Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Alame Mandailing Rozi Nasution: Mengangkat Cita Rasa Tradisional ke Pasar Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Armi Fadhilah Lubis
Mahasiswa Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Andalas

 

Di tengah berkembangnya industri kuliner modern, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis tradisional tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satunya adalah usaha “Alame Mandailing Rozi Nasution” yang berlokasi di Kotasiantar, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, yang berdiri sejak tahun 2012. Usaha ini hadir sebagai bentuk komitmen untuk melestarikan sekaligus mempopulerkan makanan khas daerah, khususnya alame atau dodol khas Mandailing.

UMKM ini dimiliki oleh Rozi Nasution, seorang pelaku usaha yang memiliki semangat besar dalam memajukan produk lokal. Ia mendirikan usahanya dengan tujuan sederhana namun bermakna, yaitu memperkenalkan alame sebagai salah satu makanan khas Mandailing yang dapat dikenal luas oleh masyarakat, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga hingga nasional.

Rozi Nasution mengungkapkan bahwa ide mendirikan usaha ini berawal dari keinginannya untuk melestarikan kuliner tradisional yang mulai tergeser oleh makanan modern. “Saya ingin alame tidak hanya dikenal di kampung sendiri, tetapi juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk para perantau,” ujarnya.

Produk alame

Dalam menjalankan usahanya, Rozi memiliki visi untuk menjadikan alame sebagai produk khas yang diminati oleh berbagai kalangan. Sementara itu, misinya adalah menjadikan alame sebagai produk UMKM unggulan yang dicari masyarakat luas, khususnya produk alame dari usahanya.

Selain memproduksi alame, UMKM ini juga menawarkan berbagai produk lainnya seperti sasagun, kipang, dan pisang gula. Ragam produk tersebut menunjukkan upaya diversifikasi yang dilakukan untuk menarik minat konsumen sekaligus memperluas pasar.

Proses Produksi Alame
Dalam proses produksinya, alame dibuat dari bahan-bahan alami seperti tepung ketan, gula merah, santan kelapa, dan bahan tambahan lainnya yang menjaga cita rasa khas tradisional. Proses pembuatan alame sendiri masih dilakukan secara tradisional, dengan teknik memasak yang membutuhkan waktu dan ketelatenan tinggi agar menghasilkan tekstur dan rasa yang sempurna.

Peralatan yang digunakan dalam produksi pun masih sederhana, seperti kuali besar, tungku, dan alat pengaduk tradisional. Namun demikian, kualitas produk tetap menjadi prioritas utama. “Kami menjaga kualitas dari bahan baku hingga proses pembuatan agar rasa alame tetap autentik,” tambah Rozi.

Tahap memasak alame

Dalam hal pemasaran, UMKM ini telah memanfaatkan berbagai strategi, termasuk penggunaan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Selain itu, pemasaran juga dilakukan secara langsung melalui toko oleh-oleh dan jaringan pelanggan yang sudah tersebar di berbagai daerah.

Menariknya, produk alame dari Rozi Nasution telah menembus pasar nasional. Hal ini tidak lepas dari peran para perantau Mandailing yang turut memperkenalkan produk tersebut ke daerah lain sebagai buah tangan khas kampung halaman.

Dari sisi ekonomi, usaha ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Dengan biaya produksi harian yang disesuaikan dengan jumlah pesanan, produk alame dijual dengan harga yang terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Omzet yang diperoleh pun cukup stabil setiap bulannya, terutama saat permintaan meningkat.

UMKM ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Para karyawan yang bekerja diberikan pelatihan khusus, terutama dalam hal teknik produksi dan menjaga kualitas produk. Hal ini dilakukan agar setiap produk yang dihasilkan tetap konsisten dan sesuai standar.

Seperti halnya usaha lainnya, Rozi Nasution juga menghadapi berbagai tantangan, terutama pada masa awal merintis usaha. Salah satu tantangan terberat adalah memperkenalkan produk kepada masyarakat luas dan membangun kepercayaan konsumen. Namun, dengan ketekunan dan konsistensi dalam menjaga kualitas, perlahan usaha ini mulai dikenal.

Produk Alame
Motivasi utama Rozi dalam menjalankan usaha ini adalah keinginan untuk melestarikan warisan kuliner daerah sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar. Ia percaya bahwa produk lokal memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.

Respon pelanggan terhadap produk alame ini pun sangat positif. Banyak pelanggan yang merasa puas dengan rasa dan kualitas yang ditawarkan. Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang kembali membeli dan merekomendasikan produk ini kepada orang lain. Ada pula cerita unik dari pelanggan yang sengaja memesan dalam jumlah besar untuk dibawa ke luar daerah sebagai oleh-oleh khas Mandailing. “Rasanya sangat khas dan berbeda dari dodol lain. Manisnya pas dan teksturnya lembut. Saya sering membawanya ke Medan untuk oleh-oleh,” ungkap Desi, pelanggan alame ini.

Keunggulan utama dari usaha ini terletak pada cita rasa autentik yang tetap dipertahankan serta penggunaan bahan-bahan alami. Hal ini menjadi nilai tambah yang membedakan produk alame Rozi Nasution dengan produk sejenis di pasaran.

Dalam menghadapi berbagai tantangan, Rozi terus berupaya mencari solusi, seperti meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan teknologi digital. Ia juga terus belajar dan berinovasi agar usahanya dapat berkembang lebih baik lagi.

Permintaan terhadap produk alame biasanya meningkat pada momen-momen tertentu, seperti hari raya dan musim liburan. Pada saat tersebut, produksi pun ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang melonjak.

Ke depan, Rozi Nasution berharap usahanya dapat terus berkembang dan menjadi salah satu ikon kuliner khas Mandailing yang dikenal secara luas. Ia juga berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk mengembangkan produk lokal agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, UMKM Alame Mandailing Rozi Nasution menjadi contoh nyata bagaimana usaha kecil dapat memberikan dampak besar, baik dalam pelestarian budaya maupun peningkatan ekonomi masyarakat.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wanita Tak Dikenal Diamankan

    Wanita Tak Dikenal Diamankan

    • calendar_month Sabtu, 27 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Isu penculikan anak semakin merebak di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Apalagi setelah Polsek Panyabungan Kota mengamankan seorang wanita tak dikenal di Jalan Bakti ABRI, Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan, Rabu (24/11/2010). Informasi yang diperoleh dari warga, wanita yang diduga angota sindikat penculik anak ini awalnya mau masuk ke rumah warga di Jalan Bakti ABRI, […]

  • Kita Belum Merdeka

    Kita Belum Merdeka

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sudah 71 tahun Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, sesungguhnya bangsa ini belum benar-benar merdeka. Indonesia sejatinya masih terjajah. Lihat, misalnya, tingkat kesejahteraan rakyat yang masih jauh dari apa yang dicita-citakan dalam konstitusi. Pendapatan perkapita Indonesia pada tahun 2015 hanya menempati urutan ke-115 dari 185 negara yang ada di dunia, dengan jumlah US$ 3,362 pertahun. Angka itu […]

  • Tangkap Aktor dan Pelaku Penyerahan Lahan ke PT. ALN

    Tangkap Aktor dan Pelaku Penyerahan Lahan ke PT. ALN

    • calendar_month Rabu, 9 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyerahan lahan kepada PT. Agro Lintas Nusantara (ALN) dinilai bertentangan dengan hukum, namun hingga saat ini tidak ada tindakan tegas maupun proses hukum dari aparat penegak hukum maupun Pemkab Mandailing Natal terhadap para pelaku maupun aktor intelektual yang bermain dibalik penyerahan lahan itu. “Masyarakat Muara Batang Gadis mulai geram sebab Pemkab […]

  • Bekerja di TPA Tanpa Digaji

    Bekerja di TPA Tanpa Digaji

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bagi orang kebanyakan, sampah tidak ada gunanya. Sesegera mungkin orang akan menyingkirkan sampah karena makin banyak menumpuk makin tidak nyaman. Baunya yang tidak sedap mengundang lalat berseliweran. Bernafas pun tak segar, itu artinya sama saja mengundang penyakit. Lain hal dengan keluarga Khoiron. Warga Kelurahan Sipolu-polu, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ini, rela bekerja di tempat […]

  • Survei: Pancasila Masih Dibutuhkan "Masih ada diskriminasi terhadap Pancasila, belum diakui, pemerintah masih setengah hati."

    Survei: Pancasila Masih Dibutuhkan "Masih ada diskriminasi terhadap Pancasila, belum diakui, pemerintah masih setengah hati."

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Badan Pusat Statistik menemukan dalam surveinya, publik masih membutuhkan Pancasila. Dari 12.000 responden yang ditanya, 79,26 persen menyatakan Pancasila penting dipertahankan. “Sementara 89 persen masyarakat berpendapat permasalahan bangsa, disebabkan kurangnya pemahaman nilai-nilai Pancasila,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melansir hasil survei itu dalam pidato kebangsaan di Gedung MPR, Rabu 1 Juni 2011. Berdasarkan survei itu, […]

  • Base Camp PT SM Dibakar, Kapolda Turun ke Madina

    Base Camp PT SM Dibakar, Kapolda Turun ke Madina

    • calendar_month Selasa, 10 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kapolda Sumatera Utara Irjen Drs Wisjnu Amat Sastro didampingi Bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara memberikan keterangan pers setelah melihat korban luka tembak di Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan, Senin (09/07/2012), terkait pembakaran Base Camp PT Sorikmas Mining di Bukit Sambung, Kecamatan Naga Juang oleh warga pada Sabtu (07/07/2012) lalu. (M Saima Putra.beritasumut)

expand_less