk dikedai kopi.

Dari jam 6 tadi pagi, sepulang dari mesjid dia sudah nongkrong di kedai kopi karena dia belum berani juga ke kebun karetnya. Kebetulan kebun peninggalan orang tuanya tersebut agak jauh dari perkampungan. Karena itu istrinya tidak memperbolehkannya mengambil resiko pergi meyadap karet.

“Tolong tambah dulu airnya tulang”, pinta si Lokot sambil menyodorkan gelas kopinya yang sudah mulai habis, tapi masih ada bubuk kopi yang tertinggal di dasar gelas pada si empunya warung.

“Iya, kehadiran na Gogo i membuat saya tidak berani kesawah nih”, sambut yang lain dari meja sebelah.

“Apa pemerintah tidak bisa bertidak?”, kata si Lokot sambil memperbaiki duduknya.

“Apa pak Lurah tidak bisa bilang agar pak Camat meminta Koramil memburunya?”, lanjutnya lagi.

Kelihatannya si Lokot mulai gusar dengan kondisi sekarang ini.

“Tidak segampang itu”,  jawab si Lubis yang duduk di dekat pintu.

“Jangan lupa, Harimau Sumatera merupakan salah satu binatang yang sudah dilindungi”, lanjutnya.

Walaupun si Lubis sekolahnya tidak tinggi, hanya tammat SMA, wawasannya cukup luas. Dia tidak pernah berhenti belajar. Dia rajin membaca koran ataupun mendengarkan berita di TV. Bahkan seisi desa paham betul bagaimana dia menanamkan disiplin belajar pada anak anaknya. Tidak heran anak anaknya selalu mendapat rangking pertama di kelas masing masing.

“Tapi kalau sudah mulai masuk ke pemukiman penduduk, dan mulai menganggu, maka tidak ada larangan untuk memburunya”, si Lokot memberikan argumennya.

“Betul itu…, saya mau ikut memburunya asal didamping oleh pak Koramil,” sambut yang lainnya yang mulai geram karena tadi pagi anaknya kembali mendesak ingin dibelikan seragam yang baru, sementara hasil sadapan karetnya tidak bisa dia ambil. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MUI Langkat Minta Sikap Konkrit Atasi Kemaksiatan

    MUI Langkat Minta Sikap Konkrit Atasi Kemaksiatan

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Langkat : Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Langkat meminta pihak berwenang dan terkait untuk merumuskan sikap konkrit berupa kebijakan mengatasi berbagai bentuk kemaksiatan yang semakin memprihatinkan di daerah setempat. “Perlu sikap konkrit atas kemaksiatan yang selain telah melanggar norma agama, juga menciderai Langkat sebagai bumi religius,” kata H Saleh Hamid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Langkat […]

  • Selaku Bacakada, Harun Mustafa Ingin Masukan dan Pendapat Ketua Parpol di Madina

    Selaku Bacakada, Harun Mustafa Ingin Masukan dan Pendapat Ketua Parpol di Madina

    • calendar_month Minggu, 14 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online : Harun Mustafa Nasution atau akrab disebut bang Harun mengatakan dorongan untuk maju di Pilkada Madina 2024 itu bukan datang mendadak begitu saja, banyak sahabat dan rekan – rekan wartawan juga yang datang meminta nya maju sebagai Calon Bupati Madina 2024. Hal ini dikatakan Minggu (14/7) sore menyempatkan diri bertemu dengan jurnalis […]

  • Antrian Jerigen di SPBU Simangambat

    Antrian Jerigen di SPBU Simangambat

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ANTRI – Sejumlah pemilik jerigen bergerombol di SPBU Simanambat, Siabu, Mandailing Natal (Madina), Selasa (31/12/2013). Para pemilik jerigen ini diketahui merupakan pedagang bensin eceran di kawasan Siabu. Sejumlah warga di warung dekat SPBU mengakui setiap mobil tangki tiba, para pedagang akan antri di SPBU menungu pengisian jerigen. Disinyalir banyak pedagang ketengan tidak tepat lokasi dan […]

  • Sistem Islam Yang Mampu Menyelesaikan Pandemi

    Sistem Islam Yang Mampu Menyelesaikan Pandemi

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd   Akhir-akhir ini masyarakat dicengangkan dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut negara-negara yang menganut pemerintahan otokrasi atau oligarki lebih efektif menangani pandemi virus corona (Covid-19). (CNNIndonesia.com) Tito menyebut negara dengan pemerintahan seperti itu mudah mengendalikan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi karena kedaulatan negara dipegang oleh satu atau […]

  • Nasrul Hilmi Nasution Bantah Sering Absen Sebagai Anggota DPRD Madina

    Nasrul Hilmi Nasution Bantah Sering Absen Sebagai Anggota DPRD Madina

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ) – Nasrul Hilmi Nasution, anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang beberapa hari ini menjadi sorotan karena sering absen membantah. Dia mengatakan, tugas dari seorang anggota DPRD tidak seperti eksekutif yang harus selalu hadir setiap hari. Sehingga dirinya merasa tingkat kehadiran tak terlalu penting. “Anggota DPRD itu bukan seperti pemerintah […]

  • Memanggul Perigi Air Nira

    Memanggul Perigi Air Nira

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      LELAH BERJALAN PULANG MENUAI AIR NIRA – Seorang ibu berjalan lelah memanggul perigi berisi air nira hasil sadapan dari pohon aren di hutan Desa Aek Banir Panyabungan. Di Mandailing Natal banyak ditemukan pohon aren yang tumbuh liar dan disadap penduduk untuk bahan baku pembuatan gula aren. Hanya saja pendapatan para pengrajin gula aren masih […]

expand_less