Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

GARA-GARA “GANTI SURAT”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 20 Agt 2022
  • print Cetak

Cerpen: Rina Youlida N

“Praaang…… praaaang….….”

Suara piring berdentang sahut-sahutan dari arah dapur. Tak asing lagi jika suara itu sudah menjadi langganan setiap kali Rahma, istri Udin menyuci piring. Seolah itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan atau memalukan, Rahma tidak pernah ikhlas untuk mengerjakannya.

Bukan itu saja, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya yang lazim dikerjakan oleh seorang wanita yang berstatus sebagai seorang ibu rumah tangga pun sulit untuk Rahma terima. Tak ada yang tahu pasti apa alasannya. Mungkin saja Rahma berontak dengan kebiasaannya sebagai karyawan bank sebelum ia menikah yang selalu tampil cetar dan fashionable dengan riasan makeup yang sempurna setiap hari.

Hampir tak pernah memikirkan melakukan pekerjaan rumah sehingga tangan dan kukunya tetap sley setiap saat, namun berbanding terbalik dengan keadaannya setelah berumah tangga, apalagi sudah dikaruniai dua orang anak nan lucu dan menggemaskan yang masih balita membuat ia jauh berbeda dengan kebiasaan sebelumnya. Jangankan merias diri, mandipun ia keteteran.

Udin berusaha memaklumi kemampuan istrinya dalam mengurus rumah tangga karena ia tahu jika istrinya adalah putri tunggal di rumahnya yang selalu mendapat perlakuan berlebih dari orangtuanya. Apalagi ia adalah anak dari toke karet yang terkenal kemasyhuran keluarganya yang segala sesuatu di rumah dilakukan oleh asisten rumah tangga.

Namun, cinta yang bersemi dan terjalin selama kurang lebih empat tahun antara Udin dan Rahma membawa mereka hingga sah ke pelaminan.

Udin yang bekerja sebagai staf di salah satu instansi pemerintahan belum mampu untuk membiayai asisten untuk bekerja di rumah apalagi istrinya kini sudah resign dari pekerjaannya dan fokus mengurus keluarga saja agar menghemat biaya. Udin tidak ingin jika dianggap suami yang tidak bertanggungjawab jika harus menerima suntikan biaya rumahtangga dari mertua yang sangat ia hormati itu.

Ia selalu berusaha sabar dan menenangkan hati istri tercintanya agar sabar dan belajar lebih ikhlas dalam mengurus anak dan rumah, karena itu Udin tidak pernah sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah sebelum ia berangkat bekerja untuk membantu istrinya meringankan beban tugas rumah tangga seperti menyapu rumah, menjemur pakaian, memandikan anak-anak dan lainnya.

Merasa bising dengan suara peralatan dapur yang terdengar hingga ke rumah tetangga, Udin terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek-ngucek matanya ia menatap ke arah jam dinding yang terpajang tepat lurus arah kakinya.

“Hmmm…. sudah setengah enam rupanya” gumam Udin seraya beranjak dari tempat tidurnya.

Sambil mengusap-usap kepala yang rambutnya sudah memanjang karena belum sempat memotong rambut selama dua bulan ini, ia langsung menuju kamar mandi, bukan mengabaikan istri tercintanya, tetapi ia hendak menghadap dan “melapor” pada sang pencipta terlebih dahulu memenuhi kewajiban utama Udin sebagai umat muslim.

Selesai solat, ia melihat istrinya yang sedang mencuci piring dengan muka masam dan bibir manyun.

“Selesaikan saja piring kotor itu, biar abang yang buatkan sarapan. Nanti adek urus anak-anak saja supaya tidak terlambat mereka makannya”.

Dengan sabar Udin mengambil alih pekerjaan dapur hingga tuntas semua, ia pun berangkat kerja dengan terburu-buru mengejar apel pagi di kantornya.

Saat sibuk bekerja di kantornya, tiba-tiba terdengar suara HP berdering, ternyata ada panggilan masuk dari istrinya yang menyatakan bahwa ia telah kena tilang polisi saat belanja tadi. Pajak di STNK sudah mati karena belum bayar dan ternyata SIM-nya juga sama, sudah lama mati izinnya. Udin belum memiliki uang yang cukup untuk mengurus kembali surat-surat kendaraannya.

“Yaa…., nanti abang pulang, dan akan langsung ke kantor Lantas untuk mengurus sepeda motornya, adek pulang saja naik becak ya….”, saran Udin pada istrinya.

Sesampainya di rumah, wajah Udin terlihat kusut karena ia harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menutupi kesalahannya sehingga sepeda motornya kembali. Bukannya disambut baik, Rahma justru marah-marah sambil mengatakan jika ia sangat malu dengan keadaannya ini. Tak pernah ia bayangkan akan sesulit ini hidupnya berumahtangga. Ia juga menyalahkan suaminya yang terlalu gengsi menerima bantuan dari orang tuanya.

“Okeee ….., aku akan ganti surat!, biar adek puas !”.

“Adek mau kapan ganti suratnya? Segera akan abang ganti ! Abang juga sudah cukup lelah memikirkannya!”.

Sontak saja Rahma terkejut mendengar kalimat dari mulut suaminya itu. Belum pernah ia mendengar suaminya berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Ditambah lagi ia menafsirkan lain kalimat yang suaminya itu ucapkan.

Selepas waktu Magrib, di pintu terdengar suara ketukan. Udin bergegas membukakannya. Udin terkejut karena melihat kedua mertuanya sudah berdiri dengan tatapan tajam pada Udin.

Rahma yang sedari sore mengurung diri di kamar, pun keluar mendengar suara ibunya yang memanggil namanya yang telah sampai di rumah. Tanpa dipersilakan, kedua orangtua Rahma sudah mengambil posisi duduk tepat di hadapan Udin.

“Udin….., saya sudah mendengar semua penjelasan permasalahan kalian berdua dengan Rahma. Saya sulit terima perlakuan dan ucapanmu kepada putri saya ini. Dia adalah harta kami yang paling berharga, saya tidak sangka kamu tega sekali menyakitinya dan berniat menceraikannya tanpa alasan yang jelas”, ucap ayah mertua Udin berapi-api sambil menunjuk ke arah Udin.

“Jika memang betul niatmu mengganti surat segeralah urus perceraian dengan anakku, lakukan secepatnya karena aku tak akan rela melihat anakku menderita hidup denganmu”, lanjut ayah mertuanya lagi.

Dengan wajah melongo, Udin tak sanggup menjawab ayah mertuanya. Ia bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang terjadi sehingga kedua mertuanya datang dan membicarakan soal perceraian. Tetapi setelah ibu mertuanya berbicara dan menjelaskan jika tadi Rahma menghubungi mereka melalui telefon yang menyatakan bahwa Udin akan segera mengganti surat-surat agar istrinya puas barulah Udin faham.

Ternyata kalimatnya pada istrinya, “Okeee ….., aku akan ganti surat!, biar adek puas !” “Adek mau kapan ganti suratnya? Segera akan abang ganti ! Abang juga sudah cukup lelah memikirkannya!”, telah salah tafsir. Mungkin karena sering bertengkar belakangan ini.

Istri dan mertuanya telah salah menanggapi apa yang telah Rahma laporkan pada orangtuanya.

Dengan tenang Udin menarik nafas dalam dan mulai berbicara pelan dan hati-hati, setelah mertuanya berhenti berbicara.

Tulang dan Nantulang….. saya mohon maaf sebelumnya dengan keadaan ini. Saya benar-benar tidak tau akan serunyam ini masalahnya. Tak ada sedikit pun terbersit di hati saya untuk bercerai dengan Rahma. Saya sangat menyayangi keluarga saya. Masalah mengurus surat yang saya maksudkan adalah tentang surat-surat kenderaan kami yang sudah lama mati dan harus segera diganti dan diperbaharui, bukan mengurus surat cerai”, Udin menjelaskan dengan sopan.

“Tapi jika Rahma berkeinginan demikian dan Tulang, Nantulang juga merestui perpisahan, saya tidak bisa berbuat banyak. Mungkin Rahma tidak bahagia hidup dengan saya yang hanya mampu memberi kesederhanaan untuk Rahma”, tambah Udin sambil menatap ke arah istrinya yang sudah menunduk malu karena telah salah menyampaikan informasi pada orangtuanya.

Di dalam hati Udin merasa sedikit lega menyampaikan kalimat-kalimat itu sebagai pengobat hatinya karena sering dicap suami takut istri oleh teman-temannya.

Dengan mata melotot, kedua orangtua Rahma serentak memandangnya dan menyuruh putri kesayangannya itu meminta maaf pada Udin.

Dengan rasa lega dan sedikit dapat membusungkan dada, sambil tersenyum Udin berkata, “segera kita ganti surat-suratnya ya dek”, kali ini mertua juga setuju, sambil tarik kocek untuk menutupi pajak kenderaan dan SIM yang sudah lewat waktu itu.***

Rina Youlida N adalah guru di SMP Negeri 6 Panyabungan, Mandailing Natal

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Madina Raih 5 Besar Program TB Paru Se-Sumut

    Madina Raih 5 Besar Program TB Paru Se-Sumut

    • calendar_month Kamis, 6 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Panyabungan (MO) – Tahun 2012 ini Madina mampu menempati posisi 5 besar terbaik di Sumatera Utara dalam hal program penanganan penyakit TB Paru, sesuai surat Dinas Kesehatan Provinsi Nomor: 440.443/588/V/2012, tanggal 7 Juni 2012. Raihan itu berdasar hasil cakupan program TB (tuberculosis) Paru dari Januari hingga Desember 2011. Program TB paru sendiri sudah mulai diusung […]

  • KSU Kopi Mandailing Berperan Penting di Ulupungkut

    KSU Kopi Mandailing Berperan Penting di Ulupungkut

    • calendar_month Selasa, 13 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ULUPUNGKUT (Mandailing Online) – Koperasi Serba Usaha Kopi Mandailing memiliki peran penting di Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal. Selain upaya menstabilkan harga kopi. Koperasi ini juga sebagai benteng penolakan terhadap eksplorasi alam oleh perusahaan  pertambangan di kecamatan itu. “Sebelum koperasi ini didirikan, harga jual gabah kopi petani jauh seperti yang diharapkan, meskipun kopi terbaik di […]

  • Life Skill Program Tepat Untuk Tempah Pemuda Mandiri

    Life Skill Program Tepat Untuk Tempah Pemuda Mandiri

    • calendar_month Sabtu, 11 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, (MO) Upaya pemerintah kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam mewujudkan program kerja baru salah satunya adalah dengan menerapkan program life skill, meski program ini belum berjalan tetapi diyakini akan membawa perubaha yang signifikan bagi kemandirian pemuda di Madina Demikian disampaikan oleh Kadispora, Budpar melalui Kasi Bina kewirausahaan pemuda, Daniel Rangkuti kepada MO, Jumat di Panyabungan, […]

  • 500 Anggota TNI Diturunkan Amankan Pilkades Madina

    500 Anggota TNI Diturunkan Amankan Pilkades Madina

    • calendar_month Minggu, 20 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Apel pengamanan Pillkades dan pembagian tugas dilakukan pesaonil TNI dari Kodim 0212/TS di Koramil 13 Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) Minggu 20/8/2023. Apel gabungan ini langsung dihadiri Dandim Letkol.Inf. Amrizal Nasution. Pada Wartawan, Seluruh personil organik Kodim kata Dandim sudah diberi tugas pengamanan ke Desa yang melaksanakan Pilkades pada […]

  • Madina Raih Anugrah Parahita Ekapraya 2020

    Madina Raih Anugrah Parahita Ekapraya 2020

    • calendar_month Rabu, 29 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ditetapkan sebagai daerah penerima Anugrah Parahita Ekapraya 2020. Anugrah itu ditetapkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Berdasar evaluasi Kementerian PPAP, Madina dan sejumlah provinsi, kabupaten kota dinilai berhasil mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui strategi pengarusutamaan gender (PUG). Penghargaan ini dapat dikatakan suatu rekor, karena sepanjang […]

  • ISLAM TEGAS MELARANG MIRAS !

    ISLAM TEGAS MELARANG MIRAS !

    • calendar_month Jumat, 27 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Rancangan Undang-Undang Larangan Minuman Beralkohol (RUU Larangan Minol) kembali marak diperbincangkan. Terutama setelah Badan Legislasi (Baleg) DPR RI memulai lagi proses pembahasan RUU tersebut dengan mendengar penjelasan dari pengusul pada tanggal 10 November 2020 lalu. Poin penting dari draft RUU Larangan Minol adalah larangan bagi siapapun untuk memproduksi, memasukkan, menyimpan, mengedarkan dan/atau menjual serta […]

expand_less