Selasa, 4 Agu 2026
light_mode

Membangun Kebutuhan: Jalan Sunyi Menghidupkan Bandara Abdul Haris Nasution

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Di banyak daerah, pembangunan bandara sering dimulai dari satu asumsi sederhana:
hadirkan infrastruktur, maka aktivitas akan mengikuti. Runway dibangun, terminal diresmikan, dan harapan pun ikut lepas landas.

Namun realitas kerap bergerak ke arah sebaliknya. Pesawat tidak datang karena landasan tersedia. Ia datang karena ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Di sinilah persoalan utama bandara daerah muncul—bukan pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada belum terbentuknya kebutuhan yang cukup kuat untuk membuat orang dan barang memilih terbang.

Maka, jika persoalannya adalah permintaan, solusinya bukan menunggu. Kebutuhan itu harus dibangun—secara sadar, terarah, dan dalam banyak kasus, dipaksakan menjadi ada.

Dari Potensi ke Keterpaksaan Rasional

Seringkali daerah berbicara tentang “potensi”: potensi ekonomi, potensi wisata, potensi sumber daya. Namun potensi, dalam dirinya sendiri, tidak menciptakan mobilitas udara. Yang menciptakan mobilitas adalah keterpaksaan rasional.

Orang memilih pesawat ketika waktu menjadi mahal. Ketika keterlambatan berarti kerugian. Ketika jarak tidak lagi bisa dinegosiasikan dengan jalan darat.

Dengan kata lain, bandara hanya akan hidup jika ada aktivitas yang tidak sabar terhadap waktu.

Bisnis: Menggeser Ekonomi ke Sektor yang Tidak Bisa Menunggu

Tidak semua kegiatan ekonomi membutuhkan pesawat. Bahkan sebagian besar tidak. Komoditas berbasis volume besar — seperti hasil perkebunan mentah, lebih efisien melalui jalur darat atau laut. Dalam struktur ekonomi seperti ini, bandara tidak memiliki peran signifikan.

Namun, ada segmen ekonomi lain yang justru bergantung pada kecepatan:
produk bernilai tinggi, distribusi cepat, dan mobilitas pelaku usaha.

Tantangan bagi daerah bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi menggeser sebagian aktivitas ekonomi ke sektor yang menjadikan waktu sebagai faktor penentu.
Tanpa pergeseran ini, pesawat akan selalu kalah oleh truk.

Pariwisata: Akses, Bukan Sekadar Destinasi

Banyak daerah mempromosikan keindahan alam dan kekayaan budaya sebagai daya tarik wisata. Namun dalam konteks penerbangan, yang menentukan bukan hanya destinasi, tetapi akses.
Wisatawan akan memilih pesawat jika:
perjalanan menjadi lebih singkat, lebih efisien, dan menawarkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui perjalanan panjang.

Artinya, strategi pariwisata tidak cukup berhenti pada promosi, tetapi harus menciptakan skema kunjungan yang menjadikan waktu sebagai nilai tambah—bukan hambatan.

Tanpa itu, wisata akan tetap tumbuh, tetapi bandara tidak akan menjadi bagian dari pertumbuhannya.

Kesehatan: Dimensi Kebutuhan yang Paling Nyata

Di antara berbagai sektor, kesehatan memiliki karakter paling kuat dalam menciptakan kebutuhan penerbangan.

Rujukan medis, evakuasi darurat, distribusi obat, dan mobilitas tenaga spesialis memiliki satu kesamaan: tidak bisa ditunda.
Ketika sistem kesehatan daerah terhubung dengan pusat layanan di luar wilayah, bandara tidak lagi menjadi pilihan, tetapi bagian dari sistem penyelamatan.

Dalam konteks ini, penerbangan bukan sekadar layanan transportasi, melainkan infrastruktur kehidupan.

Pendidikan: Mobilitas yang Terjadwal dan Berulang

Berbeda dengan sektor lain yang sering bersifat fluktuatif, pendidikan menciptakan pola mobilitas yang relatif stabil.

Mahasiswa, dosen, program pelatihan, dan kerja sama antar lembaga membentuk arus manusia yang terjadwal dan berulang.

Inilah jenis permintaan yang paling dibutuhkan oleh maskapai: stabil, terukur, dan berkelanjutan.

Ketika daerah mampu mengintegrasikan diri dalam jejaring pendidikan yang lebih luas—dengan kota-kota seperti Jakarta atau Padang—maka kebutuhan terhadap penerbangan akan tumbuh secara organik, bukan insidental.

Diaspora: Potensi yang Terabaikan

Selain sektor formal, terdapat satu kekuatan yang sering diabaikan: diaspora.
Relasi sosial-ekonomi antara daerah dengan kota seperti Batam dan Jakarta menciptakan arus mobilitas yang nyata, tetapi belum terorganisir.

Pekerja, pelaku usaha, dan jaringan keluarga bergerak secara individual, tanpa konsolidasi.

Padahal, jika arus ini dipetakan dan difasilitasi, ia dapat menjadi basis permintaan yang stabil. Bandara tidak lagi menunggu penumpang acak, tetapi mengelola pergerakan yang sudah ada.

 

Menjadikan Waktu sebagai Variabel Utama

Seluruh sektor tersebut memiliki satu benang merah: kebutuhan terhadap penerbangan muncul ketika waktu menjadi variabel utama.

Selama perjalanan darat masih dianggap cukup — baik dari sisi biaya maupun durasi, bandara akan tetap menjadi alternatif, bukan kebutuhan.

Namun ketika tidak terbang menjadi lebih mahal daripada terbang, maka pilihan akan berubah.

Di titik itulah bandara berhenti menjadi simbol, dan mulai berfungsi sebagai simpul.

Penutup: Dari Menunggu ke Menciptakan

Menghidupkan bandara daerah bukan soal membuka rute, tetapi menciptakan alasan agar rute itu layak ada.

Ini adalah pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tidak selalu populer, dan seringkali tidak instan. Ia membutuhkan keberanian untuk mengintervensi pasar, mengarahkan ekonomi, dan mengorganisir mobilitas.

Namun tanpa itu, bandara akan terus berada dalam satu siklus yang berulang:
dibangun dengan harapan,
dibiarkan tanpa kepastian.
Dan pesawat akan tetap berada di tempatnya — datang sesekali,
lalu pergi tanpa janji kembali.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ahli Waris Penemu Padi Siganteng Dapat Deposito 60 Juta

    Ahli Waris Penemu Padi Siganteng Dapat Deposito 60 Juta

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Siabu (Mandailing Online) – Plt Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution menyatakan Pemkab Madina sudah berencana memberikan dana pendidikan dalam bentuk deposito sebesar 60 juta rupiah untuk ahli waris penemu varietas padi Siganteng. Uang itu akan dikucurkan dari APBD 2015 dan didepositokan atas nama Siganteng di salah sautu bank di Panyabungan. Dan deposito ini […]

  • KPU di Tiga Daerah Merasa "Serba Salah"

    KPU di Tiga Daerah Merasa "Serba Salah"

    • calendar_month Jumat, 15 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan – Komisi Pemilihan Umum di tiga daerah di Sumatera Utara, yakni Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi dan Kabupaten Mandailing Natal merasa “serba salah” dalam menyelengarakan proses pilkada ulang sebagaimana ditetapkan Mahkamah Konstitusi. Di satu sisi, kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut Irham Buana Nasution dalam pertemuan dengan Komisi II DPR RI di […]

  • Ical Sambangi Amru Daulay

    Ical Sambangi Amru Daulay

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sebelum kembali ke Jakarta usai membuka Rakerda Partai Golkar Sumut di Hotel Polonia, Medan, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie singgah ke kediaman Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sumut Amru Daulay di Jalan Samanhudi, Medan, Sabtu (27/11/2010). Aburizal yang biasa disapa Ical itu tampak akrab dengan mantan Bupati Mandailing Natal tersebut. Didampingi […]

  • Adi Mansar: Harusnya Jangan Ada Lagi KTP ke PSU Pilkada Madina

    Adi Mansar: Harusnya Jangan Ada Lagi KTP ke PSU Pilkada Madina

    • calendar_month Selasa, 20 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Advokad hukum, Dr. H. Adi Mansar, SH,MHum mencuatkan warning agar data pemilih benar-benar valid di tiga TPS yang akan melaksanakan PSU Pilkada Madina. Itu disampaikan Adi Mansar dalam pesan WhatsAap diterima Mandailing Online, Selasa (20/4/2021). Data pemilih yang kurang valid akan berpotensi memberikan peluang kembali kepada Paslon tertentu mengulangi kecurangan. Padahal, […]

  • PLN Gratiskan Penambahan Daya

    PLN Gratiskan Penambahan Daya

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    jakarta : PT PLN (Persero) melalui unit pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia menyediakan layanan tambah listrik (tambah daya) gratis bagi pelanggan dengan daya tersambung 450 VA dan 900 VA. Siaran pers PLN, Minggu (6/3) menyebutkan setiap pelanggan dengan daya tersambung 450 VA dan 900 VA yang naik daya atau tambah listriknya ke 1300 VA […]

  • Sidimpuan Miliki 51.990 Jiwa Fakir Miskin

    Sidimpuan Miliki 51.990 Jiwa Fakir Miskin

    • calendar_month Kamis, 1 Nov 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN (Mandailing Online) – Jumlah fakir miskin di Kota Padangsidimpuan mencapai 51.990 jiwa. Jumlah itu berdasar data yang dihimpun dari Dinas Sosial Kota Padangsidimpuan. Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin, Dinas Sosial Kota Padangsidimpuan, Daulat Parlaungan menyatakan Senin (29/10/2018) dari 51.990 jiwa fakir miskin yang terdaftar di kota Padangsidimpuan, terdapat 11.866 kepala keluarga […]

expand_less