BANDARA DI TENGAH JALAN ASPAL (bagian 3-selesai)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak
BELAJAR DARI SUSI AIR: JANGAN SAMPAI MADINA MENGULANG SIKLUS LAMA DENGAN WAJAH BARU

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Subsidi Bisa Membuka Jalur, Tapi Tidak Bisa Menggantikan Ekosistem
Ada pelajaran mahal yang seharusnya tidak dilupakan Madina.
Dulu kawasan Tabagsel pernah mencoba membangun konektivitas udara melalui Susi Air.
Rute Aek Godang–Kualanamu sempat hidup dengan dukungan subsidi beberapa pemerintah daerah.
Tetapi perlahan semuanya seperti hilang tanpa pembahasan mendalam.
Dan di sinilah masalah pembangunan kita sering terjadi:
terlalu cepat meresmikan, terlalu lambat mengevaluasi.
Padahal pertanyaan pentingnya sangat banyak:
* mengapa rute itu berhenti?
* apakah okupansi rendah?
* apakah pasar tidak terbentuk?
* apakah integrasi moda gagal?
* atau karena terlalu bergantung pada subsidi?
Semua itu seharusnya menjadi bahan pelajaran sebelum Madina kembali membuka babak baru bersama Lion Air.
Karena subsidi memang bisa:
* menyalakan mesin,
* membuka jalur,
* dan memancing pasar awal.
Tetapi subsidi tidak bisa menjadi napas selamanya.
Kalau:
* ekonomi kawasan tidak tumbuh,
* wisata tidak bergerak,
* logistik tidak hidup,
* dan mobilitas bisnis tidak berkembang,
maka penerbangan akan kembali rapuh.
Dan ketika subsidi berhenti, rute ikut limbung.
Itulah sebabnya JB AH Nasution tidak boleh dilihat sebagai proyek tunggal.
Ia harus menjadi bagian dari:
desain besar konektivitas regional Sumatera bagian barat.
Artinya:
* bandara hidup,
* moda darat tetap kuat,
* logistik bergerak,
* wisata tumbuh,
* dan ekonomi rakyat ikut naik.
Kalau semua itu berjalan, maka pesawat tidak lagi bergantung penuh pada subsidi politik.
Ia akan hidup karena memang dibutuhkan pasar.
Sebab sejarah sudah memberi peringatan.
Pesawat bisa datang dengan tepuk tangan.
Rute bisa dibuka dengan optimisme.
Pejabat bisa berfoto dengan bangga.
Tetapi tanpa fondasi ekonomi dan integrasi transportasi yang matang, semuanya bisa kembali sunyi.
Dan kalau itu terjadi lagi, maka Madina bukan kekurangan landasan pacu.
Melainkan kekurangan keberanian untuk membangun ekosistem transportasi yang benar-benar utuh.***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

