Minggu, 31 Mei 2026
light_mode

B A B I A T (Episode 2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
  • print Cetak

Karya: Halak Kotanopan

Sesampai di desa terdekat, sang suami menghentikan motor mereka di depan warung kopi pertama yang mereka temukan.

Sang istri turun dan langsung jatuh pingsan di pinggir jalan. Sang suami tidak punya kekuatan lagi untuk membantu istrinya. Dia hanya sanggup mendekati istrinya sebelum terjatuh lunglai.

Tidak urung kejadian ini membuat orang orang di warung kopi berhamburan keluar. Memang, pada pagi hari biasanya warung kopi sudah banyak didatangi oleh para lelaki. Sudah seperti sebuah kebutuhan, mereka terbiasa  menyeruput secangkir kopi ditambah sepotong  pisang goreng sebagai pengisi perut sebelum berangkat ke kebun untuk menyadap karet. Kalau istri di rumah belum sempat menyiapkan sarapan, mereka juga bisa menyantap sedikit beras ketan di warung kopi, sambil bersenda gurau.

“Ada apa…? Apa yang terjadi..? tanya seorang lelaki yang paling dahulu sampai ke dekat suami istri tersebut sambil mencoba mendudukkan sang suami.

Tidak ada jawaban, kedua suami istri tersebut masih tidak bisa menjawab. Keduanya masih pucat pasi.

“Tolong ambilkan air..!”, kata yang lain.

Segera mereka memberi minum sang suami dan mencoba menyadarkan sang istri dengan membasuhkan air pada mukanya.

Tidak lama kemudian, orang orangpun mulai ramai dan mereka segera menggotong kedua suami istri tersebut masuk ke dalam warung kopi.

“Ada apa lae…? Apa yang terjadi? Mereka mencoba kembali mencari tahu informasi dari sang suami yang sudah mulai membuka matanya.

“A… a.. adong nagkin na Gogoi”, jawab sang suami pelan, seperti berbisik, seolah olah takut kedengaran yang lain.

“Maksudmu kalian tadi ketemu Raja i?”, tanya yang lain dengan suara seperti tersedak.

Na Gogo i maksudnya adalah yang Kuat, ini merupakan kata panggilan untuk harimau di daerah itu. Dari namanya sendiri sudah jelas menggambarkan keperkasaan hewan yang satu ini. Kadang masarakat di daerah tersebut menamakannya juga sebagai Raja i, yang berarti sang Raja.

Sebenarnya bahasa daerah untuk harimau sendiri adalah babiat. Tapi masyarakat sana punya pantangan untuk menyebut langsung nama babiat. Pantang menyebut langsung nama babiat, seperti kita pantang memanggil nama dari orang yang lebih tua dari kita. Tidak sekedar ditakuti, sebenarnya keberadaan babiat di daerah tersebut cenderung disegani, bahkan dihormati.

Ada juga yang memanggilnya dengan Ompung i. Malah salah satu marga di daerah tersebut mengangkat babiat sebagai mora mereka. Na Mora i, begitu mereka memanggilnya.

Tidak ayal mendengar nama Na Gogo i, membuat semua yang hadir, langsung terdiam, terhenyak. Kemunculan nama Na Gogo i juga memunculkan berbagai pemikiran di masing masing benak mereka. Sang kepala desa yang sudah hadir pun segera memberikan instruksi pada warganya.

“Badaruddin…, segera umumkan ke warga kalau hari ini tidak boleh ada yang berangkat ke kebun maupun ke sawah!”.

“Anak anak yang mau ke sekolah juga harus diantar oleh orang dewasa!”, lanjut kepala desa memberikan arahan pada Badaruddin, pemuda yang menjadi ketua Karang Taruna di desa tersebut.

Segera cerita tersebut tersebar dengan cepat. Tidak cuma di desa itu, tapi juga ke desa sebelah dan akhirnya membuat geger semua desa di kecamatan tersebut. Cerita tersebut ramai diperbincangkan di kedai kopi. Setiap ada momen untuk berkumpul, baik itu ada hajatan untuk syukuran maupun saat ada kemalangan, cerita kemunculan babiat itu tidak pernah luput dari topik pembicaraan.

“Kemarin, warga di desa Manambin memukul cenang untuk memanggil pulang para petani dari kebun”, kata si Puddin, pemuda yang pekerjaan sehari harinya menarik becak mesin tersebut.

“Soalnya, saat Oji Latif lewat di batas desa, tiba tiba dia merasa ada yang melompat ke atap mobil”, lanjutnya.

Oji Latif adalah salah seorang saudagar kopi di daerah tersebut. Dia sering mendatangi para pedagang pengumpul langsung ke desa desa mereka.

“Begitu Oji Latif berhenti sejenak, dia kemudian sadar bahwa na Gogo i lah yang sedang bertengger di atap mobilnya. Tentu saja Oji Latif dan seorang pegawainya hanya bisa terdiam di dalam mobil sampai Raja i turun dan melompat ke dalam hutan”, lanjut si Puddin seolah olah melihat sendiri kejadian tersebut.

“Wah… berarti daerah jelajahannya sudah semakin jauh ya…” kata yang lain , menanggapi cerita si Puddin.

Cerita kemunculan harimau di daerah tersebut terus bertambah, baik yang melihat langsung bagaimana harimau tersebut sedang menyeret seekor kijang maupun yang hanya menemukan jejak kaki peninggalan sang Raja hutan di sawah maupun kebun mereka.

Lama kelamaan cerita cerita keluarnya sang Raja hutan dari kediamannya itu mulai mengganggu penduduk. Tidak hanya keamanan keluarga yang terancam, beberapa orang sudah mulai merasa terancam perekonomiannya.  Ya, terancam karena pendapatan utama mereka sangat tergantung pada hasil sadapan karet mereka. Belanja mingguan sang istri didapat dari hasil menyadap karet  tiap minggunya. Sekarang sudah lebih dua minggu mereka tidak berani menyadap karet. Tabungan mereka yang tidak begitu banyak sudah terpaksa harus diambil.

“Bah, apa yang harus kita perbuat nih…?”, tanya si Lokot suatu ketika saat duduk duduk dikedai kopi.

Dari jam 6 tadi pagi, sepulang dari mesjid dia sudah nongkrong di kedai kopi karena dia belum berani juga ke kebun karetnya. Kebetulan kebun peninggalan orang tuanya tersebut agak jauh dari perkampungan. Karena itu istrinya tidak memperbolehkannya mengambil resiko pergi meyadap karet.

“Tolong tambah dulu airnya tulang”, pinta si Lokot sambil menyodorkan gelas kopinya yang sudah mulai habis, tapi masih ada bubuk kopi yang tertinggal di dasar gelas pada si empunya warung.

“Iya, kehadiran na Gogo i membuat saya tidak berani kesawah nih”, sambut yang lain dari meja sebelah.

“Apa pemerintah tidak bisa bertidak?”, kata si Lokot sambil memperbaiki duduknya.

“Apa pak Lurah tidak bisa bilang agar pak Camat meminta Koramil memburunya?”, lanjutnya lagi.

Kelihatannya si Lokot mulai gusar dengan kondisi sekarang ini.

“Tidak segampang itu”,  jawab si Lubis yang duduk di dekat pintu.

“Jangan lupa, Harimau Sumatera merupakan salah satu binatang yang sudah dilindungi”, lanjutnya.

Walaupun si Lubis sekolahnya tidak tinggi, hanya tammat SMA, wawasannya cukup luas. Dia tidak pernah berhenti belajar. Dia rajin membaca koran ataupun mendengarkan berita di TV. Bahkan seisi desa paham betul bagaimana dia menanamkan disiplin belajar pada anak anaknya. Tidak heran anak anaknya selalu mendapat rangking pertama di kelas masing masing.

“Tapi kalau sudah mulai masuk ke pemukiman penduduk, dan mulai menganggu, maka tidak ada larangan untuk memburunya”, si Lokot memberikan argumennya.

“Betul itu…, saya mau ikut memburunya asal didamping oleh pak Koramil,” sambut yang lainnya yang mulai geram karena tadi pagi anaknya kembali mendesak ingin dibelikan seragam yang baru, sementara hasil sadapan karetnya tidak bisa dia ambil. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jalur Jembatan Merah-Muara Soma Hancur, Pemprovsu Dituding Pilih Kasih

    Jalur Jembatan Merah-Muara Soma Hancur, Pemprovsu Dituding Pilih Kasih

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      BATANG NATAL (Mandailing Online) – Jalan jalur Jembatan Merah-Muara Soma, Mandailing Natal (Madina) dari tahun ke tahun selalu porak poranda. Warga pun akhirnya menuding Pemprovsu sebagai penanggungjawab pemeliharaan jalan ini dituding pilih kasih. Selain kucuran dana yang dinilai minim dalam pemeliharaan jalan, Pemprovsu melalui Dinas Perhubungan Sumut juga dinilai tak becus mengontrol truk-truk bermuatan […]

  • Pupuk Bersubsidi Langka, Petani Madina Resah

    Pupuk Bersubsidi Langka, Petani Madina Resah

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pupuk bersubsidi zenis ZA dan Ponska kembali langka di Mandailing Natal (Madina). Akibatnya para pertani resah. Sejumlah petani Kecamatan Siabu, Panyabungan dan beberapa wilayah lainnya mengaku pusing memasuki musim tanam saat ini. “Kita kesulitan untuk mendapatkan pupuk subsidi terutama jenis ZA, Ponska pada kios-kios pengecer, karena barangnya tidak ada,” ujar Erwin […]

  • Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu

    Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu

    • calendar_month Jumat, 16 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tympanum Novem Film sejak pekan lalu memulai penggarapan video situs-situs peninggalan Mandailing masa lampau. Tiga situs yang direkam video pada Kamis (15/5/2014) meliputi situs reruntuhan candi di Saba Biara, Pidoli; situs yang diduga reruntuhan candi di Padang Mardia, Hutasiantar dan Menhir di Runding satu peninggalan dari zaman batu. Situs-situs tersebut sangat […]

  • Renegosiasi 24 Kontrak Karya Ditargetkan Tuntas Akhir 2013

    Renegosiasi 24 Kontrak Karya Ditargetkan Tuntas Akhir 2013

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan untuk dapat menuntaskan renegosiasi terhadap 24 Kontrak Karya pertambangan mineral hingga akhir 2013. Seperti diungkapkan Sekretaris Ditjen Minerba, Harya Adityawarman, pemerintah harus menuntaskan renegosiasi terhadap 37 Kontrak Karya pertambangan mineral, dan 74 Perjanjian Karya Pengusahaan […]

  • PKB Madina Target 7 Kursi

    PKB Madina Target 7 Kursi

    • calendar_month Rabu, 25 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mandailing Natal menarget perolehan 7 kursi di Pemilu 2019. Target itu mencuat di Rapat Kordinasi Cabang DPC PKB Mandailing Natal (Madina) sekaligus pengukuhan badan otonom partai, Rabu, (25/1/2016) di Aula Hotel Rindang, Panyabungan. Rakoorcab yang dihadiri Ketua DPW Sumatera Utara, Ance Silean itu juga mematangkan bangunan optimalisasi […]

  • Syamsul Kena Serangan Jantung

    Syamsul Kena Serangan Jantung

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dirawat di RS Jantung Harapan Kita JAKARTA- Gubernur Sumut nonaktif, Syamsul Arifin, dirawat di Rumah Sakit (RS) Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat. Serangan jantung mendadak pada Jumat (27/5) siang, memaksa Syamsul harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit terbesar khusus jantung itu. Hingga tadi malam, kondisi Syamsul masih dalam pantauan tim dokter dibawah kendali dr […]

expand_less