Jumat, 6 Mar 2026
light_mode

Dari Kolong Rumah Panggung

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 10 Nov 2016
  • print Cetak

Anak-anak bermain bola di samping rumah panggung

Anak-anak bermain bola di samping rumah panggung

Oleh : RIVON PAINO – Gorontalo

Saat senja memancarkan lembayung, rumah panggung itu terlihat kokoh. Sinar merah jingga seperti menghangatkan tiang-tiang papan rumah yang tampak tua dan terlihat keropos.

Dari bawah kolong rumah panggung, seorang anak duduk menghentak-hentakan kakinya. Tatapannya mengarah ke teman-temannya yang sedang bermain sepak bola sembari memberi semangat. Mereka berkejar-kejaran hingga ke bawah kolong rumah.

Lapangan yang menjadi tempat mereka bermain bola adalah halaman rumah panggung milik Nur Al Idrus dan Tum Al Idrus. Keduanya adalah perempuan bersaudara yang sudah uzur, renta, dan tak bersuami. Mereka tak tahu lagi, berapa usia mereka sekarang.

Di rumah panggung itu, mereka tak hanya hidup berdua. Ada keponakan laki-laki yang bekerja sebagai sopir pribadi dan tiga cucu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Rumah panggung itu terletak di pinggiran Kota Gorontalo, tepatnya di Kelurahan Bugis, Kecamatan Dumbo Raya.

Seperti biasa, di Sabtu sore awal April itu, Tum Al Idrus sibuk dengan aktivitas dapurnya. Ia menyalakan api di atas tungku dan meniupnya. Asap pun mengepul, diikuti batuk yang suaranya terdengar hingga ke ruang tengah rumah itu. Meski demikian, tak berapa lama jamuan malam yang akan dipersiapkan segera tersaji.

Cat bagian dapur dari rumah panggung itu mulai luntur. Warnanya menjadi kehitam-hitaman, yang berasal dari api tungku yang setiap hari ditiup oleh sang nenek. Di bagian belakang, rumah itu memiliki tangga yang mulai rapuh. Dua tangga lainnya terdapat di bagian depan rumah, yang letaknya di samping kiri dan kanan.

Seperti rumah panggung pada umumnya, rumah panggung di Gorontalo juga berbentuk persegi empat yang memanjang ke belakang. Atapnya seng. Tiang-tiang penyangganya memiliki tinggi sekitar satu meter. Sementara dua tangga yang berada di depan bentuknya menjulur dari samping.

Nur dan Tum Al Idrus sangat berhati-hati jika menaiki tangga rumah panggung mereka. Maklum, usia keduanya sudah uzur. Namun, tak ada satu pun ketakutan yang terlihat dari raut mereka.

”Rumah ini berdiri sejak tahun 1927,” kata Tum Al Idrus. ”Rumah panggung sangat kuat dan tahan gempa.”

Arang hitam menempel di wajah nenek Tum Al Idrus. Ingatannya menerawang ke masa silam. Menurutnya, rumah panggung tersebut mampu menyelamatkan mereka dari ancaman gempa. Seperti gempa dahsyat yang pernah terjadi di Gorontalo pada 2008 lalu. Dengan kekuatan gempa 7,7 skala richter kala itu, rumah mereka sangat aman.

”Selain aman dari gempa, rumah panggung juga aman dari bencana banjir,” tambah Nur Al Idrus.

Di Kota Gorontalo, jika hujan mengguyur selama satu jam atau lebih, maka banjir akan datang, dan segeralah bergegas mengemas perkakas rumah ke tempat yang aman. Dan ini terjadi setiap tahun. Namun, persoalan banjir tidak didera rumah panggung.

”Kalau rumah warga lain tergenang banjir, justru rumah panggung kami yang sudah tua ini sangat aman,” ujar Nur Al Idrus.

Di Gorontalo masih banyak ditemui rumah panggung yang tersebar dan dipertahankan sebagai identitasnya. Seperti di di kawasan Kecamatan Kota Timur, misalnya. Di halaman belakangnya juga umumnya ditanami dengan bunga dan pohon hingga tampak indah di mata.

Arifin Rasimpala, salah seorang pemilik rumah panggung di Kecamatan Kota Timur menceritakan, rumah khas di Gorontalo adalah rumah panggung. Namun, banyak rumah panggung milik warga yang sudah direnovasi. Yang tadinya tiang-tiang penyangganya terbuat dari kayu, kini banyak yang menggantikannya dengan beton. Alasannya agar pondasinya lebih kuat.

“Seperti rumah panggung milik kami ini. Sudah ada sejak tahun 1914. Namun kami merenovasi kembali dengan tiang penyangga dari beton,” ungkap Arifin.

Di beberapa tempat, seperti di Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, juga dapat dijumpai rumah panggung berderet yang dipertahankan oleh pemiliknya. Dinding bagian berandanya berbahan papan, sementara ruang dapurnya terbuat dari bambu yang dibelah dan dianyam. Tiang penyangga masih terlihat kuat. Di kala siang, kolong rumah menjadi tempat bermain kelereng bagi anak-anak.

“Dan juga menjadi tempat parkir motor,” kata Sari Abas, salah seorang pemilik rumah panggung.

Dahulu kala, orang-orang Gorontalo membuat rumah panggung agar hunian mereka terhindar dari binatang liar. Selain itu, kolong rumah panggung juga digunakan untuk memelihara ternak. Namun, konsep rumah panggung sebenarnya didasarkan pada wilayah geografi Gorontalo yang senantiasa digenangi air.

“Dulu Gorontalo senatiasa tergenang oleh air. Sehingga itu nenek moyang Gorontalo mendirikan rumah panggung,” kata Alim Niode, sosiolog dari Universitas Negeri Gorontalo.

Ia menyebutkan, kata Gorontalo berasal dari “Hunto” yang artinya suatu tempat yang selalu digenangi air. Ini merupakan salah satu asal usul nama “Hulonthalo”. Namun, orang Belanda yang ketika itu menguasai wilayah ini kesulitan dalam mengucapkannya. Mereka lebih mudah dengan pengucapan “Horontalo”, dan kemudian berubah menjadi Gorontalo.

Basri Amin, peneliti dari Pusat Studi Sosial Universitas Negeri Gorontalo, sebagaimana dikutip dari koran Gorontalo Post, edisi 26 Mei 2009 (Lingkungan Gorontalo, Menoleh ke Belakang Mentapa ke Depan), menyebutkan bahwa pada 1880-an banjir sudah terjadi sekali setiap tahun di Gorontalo. Dan sejak saat itu rumah-rumah di Gorontalo mulai menggunakan fondasi yang tinggi.

Di Gorontalo sendiri rumah adatnya sering disebut Dulohupa. Rumah ini berbentuk panggung sebagaimana rumah panggung yang tersebar di wilayah-wilayah Sulawesi lainnya. Dulohupa merupakan balai musyawarah dari kerabat kerajaan.

Selain itu, ada juga sebutan lain untuk rumah adat Gorontalo, yakni Bantayo Poboide. “Bantayo” artinya gedung atau bangunan, sedangkan “Poboide” berarti tempat bermusyawarah.

“Masyarakat etnis Gorontalo terdiri dari keluarga Batih (nuclear family), dalam bahasa Gorontalo disebut Ngalaa. Tiap-tiap ngalaa menghuni sebuah tempat yang disebut Laihe, yakni rumah panggung berbentuk bujur sangkar atau persegi empat, sebuah rumah besar yang disekat dalam beberapa petak. Selain itu memiliki ruangan untuk bermusyawarah yang disebut dulopehu,” Alim Niode menjelaskan.

Barangkali ada yang menyangka bahwa bentuk rumah panggung hanya ditemukan jika kita menengok ke Sumatera atau Kalimantan. Akan tetapi, bentuk rumah panggung yang khas itu juga banyak tersebar di daratan Sulawesi. Dan Gorontalo, tambah Alim, diakui memang mendapat pengaruh dari bangsa lain. Ada persentuhan antara Gorontalo dan Melayu.

Namun, dari bentuk arsitektur rumah panggungnya, Gorontalo memiliki spesifik tersendiri: dua tangga di depan. Dan di atas pintu tidak terdapat ukiran hewan bergerak. Yang ada hanya ukiran daun yang bermakna tidak lagi menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Gaya arsitekturnya menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo bernuansa Islami.

Barangkali, rumah panggung di Gorontalo memang memiliki pertalian dengan rumah panggung lain yang ada di seluruh wilayah Sumatera, Kalimantan, Thailand, Malaysia, Pilipina, dan wilayah lain yang ada di Kepulauan Melayu ini.

Dicopy dari : http://www.lenteratimur.com

Rivon Paino adalah mahasiswa Akidah Filsafat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amay, Gorontalo.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahkan Penjarapun Terlalu Ringan Untuk Para Koruptor

    Bahkan Penjarapun Terlalu Ringan Untuk Para Koruptor

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Elsa Novia Wita Siregar, S.Si Pemerintah masih terus berfikir untuk menangani masalah pandemi yang sedang melanda dunia, khususnya yang terjadi Indonesia. Berbagai pihak menilai Indonesia sangat terlambat merespon kasus ini, sehingga penyebaran virus menjadi tak terkendali. Sudah ada ratusan jiwa yang menjadi korban keganasan virus Corona yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Sehingga […]

  • Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (2)

    Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (2)

    • calendar_month Sabtu, 11 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Z. Pangaduan Lubis (in memoriam) Sistem Religi Masuknya penjajahan atau pemeritahan kolonial Belanda ke Mandailing terjadi pada waktu Belanda sedang berperang dengan Kaum Paderi di Minangkabau pada 1830-an. Sebelum Belanda masuk ke Mandailing, beberapa tahun lamanya Kaum Paderi sudah lebih dahulu menguasai Mandailing. Salah satu tujuan penting dari Kaum Paderi menguasai Mandailing ialah […]

  • Bupati dan Wakil Bupati Madina Belum Berniat Mutasi

    Bupati dan Wakil Bupati Madina Belum Berniat Mutasi

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Hari pertama masuk kerja, Bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara bersama Wakil Bupati Dahlan Hasan Nasution disambut ribuan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemkab Madina di jalan menuju Kantor Bupati, Perkantoran Payaloting, Kamis (30/06/2011). Penyambutan hari pertama masuk kerja Bupati dan Wakil Bupati Madina terpilih dipimpin langsung Sekdakab Madina Gozali Pulungan. PNS yang menunggu kedatangan […]

  • Dinas Perdagangan Madina dan Mahasiswa Akan Mendata di Pasar Tradisional dan Pasar Rakyat

    Dinas Perdagangan Madina dan Mahasiswa Akan Mendata di Pasar Tradisional dan Pasar Rakyat

    • calendar_month Kamis, 23 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 10 mahasiswa dari dua perguruan tinggi melakukan magang dan praktikum di Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut. Para mahasiswa akan melakukan pendataan pluktuasi jumlah pedagang di seluruh pasar tradisional dan pasar rakyat yang ada di Madina. Dua perguruan tinggi itu adalah STAIN Madina yang mengirim 6 mahasiswa smester 8 […]

  • Terkait Surat Edaran Gubsu Tentang Galian C, Ombudsman Diminta Lakukan Investigasi

    Terkait Surat Edaran Gubsu Tentang Galian C, Ombudsman Diminta Lakukan Investigasi

    • calendar_month Rabu, 12 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online)- Menanggapi perdebatan hangat soal galian C di Mandailing Natal ( Madina ) dan terbitnya Surat Edaran Gubernur Sumut No 900.1.13.1/7845/2023 tanggal 4 Juli 2023, tentang penggunaan material pekerjaan kontruksi dari perusahaan memiliki izin tambang bukan logam, Irwan Daulay Pengamat Ekonomi & Pembangunan Sumut merespon dengan meminta SE itu sebaiknya dicabut dan selanjutnya […]

  • Opick Akan Hadiri Kampanye Saparuddin -Miswaruddin

    Opick Akan Hadiri Kampanye Saparuddin -Miswaruddin

    • calendar_month Selasa, 1 Des 2015
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kampanye akbar pasangan Saparuddin Haji Lubis-Miswaruddin Daulay dijadwal berlangsung Kamis (3/12) di lapangan Aek Godang, Panyabungan.           Kampanye bertema “Bersholawat bersama sahabat muda untuk pemenangan Saparuddin Haji Lubis-Miswaruddin Daulay “ ini menghadirkan Opick dan ustadz Abdul Wahid (pemenang Da’I Indosiar). Selain itu, Odang Cs juga akan […]

expand_less