Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode

B A B I A T (Episode 7-Tamat)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Apr 2022
  • print Cetak

Karya: Halak Kotanopan

 

Sementara Rosma, sang putri yang belum tidur, juga dapat mendengar auman harimau tersebut. Saat itu dia sedang berada di kamar mandi, di dalam kamarnya. Dia baru saja berkumur kumur sehabis muntah muntah.

Sebenarnya sudah beberapa hari ini di merasa mual mual terus, dan sejak sore dia sudah beberapa kali muntah muntah. Begitu pula saat ayahnya tadi mengetuk pintu kamarnya. Sengaja dia tadi tidak membuka pintu untuk ayahnya, karena dia tahu rasa mualnya ini bukan karena dia masuk angin. Melainkan karena sudah hampir empat minggu ini dia terlambat datang bulan.

Dia tidak mau ayahnya merasa curiga. Untuk itu juga mengapa dia mendadak pulang tadi pagi. Dia ingin mencari orang yang dapat menolongnya dari masalah yang dia hadapi ini. Masalah yang dia perbuat sendiri. Masalah yang hanya bisa dia sesali.

Di Medan, dengan kehidupan yang berlimpah, Rosma bukannya mensyukuri dengan kuliah sebagaimana yang orangtuanya harapkan. Rosma justru lebih tertarik dengan pergaulan di luar kampus. Dengan fasilitas lengkap, di tambah wajah yang cantik dengan mudah Rosma telah menjadi seorang gadis metropolitan, lengkap dengan pergaulan anak mudanya. Tinggal di rumah sendiri juga menambah kebebasannya dalam bergaul.

Gaya pergaulan ini juga yang kadang dia bawa saat pulang ke kampung. Termasuk gaya bergaulanya dengan Badrul, pemuda di kampungnya yang sudah menjadi pacarnya sejak masa SMA. Saat Rosma pulang kampung, tidak jarang pergaulan mereka telah melewati batas norma maupun agama. Selama ini mereka dapat berhubungan dengan sembunyi, tanpa ada yang merasa curiga.

Pergaulan mereka inilah yang sekarang menimbulkan masalah bagi dirinya. Masalah yang akan menjadi aib bagi dirinya, juga akan mencoreng kehormatan kedua orang tuanya. Masalah yang kalau berlarut larut tidak akan bisa dia sembunyikan lagi. Karena itulah dia pulang. Ingin meminta pertanggungjawaban Badrul, atau mencari penyelesaian lain sebelum orang lain dapat melihat perubahan pada dirinya.

Tapi auman hariamau tadi  sungguh mengagetkan Rosma. Dia juga tahu harimau tadi sempat mencakar dinding rumah mereka. Rasa takut dan malu seketika berkecamuk dan bercampur aduk dalam dirinya.

Dengan kondisinya sekarang ini dan apa yang telah dia lakukan sebelumnya, dia langsung tahu bahwa babiat napa telah datang menyatroni rumahnya, bahkan babiat napa tersebut telah menandai rumahnya dengan cakarannya. Babiat napa telah datang untuk memberitahu orang kampung tentang kelakuan Rosma yang telah melanggar norma. 

Suara langkah terdengar bergerak dari samping rumah sampai ke belakang rumah mereka. Langkah langkah itu tentunya akan meninggalkan jejak jejak di pagi hari nanti. Jejak  yang akan memberitahu para tetangga bahwa ada orang yang telah berbuat zina / manggampang di rumah mereka. Jejak yang akan menelanjangi perbuatannya selama ini. Jejak babiat napa yang secara adat telah dipercaya secara turun menurun hanya mendatangi mereka yang telah berbuat bejat.

Rosma langsung lemas. Dia tidak tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Dia sadar dia tidak akan bisa berkelit lagi. Babiat napa telah menunjuk langsung pada dirinya. Dia tidak tahu mau dikemanakan mukanya kalau ketemu tetangganya.

Dia bisa membayangkan kalau para anak gadis yang masih duduk di SMA, yang selama ini mengidolakannya, akan berbalik mencibirnya. Dia pasti tidak akan sanggup menatap para tetua adat yang akan datang memaksanya untuk mengakui perbuatannya dan harus menunjuk hidung lelaki temannya berbuat gampang.

Dia tidak keberatan kalau terpaksa kawin dengan Badrul, tapi tidak dengan cara seperti ini, cara yang sangat memalukan sekali. Dia juga tidak sanggup kalau harus hidup diasingkan, diusir dari kampung mereka kalau tidak mau mengakui dan meminta maaf.

Rosma bisa membayangkan betapa malunya orangtuanya nanti. Kepercayangan dan rasa sayang orangtuanya telah dia balas dengan mencorengkan aib di muka mereka.

Sekali lagi Rosma masih mendengar deheman babiat napa dari belakang rumahnya, sebelum dia terkulai tidak sadarkan diri, tidak kuat membayangkan rasa malu yang akan dia tanggung. (tamat)

Halak Kotanopan, November 2011.

Catatan: Cerita ini hanya rekaan belaka. Apabila ada kesamaan nama, kemiripan dengan karakter serta pengalaman seseorang, itu hanya faktor kebetulan semata. Semoga dapat mengambil hikmahnya.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perceraian, Rapuhnya Ikatan Rumah Tangga di Negara Sekuler

    Perceraian, Rapuhnya Ikatan Rumah Tangga di Negara Sekuler

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Intan Marfuah Aktivis Muslimah Pengadilan Agama Kelas II Tanah Grogot menangani perkara perceraian di Kabupaten Paser selama 2024 sebanyak 507 perkara, terdiri dari cerai gugat dan cerai talak. Jumlah perkara ini meningkat dibanding 2023 yang hanya 497 kasus. “Penyebab perceraian bermula dari pertengkaran antara suami-istri. Selain itu permasalahan ekonomi, perselingkuhan, dan masih lainnya,” kata […]

  • Danau Toba dikelola swasta?

    Danau Toba dikelola swasta?

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TOBASA –Setelah dibentuk oleh peristiwa alam selama ratusan tahun lalu, kawasan Danau Toba berubah menjadi keajaiban alam luar biasa. Tapi selama puluhan tahun sejak pariwisata modern dikenal peradaban manusia, wisata ke kawasan ini tak kunjung booming ke manca negara. Wacana pengelolaan oleh swasta pun mencuat. Almarhum T Rizal Nurdin pernah membuat gebrakan dengan kegiatan Network […]

  • Tak Berkategori

    Harga Kakao Naik, Produksi Turun

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga biji kakao di tingkat petani mengalami kenaiakan dalam seminggu terakhir. Tetapi produksi justru menurun akibat curah hujan yang tinggi. Saat ini harganya sudah di level 17.500 hingga 18.000 rupiah per kilo gram. Pekan lalu sempat di kisaran 15.000 per kilo gram. Tingginya curah hujan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam […]

  • 20 Desember, Kiblat Masjid Diukur

    20 Desember, Kiblat Masjid Diukur

    • calendar_month Senin, 13 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK; Sekitar 60 masjid di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), akan diukur arah kiblatnya, Senin (20/12) mendatang. Hal ini sesuai dengan pelaksanaan musyawarah beberapa najir masjid se Kecamatan Sipirok, yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama Sipirok, di Balai Desa Pasar Sipirok, Kamis (9/12) lalu. Kepala Kantor Kementerian Agama Sipirok, Drs Jindsar Tamimi, kepada METRO, […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 19)

    MARSIDAO-DAO (episode 19)

    • calendar_month Sabtu, 16 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Dung do sidung manaktak sibodak dohot mambongka arambir, na marmulian ma deba tu bagasna. Tar dua tolu kahanggi sisolkot dohot Si Muklan boti Maramis les juguk dope i sopo i mangidup-idup sareto manyirup kopi. Si Poso pe madung muli do parjolo, harana ngada sadia dao bagas ni alai tingon […]

  • PNPM-MP Di Madina Berjalan Lancar

    PNPM-MP Di Madina Berjalan Lancar

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA : Program PNPM-MP merupakan salah satu program pemerintah secara nasional di nilai cukup berhasil dan sangat menyentuh terhadap kepentingan masyarakat. Hal ini juga yang dijumpai di Kabupaten Mandailing Natal khususnya Kecamatan Panyabungan Timur, ketika Berita melakukan perjalanan ke daerah tersebut baru-baru ini dan melihat secara langsung lokasi proyek pembangunan di 3 Desa masing-masing Desa […]

expand_less