Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Membangun Kebutuhan: Jalan Sunyi Menghidupkan Bandara Abdul Haris Nasution

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Di banyak daerah, pembangunan bandara sering dimulai dari satu asumsi sederhana:
hadirkan infrastruktur, maka aktivitas akan mengikuti. Runway dibangun, terminal diresmikan, dan harapan pun ikut lepas landas.

Namun realitas kerap bergerak ke arah sebaliknya. Pesawat tidak datang karena landasan tersedia. Ia datang karena ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Di sinilah persoalan utama bandara daerah muncul—bukan pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada belum terbentuknya kebutuhan yang cukup kuat untuk membuat orang dan barang memilih terbang.

Maka, jika persoalannya adalah permintaan, solusinya bukan menunggu. Kebutuhan itu harus dibangun—secara sadar, terarah, dan dalam banyak kasus, dipaksakan menjadi ada.

Dari Potensi ke Keterpaksaan Rasional

Seringkali daerah berbicara tentang “potensi”: potensi ekonomi, potensi wisata, potensi sumber daya. Namun potensi, dalam dirinya sendiri, tidak menciptakan mobilitas udara. Yang menciptakan mobilitas adalah keterpaksaan rasional.

Orang memilih pesawat ketika waktu menjadi mahal. Ketika keterlambatan berarti kerugian. Ketika jarak tidak lagi bisa dinegosiasikan dengan jalan darat.

Dengan kata lain, bandara hanya akan hidup jika ada aktivitas yang tidak sabar terhadap waktu.

Bisnis: Menggeser Ekonomi ke Sektor yang Tidak Bisa Menunggu

Tidak semua kegiatan ekonomi membutuhkan pesawat. Bahkan sebagian besar tidak. Komoditas berbasis volume besar — seperti hasil perkebunan mentah, lebih efisien melalui jalur darat atau laut. Dalam struktur ekonomi seperti ini, bandara tidak memiliki peran signifikan.

Namun, ada segmen ekonomi lain yang justru bergantung pada kecepatan:
produk bernilai tinggi, distribusi cepat, dan mobilitas pelaku usaha.

Tantangan bagi daerah bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi menggeser sebagian aktivitas ekonomi ke sektor yang menjadikan waktu sebagai faktor penentu.
Tanpa pergeseran ini, pesawat akan selalu kalah oleh truk.

Pariwisata: Akses, Bukan Sekadar Destinasi

Banyak daerah mempromosikan keindahan alam dan kekayaan budaya sebagai daya tarik wisata. Namun dalam konteks penerbangan, yang menentukan bukan hanya destinasi, tetapi akses.
Wisatawan akan memilih pesawat jika:
perjalanan menjadi lebih singkat, lebih efisien, dan menawarkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui perjalanan panjang.

Artinya, strategi pariwisata tidak cukup berhenti pada promosi, tetapi harus menciptakan skema kunjungan yang menjadikan waktu sebagai nilai tambah—bukan hambatan.

Tanpa itu, wisata akan tetap tumbuh, tetapi bandara tidak akan menjadi bagian dari pertumbuhannya.

Kesehatan: Dimensi Kebutuhan yang Paling Nyata

Di antara berbagai sektor, kesehatan memiliki karakter paling kuat dalam menciptakan kebutuhan penerbangan.

Rujukan medis, evakuasi darurat, distribusi obat, dan mobilitas tenaga spesialis memiliki satu kesamaan: tidak bisa ditunda.
Ketika sistem kesehatan daerah terhubung dengan pusat layanan di luar wilayah, bandara tidak lagi menjadi pilihan, tetapi bagian dari sistem penyelamatan.

Dalam konteks ini, penerbangan bukan sekadar layanan transportasi, melainkan infrastruktur kehidupan.

Pendidikan: Mobilitas yang Terjadwal dan Berulang

Berbeda dengan sektor lain yang sering bersifat fluktuatif, pendidikan menciptakan pola mobilitas yang relatif stabil.

Mahasiswa, dosen, program pelatihan, dan kerja sama antar lembaga membentuk arus manusia yang terjadwal dan berulang.

Inilah jenis permintaan yang paling dibutuhkan oleh maskapai: stabil, terukur, dan berkelanjutan.

Ketika daerah mampu mengintegrasikan diri dalam jejaring pendidikan yang lebih luas—dengan kota-kota seperti Jakarta atau Padang—maka kebutuhan terhadap penerbangan akan tumbuh secara organik, bukan insidental.

Diaspora: Potensi yang Terabaikan

Selain sektor formal, terdapat satu kekuatan yang sering diabaikan: diaspora.
Relasi sosial-ekonomi antara daerah dengan kota seperti Batam dan Jakarta menciptakan arus mobilitas yang nyata, tetapi belum terorganisir.

Pekerja, pelaku usaha, dan jaringan keluarga bergerak secara individual, tanpa konsolidasi.

Padahal, jika arus ini dipetakan dan difasilitasi, ia dapat menjadi basis permintaan yang stabil. Bandara tidak lagi menunggu penumpang acak, tetapi mengelola pergerakan yang sudah ada.

 

Menjadikan Waktu sebagai Variabel Utama

Seluruh sektor tersebut memiliki satu benang merah: kebutuhan terhadap penerbangan muncul ketika waktu menjadi variabel utama.

Selama perjalanan darat masih dianggap cukup — baik dari sisi biaya maupun durasi, bandara akan tetap menjadi alternatif, bukan kebutuhan.

Namun ketika tidak terbang menjadi lebih mahal daripada terbang, maka pilihan akan berubah.

Di titik itulah bandara berhenti menjadi simbol, dan mulai berfungsi sebagai simpul.

Penutup: Dari Menunggu ke Menciptakan

Menghidupkan bandara daerah bukan soal membuka rute, tetapi menciptakan alasan agar rute itu layak ada.

Ini adalah pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tidak selalu populer, dan seringkali tidak instan. Ia membutuhkan keberanian untuk mengintervensi pasar, mengarahkan ekonomi, dan mengorganisir mobilitas.

Namun tanpa itu, bandara akan terus berada dalam satu siklus yang berulang:
dibangun dengan harapan,
dibiarkan tanpa kepastian.
Dan pesawat akan tetap berada di tempatnya — datang sesekali,
lalu pergi tanpa janji kembali.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Guru bukan penentu nasib murid

    Guru bukan penentu nasib murid

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Saat ini sudah sepantasnya guru tidak lagi menilai murid, tapi menetapkan kriteria-kriteria yang harus dilaksanakan murid dan jika murid tidak bisa maka sudah menjadi tugas guru untuk menjembatani dan memfasilitasi mereka untuk dapat mencapai kriteria tersebut. Hal tersebut dikatakan Rektor Universitas Negeri Medan Syawal Gultom, kepada Waspada Online, sembari mengatakan paradigma itu harus […]

  • DPRD Madina Minta Polisi Usut Kasus Penembakan Warga

    DPRD Madina Minta Polisi Usut Kasus Penembakan Warga

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) meminta Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro mengusut tuntas kasus penembakan warga oleh aparat kepolisian saat berunjukrasa mendesak penutupan perusahaan tambang PT Sorikmas Mining, Ahad (29/05/2011) kemarin. “Kita dari DPRD Madina meminta Kapolda Sumut mengusut tuntas aparat pelaku penembakan warga saat melakukan unjuk […]

  • Bode Tanjung : Kapasitas Imran Khaytami Diragukan Pimpin Madina

    Bode Tanjung : Kapasitas Imran Khaytami Diragukan Pimpin Madina

    • calendar_month Kamis, 11 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : As Imran Khaytami Daulay dinilai belum layak untuk jabatan bupati Madina saat ini. Itu diungkapkan Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Mandailing Natal (Madina), Bode Tanjung kepada Mandailing Online, Kamis (11/7/2019) melalui sambungan telefon seluler. Penilaian itu diutarakan Bode menyusul kemunculan nama As Imran Khaytami Daulay untuk maju sebagai calon […]

  • Basarnas Hentikan Pencarian Korban

    Basarnas Hentikan Pencarian Korban

    • calendar_month Rabu, 13 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) -Tim Basarnas menyatakan, Rabu (13/2) menghentikan kegiatan pencarian korban di reruntuhan tambang rakyat Huta Bargot, Mandailing Natal. Pernyataan penghentian ini dinyatakan Ketua Tim Basarnas, Andi Pandawa kepada wartawan di Panyabungan. Dengan demikian, tim Basarnas tersebut akan meninggalkan Mandailing Natal dan pulang ke pangkalannya di Sibolga. Alasan penghentian ini, tim tak mampu mengeluarkan […]

  • Menelusuri Makam Tuanku Tambusai di Seremban, Malaysia

    Menelusuri Makam Tuanku Tambusai di Seremban, Malaysia

    • calendar_month Selasa, 22 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Pemimpin Redaksi Mandailing Online Bukit itu bukan perbukitan besar, melainkan bentangan bukit kecil yang tidak terlalu tinggi. Diapit oleh Jl. Rasah dan Jl. Tok Ungku dan Sungai Batang Benar. Sebuah perbukitan di  Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia. Di atas bukit inilah berada makam Tuanku Tambusai, salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia yang […]

  • SIDIMPUAN EPISENTRUM TABAGSEL, GEJOLAK DAN BARA SEKAM (Bagian 3 – selesai)

    SIDIMPUAN EPISENTRUM TABAGSEL, GEJOLAK DAN BARA SEKAM (Bagian 3 – selesai)

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Menuju Sumteng, Sidimpuan Bersiap Menjadi Ibukota Kawasan Sudah tiba masanya Sidimpuan menegaskan diri sebagai episentrum Tabagsel. Membangun kolaborasi regional, bukan persaingan kecil antarwilayah, apalagi hanya sekedar pertarungan elit lama dan elit baru. Wacana Provinsi Sumatera Tenggara mungkin masih jauh. Mungkin juga bakal jadi desakan untuk menghentikan moratorium. Tetapi sejarah sering dimulai dari gagasan yang […]

expand_less