Jumat, 11 Sep 2026
light_mode

IBUKU LEBARAN DI SYURGA

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 30 Apr 2022
  • print Cetak

Cerpen
Rina Youlida

 

“Santi, ayo bangun, mari bantu mamak menyiapkan sahur kita, kamu panaskan air di periuk kecil itu supaya masak nasinya lebih cepat”.

“iya mak”, jawabku dengan suara lembut sambil mengucek mataku karena masih terasa sangat berat untuk beranjak dari tempat tidurku yang hanya beralas sebuah tikar tipis dari anyaman daun pandan berduri dilapisi sepotong kain panjang.

Sambil merebus air untuk menanak nasi, kulihat ibuku keluar rumah membawa sebuah baskom kecil menuju kolong rumah panggung kami yang terbuat dari papan dan kini terlihat sudah mulai lapuk dimakan usia. Mamakku dengan teliti dan hati-hati mencari telur itik yang setiap hari berada di kolong rumah untuk dijadikan santapan hidangan sahur kami hari ini.

“Alhamdulillah”, gumam mamak dalam hatinya karena mendapati dua butir telur itik yang masih sangat segar. Dengan cekatan mamak menyiapkan hidangan sahur kami dengan lauk sepiring telur itik dadar yang sangat gurih dan nikmat.

“Sana bangunkan ayah dan adikmu supaya kita segera makan, waktu imsak tinggal setengah jam lagi”, kata mamak sambil melihat jam dinding merk Saiko yang tergantung lusuh peninggalan nenekku dulu.

Selesai bersantap sahur, ayahku keluar rumah untuk duduk sejenak menanti imsyak dan adzan subuh sembari menyulut sebatang rokok karena nikmat sekali kata ayah jika sehabis makan itu merokok.

Di dalam rumah aku dan ibu membereskan sisa makanan dan piring kotor yang nanti akan kubawa ke surau dekat rumahku untuk dicuci dan sekalian sholat subuh di surau itu.

Sambil memasukkan piring-piring kotor itu ke dalam ember, kusempatkan bertanya pada mamakku yang terlihat sedang mempersiapkan diri juga untuk pergi bekerja dengan teman-teman ibu lainnya di desaku sebagai buruh tani.

“Mak, empat hari lagi kita sudah lebaran, aku pengen punya baju baru, gak usah yang mahal-mahal, asalkan ada aja yang baru aku pasti senang mak. Di pasar dekat kampung kita ada buka toko pakaian baru yang murah-murah lho mak, aku tau karena kemarin aku diajak si Ijah menemani dia belanja di toko itu mak”, rayuku ke mamak yang hanya terlihat senyum-senyum saja.

“Yaa, mamak usahakan ya, mamak juga kasihan melihat kamu dan adikmu itu belum punya baju dan sandal baru untuk lebaran ini. Doakan nanti mamak memperoleh rezeki yang lebih hari ini ya, biar nanti kita sama-sama beli baju barunya. Kemaren mamak diajak sama wak Ifah dan kawan-kawan ibu mencari serpihan emas sisa mandompeng di tambangnya Pak Jakayo. Biasanya hasilnya bagus di lahan tambangnya itu”, jawab mamak dengan penuh semangat ingin menyenangkan kami belahan hatinya.

Waktu berjalan dengan cepat, sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, mamak pun pamit untuk berangkat bekerja dengan ibu-ibu kawannya yang sudah berkumpul untuk berangkat bersama. Ayahku yang sedari selesai sholat subuh kembali tidur tidak sempat melihat mamakku berangkat kerja karena masih sangat ngantuk, semalam suntuk begadang di warung kopi seberang rumah.

Mentari terik menyengat kulit, waktu sudah menjukkan pukul 13.00 siang, kuangkati kain jemuran yang sudah kering mengeras akibat terpaan sengatan matahari. Kuajak adikku Rohim yang masih berusia lima tahun untuk duduk disebelahku sambil bercerita tentang kancil yang cerdik. Rohim sangat senang mendengarnya dan ia tidak pernah bosan, walaupun cerita itu telah berulang-ulang kuceritakan.

Seperti biasa iapun mengantuk mendengar ceritaku sambil menahan suara keroncongan di perutnya yang sedari tadi sering terdengar di telingaku.

Rohim yang sudah terpejam tetapi belum terlelap berbicara dengan nada lemah, “Kak, mamak masih lama pulang? Aku rindu sama mamak. Tadi pagi waktu sahur telur dadar mamak enak sekali kan kak”.

Aku menatap wajah polos adikku dan membelai rambutnya yang sudah mulai memanjang menutupi keningnya.

“Sebentar lagi mamak pulang dek, kamu tidur saja dulu, pas bangun nanti pasti mamak sudah pulang dan akan kakak minta dimasakin lagi telur dadar seperti tadi pagi”.

Adzan Ashar berkumandang dari menara masjid menunjukkan waktu persiapan untuk keperluan berbuka. Mentari mulai meredup tapi aku belum melihat tanda-tanda mamakku akan pulang.

Pikek anak wak Ijah yang mengajak mamakku kerja ke tambang itu sempat bertanya apa mamakku sudah pulang. Tentu saja aku jawab tidak, mamakku belum pulang apalagi perginya dengan wak Ijah pasti pulangnya juga akan bersama wak Ijah dan teman mereka.

Hari semakin petang, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, aku mulai memasak beras yang tinggal satu muk lagi di kaleng tempat penyimpanan beras kami. Khawatir jika nanti mamak pulang kesorean, sudah ada yang dimakan waktu berbuka puasa tiba.

“Santi, santi..!! ayahmu dimana?’

Tiba- tiba terdengar suara teriakan bang Hasan yang bekerja sebagai kuli panggul di tambang emas pak Jakayo.

“Ada apa bang? Ayahku ada di warung seberang bang. Kenapa bang ? kok abang kliatan aneh amat”.

Tanyaku melihat abang itu tidak bersikap seperti biasanya.

Dengan wajah yang pucat, nafasnya ngos-ngosan dan terbata ia berkata, “Tolong dibuka pintu rumah adek lebar-lebar dan gelarkan tikar ya, sebentar lagi mereka akan sampai”.

Dengan gugup aku menuruti perintah bang Hasan, apalagi mamak belum datang, sementara aku belum biasa menghadapi tamu banyak-banyak menjelang lebaran seperti ini. Tapi wajah bang Hasan membuatku makin penasaran. Jadi, aku beranikan lagi bertanya “Ada apa sebenarnya bang? Siapa yang mau datang ke sini bang?”.

Tapi bang Hasan sama sekali tidak menyahutiku, ia hanya meraih tangan adikku Rohim dan memeluknya dengan erat, membuatku makin bertanya dan semakin bingung.

Ayahku yang mendengar suara teriakan bang Hasan dari warung seberang bergegas pulang dan kebingungan melihat rumah kecil kami terbuka lebar dengan hamparan tikar yang sudah digelar.

Belum sempat ayah bertanya apa gerangan yang terjadi, dari arah jalan menuju rumahku terlihat beberapa pria yang menandu sesuatu dalam kain sarung yang disematkan pada dua bilah kayu.

Mereka dengan cepat berjalan menuju ke arah rumahku. Tanpa menggunakan alas kaki dan dengan pakaian yang kotor diselimuti lumpur, mereka masuk ke dalam rumahku secara hati-hati agar benda yang mereka angkat tidak terjatuh. 

Dengan perlahan mereka meletakkan benda yang mereka tandu itu di atas tikar anyaman. Pelan-pelan salah seorang dari mereka membuka kain sarung yang menutupi benda besar dan panjang itu. Betapa terkejutnya aku melihat sosok yang ada dibalik kain sarung basah berlumpur itu adalah wajah mamakku yang sedari tadi kunantikan kehadirannya.

“Maaaak….maaaaak…..bangun maaaak!!”.

Teriakanku pecah melihat wajah pucat, yang tak kupercaya telah tak bernyawa terbaring dingin di hadapanku. Adikku Rohim yang sedari tadi ketakutan juga ikut berteriak dan melompat memeluk tubuh mamakku yang masih basah berlumpur.

Ayahku hanya mampu terpaku tak percaya dengn apa yang ia lihat di hadapannya. Dengan tetesan air mata yang tak bisa ia bendung, terlihat tegar menyambut para warga yang mulai berdatangan untuk melihat mamakku yang sudah terbujur kaku.

Mentari pagi, tiga hari menuju lebaran Idul Fitri yang suci, aku dan adikku melepas kepergian mamakku yang sangat mulia ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ayahku turut memandu ibuku untuk yang terakhir kalinya.

Dalam pelukku, Rohim yang sedari kemarin sore selalu bertanya tentang keadaan mamak terlihat sangat lemas dan tetap bertanya, “kak.. mamak mau kemana? Orang-orang itu mau bawa mamak kemana kak?”

“Mamak mau ke syurga dek, mamak mau lebaran di syurga”.

Jawabku dengan rasa yang sangat hancur, aku sangat menyesal mengingat permintaanku untuk dibelikan baju baru. Andai aku tak meminta baju baru, mungkin mamak tidak akan pergi ke tambang, mungkin mamak tidak akan tertimbun longsoran tambang dan mungkin mamak masih ada di sini bersamaku dan Rohim dan mungkin kami akan lebaran bersama dengan sederhana tanpa baju baru.***

 

 Rina Youlida – FKP Madina

Cerpen ini didedikasikan untuk 12 almarhumah Pertiwi Madina di Linggabayu, yang meluluhlantakkan hatiku dalam perjuangannya, dengan harap menjadi penyadar bagi semua lini di PETI.

 

foto grafis cerpen diambil dari UcBrowser / Kluban.net

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekretaris Golkar Sumut : KPU Madina Tak Punya Hak Menyatakan Rekomendasi Bawaslu Cacat Hukum

    Sekretaris Golkar Sumut : KPU Madina Tak Punya Hak Menyatakan Rekomendasi Bawaslu Cacat Hukum

    • calendar_month Selasa, 26 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ):  – Pernyataan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Madina dalam surat nomor 1512/PL.02.3-SD/1213/2/2024 tentang Tindak lanjut surat rekomendasi Bawaslu nomor 098/PP.00.02/K.SU-11/2024 yang menyatakan surat rekomendasi itu cacat hukum, tampaknya membuat Sekretaris DPD Partai Golkar Sumatera Utara, Ilhamsyah bereaksi. Ilhamsyah menilai pernyataan KPU Madina itu tak memiliki dasar. Hal ini dikarenakan dalam Undang-undang […]

  • Harga Cabai Merah di Madina Melonjak

    Harga Cabai Merah di Madina Melonjak

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Setelah sempat turun ke level Rp 10.000 per kilogram (kg), harga cabai merah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kini kembali naik 100% hingga mencapai Rp 20.000 per kg. Demikian hasil pantauan MedanBisnis, Rabu (3/11), di Pasar Baru Panyabungan, dan sejumlah pasar tradisional lainnya di Madina. Purnama (37), salah seorang pedagang kedai sampah warga Panyabungan […]

  • Waspadalah Menjatuhkan Vonis, Wahai Para Hakim!

    Waspadalah Menjatuhkan Vonis, Wahai Para Hakim!

    • calendar_month Rabu, 4 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nandoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Kasus Taipan Djoko Tjandra atau Djoksan Mujur dan Jaksa Pinangki sedang ramai dibincangkan. Pasalnya, masa hukumannya mendapat korting dari hakim Pengadilan Tinggi Jakarta. Pada peradilan tingkat pertama, Djoksan yang bertatus terpidana kasus pengecekan status red notice dan penghapusan namanya dari DPO di Ditjen Imigrasi Kemenkumham, divonis penjara […]

  • Kapolresta Medan Minta Maaf Atas Penembakan Office Boy BRI

    Kapolresta Medan Minta Maaf Atas Penembakan Office Boy BRI

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga menyampaikan turut berdukacita dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat khususnya keluarga almarhum Darmawan (23) warga Tembung, Kabupaten Deli Serdang yang tertembak Selasa kemarin. Dalam pernyataan yang disampaikannya melalui pesan singkat SMS di Medan, Rabu, 1 Juni 2011, Kapolresta mengatakan, penegakan hukum terhadap oknum petugas kepolisian itu akan tetap […]

  • Madina Terima Sertifikat Bebas Frambusia

    Madina Terima Sertifikat Bebas Frambusia

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    Lombok Tengah (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) melalui Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution menerima sertifikat Kabupaten/Kota Bebas Frambusia dari Kementerian Kesehatan. Penerimaan sertifikat tersebut dilakukan di sela-sela peringatan Hari Malaria Sedunia di Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (31/5). Wakil Bupati Atika yang dihubungi Rabu (1/6) membenarkan penerimaan […]

  • Ketua PKS Madina : Bersama Kerja Kunci Sukses Program Partai

    Ketua PKS Madina : Bersama Kerja Kunci Sukses Program Partai

    • calendar_month Senin, 22 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seluruh fungsionaris Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan kader harus bersama bekerja dalam mensinergiskan program partai. Itu ditekankan Ketua DPTD PKS Kabupaten Mandailing Natal, H. Wahiddin Arjun, Lc, Senin (22/2/2021) dalam sambutannya pada reses TS II 2020-2021 anggota DPRD Sumut, Abdul Rahim Siregar,ST.MT di Panyabungan. Bekerja bersama atau bersama bekerja merupakan kekuatan […]

expand_less