Sabtu, 6 Jun 2026
light_mode

Cinta Ditolak, Haruskah Nyawa Jadi Taruhan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan S.Pt

Cinta. Satu kata yang indah. Membuat banyak orang lupa diri. Adakah salah cinta? Cinta, jika ditempatkan sesuai syariah maka akan tumbuh nilai-nilai pahala. Namun jika tidak, nyawa pun tak bisa jadi taruhannya.

Seorang pelajar akibat sakit hati karena cinta ditolak tega membunuh “seseorang” yang katanya ia cintai. Korban adalah FPR 16 tahun seorang pelajar SMK yang dibunuh oleh temannya sendiri Ai 16 tahun. Pembunuhan ini terungkap setelah polisi menyelidiki temuan jasad wanita membusuk di sebuah warkop di perumahan Made Gread, Lamongan, pada Rabu 15 Januari 2025.

Polres Lamongan mengungkap bahwa pelaku membunuh korban dengan cara menjerat leher korban menggunakan kerudung milik korban. Selain itu pelaku juga memukul korban berulang kali di bagian perut dan mata kanan lalu membenturkan kepala korban ke tembok hingga mengakibatkan pendarahan. Setelah pelaku meyakini korban telah meninggal ia membiarkan mayatnya begitu saja di TKP sekitar Warkop. (Beritasatu.com)

Pembunuhan di kalangan pelajar bukan baru kali pertama terjadi. Kejadian serupa sudah sering terjadi dengan motif berbeda-beda sehingga telah menjadi fenomena yang perlu dicari jalan keluarnya. Jika dikaji secara mendalam, akan ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan pelajar tega melakukan aksi pembunuhan terhadap temannya sendiri.

Pertama dari aspek pendidikan. Pembentukan kepribadian generasi hari ini gagal dalam menciptakan mental tangguh. Generasi begitu lemah dalam mengontrol emosinya. Akibat minimnya pendidikan moral dan kepribadian mulia. Sehingga generasi tidak memahami jati dirinya yang sesungguhnya yang berujung pada ketidak mampuan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup mereka. Serta rentan dengan penyakit mental yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain.

Kedua aspek lingkungan. Tidak adanya lingkungan sosial yang suportif dalam membentuk kepribadian generasi. Masyarakat saat ini tidak memiliki standar baku dalam menilai benar salah dan terpuji tercela suatu perbuatan. Standar tersebut dikembalikan kepada akal manusia yang akhirnya menciptakan standar semu. Tindakan pembunuhan dikecam tetapi aktivitas pacaran dan kholwat atau berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram dianggap biasa.

Ketiga aspek media. Media sosial hari ini telah menjelma menjadi “guru” bagi generasi yang rendah literasi. Tak jarang ditemukan konten-konten yang justru mengajarkan generasi tindak kekerasan sebagai salah satu cara meluapkan emosi. Minimnya atau bahkan nihilnya kontrol dari orang tua bahkan negara sebagai pemegang kendali digitalisasi di negeri ini menjadikan generasi menyerap pemikiran apapun dari media sosial.

Tiga faktor di atas merupakan beberapa faktor dari banyak faktor yang memungkinkan terjadinya kasus pembunuhan. Jika dirunut faktor-faktor tersebut akan didapati bahwa persoalan ini merupakan persoalan sistemik yang tidak berdiri sendiri. Melainkan antara faktor pendidikan, lingkungan dan media saling berkaitan. Dan ketiga faktor ini pun berasal dari asas yang sama. Yakni aturan hidup sekuler (pemisahan aturan kehidupan dengan agama).

Pemisahan aturan agama dari kehidupan, menyebabkan agama tak memiliki peran dalam mengatur seluruh aspek kehidupan, selain urusan privat dan ibadah. Akibatnya sistem pendidikan yang diberlakukan berasas sekuler yang mengabaikan pembentukan kepribadian Islam. Lingkungan masyarakatnya sekuler yang jauh dari budaya amar makruf nahi mungkar dengan standar halal haram. Medianya pun sekuler karena hanya bertujuan mencari cuan sehingga membebaskan konten positif atau negatif berseliweran.

Sungguh asas ini telah membuat ukuran kebahagiaan manusia hanya berpusat pada materi atau terpenuhinya keinginan seseorang. Jika keinginannya telah tercapai dan emosinya telah diluapkan maka ia akan merasa puas dan bahagia tanpa pikir panjang. Sehingga muncul perilaku liberal yang melahirkan prinsip menghalalkan segala cara. Alhasil emosi pun dilampiaskan sesuai dengan hawa nafsu.

Persoalan generasi saat ini, jelas membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi komprehensif atas berbagai persoalan. Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki seperangkat sistem aturan. Sistem Islam yang diterapkan di bawah institusi Khilafah Islam akan menjadikan negara sebagai penanggungjawab segala urusan umat. Termasuk membentuk generasi yang berkepribadian mulia.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Imam atau Khalifah adalah raa’in atau pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR. al-Bukhari)

Khalifah atau pemimpin Negara Islam berkewajiban untuk memberikan jaminan pendidikan berkualitas. Islam menjadikan pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademis. Tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia, pengendalian diri dan pemahaman yang benar terhadap hubungan antar manusia atau dengan kata lain membentuk kepribadian Islam.

Alhasil generasi akan memahami jati dirinya sebagai hamba Allah dan selalu berusaha untuk taat kepada Allah kapanpun dan di manapun. Atas kesadaran bahwa dirinya adalah hamba Allah dan hidup untuk menggapai rida Allah, generasi akan takut untuk menyakiti orang lain apalagi menghilangkan nyawa sesamanya. Hidupnya diisi dengan hal-hal bermanfaat seperti belajar, berdakwah dan memberikan sumbangsih terbaiknya untuk peradaban Islam.

Selain itu negara Khilafah juga akan menerapkan sistem sosial ataupun lingkungan yang sehat. Islam memiliki seperangkat aturan yang jelas terkait pergaulan laki-laki dan perempuan untuk mencegah timbulnya fitnah dan perilaku yang melampaui batas. Sistem sosial Islam ini akan menjaga pergaulan sesuai dengan tuntunan syarak.

Dengan aturan ini hubungan remaja laki-laki dan perempuan diarahkan agar tetap dalam batas yang wajar. Mencegah terjadinya hubungan yang merusak moral atau memicu konflik emosional. Dengan dukungan penerapan syariat Islam dalam berbagai bidang lainnya atau secara Kafah, menyeluruh. Kasus tragis seperti yang dilakukan pelajar Lamongan tadi dapat dicegah sejak akar permasalahannya.

Selain itu untuk menciptakan suasana ketakwaan rakyatnya, negara juga akan melakukan kontrol terhadap media. Karena di dalam Islam media digunakan untuk sarana edukasi bagi generasi dan mampu memberikan informasi-informasi bagi para penontonnya. Maka negara harus menjaga agar informasi yang diterima adalah kebenaran atau tidak bertentangan dengan Islam.

Negara melarang masuknya pemikiran sekuler liberal hedonis dan pemikiran lain yang bertentangan dengan Islam. Melalui media konten-konten sadis seperti kekerasan dan pembunuhan tidak akan pernah diizinkan tayang. Negara memiliki digitalisasi yang kuat yang mampu mengatasi hal ini. Media dalam Islam hanya digunakan untuk sarana dakwah semata.

Demikianlah penjagaan negara Khilafah terhadap generasi yang menjauhkan dari segala bentuk kemaksiatan dan membentuknya menjadi pembangun peradaban mulia. Wallahu A’lam Bishowab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • CPNS tak Lulus Lapor Kapoldasu

    CPNS tak Lulus Lapor Kapoldasu

    • calendar_month Sabtu, 8 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rahudman: Silakan Tempuh Jalur Hukum MEDAN- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, tetap konsisten terhadap niatnya untuk mengungkap adanya indikasi permainan penerimaan CPNS Pemko Medan. Kekonsistenan LBH Medan itu kembali ditunjukan dengan mengajukan surat permohonan kepada Kapoldasu, Jumat (7/1), dengan nomor 012/LBH/S/I/2011 dengan hal mohon untuk diamankan lembar jawaban komputer (LJK) peserta ujian seleksi penerimaan CPNSD […]

  • Tak Berkategori

    MASIH BAGI HASIL DENGAN TOKE

    • calendar_month Selasa, 21 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Meski memperoleh kisaran 600.000 hingga 750.000 rupiah per hari dari jasa membajak sawah, ternyata para penyedia jasa membajak sawah masih berbagi hasil dengan toke alias pemilik hand traktor. Subur (45), salah seorang penyedia jasa traktor, mengatakan, kemarin (20/5/3013), dia tidak memiliki modal untuk membeli hand traktor. Hand traktor yang dioperasionalkannya adalah […]

  • Mahasiswa Sumut Demo di Depan Kantor SMGP Jakarta

    Mahasiswa Sumut Demo di Depan Kantor SMGP Jakarta

    • calendar_month Rabu, 10 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Mahasiswa asal Sumut berunjukrasa di depan kantor PT SMGP di Jakarta, Senin, mendesak penutupan PLTP Sorik Marapi dan tuntutan hukuman bagi Presiden Direktur SMGP. Puluhan yang mengatas namakan Forum Mahasiswa Sumatera Utara (Formasu) Jakarta itu menggelar aksi di depan gedung PT. Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) di   Recapital Building, jalan […]

  • Wabup Jakfar Sukhairi : 40 % Dana Desa Harus Uang Tunai Untuk Warga

    Wabup Jakfar Sukhairi : 40 % Dana Desa Harus Uang Tunai Untuk Warga

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Madina, H.M Ja’far Sukhairi Nasution menghimbau agar 40 persen pagu Dana Desa (DD) dialihkan ke dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada warga yang kian berat secara ekonomi dampak pandemi Corona (Covid-19). Dia juga meminta dukungan semua pihak agar pengalihan 40 persen itu mampu diaplikasikan para kepala desa. “Ini […]

  • Tim Hukum Cabup Madina Harun Mustafa Akan Melaporkan Henri Husein Nasution

    Tim Hukum Cabup Madina Harun Mustafa Akan Melaporkan Henri Husein Nasution

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Ridwan Rangkuti selaku tim kuasa hukum calon Bupati Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) nonor urut 1 Harun -Ichwan menilai manuver Henri Husein Nasution yang melaporkan Cabup Madina Harun Mustafa Nasution ( HMN) ke Gakkumdu dan Poldasu dengan tuduhan penggunaan keterangan palsu adalah sesuatu yang tidak benar, fitnah dan pencemaran nama […]

  • ODP di Madina Sudah 538 Orang

    ODP di Madina Sudah 538 Orang

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) -Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19 di Kabupaten Mandailing Natal terus bertambah. Hingga, Jumat (27/3/2020) jumlah ODP mencapai 538 orang. Data ini melejit dibanding posisi tanggal 24 Maret lalu yang masih di angka 17 orang. Sebagaimana dilansir Antara, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Mandailing  Natal, Sahnan Pasaribu, Jumat (27/3) menyampaikan, data tersebut […]

expand_less