Jumat, 19 Jun 2026
light_mode

Membangun Kebutuhan: Jalan Sunyi Menghidupkan Bandara Abdul Haris Nasution

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Di banyak daerah, pembangunan bandara sering dimulai dari satu asumsi sederhana:
hadirkan infrastruktur, maka aktivitas akan mengikuti. Runway dibangun, terminal diresmikan, dan harapan pun ikut lepas landas.

Namun realitas kerap bergerak ke arah sebaliknya. Pesawat tidak datang karena landasan tersedia. Ia datang karena ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Di sinilah persoalan utama bandara daerah muncul—bukan pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada belum terbentuknya kebutuhan yang cukup kuat untuk membuat orang dan barang memilih terbang.

Maka, jika persoalannya adalah permintaan, solusinya bukan menunggu. Kebutuhan itu harus dibangun—secara sadar, terarah, dan dalam banyak kasus, dipaksakan menjadi ada.

Dari Potensi ke Keterpaksaan Rasional

Seringkali daerah berbicara tentang “potensi”: potensi ekonomi, potensi wisata, potensi sumber daya. Namun potensi, dalam dirinya sendiri, tidak menciptakan mobilitas udara. Yang menciptakan mobilitas adalah keterpaksaan rasional.

Orang memilih pesawat ketika waktu menjadi mahal. Ketika keterlambatan berarti kerugian. Ketika jarak tidak lagi bisa dinegosiasikan dengan jalan darat.

Dengan kata lain, bandara hanya akan hidup jika ada aktivitas yang tidak sabar terhadap waktu.

Bisnis: Menggeser Ekonomi ke Sektor yang Tidak Bisa Menunggu

Tidak semua kegiatan ekonomi membutuhkan pesawat. Bahkan sebagian besar tidak. Komoditas berbasis volume besar — seperti hasil perkebunan mentah, lebih efisien melalui jalur darat atau laut. Dalam struktur ekonomi seperti ini, bandara tidak memiliki peran signifikan.

Namun, ada segmen ekonomi lain yang justru bergantung pada kecepatan:
produk bernilai tinggi, distribusi cepat, dan mobilitas pelaku usaha.

Tantangan bagi daerah bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi menggeser sebagian aktivitas ekonomi ke sektor yang menjadikan waktu sebagai faktor penentu.
Tanpa pergeseran ini, pesawat akan selalu kalah oleh truk.

Pariwisata: Akses, Bukan Sekadar Destinasi

Banyak daerah mempromosikan keindahan alam dan kekayaan budaya sebagai daya tarik wisata. Namun dalam konteks penerbangan, yang menentukan bukan hanya destinasi, tetapi akses.
Wisatawan akan memilih pesawat jika:
perjalanan menjadi lebih singkat, lebih efisien, dan menawarkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui perjalanan panjang.

Artinya, strategi pariwisata tidak cukup berhenti pada promosi, tetapi harus menciptakan skema kunjungan yang menjadikan waktu sebagai nilai tambah—bukan hambatan.

Tanpa itu, wisata akan tetap tumbuh, tetapi bandara tidak akan menjadi bagian dari pertumbuhannya.

Kesehatan: Dimensi Kebutuhan yang Paling Nyata

Di antara berbagai sektor, kesehatan memiliki karakter paling kuat dalam menciptakan kebutuhan penerbangan.

Rujukan medis, evakuasi darurat, distribusi obat, dan mobilitas tenaga spesialis memiliki satu kesamaan: tidak bisa ditunda.
Ketika sistem kesehatan daerah terhubung dengan pusat layanan di luar wilayah, bandara tidak lagi menjadi pilihan, tetapi bagian dari sistem penyelamatan.

Dalam konteks ini, penerbangan bukan sekadar layanan transportasi, melainkan infrastruktur kehidupan.

Pendidikan: Mobilitas yang Terjadwal dan Berulang

Berbeda dengan sektor lain yang sering bersifat fluktuatif, pendidikan menciptakan pola mobilitas yang relatif stabil.

Mahasiswa, dosen, program pelatihan, dan kerja sama antar lembaga membentuk arus manusia yang terjadwal dan berulang.

Inilah jenis permintaan yang paling dibutuhkan oleh maskapai: stabil, terukur, dan berkelanjutan.

Ketika daerah mampu mengintegrasikan diri dalam jejaring pendidikan yang lebih luas—dengan kota-kota seperti Jakarta atau Padang—maka kebutuhan terhadap penerbangan akan tumbuh secara organik, bukan insidental.

Diaspora: Potensi yang Terabaikan

Selain sektor formal, terdapat satu kekuatan yang sering diabaikan: diaspora.
Relasi sosial-ekonomi antara daerah dengan kota seperti Batam dan Jakarta menciptakan arus mobilitas yang nyata, tetapi belum terorganisir.

Pekerja, pelaku usaha, dan jaringan keluarga bergerak secara individual, tanpa konsolidasi.

Padahal, jika arus ini dipetakan dan difasilitasi, ia dapat menjadi basis permintaan yang stabil. Bandara tidak lagi menunggu penumpang acak, tetapi mengelola pergerakan yang sudah ada.

 

Menjadikan Waktu sebagai Variabel Utama

Seluruh sektor tersebut memiliki satu benang merah: kebutuhan terhadap penerbangan muncul ketika waktu menjadi variabel utama.

Selama perjalanan darat masih dianggap cukup — baik dari sisi biaya maupun durasi, bandara akan tetap menjadi alternatif, bukan kebutuhan.

Namun ketika tidak terbang menjadi lebih mahal daripada terbang, maka pilihan akan berubah.

Di titik itulah bandara berhenti menjadi simbol, dan mulai berfungsi sebagai simpul.

Penutup: Dari Menunggu ke Menciptakan

Menghidupkan bandara daerah bukan soal membuka rute, tetapi menciptakan alasan agar rute itu layak ada.

Ini adalah pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tidak selalu populer, dan seringkali tidak instan. Ia membutuhkan keberanian untuk mengintervensi pasar, mengarahkan ekonomi, dan mengorganisir mobilitas.

Namun tanpa itu, bandara akan terus berada dalam satu siklus yang berulang:
dibangun dengan harapan,
dibiarkan tanpa kepastian.
Dan pesawat akan tetap berada di tempatnya — datang sesekali,
lalu pergi tanpa janji kembali.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atika Harap Kemenkumham Atensi Kasus Penganiaya Anak SD

    Atika Harap Kemenkumham Atensi Kasus Penganiaya Anak SD

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tabiat oknum sipir LP Kelas IIB Natal juga menuai kecaman dari Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utammi Nasution. Perbuatan oknum sipir yang diduga melakukan kekerasan terhadap anak usia sekolah dasar jadi sorotan banyak kalangan dalam dua hari ini. Atika menyatakan perbuatan oknum itu tak bisa dibenarkan. “Tidak ada yg bisa […]

  • Korban di Sibanggor Julu Bertambah, Linda Sari Dilarikan ke RSU Panyabungan

    Korban di Sibanggor Julu Bertambah, Linda Sari Dilarikan ke RSU Panyabungan

    • calendar_month Sabtu, 13 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satu perempuan warga Desa Sibanggor Julu dilarikan ke RSU Panyabungan, Jum’at malam (12/2/2021). Perempuan bernama Linda Sari berusia 35 tahun dilarikan ke RSU Panyabungan sekira pukul 21.00 Wib. Kondisi tubuhnya kian memburuk. Muntah-muntah, wajah pucat.  Diduga dampak keracunan zat H2S dari PLTP Sorik Marapi tanggal 25 Januari lalu. Pihak RSU Panyabungan […]

  • Kena Peluru Nyasar

    Kena Peluru Nyasar

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN- Jamaluddin Pane (16), warga Desa Manegen, Kecamatan Padang Sidempuan (Psp) Tenggara, korban peluru nyasar akhirnya angkat bicara. Dia mengaku saat bentrokan antara warga dengan sejumlah personel polisi Polresta Psp di Desa Manegen Sabtu malam (13/11) ia baru pulang malam mingguan bersama teman-temannya. Saat ditemui wartawan, Minggu (14/11) RSUD Psp di Ruang Katelia II, Jamaluddin […]

  • Sobir Reses di Kotasiantar

    Sobir Reses di Kotasiantar

    • calendar_month Jumat, 18 Des 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Anggota DPRD Mandailing Natal (Madina) dari Fraksi Partai Golkar Sobir Lubis SH mengadakan reses I tahun sidang 2020-2021 di Kelurahan Kotasiantar Kecamatan Panyabungan bertempat di Sopo Godang Halaman Bolak, Kamis (17/12/2020). Hadir dalam acara Reses tersebut Pemerintahan Kotasiantar yakni Lurah Syahnan Nasution S.Sos., pihak Kerajaan, Alim ulama dan Naposo Nauli Bulung, […]

  • Tindaklanjut Dua Kali Pertamuan Tambang
    Tak Berkategori

    Tindaklanjut Dua Kali Pertamuan Tambang

    • calendar_month Senin, 29 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Deklarasi Muspida Madina dan para Camat serta tokoh-tokoh masyarakat yang mendorong pemerintah pusat untuk merenegosiasi kontrak karya PT.Sorikmas Mining, 25 april lalu merupakan tindaklanjut rapat dengar pendapat antara perwakilan Naga Juang dengan DPRD Madina dan muspida ruang paripirna DPRD Madina, Selasa (9/4) lalu. Juga muara dari pertemuan antara Bupati Madina, perwakilan […]

  • Mobil Dinas di Surabaya, Spare Part Diambil di Madina

    Mobil Dinas di Surabaya, Spare Part Diambil di Madina

    • calendar_month Rabu, 24 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Meski mobil dinas Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dari Partai Demokrat Syafaruddin Anshari Nasution alias Todong sudah dibawa kembali dari Surabaya ke Madina, terungkap bahwa selama mobil dinas tersebut di Surabaya Todong pernah meminta pergantian spare part (alat-alat) mobil tersebut ke Bagian Umum Sekretariat DPRD Madina. “Betul Bang, kami memang mengeluarkan permintaan […]

expand_less