Jumat, 9 Okt 2026
light_mode

Idul Fitri, Salaman dan Toleransi di Tengah Keberagaman

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
  • print Cetak


Oleh : Moechtar Nasution

 

Idul Fitri sebagai hari kemenangan bukan hanya bermakna sebagai pembebasan sekaligus pembersihan secara personal menuju kefitrian setelah berjuang sebulan penuh melaksanakan Ibadah Shoum namun juga memiliki makna perekat dan pemersatu diantara sesama masyarakat ditengah kemajemukan beragama yang merupakan anugerah dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia. Inilah makna Idul Fitri secara komunal atau kolektif dengan pendekatan kebersamaan dan kekeluargaan dalam bingkai kebangsaan.

Idul Fitri sebagai pemersatu komponen kemasyarakatan terwujudkan dalam kesediaan untuk saling memberikan toleransi membangun kesepahaman bahwa setiap hari besar keagamaan apapun merupakan ajakan untuk membangunkan solidaritas dan juga ajang untuk menunjukkan kasih sayang bagi sesama ummat manusia.

Membangun relasi sosial kemasyarakatan tanpa adanya sekat primodordialisme seperti suku, agama, kepercayaan, status ekonomi dan strata pendidikan sejatinya melalui perayaan Idul Fitri dapat diejawantahkan dalam sikap, tingkah laku, perkataan dan perbuatan. Saling bersilaturrahmi dan mengunjungi diantara sesama warga masyarakat setelah melaksanakan sholat Idul Fitri membuktikan tingkat toleransi dan penghargaan terhadap multikultural ini sudah menyatu dengan urat nadi kehidupan masyarakat tanpa adanya rekayasa dan pencitraan.

Inilah substansi kesucian Idul Fitri melalui persatuan yang inklusif, hubungan sesama manusia yang tidak dibatasi perbedaan apapun baik etnik, bahasa dan juga suku. Semua membaur dalam khakikat kemanusiaan. Menyatu dalam keanekaragaman. Bersekutu dalam perbedaan.

Masing masing saling menjulurkan tangan untuk bersalaman disertai ucapan minal Aidin wal Faidzin menandakan bahwa semua manusia memiliki  posisi yang sama di hadapan Allah SWT. Semua sama tanpa adanya kasta dan strata. Sama sama sadar memiliki kesalahan dan sama sama memohon kemaafan. Dalam terminologi Islam yang membedakan semua manusia hanyalah ketaqwaan saja.

Bersalaman merupakan bentuk pengakuan tertinggi dalam kemanusiaan dimana kebersediaan untuk saling mengulurkan tangan merupayakan upaya untuk merontokkan ego dan cara untuk meluluhlantakkan kesombongan. Tidak ada larangan bagi yang tua terlebih dahulu mengulurkan tangan kepada yang muda dan juga sebaliknya malah yang lebih dahulu mengulurkan tangan disertai permohonan maaf merupakan tindakan terpuji yang nilai pahalanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang menerima uluran tangan tersebut.

Hari ini, saya dan keluarga melaksanakan Sholat Idul Fitri 1443 di Mesjid Al Ikhlas Kampung Losung, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Mesjid kecil yang berada di tengah komunitas penduduk yang Nasrani. Bukti toleransi itu nyata adanya saya temukan di sini. Puluhan pemuda Nasrani yang tergabung dalam organisasi Pemuda Batak Bersatu tampak sigap mengamankan prosesi peribadatan sholat Idul Fitri. Lengkap dengan uniform, mereka sibuk mengatur lalu lintas jalan raya, mengatur parkir baik roda dua atau empat dan juga melakukan penjagaan di luar komplek masjid. Mereka menebar senyum dan bertutur sopan menandakan mereka juga turut merasakan kebahagiaan di hari yang fitri ini.

Menjadi pemandangan yang indah saat mereka menyalami kaum muslimin yang keluar dari kompleks mesjid sebagai tanda kegembiraan mereka melihat saudara saudara mereka yang sudah mencapai “kemenangan” pada hari ini.

Semua berlangsung secara alamiah. Tidak sedikitpun terlihat adanya keengganan mereka untuk membantu kaum muslimin yang hendak menunaikan sholat Ied. Saat hujan gerimis turun menyiram bumi, mereka seakan enggan untuk beranjak sedikit pun.

Begitu sholat selesai, saya hampiri salah satu dari mereka. Saya ucapkan terimakasih atas keterpanggilan dan kepedulian mereka. Terimakasih untuk keterpanggilan dan kepedulian mereka yang menurut saya lahir dari sanubari dan hati yang terdalam sebagai manusia.

Allaahu Akbar…Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar…

Allaahu Akbar Wa lillaahilhamd…

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PIONIR YANG HILANG

    PIONIR YANG HILANG

    • calendar_month Jumat, 3 Mei 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Amir Hamdani Nasution, SHI.MH Sekitar tahun 2011-2014, saya dan Abdul Syukur Nasution (sekarang beliau menjadi pengabdi negara di Sibolga) begitu sering berkunjung ke rumah sejahrawan Mandailing yakni Basyral Hamidi Harahap (semasa beliau masih hidup) di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Rumah Ompung (begitu panggilan kami) penuh dengan buku, dan ada satu bilah pedang […]

  • Monumen Jenderal Abdul Haris Nasution Akan Dibangun di Madina

    Monumen Jenderal Abdul Haris Nasution Akan Dibangun di Madina

    • calendar_month Rabu, 13 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Monumen Jenderal Abdul Haris Nasution akan dibangun di Mandailing Natal (Madina). Itu dikatakan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Lodewyk Pusung saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madina, Rabu (13/1). Menurutnya, pembangunan monumen itu karena sang jenderal berasal dari Madina, serta jasa-jasanya yang sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Hanya saja Pandam […]

  • Dari Focus Group Discussion : Batak itu Ahistoris, Tak Ditemukan dalam Hasanah Kuno

    Dari Focus Group Discussion : Batak itu Ahistoris, Tak Ditemukan dalam Hasanah Kuno

    • calendar_month Selasa, 24 Okt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Mandailing menolak secara tegas disebut atau bagian dari Batak, bahkan perbantahan etnik Mandailing dikelompokkan dalam etnik Batak telah berlangsung lebih dari 100 tahun.Karena Batak adalah istilah atau pelabelan oleh orang asing khususnya Belanda. Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Mandailing bukan Batak yang berlangsung di VIP Restoran Hotel Madani, Senin (23/10/2017). Hadir […]

  • Honor Kepdes di Madina Kemana? Sejak Januari Hingga Juni Belum Dicairkan Pemkab

    Honor Kepdes di Madina Kemana? Sejak Januari Hingga Juni Belum Dicairkan Pemkab

    • calendar_month Senin, 27 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejak Januari hingga Juni 2016, honor para kepala desa dan aparat desa se Kabupaten Mandailing Natal entah dimana rimbanya. Pasalnya, selama rentang 6 bulan itu, para para kepala desa dan aparat desa belum menerima walau 1 rupiah. Lalu, kemana uang itu diperam? Fakta ini terungkap ketika puluhan kepala desa mendatangi kantor […]

  • Inilah Rumus Kelulusan antara Nilai UN dan Nilai Sekolah

    Inilah Rumus Kelulusan antara Nilai UN dan Nilai Sekolah

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA — Pemerintah dan Badan Standar Pendidikan Nasional telah siap dengan formula baru penilaian kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Untuk itu, pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 hanya dilaksanakan satu kali pada bulan Mei 2011. Ujian nasional (UN) utama untuk SMA/SMK digelar pada minggu pertama Mei 2011, sedangkan untuk SMP pada minggu kedua Mei 2011. […]

  • Ini Penjelasan DLH Terkait Proyek Penataan Taman Kota Panyabungan yang Dipersoalkan

    Ini Penjelasan DLH Terkait Proyek Penataan Taman Kota Panyabungan yang Dipersoalkan

    • calendar_month Minggu, 15 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Proyek Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dengan pekerjaan penataan taman panyabungan di Kabupaten Mandailing Natal ternyata banyak menuai protes. Rencana penebangan pohon pelindung taman kota panyabungan menjadi salah satu masalah yang di perdebatkan sebab taman kota menjadi ruang terbuka hijau ( RTH ) kota Panyabungan. Selain masalah penebangan pohon, pedagang yang mangkal di areal […]

expand_less