Sabtu, 2 Mei 2026
light_mode

Dajjal dalam Suatu Sistem

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
  • print Cetak

“Fitnah terbesar itu justru ketika manusia kehilangan orientasi kebenaran. Saat wahyu tak lagi dijadikan standar. Yang dijadikan ukuran hanyalah opini (sekulerisme) dan mayoritas (demokrasi)”


Bayangkan sebuah sistem siluman menjalar di setiap sendi kehidupan: ekonomi, media, pendidikan, bahkan teknologi. Semuanya bergerak tanpa disadari, kecuali oleh mereka yang jiwanya peka dan imannya hidup. Banyak orang menunggu kemunculan Dajjal sebagai sosok bermata satu di akhir zaman. Padahal, jauh sebelum ia muncul secara fisik, sistemnya telah hadir dan mencengkeram dunia dalam diam.

Sistem Dajjal bukan sekadar kehadiran satu makhluk jahat, melainkan sebuah konstruksi global yang membentuk cara kita berpikir, memilih, bahkan mencintai. Ia menyamar dalam bentuk kemajuan, menyusup dalam algoritma, dan menampilkan wajah ramah yang mematikan ruhani.

Ketika Gunung Roti Tak Lagi Mengenyangkan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Dajjal membawa bersamanya gunung roti dan sungai air.” (HR. Muslim, 2934)

Dalam hadis ini, Rasulullah mengisyaratkan bahwa Dajjal akan menguasai sumber-sumber vital kehidupan manusia. Hari ini, bukan khayalan lagi bahwa sektor pangan dan air dunia dikendalikan oleh segelintir elite global.

Perusahaan-perusahaan raksasa agrikultur dan pengolahan makanan tidak hanya memonopoli produksi, tapi juga menentukan pola makan, kesehatan, dan bahkan arah kebijakan negara. Kita menyaksikan bagaimana ketergantungan terhadap mereka menciptakan ketimpangan dan kecemasan kolektif.

Gunung roti itu bukanlah karunia, melainkan alat kontrol. Ia menjinakkan manusia melalui perut mereka, menjadikan mereka penurut saat lapar, dan kehilangan harga diri saat bergantung.

Media sebagai Cermin Terbalik: Ketika Neraka Dinamakan Surga

Rasulullah bersabda: “Nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim, 2936)

Hadis ini menggambarkan realitas yang terbalik. Dunia hari ini dikendalikan oleh industri media dan hiburan yang menjadikan maksiat tampak indah dan kesalehan tampak kuno. Seksualitas dipertontonkan tanpa rasa malu. LGBT yang mulai dinormalisasikan atas nama hak asasi. Nilai-nilai ilahi dituduh ketinggalan zaman. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah pembunuhan spiritual massal yang dipoles dalam sinematografi tinggi dan algoritma konten.

Inilah hegemoni media sistem Dajjal: mengubah persepsi umat manusia terhadap kebenaran. Yang salah tampak benar. Yang benar tampak fanatik.

Fitnah Global dalam Sekejap: Kecepatan yang Membingungkan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Dajjal akan melintasi bumi seperti hujan yang ditiup angin.” (HR. Ahmad – hasan)

Hari ini, kecepatan penyebaran informasi telah melampaui akal sehat. Dalam hitungan detik, sebuah ideologi atau gaya hidup dapat menyebar ke seluruh dunia. Teknologi, internet, media sosial—semuanya adalah alat. Tapi dalam sistem Dajjal, alat itu diarahkan untuk menyebarkan keraguan, relativisme, dan kehampaan makna.

Dengan satu klik, manusia dijejali opini, tren, dan paham yang mengikis iman. Dalam sistem ini, manusia tidak dipaksa, tapi ditarik perlahan ke dalam lingkaran kebohongan melalui kenyamanan yang melenakan.

Dajjal: Bukan Hanya Sosok, Tapi Sebuah Era

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sejak penciptaan Adam, tidak ada fitnah yang lebih dahsyat daripada fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, 2946)

Fitnah Dajjal bukan hanya soal kemampuan menghidupkan orang mati atau menciptakan ilusi. Fitnah terbesar itu justru ketika manusia kehilangan orientasi kebenaran. Saat hati menjadi tumpul. Saat wahyu tak lagi dijadikan standar, dan yang dijadikan ukuran hanyalah opini dan mayoritas.

Itulah zaman kita. Agama direduksi menjadi identitas sosial. Kebenaran dijadikan urusan perasaan. Dan iman dianggap ekstrem jika ia tak kompromi terhadap budaya.

Apa Arti Semua Ini untuk Kita?

Bayangkan dunia sebagai panggung besar, di mana cahaya dan bayangan saling berlomba menampilkan pertunjukan. Tapi tak semua sadar bahwa mereka sedang disuguhi ilusi. Itulah dunia hari ini—indah dalam tampilan, tapi penuh jebakan dalam hakikat. Sistem Dajjal telah menjelma menjadi sebuah era, sebuah cara hidup, dan lebih parahnya: ia dianggap normal.

Lantas apa artinya bagi kita?

Pertama, kita harus sadar bahwa kita sedang berada dalam pertarungan spiritual paling dahsyat. Bukan antara pedang dan peluru, tapi antara kebenaran dan kebohongan yang diselimuti cahaya palsu. Hidup hari ini bukanlah netral. Kita sedang memilih—apakah ikut arus atau menjadi arus.

Kedua, kita harus jujur pada diri sendiri: seberapa besar kita telah ikut dalam sistem itu? Apakah kita menolak, atau diam-diam merasa nyaman dan menikmati semua kemudahan yang disediakan sistem, meski tahu itu menjauhkan kita dari Allah?

Saatnya memperkuat iman dan taqwa, bukan sekadar ritual, tapi kepekaan batin untuk mencium aroma kebatilan walau dibungkus keindahan. Taqwa membuat kita gelisah saat sesuatu terlihat indah tapi menyesatkan. Iman menjadikan kita teguh saat orang lain ragu. Dan hanya mereka yang memiliki cahaya dalam dada yang akan selamat dari labirin fitnah ini.

Jangan sendirian. Bangun komunitas shalih, hidupkan kajian, temukan lingkungan yang menghidupkan ruhani. Sebab sistem ini bekerja untuk memisahkan kita, dan Islam memanggil untuk merapatkan barisan.

Terakhir, kuatkan hafalan Surat Al-Kahfi. Rasulullah bersabda:

“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari Surah Al-Kahfi, maka ia akan terlindung dari Dajjal.” (HR. Muslim)

Ini bukan hanya amalan teknis, tapi perisai spiritual yang menjadi tanda bahwa kita menolak tunduk pada sistem batil. Bahwa kita masih ingin berada dalam rombongan yang menyelamatkan iman—meski harus berjalan di atas bara.

Sistem Dajjal adalah sistem yang menjanjikan kebebasan, tetapi mengikat jiwa. Ia menjanjikan pencerahan, padahal menjerumuskan pada kegelapan. Ia menjanjikan kemajuan, tapi menggiring manusia menjauh dari fitrah.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan lajunya, tapi kita bisa memilih: menjadi penonton, atau menjadi pejuang iman. Dalam zaman yang dipenuhi bayangan, jadilah mereka yang tetap menyalakan pelita. Dalam dunia yang penuh ilusi, jadilah manusia yang tetap mencintai kebenaran walau terasa pahit.

Karena pada akhirnya, hanya mereka yang bertahan dengan iman dan yakin pada hari akhir—yang akan mampu selamat dari badai besar ini.

Artikel ini dicopy dari muhammadiyahsolo.com, judul: “Sistem Dajjal: Perang Sunyi atas Iman
Penulis Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham.

Editor untuk Mandailing Online: Dahlan Batubara

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • LBH Medan Minta Amnesti Internasional Tangani Penembakan di Sorikmas Mining Madina

    LBH Medan Minta Amnesti Internasional Tangani Penembakan di Sorikmas Mining Madina

    • calendar_month Minggu, 5 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan terus melawan kebijakan kepolisian dalam menyelesaikan konflik di PT Sorik Merapi Mas,Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina). Setelah melaporkan kasus ini kepada presiden, kapolri dan pimpinan lembaga tinggi negara,LBH Medan kini meminta bantuan dari lembaga HAM internasional. ”Ya, amnesti Internasional yang mendukung tentang Hak Asasi Manusia (HAM),” ucap Direktur LBH […]

  • Kehadiran Sorikmas Mining Harus Menguntungkan Daerah dan Masyarakat

    Kehadiran Sorikmas Mining Harus Menguntungkan Daerah dan Masyarakat

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) AS Imran Khaitamy Daulay, SH menyatakan kehadiran kontrak karya PT. Sorikmas Mining di Madina harus menguntungkan pemerintah daerah terutama masyarakat. Pemerintah daerah juga harus mampu berada di posisi antara rakyatnya dan investor. Di sisi lain, investor juga harus mematuhi semua aturan perundangan dalam kegiatan investasinya di […]

  • Masuk Islam, Mualaf Ini Tulis Dua Kalimat Syahadat di Twitter

    Masuk Islam, Mualaf Ini Tulis Dua Kalimat Syahadat di Twitter

    • calendar_month Senin, 21 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sejatinya hingga Desember 2011, Arnoud Van Doorn adalah Wakil Ketua Partai Kebebasan di Dewan Kota Den Haag. Sebagian orang tentu tahu kalau Partai Kebebasan sangat resisten dengan kaum Imigran, khususnya muslim. Namun, Maret 2013, bapak dua anak ini dikutip dari Amsterdam Herald, mengumumkan awal yang baru melalui media Twitter. Ia mengaku menjadi seorang Muslim dan […]

  • Dodi Martua: Pemerintah Tidak Konsisten Soal SK 44

    Dodi Martua: Pemerintah Tidak Konsisten Soal SK 44

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        Panyabungan (MO)- Pemerintah dinilai tidak konsisten terhadap SK Menhut Nomor 44 Tahun 2005 tentang penunjukan kawasan hutan di Sumut. Ketidakkonsistenan itu diduga akibat amburadulnya proses kelahiran SK 44 tersebut. Hal itu diungkapkan anggota DPRD Mandailing Natal (Madina), Dodi Martua kepada Mandailing Online di gedung DPRD Mandina, kemarin. Salah satu bukti tidak konsistennya pemerintah […]

  • Wafat Setelah Hanyut di Sungai Batang Gadis

    Wafat Setelah Hanyut di Sungai Batang Gadis

    • calendar_month Jumat, 16 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) –  Seorang gadis remaja ditemukan wafat di Sungai Batang Gadis, Kelurahan Laru Lombang, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis petang (15/9/2022). Sebelumnya, ia hanyut terbawa arus sungai saat mandi bersama rekan-rekannya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Almarhumah bernama Syari Nabila Rangkuti (13), siswi SMP Negeri 1 Tambangan, Mandailing Natal. Sebelum ditemukan […]

  • Forum Penulis Madina Akan Gelar Festival Sastra

    Forum Penulis Madina Akan Gelar Festival Sastra

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Forum Penulis Madina (FPM) akan menggelar Festival Sastra, Minggu (1/11/2012) di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Festival Sastra ini dalam rangka mengisi Bulan Bahasa dengan suguhan berbagai jenis pagelaran meliputi pembacaan puisi, monolog, drama, pembacaan cerita pendek, berbalas pantun dan pameran karya-karya potografi. Seluruh segmen yang ditampilkan adalah karya para komunitas FPM. […]

expand_less