Minggu, 9 Agu 2026
light_mode

HIPMI Madina dan Rendahnya Jumlah Usahawan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 9 Nov 2016
  • print Cetak

Industri roti kacang hijau di Madina

Industri roti kacang hijau di Madina

Oleh : Dahlan Batubara

 

Saya teringat seorang teman etnis Tionghoa di Medan tahun 1993. Dia masih berusia 23 tahun. Bersama pamannya mendirikan pabrik bolu di belakang rumah sang paman, rumah kecil berdinding tepas. Mereka berdua yang mendirikan pabrik itu dan hanya mereka dua saja pekerjanya merangkap pimpinan pabrik. Maklum, pabrik itu masih kecil, hanya mampu menghabiskan satu karung tepung terigu per hari.

Di tahun 1993 itu, usia pabrik itu masih 1,5 tahun, dan pemasarannya masih menumpang kepada tim pemasaran dari satu pabrik bolu yang tak jauh dari rumah si paman.  Mereka terus mengelola usaha itu meski belum begitu menghasilkan. Istri si paman bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah orang kaya, sedangkan teman saya itu masih bergantung hidup pada orangtuanya. Pabrik itu betul-betul belum menghasilkan keuntungan banyak. 

Tetapi, sepuluh tahun kemudian pabrik itu sudah memiliki 5 karyawan dan satu tim pemasaran plus 1 unit truk membawa bolu ke Lubuk Pakam hingga Tebing Tinggi. 

Selama bergaul dengan beberapa keluarga Tionghoa, saya memperoleh pemahaman bahwa orientasi hidup mereka bukan pada “apakah kamu sudah bekerja?” melainkan “apa rencana usaha kamu?”. Orientasi itu jauh beda dengan orientasi mayoritas “orang kita” yang selalu pada “apakah kamu sudah bekerja?”.

Jika ada kaum family yang bertemu, biasanya akan muncul kalimat “apa anakmu sudah kerja?”, “kerja di mana anak kamu?”, “anak saya kerja di kantor Camat”, “anak saya kerja di apotik”, “anak saya kerja di kaltex”,  “kemarin anak saya melamar PNS, gagal,” “anak saya masih nganggur, belum dapat kerja”, “tolonglah cari pekerjaan untuk anak saya”.

Orientasi bekerja ini menjadikan kita hanya fokus mencari pekerjaan, menjadi pekerja upahan, bergantung pada upah. Menjadi kuli, menjadi buruh, menjadi karyawan, menjadi pegawai. Bukan berorientasi mendirikan unit usaha, menjadi pengelola perusahaan, menggaji karyawan, memperoleh kekayaan dari output perusahaan yang didirikannya.

Alhasil, berdasar data HIPMI bulan Mei 2016, jumlah pengusaha atau enterpreneur atau wirausaha di Indonesia hanya 1,8 % dari total jumlah penduduk Indonesia di tahun 2016. Sedangkan di negara Asean seperti Singapura tercatat sebanyak 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen jumlah pengusahanya.

Mental kuli ini masih mendominasi, baik secara individu maupun secara sosial kolektif. Dari generasi ke generasi. Tak berubah hingga kini. Tak terdengar perubahan pradigma dari “mencari kerja” kepada “membuka usaha”.

Bahwa, beternak 5 ekor itik itu nilai prospeknya jauh lebih hebat ketimbang menjadi karyawan bergaji 5 juta rupiah sebulan.

Sebab, karyawan itu memiliki batas buntu, paling tinggi jabatan direktur di satu perusahaan. Tetapi peternak itik memiliki prospek menjadi komisaris di banyak perusahaan yang didirikannya.

Tetapi, peternak itik dari 5 ekor itu kelak akan menembus level-level multi usaha. Diawali dengan peternakan itik petelur, lalu bertambah dengan itik pedaging, lalu akibat kebutuhan pakan si peternak akan mendirikan usaha produksi pakan ternak yang pada gilirannya selain untuk kebutuhan pakan ternaknya juga akan menjual pakan ternak. Dari level itu, merangkak ke level lanjutan yakni mendirikan usaha penetasan itik.

Akibat sudah memiliki cabang usaha yang memproduksi pakan, si peternak kemudian akan mendirikan cabang usaha perikanan, cabang usaha ternak ayam, cabang usaha perdagangan ayam potong di sejumlah pasar.

Level kemudian adalah, si peternak sudah mendirikan rumah makan yang bermenu utama daging itik, lalu menambah cabang usaha restaurant sup itik. Level berikut adalah ekspansi pembukaan rumah-rumah makan dan restaurant bermenu daging itik.

Level itu terus melangkah naik ke level-level berikut. Karena bisnis dan ekspansi bisnis memiliki gerak dinamis. Si peternak telah merambah usaha di peternakan sapi. Bahkan akan merambah bisnis lain karena dia telah memiliki banyak jaringan, relasi.

Dan si direktur tadi masih tetap direktur di satu perusahaan, sedangkan si peternak itik telah menjadi komisaris di banyak perusaan yang didirikannya serta menggaji sejumlah direktur.  

Pengurus Himpunan  Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Mandailing Natal resmi dilantik, Rabu (9/11) di Panyabungan. Akankah pengurus baru ini mampu meningkatkan jumlah pengusaha di daerah ini?

Atau, apakah HIMPI Madina mampu mengkampanyekan agar generasi muda menjahui cita-cita menjadi karyawan, menjadi kuli, menjadi pegawai, mengejar gaji?

 Pertanyaan itu perlu dikedepankan, mengingat jumlah pengusaha, termasuk pengusaha muda masih minim di Mandailing Natal, baik yang bergerak di sektor agribisnis, agroindustri, industri, jasa dan perdagangan.

Memposisikan HIPMI Madina sebagai harapan motor penggerak pertumbuhan jumlah usahawan merupakan posisi wajar, sebab organisasi ini (jika benar) adalah kumpulan pengusaha-pengusaha muda, pengusaha yang tentunya telah mengalami pahit getir mendirikan dan menjalankan bisnis.

Bisnis, esensinya  tak memiliki sekolah resmi, sebab “kurikulum” bisnis itu ada di kesulitan, kendala, kepercayaan, jaringan, relasi, jiwa tarung, daya juang, pantang menyerah, merugi, beruntung, berhutang, dikejar hutang, putus asa, putus harapan, tengkurap, melamah, menguat, sabar, tekun.   

Membangun bisnis tak bisa mengharapkan pemerintah, sebab, pemerintah bukan pelaku usaha melainkan regulator, mendukung dari sisi infrastruktur dan menjamin keamanan berusaha. Tetapi, HIPMI memiliki orang-orang sebagai pelaku usaha, memiliki jaringan pengusaha-pengusaha yang tentunya bisa menelurkan ilmu bisnis kepada pemula, membimbing dan mengarahkan.  

Semoga HIMPI Madina mampu meningkatkan jumlah pengusaha di Madina. Semoga.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Festival Makkobar di Sidimpuan Perlu Dilakukan Saban Tahun

    Festival Makkobar di Sidimpuan Perlu Dilakukan Saban Tahun

    • calendar_month Jumat, 7 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN (Mandailing Online) – Warga berharap Pemko Sidimpuan tetap melaksanakan Festival Makkobar Marpantun Margondang dan Manortor di tahun-tahun mendatang. Festival Makkobar Marpantun Margondang dan Manortor yang berlansung tanggal 5 hingga 6 Oktober kemarin sangat diapresiasi warga Sidimpuan. Festival itu diikuti 29 grup peserta dari kalangan pelajar, Naposo/Nauli Bulung dan mahasiswa berusia 17-30 tahun. Festival yang […]

  • Gordang Sabilan Ensembel Musik Etnis Terbesar Kedua di Dunia

    Gordang Sabilan Ensembel Musik Etnis Terbesar Kedua di Dunia

    • calendar_month Rabu, 27 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gordang Sambilan merupakan ensembel musik etnis terbesar kedua di dunia setelah musik tradisi lain di belahan Benua Afrika. Itu diungkapkan Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina), Jakfar Sukhairi Nasution dalam pidato sambutannya pada pembukaan Festival Gordang Sambilan dan Tor-Tor Mandailing di Taman Raja Batu, Panyabungan, Rabu (27/9/2017). “Gordang sambilan merupakan ensembel […]

  • Apresiasi Rencana Pendirian ITS Madina, MPC PP: Akan Melahirkan SDM Unggul dan Kompetitif

    Apresiasi Rencana Pendirian ITS Madina, MPC PP: Akan Melahirkan SDM Unggul dan Kompetitif

    • calendar_month Senin, 10 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Mandailing Natal (MPC PP Madina) mengapresiasi rencana pendirian Institut Teknologi dan Sains (ITS) di Desa Pidoli Lombang, Panyabungan. Pendirian ITS ini nantinya akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif. Hal itu disampaikan Ketua Bidang Pendidikan dan Litbang SDM Masnah, S.Pd kepada Mandailing Online, […]

  • Heboh, Desa Huta Dangka Dipindahkan dari Kotanopan ke Hutabargot

    Heboh, Desa Huta Dangka Dipindahkan dari Kotanopan ke Hutabargot

    • calendar_month Selasa, 12 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Kabupaten Madailing Natal heboh lagi. Desa Huta Dangka di Kecamatan Kotanopan dipindahkan ke dalam wilayah Kecamatan Hutabargot. Pemindahan itu tertuang pada Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 146.1-4717 Tahun 2020 Tentang Penetapan Nama, Kode dan Jumlah Desa di Seluruh Indonesia Tahun 2020. Di lampiran Kepmendagri itu pada tabulasi Kecamatan Kotanopan ditetapkan secara jelas pemindahan […]

  • Pemkab Janji Tertibkan Galundung

    Pemkab Janji Tertibkan Galundung

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA; Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal berjanji akan menertibkan keberadaan galundung atau mesin pemisah emas dari batu dan tanah yang semakin marak bahkan sudah masuk inti Kota Panyabungan, Ibukota Madina. Hal itu disampaikan Sekda Madina Gozali Pulungan kepada wartawan di Panyabungan, belum lama ini. Dikatakan, pemerintah akan melakukan penertiban mesin galundung yang beroperasi di inti kota […]

  • Alumni SMA Plus Silaturrahim ke Redaksi Mandailing Online

    Alumni SMA Plus Silaturrahim ke Redaksi Mandailing Online

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Plus Panyabungan melakukan silaturrahim kepada redaksi Mandiling Online di Panyabungan, Mandailing Natal, Senin (27/7). Banyak yang didiskusikan dalam pertemuan itu, mulai dari wacana SMA Plus terkini hingga dinamika perjalanan Kabupaten Mandailing Natal. Rombongan Alumni diterima Pemimpin Redaksi Mandailing Online, Dahlan Batubara didampingi Komisaris CV.C-Media, Holik […]

expand_less