Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Membangun Kebutuhan: Jalan Sunyi Menghidupkan Bandara Abdul Haris Nasution

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Di banyak daerah, pembangunan bandara sering dimulai dari satu asumsi sederhana:
hadirkan infrastruktur, maka aktivitas akan mengikuti. Runway dibangun, terminal diresmikan, dan harapan pun ikut lepas landas.

Namun realitas kerap bergerak ke arah sebaliknya. Pesawat tidak datang karena landasan tersedia. Ia datang karena ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Di sinilah persoalan utama bandara daerah muncul—bukan pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada belum terbentuknya kebutuhan yang cukup kuat untuk membuat orang dan barang memilih terbang.

Maka, jika persoalannya adalah permintaan, solusinya bukan menunggu. Kebutuhan itu harus dibangun—secara sadar, terarah, dan dalam banyak kasus, dipaksakan menjadi ada.

Dari Potensi ke Keterpaksaan Rasional

Seringkali daerah berbicara tentang “potensi”: potensi ekonomi, potensi wisata, potensi sumber daya. Namun potensi, dalam dirinya sendiri, tidak menciptakan mobilitas udara. Yang menciptakan mobilitas adalah keterpaksaan rasional.

Orang memilih pesawat ketika waktu menjadi mahal. Ketika keterlambatan berarti kerugian. Ketika jarak tidak lagi bisa dinegosiasikan dengan jalan darat.

Dengan kata lain, bandara hanya akan hidup jika ada aktivitas yang tidak sabar terhadap waktu.

Bisnis: Menggeser Ekonomi ke Sektor yang Tidak Bisa Menunggu

Tidak semua kegiatan ekonomi membutuhkan pesawat. Bahkan sebagian besar tidak. Komoditas berbasis volume besar — seperti hasil perkebunan mentah, lebih efisien melalui jalur darat atau laut. Dalam struktur ekonomi seperti ini, bandara tidak memiliki peran signifikan.

Namun, ada segmen ekonomi lain yang justru bergantung pada kecepatan:
produk bernilai tinggi, distribusi cepat, dan mobilitas pelaku usaha.

Tantangan bagi daerah bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi menggeser sebagian aktivitas ekonomi ke sektor yang menjadikan waktu sebagai faktor penentu.
Tanpa pergeseran ini, pesawat akan selalu kalah oleh truk.

Pariwisata: Akses, Bukan Sekadar Destinasi

Banyak daerah mempromosikan keindahan alam dan kekayaan budaya sebagai daya tarik wisata. Namun dalam konteks penerbangan, yang menentukan bukan hanya destinasi, tetapi akses.
Wisatawan akan memilih pesawat jika:
perjalanan menjadi lebih singkat, lebih efisien, dan menawarkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui perjalanan panjang.

Artinya, strategi pariwisata tidak cukup berhenti pada promosi, tetapi harus menciptakan skema kunjungan yang menjadikan waktu sebagai nilai tambah—bukan hambatan.

Tanpa itu, wisata akan tetap tumbuh, tetapi bandara tidak akan menjadi bagian dari pertumbuhannya.

Kesehatan: Dimensi Kebutuhan yang Paling Nyata

Di antara berbagai sektor, kesehatan memiliki karakter paling kuat dalam menciptakan kebutuhan penerbangan.

Rujukan medis, evakuasi darurat, distribusi obat, dan mobilitas tenaga spesialis memiliki satu kesamaan: tidak bisa ditunda.
Ketika sistem kesehatan daerah terhubung dengan pusat layanan di luar wilayah, bandara tidak lagi menjadi pilihan, tetapi bagian dari sistem penyelamatan.

Dalam konteks ini, penerbangan bukan sekadar layanan transportasi, melainkan infrastruktur kehidupan.

Pendidikan: Mobilitas yang Terjadwal dan Berulang

Berbeda dengan sektor lain yang sering bersifat fluktuatif, pendidikan menciptakan pola mobilitas yang relatif stabil.

Mahasiswa, dosen, program pelatihan, dan kerja sama antar lembaga membentuk arus manusia yang terjadwal dan berulang.

Inilah jenis permintaan yang paling dibutuhkan oleh maskapai: stabil, terukur, dan berkelanjutan.

Ketika daerah mampu mengintegrasikan diri dalam jejaring pendidikan yang lebih luas—dengan kota-kota seperti Jakarta atau Padang—maka kebutuhan terhadap penerbangan akan tumbuh secara organik, bukan insidental.

Diaspora: Potensi yang Terabaikan

Selain sektor formal, terdapat satu kekuatan yang sering diabaikan: diaspora.
Relasi sosial-ekonomi antara daerah dengan kota seperti Batam dan Jakarta menciptakan arus mobilitas yang nyata, tetapi belum terorganisir.

Pekerja, pelaku usaha, dan jaringan keluarga bergerak secara individual, tanpa konsolidasi.

Padahal, jika arus ini dipetakan dan difasilitasi, ia dapat menjadi basis permintaan yang stabil. Bandara tidak lagi menunggu penumpang acak, tetapi mengelola pergerakan yang sudah ada.

 

Menjadikan Waktu sebagai Variabel Utama

Seluruh sektor tersebut memiliki satu benang merah: kebutuhan terhadap penerbangan muncul ketika waktu menjadi variabel utama.

Selama perjalanan darat masih dianggap cukup — baik dari sisi biaya maupun durasi, bandara akan tetap menjadi alternatif, bukan kebutuhan.

Namun ketika tidak terbang menjadi lebih mahal daripada terbang, maka pilihan akan berubah.

Di titik itulah bandara berhenti menjadi simbol, dan mulai berfungsi sebagai simpul.

Penutup: Dari Menunggu ke Menciptakan

Menghidupkan bandara daerah bukan soal membuka rute, tetapi menciptakan alasan agar rute itu layak ada.

Ini adalah pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tidak selalu populer, dan seringkali tidak instan. Ia membutuhkan keberanian untuk mengintervensi pasar, mengarahkan ekonomi, dan mengorganisir mobilitas.

Namun tanpa itu, bandara akan terus berada dalam satu siklus yang berulang:
dibangun dengan harapan,
dibiarkan tanpa kepastian.
Dan pesawat akan tetap berada di tempatnya — datang sesekali,
lalu pergi tanpa janji kembali.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Berkategori

    Wakil Bupati Harus Jalankan Pemerintahan

    • calendar_month Kamis, 16 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Agar roda pemerintahan tetap berjalan, wakil bupati harus cepat mengendalikan pemerintahan daerah pasca penangkapan bupati Madina Hidayat Batubara oleh KPK. Demikian dikatakan Ketua Peradi Tabagsel, Ridwan Rangkuti, SH,MH, Kamis (16/5/2013). “Untuk sementara, menurut undang-undang yang berlaku, pengendali pemerintahan Madina berada ditangan wakil bupati, maka seluruh PNS juga harus tunduk, hormat dan […]

  • Oloan Lubis, Pembuat Gordang Sambilan

    Oloan Lubis, Pembuat Gordang Sambilan

    • calendar_month Senin, 23 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ulu Pungkut (MO) – Belakangan ini jarang dijumpai orang yang ahli membuat gordang sambilan di Mandailing, wilayah bermukim etnis Mandailing di Provinsi Sumatera Utara. Selain pembuatannya yang cukup sulit, kayunya juga harus jenis yang berkwalitas. Salah satu yang tetap eksis membuat gordang sambilan adalah adalah Oloan Lubis (40), warga desa Hutanagodang, Kecamatan Ulu Pungkut. Kepada […]

  • FMI Madina Minta Kejari Transparan Terkait Dugaan Korupsi Smart Village

    FMI Madina Minta Kejari Transparan Terkait Dugaan Korupsi Smart Village

    • calendar_month Rabu, 25 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ):  Forum Mahasiswa Intelektual Mandailing Natal (FMI Madina) meminta Kejaksaan Negeri (Kejari) Madina untuk serius serta tidak menutup informasi (Transparan) terkait perkembangan kasus dugaan korupsi Smart Village yang saat ini sedang ditangani. Demikian ditegaskan Ketua FMI Madina, Ahmad Husein Lubis kepada wartawan, Rabu (25/06/2025) dalam menanggapi proses hukum penyelidikan dugaan korupsi […]

  • Organik Terjal

    Organik Terjal

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menelusur Perusahaan yang Didirikan Petani (bagian 3) Oleh : Dahlan Iskan Ternyata Indonesia memang sudah bisa ekspor beras. Ironi tapi nyata. Dan ekspor itu ternyata dari Desa Kebon Agung, Sidoharjo, Wonogiri. ”Tadi malam kami kerja sampai larut malam. Menaikkan beras ke kontainer,” ujar Mahmudsyah dalam WA-nya kepada saya kemarin. Mahmudsyah adalah staf PT Pengayom Tani […]

  • Ratusan CPNS Mengundurkan Diri, Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme

    Ratusan CPNS Mengundurkan Diri, Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme

    • calendar_month Kamis, 9 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Anita Safitri, S.Pd Anggota Majelis Taklim Islam Kaffah & Madina Menulis Setelah dinyatakan lolos seleksi CPNS 2021, kini ratusan calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) memutuskan untuk mengundurkan diri. Berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang mengundurkan diri sebanyak 100 orang dari 112.513 orang total keseluruhan yang dinyatakan lolos seleksi tersebut. (KOMPAS.com, 27/05/2022) Kepala […]

  • Bupati Madina: Pramuka Harus Dimasyarakatkan

    Bupati Madina: Pramuka Harus Dimasyarakatkan

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bupati Mandailing Natal selaku Ketua Majelis Pembina Kwartir Cabang Mandailing Natal Ir Aspan Sofyan Batubara mengharapkan kepada Saka Bhayangkara Polres Mandailing Natal untuk memasyarakatkan Pramuka dan membhayangkarakan Pramuka. Hal itu disampaikan Bupati Madina Ir. Aspan Sofyan Batubara MM selaku majelis Pembimbing cabang pada acara pelantikan Kapolres Mandailing Natal AKBP Hirbak Wahyu Setiawan menjadi Kamabisaka, di […]

expand_less