Selasa, 3 Mar 2026
light_mode

BERQURBAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 17 Jun 2024
  • print Cetak

“Pinomat sakali saumur hidup”


Oleh: Dr. M. Daud Batubara. MSi

Pinomat sakali saumur hidup” (setidaknya sekali seumur didup), untaian kata yang tidak jarang terdengar tercetus dari celah bibir masyarakat yang sering dikategorikan sebagai orang kurang mampu, ketika akan tiba Idul Adha (Hari Raya Haji), saat-saat masyarakat membicarakan qurban. Sebagai seorang muslim, rasanya memang keinginan untuk berqurban akan ada dalam hati meskipun hanya sekali untuk seumur hidup.

Diskusi pada bahasan Qurban dan orang tak mampu ini, dilatarbelakangi kebiasaan keinginan seorang muslim untuk berqurban sebagai satu kenikamatan bathin yang didambakan sebagai mimpi indah. Semakin menarik pula ketika dipahami tradisi saling memberi Bangsa Mandailing sejak dulu sampai kini masih terpelihara di pedesaan atas hasil yang mereka peroleh dari kebun dan ladang, menandakan bahwa saling memberi merupakan kebiasaan baik di daerah ini.

Petani di Mandailing sering memberikan beras yang baru dipanen kepada orang-orang yang pantas menurut ukuran kebiasaan masyarakat, meskipun hanya untuk sakali makan yang disebut dengan Padaion Dahanon Nabaru (memberi kesempatan mencicipi beras baru).
Demikian juga ketika memasak makanan yang kualitasnya lebih dari panganan sehari-hari. Hal-hal seperti ini setidaknya menggambarkan betapa orang Mandailing sebagai bangsa yang suka memberi dengan ikhlas pada sesama.

Sisi lain, tentang qurban sepertinya ada patri kebiasan berpikir yang tetap bertahan seakan Ibadah Qurban hanya milik orang-orang mampu, dan hal itu, sesuatu yang tidak mungkin bagi yang kurang mampu. Oleh karena itu, diskusi ini dimaksudkan memberi model alternatif bagi masyarakat untuk merealisasi ibadah qurban sebagai kenikmatan batin dalam berqurban dengan meretas pemikiran “tidak mungkin” menjadi “bisa”.

Orang Islam berkewajiban sholat lima waktu, puasa Ramadhan, membayar zakat, haji bagi yang sanggup, juga dianjurkan melakukan ibadah-ibadah sunat seperti zikir. Pandangan Agama Islam setiap aktivitas yang dilakukan manusia adalah perwujudan pengabdian kepada Allah SWT, sehingga semua organ tubuh, yang bertindak atas perintah otak akan bernilai ibadah. Interaksi antara manusia dengan manusia lainnya di kehidupan sosial dalam ajaran Islam bernilai sebagai ibadah jika diniatkan untuk kebaikan sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Kajian ibadah secara umum dalam ajaran Islam menuntut tiga hubungan dalam setiap detik-detik hembusan nafas manusia yang harus dijaga dengan baik yakni; pertama Hablum Minallah, hubungan vertikal makhluk dengan pencipta, yang saat ini oleh Generasi Milenial sering menyebut dengan Jalur Langit. Kemudian Hablum Minannas yaitu tentang hubungan baik antar manusia satu dengan manusia lainnya, dan Hablum Minalalam yaitu hubungan dengan alam sekitar non-manusia.

Ada tiga kesimbangan tatanan hidup yang harus dijaga setiap ummat Muhammad yakni tatanan hidup terhadap Allah, terhadap sesama manusia dan juga terhadap alam dimanapun kita sedang berada. Bukan saja hubungan dengan Sang Pencipta yang disebut ibadah, tapi kedua hubungan lainnya juga merupakan pundi-pundi ibadah dengan nilai pahala bila dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Seperti saat ini, ummat Islam di dunia sedang ramainya melakukan memotong hewan baik domba, lembu ataupun unta. Memotong hewan tertentu dengan cara dan waktu tertentu ini disebut berqurban. Ibadah ini merupakan salah satu praktik agama yang memiliki kedalaman makna dan filosofi yang sangat penting.

Sekilas terkadang terlihat mirip seperti tradisi, namun senyatanya, qurban mengandung nilai-nilai spiritual, sosial dan kemanusiaan yang mendalam. Pemahaman makna dan filosofi ibadah qurban dengan penuh penghayatan dan kesadaran, saat ini telah membawa fenomena menarik ditelusuri. Bukan hanya di perkotaan, senyatanya ummat Islam di pedesaanpun semakin tahun ternyata semakin tingga semangatnya dalam ibadah qurban. Hal ini terlihat dari jumlah hewan qurban yang tahun ke tahun semakin meningkat.

Fenomena ini boleh ditafsirkan bahwa aspek utama dari ibadah qurban sebagai keikhlasan melakukan pengorbanan, dengan menyembelih hewan qurban. Pengorbanan ini mencerminkan ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah, serta rasa syukur atas segala karunia yang diperoleh. Hal ini bertautan dengan kesetiaan dan ketulusan iman.

Sebagai ibadah sosial kepada sesama, ibadah qurban juga mengajarkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial umat yang berguna mengingatkan akan pentingnya berbagi dengan sesama. Awalnya, ini mencerminkan ajaran Islam tentang pentingnya memperhatikan kaum lemah dan mendorong terciptanya kebersamaan dalam masyarakat. Dengan cara ini, ibadah qurban tidak hanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga untuk memperkuat kebersamaan dan persaudaraan sesama manusia.

Quban yang berasal dari sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim AS atas kesetiaannya kepada Allah, yang rela menyembelih putra kandungnya (Nabi Ismail) sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan; dan juga keikhlasan Nabi Ismail sebagai anak yang pasrah atas perintah Allah telah mengilhami umat muslim untuk mengikuti jejak ketulusan, keikhlasan, ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Meskipun pada akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai korban, kisah ini tetap menjadi penting dalam menata kataatan perintah dan kesabaran ujian Allah.

Boleh disebut, bahwa ibadah qurban bukanlah sekadar sebuah tradisi, tapi ia ibadah yang sarat dengan makna dan filosofi yang mendalam. Sejarahnya merupakan pembelajaran untuk memahami dan menghayati makna dalam ibadah sosial dengan penuh kesadaran, penghayatan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan sebagai bagian beribadah kepada Khalik.

Disinilah pentingnya pemahaman yang mendalam tentang makna qurban. Sebagai proses pembalajaran ketaatan, umat muslim harus mampu memperluas konsep pengorbanan dan kepedulian sosial sebagai ibadah yang relevan dalam konteks perubahan zaman.

Orang di Mandailing seperti disebut terdahulu, dalam karakter dasarnya kuat keinginan berkorban, terlihat dari kebiasaan hariannya yang sering menyempatkan diri untuk saling memberi. Tradisi di Mandailing umpamanya membiasakan pemberian makanan kepada tetangga atau sanak saudara sekampung ketika meperolah hasil kebun atau ladang ketika panen, membagi gulai ketika memasak yang jenisnya kualitasnya lebih dari yang dimasak sehari-hari, yang intinya suka berbagi terhadap sesamanya.

Kondisi inilah yang harus menjadi perhatian dimana patri kebiasan pikir bahwa Ibadah Qurban hanya oleh orang-orang mampu harus sudah dirubah. Sekarang dan kedepan kebiasan berpikir masyarakat tersebut harus diretas dengan memberi solusi dengan model yang secara nyata mampu membuktikan bahwa semangat “Pinomat sakali saumur hidup” dapat dilakukan. Qurban tentu bukan milik orang mampu saja seperti Ibadah Haji. Tradisi saling memberi yang menjadi dasar kuat bagi orang Mandailing, sudah lebih dari cukup sebagai modal dan bekal untuk berqurban.

Kecintaan pada Alloh untuk berbagi dengan sesama yang sudah menjadi tradisi baik Kemandailingan saat ini, kedepan harus dibuat model dalam hal pelaksanaan Ibadah Qurban. Realitasnya seorang, yang hidup kurang berkecukupanpun akan mampu berkurban dengan modal utama semangat kebiasaan saling memberi. Tentu tidak harus tiap tahun, setidaknya sekali seumur hidup.

Entah di tahun keberapa, yang pasti seorang muslim sudah dapat memulainya sejak kini. Usai ibadah qurban tahun ini, uang seribu sangat memiliki arti bila disisihkan setiap hari, sehingga jumlahnya 365 ribu di tahun depan. Itu artinya kerinduan batin untuk turut serta berqurban dalam hitungan matematis hari ini sudah dapat terwujud di tahun ke tujuh. Rasanya bukanlah hal sulit untuk mewujudkannya.

Kesempatan beribadah qurban memang bukan hanya hak-hak orang mampu, dan orang Mandailing pasti bisa membuktikan bahwa semangat berbagi dalam realitas untuk berqurban “Pinomat sakali saumur hidup”. Uang seribu rupiah tiap hari, adalah hal biasa bagi kaum lelaki memberikannya dalam bentuk rokok kepada orang lain. Tentulah bukan hal yang sulit bagi kaum Bapak untuk mengurangi rokok sebatang sehari untuk program ibadah qurban “Pinomat sakali saumur hidup”.

Bagaimana pula bila dilakukan dengan berhemat 2 batang rokok (asumsi harga rokok termurah seribu rupiah perbatang), maka tahun ke empat tentu telah sampai pada kepuasan batin dengan ibadah qurban “Pinomat sakali saumur hidup”.

Bila usia masih muda, kemungkinan seisi rumah memiliki kesempatan untuk berqurban. Model ini baru dengan pendekatan mengurangi batangan rokok. Tentu bukan tidak mungkin dengan sekaligus menyisipkan sedekah subuh dengan dua ribu tiap hari pada kotak tabungan di rumah, yang nantinya digunakan untuk berqurban. Atau pendekatan lainnya sesuai kebiasaan masing-masing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Madina Bentuk Brigade Pangan dalam Program Oplah Rawa

    Madina Bentuk Brigade Pangan dalam Program Oplah Rawa

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasca merampungkan pematangan lahan dalam program Optimalisasi Lahan (Oplah) Rawa, kini Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut melanjutkan pembentukan Tim Brigade Pangan. Sebanyak 15 kelompok Brigade Pangan telah terbentuk di 13 Desa. 12 Desa di Kecamatan Siabu, 1 Desa di Panyabungan Utara. Tim Brigade Pangan ini merupakan lanjutan dari rangkaian program Optimalisasi […]

  • Penembak Solatiyah Tidak Diberi Sanksi

    Penembak Solatiyah Tidak Diberi Sanksi

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kabid Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso, Rabu (1/6), menegaskan, bila hasil pemeriksaan sesuai prosedur maka tidak ada pemberian sanksi bagi personel Polri yang menembak Solatiyah saat pembakaran camp Sorikmas Mining beberapa waktu lalu. (Foto smg) Direktur LBH Medan Nuryono SH memberi keterangan pers kepada sejumlah wartawan usai pengepungan yang dilakukan petugas Sat Reskrim Polda […]

  • Kadis Pendidikan Madina: Sultan Sakit Akibat Konsumsi Makanan Kadaluarsa

    Kadis Pendidikan Madina: Sultan Sakit Akibat Konsumsi Makanan Kadaluarsa

    • calendar_month Jumat, 21 Jan 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal, Arbiuddin Harahap menjenguk M.Sultan, siswa SD 116 Percontohan, Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat, Jumat, (21/1/2022) Sultan jatuh sakit usai mengkonsumsi jajanan yang diduga kadaluarsa diberikan oleh pihak sekolah. Peristiwa yang dialami Sultan ini  mendapat perhatian serius dari  Arbiuddin karena Sultan masih berbaring lemah di […]

  • Gerombolan Kera Beraksi di Padang Bolak

    Gerombolan Kera Beraksi di Padang Bolak

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jagung dan Kacang Ludes Digasak PADANG BOLAK- Sejumlah petani jagung dan palawija di Desa Gunung Tua Tonga, dan sekitarnya, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara diresahkan dengan ulah sekelompok kera yang mencuri tanaman mereka. Serangan kera ini cukup merepotkan petani. Sebab, mereka muncul dan melahap jagung-jagung dan kacang-kacangan petani saat matahari terbenam. Bahkan, kera-kera […]

  • Silaturrahim di Hutapadang, Pemuka dan Warga Muhammadiyah Kumpul Dana untuk Masjid Taqwa

    Silaturrahim di Hutapadang, Pemuka dan Warga Muhammadiyah Kumpul Dana untuk Masjid Taqwa

    • calendar_month Jumat, 6 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ULUPUNGKUT (Mandailing Online) – Pimpinan Ranting Muhammadiyah Hutapadang, Cabang Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) menyelenggarakan Silaturrahim Syawal 1443 H. Berlokasi di halaman masjid Taqwa, Hutapadang, Kecamatan Ulupungkut, Rabu (4/5/2022). Silaturrahim ini tergolong besar karena dihadiri banyak tokoh perantau dan pejabat Pemkab Madina. Bersama ratusan warga persyarikatan yang hadir, terlihat banyak tokoh perantauan seperti H. Baroya (Jakarta), […]

  • Di Madina, Dana Desa Telah Gagal Membangun Ekonomi Desa

    Di Madina, Dana Desa Telah Gagal Membangun Ekonomi Desa

    • calendar_month Senin, 3 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penggunaan Dana Desa di Mandailing Natal sejauh ini telah gagal membangun perekonomian warga desa. Indikasi kegagalan itu berdasar data pengalokasian yang menunjukkan mayoritas pemerintah desa di Mandailing Natal (Madina) masih fokus menetapkan Dana Desa di sektor pemukiman, baik pembangunan gang pemukiman atau parit gang pemukiman. “Hanya ada satu dua desa […]

expand_less