Senin, 14 Sep 2026
light_mode

Haji dan HAM

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 10 Okt 2013
  • print Cetak

Ibadah haji yang dilaksanakan umat Islam setiap tahun, sungguh sarat dengan nilai-nilai moral univerasal, terutama nilai-nilai HAM.

Ritual haji yang melibatkan empat arsitek kemanusiaan teladan (Adam, Ibrahim, Ismail, dan Muhammad SAW.) merefleksikan evolusi hidup manusia. Setiap evolusi hidup manusia pada dasarnya adalah belajar tentang HAM.

Memakai pakaian ihram mengharuskan manusia belajar menegakkan keadilan, persamaan, dan kesetaraan. Pakaian dan status sosial harus ditanggalkan, agar tidak mengintervensi proses hukum, proses politik, proses ekonomi, dan sebagainya.

Kaya-miskin, pejabat-rakyat, kaum terpelajar dan masyarakat awam, harus melebur diri dalam kebersamaan dan kesatuan kemanusiaan. Sekat-sekat sosial-ekonomi harus dilepas selama menjadi tamu Allah.

Allah SWT telah memperlakukan manusia secara adil; dan karena itu, manusia ditutuntut untuk menegakkan prinsip persamaan dan keadilan.

Thawaf melabangkan rotasi kehidupan dan keabadian. Hidup harus dinamis, tetapi manusia tidak boleh melupakan Allah SWT dalam kesibukan hidupnya.

Yang harus menjadi poros dan orientasi hidup ini adalah Ka’bah, simbol kesatuan dan keesaan. Allah SWT mempunyai hak untuk diibadahi, sedangkan manusia berhak untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Bertawaf mengandung arti bahwa manusia harus memenuhi hak spiritualitasnya agar mempunyai sandaran vertikal (iman kepada Allah) dan tujuan hidup yang jelas.

Ketika sa’i antara bukit shafa dan marwah, kita dididik oleh Islam agar bekerja ikhlas, cerdas, keras, tuntas, dan berkualitas, seperti pernah pernah dicontohkan oleh ibunda Nabi Isma’il saat mencari air kehidupan bagi anaknya, Ismail.

Sa’i (usaha, kerja) memang harus dimulai dari shafa (kejernihan dan ketulusan hati) agar usahanya itu mencapai marwah (kepuasan dan prestasi yang memuaskan). Sa’i mengajak manusia untuk memperoleh hak bekerja secara optimal dan profesional.

Wuquf di Arafah, pada 9 Dzul Hijjah, mengandung arti berhenti sejenak untuk berrefleksi, sedangkan Arafah artinya pengetahuan tentang jati diri dan kearifan.

Di Arafah manusia diajak untuk merenung sambil mengenali jati diri, melintasi masa lalu, mengevalusi perjalanan hidup, dan menapaki masa depan dengan penuh kearifan moral dan spiritual, agar tidak dijajah oleh hawa nafsunya.

Berwuquf mengharuskan manusia belajar memahami arti hidup sebagai manusia, nilai persamaan, dan perlakuan yang adil.

Wuquf di Arafah merupakan simulasi pengadilan Allah di dunia, agar sebelum diadili Allah yang Mahaadil, manusia belajar mengadili dirinya sendiri secara adil dan terbuka di hadapan Allah yang Mahamelihat.

Setelah wuquf, jama’ah haji melintasi dan berhenti sejenak di Muzdalifah untuk bermalam (mabît). Muzdalifah artinya menjadi dekat.

Setelah mengadili dirinya sendiri manusia memang perlu mendekat kepada Allah di tengah malam, agar memperoleh kedamaian dan ketenteraman, sehingga pada keesokan harinya (10 Dzul Hijjah) memiliki bekal dan ketahanan mental (kesabaran) yang prima dalam melontar jamrah di Mina.

Bermabit di Muzdalifah mengharuskan manusia memenuhi hak-hak psikis dan spiritual kita (merasa dekat dengan Allah dan berhati tenang dan damai).

Ketika di Mina, jama’ah haji diwajibkan melontar jumrah (tugu perjuangan Ibrahim saat menyembelih (mengorbankan) Ismail, anaknya.

Tugu ini melambangkan berkorban itu memerlukan keikhlasan, perjuangan sekaligus kesabaran, karena godaan dan rintangan pasti datang menghadang.

Mina sendiri artinya cinta dan cita. Untuk mendapat cinta Allah, Ibrahim harus rela mengorbankan Ismail yang dicintainya.

Pengorbanan Ibrahim yang tulus itu akhirnya mengantarkannya meraih cita-cita perjuangannya, yaitu diangkatnya Ismail menjadi Nabi penerus perjuangannya.

Mina mengajarkan manusia untuk belajar memperoleh dan merealisasikan hak mencintai dan dicintai dan hak untuk meraih cita-cita dalam perjuangan hidup ini tanpa pamrih.

Ritual haji disudahi dengan tahallul. Tahallul memberikan pelajaran pentingnya kesabaran dalam pemenuhan kewajiban terlebih dahulu sebelum menikmati hak-hak kemanusiaan yang perlu dinikmati.

Belajar HAM dari ritualitas haji dapat mengantarkan manusia untuk memiliki kesadaran dan tanggung jawab akan kewajiban dan hak, baik terhadap Allah, sesama, maupun kepada makhluk lainnya.

Kesadaran dan tanggung jawab seperti itulah yang menjadi salah satu indikator kemabruran haji seseorang. Sabda Nabi SAW., haji yang mabrur balasannya tidak lain adalah surga. (HR. Muslim).

Sebelum Allah memberikan surga bagi jamaah haji yang mabrur, ada baiknya alumni haji mewujudkan surga penegakan HAM dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(rmol)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kejaksaan Tetapkan Camat Natal Tersangka Korupsi Dana Desa

    Kejaksaan Tetapkan Camat Natal Tersangka Korupsi Dana Desa

    • calendar_month Selasa, 3 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NATAL (Mandailing Online) – Camat Natal inisial “R” (55 tahun) ditetapkan sebagai tersangka oleh jaksa penyidik Cabang Kejaksaan Negeri Mandailing Natal di Natal dalam kasus dugaan korupsi Dana Desa. Kacabjari Natal, Yus Imam M. Harefa SH.MH kepada wartawan, Selasa (3/8/2021) mengatakan penetapan tersangka dilakukan pada tanggal 02 Agustus 2021 berdasarkan rangkaian penyidikan dan gelar perkara. Terdapat banyak […]

  • Jelang Lebaran Omset Tukang Pangkas Rambut di Panyabungan Meningkat

    Jelang Lebaran Omset Tukang Pangkas Rambut di Panyabungan Meningkat

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ):Jelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah atau Tahun 2025 sejumlah tempat cukur rambut dan salon ramai pengunjung. Omset cukur rambut naik hingga jutaan rupiah. Menurut Muksin Lubis hal ini merupakan bagian tradisi menyambut kemenangan idul fitri setelah melakukan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan serta pembersihan diri. Disamping itu, diungkapkan […]

  • PETI dan Jatuhnya Korban Jiwa: Bukti Kegagalan Pemerintah Mengurus Rakyat

    PETI dan Jatuhnya Korban Jiwa: Bukti Kegagalan Pemerintah Mengurus Rakyat

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

      Oleh : Irwan H Daulay | Pemerhati Ekonomi Menurut pemberitaan Mandailing Online, telah terjadi musibah di lokasi PETI Dompeng, Desa Simanguntong, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, pada Rabu (18/3/2026). Laporan yang diterima menyebutkan tiga orang tertimbun material tambang. Dua orang dinyatakan meninggal dunia, sementara satu orang lainnya berhasil selamat. Hingga saat ini, identitas […]

  • MTQ Hafidz Qur’an Bakal Berlangsung 6 Desember di Madina

    MTQ Hafidz Qur’an Bakal Berlangsung 6 Desember di Madina

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) golongan Hafidz Qur’an tingkat kabupaten bakal berlangsung lagi di Mandailing Natal (Madina). Pihak Pemkab Madina telah menetapkan target waktunya, yakni 4 hari dimulai tanggal 6 Desember 2021 di masjid agung Nur Ala Nur, Panyabungan. Kapala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Madina, Mulia Gading, SE kepada Mandailing Online di ruang […]

  • Sasaran Tanam Padi Madina Capai 36.964 Hektare

    Sasaran Tanam Padi Madina Capai 36.964 Hektare

    • calendar_month Selasa, 24 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menargetkan sasaran tanam padi tahun 2012 seluas 36.964 hektare, termasuk di antaranya padi sawah dan padi gogo atau padi darat. Sementara, target panen produksi mencapai 34.948 ton. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madina Taufik Zulhendra Ritonga melalui Kasubbag Program Dinas Pertanian Rizal Harahap kepada wartawan, Senin (23/1) di […]

  • Minum Kopi Mandailing 2.500 Gelas Akan Meriahkan HUT Madina

    Minum Kopi Mandailing 2.500 Gelas Akan Meriahkan HUT Madina

    • calendar_month Selasa, 28 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aksi minum kopi mandailing secara missal akan memeriahkan peringatan HUT Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ke 18. Pihak panitia menarget aksi minum missal itu akan menghabiskan sebanyak 2.500 gelas, dilangsungkan di Tapian Sirisiri, Panyabungan tanggal 6 Maret 2017. Demikian rilis pers pihak Humas Pemkab Madina, HUT Madina sendiri jatuh pada tanggal 9 […]

expand_less