Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

Alame Mandailing Rozi Nasution: Mengangkat Cita Rasa Tradisional ke Pasar Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Armi Fadhilah Lubis
Mahasiswa Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Andalas

 

Di tengah berkembangnya industri kuliner modern, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis tradisional tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satunya adalah usaha “Alame Mandailing Rozi Nasution” yang berlokasi di Kotasiantar, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, yang berdiri sejak tahun 2012. Usaha ini hadir sebagai bentuk komitmen untuk melestarikan sekaligus mempopulerkan makanan khas daerah, khususnya alame atau dodol khas Mandailing.

UMKM ini dimiliki oleh Rozi Nasution, seorang pelaku usaha yang memiliki semangat besar dalam memajukan produk lokal. Ia mendirikan usahanya dengan tujuan sederhana namun bermakna, yaitu memperkenalkan alame sebagai salah satu makanan khas Mandailing yang dapat dikenal luas oleh masyarakat, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga hingga nasional.

Rozi Nasution mengungkapkan bahwa ide mendirikan usaha ini berawal dari keinginannya untuk melestarikan kuliner tradisional yang mulai tergeser oleh makanan modern. “Saya ingin alame tidak hanya dikenal di kampung sendiri, tetapi juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk para perantau,” ujarnya.

Produk alame

Dalam menjalankan usahanya, Rozi memiliki visi untuk menjadikan alame sebagai produk khas yang diminati oleh berbagai kalangan. Sementara itu, misinya adalah menjadikan alame sebagai produk UMKM unggulan yang dicari masyarakat luas, khususnya produk alame dari usahanya.

Selain memproduksi alame, UMKM ini juga menawarkan berbagai produk lainnya seperti sasagun, kipang, dan pisang gula. Ragam produk tersebut menunjukkan upaya diversifikasi yang dilakukan untuk menarik minat konsumen sekaligus memperluas pasar.

Proses Produksi Alame
Dalam proses produksinya, alame dibuat dari bahan-bahan alami seperti tepung ketan, gula merah, santan kelapa, dan bahan tambahan lainnya yang menjaga cita rasa khas tradisional. Proses pembuatan alame sendiri masih dilakukan secara tradisional, dengan teknik memasak yang membutuhkan waktu dan ketelatenan tinggi agar menghasilkan tekstur dan rasa yang sempurna.

Peralatan yang digunakan dalam produksi pun masih sederhana, seperti kuali besar, tungku, dan alat pengaduk tradisional. Namun demikian, kualitas produk tetap menjadi prioritas utama. “Kami menjaga kualitas dari bahan baku hingga proses pembuatan agar rasa alame tetap autentik,” tambah Rozi.

Tahap memasak alame

Dalam hal pemasaran, UMKM ini telah memanfaatkan berbagai strategi, termasuk penggunaan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Selain itu, pemasaran juga dilakukan secara langsung melalui toko oleh-oleh dan jaringan pelanggan yang sudah tersebar di berbagai daerah.

Menariknya, produk alame dari Rozi Nasution telah menembus pasar nasional. Hal ini tidak lepas dari peran para perantau Mandailing yang turut memperkenalkan produk tersebut ke daerah lain sebagai buah tangan khas kampung halaman.

Dari sisi ekonomi, usaha ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Dengan biaya produksi harian yang disesuaikan dengan jumlah pesanan, produk alame dijual dengan harga yang terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Omzet yang diperoleh pun cukup stabil setiap bulannya, terutama saat permintaan meningkat.

UMKM ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Para karyawan yang bekerja diberikan pelatihan khusus, terutama dalam hal teknik produksi dan menjaga kualitas produk. Hal ini dilakukan agar setiap produk yang dihasilkan tetap konsisten dan sesuai standar.

Seperti halnya usaha lainnya, Rozi Nasution juga menghadapi berbagai tantangan, terutama pada masa awal merintis usaha. Salah satu tantangan terberat adalah memperkenalkan produk kepada masyarakat luas dan membangun kepercayaan konsumen. Namun, dengan ketekunan dan konsistensi dalam menjaga kualitas, perlahan usaha ini mulai dikenal.

Produk Alame
Motivasi utama Rozi dalam menjalankan usaha ini adalah keinginan untuk melestarikan warisan kuliner daerah sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar. Ia percaya bahwa produk lokal memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.

Respon pelanggan terhadap produk alame ini pun sangat positif. Banyak pelanggan yang merasa puas dengan rasa dan kualitas yang ditawarkan. Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang kembali membeli dan merekomendasikan produk ini kepada orang lain. Ada pula cerita unik dari pelanggan yang sengaja memesan dalam jumlah besar untuk dibawa ke luar daerah sebagai oleh-oleh khas Mandailing. “Rasanya sangat khas dan berbeda dari dodol lain. Manisnya pas dan teksturnya lembut. Saya sering membawanya ke Medan untuk oleh-oleh,” ungkap Desi, pelanggan alame ini.

Keunggulan utama dari usaha ini terletak pada cita rasa autentik yang tetap dipertahankan serta penggunaan bahan-bahan alami. Hal ini menjadi nilai tambah yang membedakan produk alame Rozi Nasution dengan produk sejenis di pasaran.

Dalam menghadapi berbagai tantangan, Rozi terus berupaya mencari solusi, seperti meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan teknologi digital. Ia juga terus belajar dan berinovasi agar usahanya dapat berkembang lebih baik lagi.

Permintaan terhadap produk alame biasanya meningkat pada momen-momen tertentu, seperti hari raya dan musim liburan. Pada saat tersebut, produksi pun ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang melonjak.

Ke depan, Rozi Nasution berharap usahanya dapat terus berkembang dan menjadi salah satu ikon kuliner khas Mandailing yang dikenal secara luas. Ia juga berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk mengembangkan produk lokal agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, UMKM Alame Mandailing Rozi Nasution menjadi contoh nyata bagaimana usaha kecil dapat memberikan dampak besar, baik dalam pelestarian budaya maupun peningkatan ekonomi masyarakat.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pendapatan Angkutan Pedesaan Turun 75 Persen

    Pendapatan Angkutan Pedesaan Turun 75 Persen

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) -Penurunan pendapatan angkutan pedesaan menurun sekitar 75 persen dalam 3 pekan terakhir. Itu diungkap Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Mandailing Natal, Palit Nasution menjawab Mandailing Online di Panyabungan, Selasa (7/4/2020). “Kondisi itu sudah sekitar 3 pekan,” ujar Palit. Menurutnya, faktor penurunan itu akibat penurunan perekonomian masyarakat dampak pendemi Corona dan […]

  • KPUD masih Tunggu Dana Untuk Susun Tahapan Pemilukada Ulang Madina

    KPUD masih Tunggu Dana Untuk Susun Tahapan Pemilukada Ulang Madina

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengatakan, tahapan-tahapan pelaksanaan Pemilukada ulang belum juga dijadwalkan atau disiapkan. Ini dikarenakan belum adanya dana yang dibutuhkan. Hal itu disampaikan Ketua KPUD Madina, Jefri Antoni SH saat dihubungi METRO melalui telepon selulernya, Selasa (4/1). “Kita kan masih menunggu dana, karena tanpa dana itu KPUD tidak […]

  • Warga Madina Dihimbau Menunda “Horja”

    Warga Madina Dihimbau Menunda “Horja”

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Segenap warga Mandailing Natal yang sudah merencanakan resepsi pernikahan atau “Horja” agar ditunda. Penundaan “mambaen horja” ini satu dari 8 poin himbauan yang tertuang dalam Keputusan Bersama Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tertanggal 27 Maret 2020. Himbauan itu diterbitkan Forkopimda Mandailing Natal mencermati perkembangan terkini Covid-19. Tujuh […]

  • Didemo Mahasiswa, Kejari Madina Akui Kegiatan Garda Desa Kegiatan Kejaksaan Namun Tidak Tau Anggaran Ditampung di APBDes

    Didemo Mahasiswa, Kejari Madina Akui Kegiatan Garda Desa Kegiatan Kejaksaan Namun Tidak Tau Anggaran Ditampung di APBDes

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Jupri Wandry Banjarnahor, S.H., M.H., selalu Kepala Seksi Intelijen Kejari Madina mengakui  kegiatan garda desa yang dilaksanakan di setiap desa di Madina merupakan kegiatan Kejaksaan Negeri Madina. Namun ia mengaku tidak tahu bahwa kegiatan itu ditampung di APBDes tahun 2025. “Benar itu memang kegiatan kami, tapi soal ditampung di APBDes kami tak […]

  • Rumah dan Mobil Dinas Kasat Lantas Dibakar

    Rumah dan Mobil Dinas Kasat Lantas Dibakar

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Giliran Polres Aceh Tengah Diteror TAKENGON- Penyelidikan aksi teror di Mapolresta Cirebon belum tuntas diusut, teror sejenis kembali terjadi. Kali ini giliran Polres Aceh Tengah di Takengon yang jadi sasaran. Aksi teror orang tak dikenal (OTK) ini bahkan terjadi dalam dua hari berturut-turut. Sabtu (16/4), kantor Satreskrim yang dibakar OTK. Sehari kemudian, Minggu (17/4), giliran […]

  • MENUJU PENGUATAN MANAJEMEN PERUSAHAAN DAERAH

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan: Dahlan Batubara (Pemimpin Redaksi Mandailing Online) “TIDAK SINERGISNYA BUMD ITU, OLEH BANYAK PENGAMAT AKIBAT LEMAHNYA MANAJEMEN. KONDISI INI DISEBABKAN POLA REKRUTMEN PIMPINAN BUMD YANG SALAH KAPRAH. FIGUR-FIGUR PIMPINAN YANG BERLATAR BELAKANG POLITISI YANG KURANG MEMILIKI JIWA BISNIS MENYEBABKAN PERUSAHAAN ITU JALAN DI TEMPAT” Pemkab Mandailing Natal kabarnya akan kembali menghidupkan Badan Usaha Milik Daerah […]

expand_less