Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Haji dan HAM

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 10 Okt 2013
  • print Cetak

Ibadah haji yang dilaksanakan umat Islam setiap tahun, sungguh sarat dengan nilai-nilai moral univerasal, terutama nilai-nilai HAM.

Ritual haji yang melibatkan empat arsitek kemanusiaan teladan (Adam, Ibrahim, Ismail, dan Muhammad SAW.) merefleksikan evolusi hidup manusia. Setiap evolusi hidup manusia pada dasarnya adalah belajar tentang HAM.

Memakai pakaian ihram mengharuskan manusia belajar menegakkan keadilan, persamaan, dan kesetaraan. Pakaian dan status sosial harus ditanggalkan, agar tidak mengintervensi proses hukum, proses politik, proses ekonomi, dan sebagainya.

Kaya-miskin, pejabat-rakyat, kaum terpelajar dan masyarakat awam, harus melebur diri dalam kebersamaan dan kesatuan kemanusiaan. Sekat-sekat sosial-ekonomi harus dilepas selama menjadi tamu Allah.

Allah SWT telah memperlakukan manusia secara adil; dan karena itu, manusia ditutuntut untuk menegakkan prinsip persamaan dan keadilan.

Thawaf melabangkan rotasi kehidupan dan keabadian. Hidup harus dinamis, tetapi manusia tidak boleh melupakan Allah SWT dalam kesibukan hidupnya.

Yang harus menjadi poros dan orientasi hidup ini adalah Ka’bah, simbol kesatuan dan keesaan. Allah SWT mempunyai hak untuk diibadahi, sedangkan manusia berhak untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Bertawaf mengandung arti bahwa manusia harus memenuhi hak spiritualitasnya agar mempunyai sandaran vertikal (iman kepada Allah) dan tujuan hidup yang jelas.

Ketika sa’i antara bukit shafa dan marwah, kita dididik oleh Islam agar bekerja ikhlas, cerdas, keras, tuntas, dan berkualitas, seperti pernah pernah dicontohkan oleh ibunda Nabi Isma’il saat mencari air kehidupan bagi anaknya, Ismail.

Sa’i (usaha, kerja) memang harus dimulai dari shafa (kejernihan dan ketulusan hati) agar usahanya itu mencapai marwah (kepuasan dan prestasi yang memuaskan). Sa’i mengajak manusia untuk memperoleh hak bekerja secara optimal dan profesional.

Wuquf di Arafah, pada 9 Dzul Hijjah, mengandung arti berhenti sejenak untuk berrefleksi, sedangkan Arafah artinya pengetahuan tentang jati diri dan kearifan.

Di Arafah manusia diajak untuk merenung sambil mengenali jati diri, melintasi masa lalu, mengevalusi perjalanan hidup, dan menapaki masa depan dengan penuh kearifan moral dan spiritual, agar tidak dijajah oleh hawa nafsunya.

Berwuquf mengharuskan manusia belajar memahami arti hidup sebagai manusia, nilai persamaan, dan perlakuan yang adil.

Wuquf di Arafah merupakan simulasi pengadilan Allah di dunia, agar sebelum diadili Allah yang Mahaadil, manusia belajar mengadili dirinya sendiri secara adil dan terbuka di hadapan Allah yang Mahamelihat.

Setelah wuquf, jama’ah haji melintasi dan berhenti sejenak di Muzdalifah untuk bermalam (mabît). Muzdalifah artinya menjadi dekat.

Setelah mengadili dirinya sendiri manusia memang perlu mendekat kepada Allah di tengah malam, agar memperoleh kedamaian dan ketenteraman, sehingga pada keesokan harinya (10 Dzul Hijjah) memiliki bekal dan ketahanan mental (kesabaran) yang prima dalam melontar jamrah di Mina.

Bermabit di Muzdalifah mengharuskan manusia memenuhi hak-hak psikis dan spiritual kita (merasa dekat dengan Allah dan berhati tenang dan damai).

Ketika di Mina, jama’ah haji diwajibkan melontar jumrah (tugu perjuangan Ibrahim saat menyembelih (mengorbankan) Ismail, anaknya.

Tugu ini melambangkan berkorban itu memerlukan keikhlasan, perjuangan sekaligus kesabaran, karena godaan dan rintangan pasti datang menghadang.

Mina sendiri artinya cinta dan cita. Untuk mendapat cinta Allah, Ibrahim harus rela mengorbankan Ismail yang dicintainya.

Pengorbanan Ibrahim yang tulus itu akhirnya mengantarkannya meraih cita-cita perjuangannya, yaitu diangkatnya Ismail menjadi Nabi penerus perjuangannya.

Mina mengajarkan manusia untuk belajar memperoleh dan merealisasikan hak mencintai dan dicintai dan hak untuk meraih cita-cita dalam perjuangan hidup ini tanpa pamrih.

Ritual haji disudahi dengan tahallul. Tahallul memberikan pelajaran pentingnya kesabaran dalam pemenuhan kewajiban terlebih dahulu sebelum menikmati hak-hak kemanusiaan yang perlu dinikmati.

Belajar HAM dari ritualitas haji dapat mengantarkan manusia untuk memiliki kesadaran dan tanggung jawab akan kewajiban dan hak, baik terhadap Allah, sesama, maupun kepada makhluk lainnya.

Kesadaran dan tanggung jawab seperti itulah yang menjadi salah satu indikator kemabruran haji seseorang. Sabda Nabi SAW., haji yang mabrur balasannya tidak lain adalah surga. (HR. Muslim).

Sebelum Allah memberikan surga bagi jamaah haji yang mabrur, ada baiknya alumni haji mewujudkan surga penegakan HAM dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(rmol)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perubahan Progam BPJS Kesehatan Menghasilkan Ketidakadilan

    Perubahan Progam BPJS Kesehatan Menghasilkan Ketidakadilan

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nonny Handayani Ibu Peduli Generasi/tinggal di Balikpapan, Kaltim   Dikutip dari KOMPAS.com (12/12/ 2021) – Pemerintah akan memperkenalkan program baru jaminan kesehatan. Kelas-kelas rawat inap di BPJS Kesehatan ini akan dihapuskan pada tahun 2022 mendatang. Awalnya rencana ini  akan dilaksanakan pada awal 2021 lalu. Ini artinya, semua layanan rawat inap bagi pemegang kartu […]

  • 6 Bulan Mengendap di DPRD Madina, Laporan Dumas Dugaan Pelanggaran PT Rendi Tak Digubris

    6 Bulan Mengendap di DPRD Madina, Laporan Dumas Dugaan Pelanggaran PT Rendi Tak Digubris

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online )- Laporan pengaduan masyarakat / Dumas terkait dugaan pelanggaran PT Rendi Permata Raya di Desa Singkuang I dan Singkuang II, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, hingga kini tak ada kejelasan. Padahal laporan itu sudah masuk ke DPRD Madina sejak 6 bulan lalu, tepatnya 23 Februari 2026. Kekecewaan pun diluapkan pelapor […]

  • Paripurna Pansus Palmaris Gagal Dijadwalkan

    Paripurna Pansus Palmaris Gagal Dijadwalkan

    • calendar_month Kamis, 20 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Hingga menjelang akhir September, laporan hasil kerja Panitia Khusus (Pansus) Palmaris DPRD Mandailing Natal (Madina) belum juga masuk ke meja pimpinan dewan. Akibatnya, laporan kerja Pansus Palmaris tidak masuk dalam daftar tunggu pada sejumlah item agenda sidang paripurna yang ditetapkan Badan Musyawarah DPRD Madina. “Pimpinan Pansus belum menyampaikan laporan kepada pimpinan DPRD, […]

  • Poken Bante

    Poken Bante

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Poken bante itu bahasa Mandailing. Jika di Indonesiakan berarti pasar daging. Poken (pasar), bante (daging). Belum diperoleh penjelasan mengapa bukan juhut (daging), mangapa harus bante. Sebab, orang Mandailing lebih sering menyebut juhut ketimbang bante dalam membahasakan daging. Misalnya : juhut ni orbo, juhut ni lombu, juhut ni ambeng, juhut ni manuk, […]

  • Saifuddin Nasution Menteri Dalam Negeri Malaysia dari Etnis Mandailing

    Saifuddin Nasution Menteri Dalam Negeri Malaysia dari Etnis Mandailing

    • calendar_month Selasa, 6 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Saifuddin Nasution bin Ismail atau yang lebih dikenal dengan Saifuddin Nasution merupakan seorang politikus Malaysia yang saat ini menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Malaysia. Saifuddin Nasution menjadi Menteri Dalam Negeri Malaysia dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Sebelum menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, sebelumnya Saifuddin Nasution menjabat sebagai Menteri Perdagangan Dalam Negeri. Saifuddin Nasution merupakan penggiat politik yang berasal dari Partai […]

  • Salahkah Kami Mencintainya?

    Salahkah Kami Mencintainya?

    • calendar_month Jumat, 13 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Imah Suganda Pattai Mahasiswi Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia   Tepat pada tanggal 10 November 2020, Indonesia kembali kedatangan putra terbaik bangsa. Seorang sosok yang memiliki jiwa kesatria, sosok yang mampu membangkitkan ghiroh setiap Muslim yang mencintainya. Yaa, selama 3 setengah tahun sosok ini harus hijrah ke Mekkah dengan begitu ummat harus menahan rindu […]

expand_less