Jumat, 23 Okt 2026
light_mode

Keadilan Islam dan Demokrasi?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 21 Des 2020
  • print Cetak

Oleh : Enni Etika Mardia, S.Pd

Aktivis Peduli Ummat / tinggal di Padangsidempuan

 

Baru- baru ini media di hebohkan dengan beredar kabar tewasnya enam orang laskar Front Pembela Islam(FPI). Diketahui, enam orang laskar pengawal Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) meninggal dunia setelah ditembak aparat.

Menurut keterangan dari pihak kepolisian bahwa pada saat di tol kendaraan petugas dipepet dan diberhentikan oleh dua kendaraan dari laskar FPI. Laskar FPI disebut melawan polisi dengan menodongkan senjata api dan senjata tajam berupa samurai, celurit kepada anggota.

Karena alasanya membahayakan keselamatan jiwa petugas pada saat itu, terpaksa petugas melakukan tindakan tegas sehingga enam orang meninggal dunia dan emapt orang lainnya melarikan diri. Untuk kerugian petugas berupa kerugian materil yaitu kerusakan kendaraan karena ditabrak pelaku dan adanya bekas tembakan pelaku pada saat di TKP.

Berbeda dengan keterangan dari pihak FPI,  Jika mengacu pada keterangan resmi DPP FPI menyebutkan bahwa anggota mereka justru yang menjadi korban atas kejadian ini dan  anggota mereka tidak membawa senjata api maupun senjata tajam sebagaimana dituduhkan oleh Polri.

Dan mereka beranggapan pihak kepolisian yang telah menebar fitnah. Siapa yang benar, siapa yang memutarbalikkan fakta masih belum jelas.

Meskipun demikian,  publik sudah menyaksikan bagaimana rekam jejak aparat hukum dalam menegakkan keadilan. Tak bisa dipungkiri  bahwa sering kali  hukum di negeri ini digunakan sebagai alat pukul bagi siapa saja yang menentang pemerintah. Seolah berkata, hukum adalah pemerintah. Keadilan adalah pemerintah. Yang melawannya, harus siap-siap berhadapan dengan hukum dan keadilan penguasa.

Sebenarnya muncul tanda tanya di benak publik, Mengapa harus ada korban jiwa dalam pengawalan HRS di tol Cikampek saat itu? Pelaku kriminal saja jika melawan hanya ditembak lengan atau kakinya.

Menurut Indonesia Police Watch (IPW) sendiri menyebut ada banyak kejanggalan dari peristiwa penembakan enam laskar FPI. Mereka mendesak agar dibentuk Tim Pencari Fakta Independen untuk mengusut tuntas dan mengungkap kebenarannya. Sebab, cerita antara Polri dan FPI berbeda. Fakta sebenarnya masih kabur.

Yang jelas adalah ada korban meninggal. Ada rasa ketidakadilan. Ada hukum yang dijadikan alat bagi mereka yang berseberangan pemerintah. Ada fobia terhadap bangkitnya kesadaran politik umat. Ada kekhawatiran upaya penggulingan kekuasaan. Kekhawatiran yang sebenarnya karena takut kekuasaannya hancur.

Islam adalah ajaran yang cinta damai. Islam tentu sangat  menentang keras tindakan barbar seperti ini. Islam melarang pembunuhan tanpa alasan yang belum dipastikan kebenarannya. Satu nyawa itu sangat berharga bahkan lebih berharga di banding dunia. “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Tapi di sistem demokrasi, nyawa seperti tak ada harganya. Demi nafsu berkuasa menghalalkan segala cara. Hal itu biasa terjadi dalam sistem demokrasi.

Lagipula, makna keadilan dalam sistem demokrasi mustahil bebas dari kepentingan. Sebab, demokrasi memberi peluang tegaknya hukum sesuai kehendak manusia. Disinilah kelemahan demokrasi. Bagaimana mau mewujudkan keadilan sementara hukumnya sendiri bisa berubah-ubah sesuai kepentingan manusia itu sendiri?

Dalam Islam, yang dinamakan adil itu harus sesuai dengan hukum Islam. Hukum ditegakkan berdasarkan pandangan syariat Islam.  Keadilan hanya bisa diraih jika kita menerapkan  Islam secara keseluruhan dalam kehidupan. Namun dalam negara demokrasi,  menegakkan hukum Allah dalam peraturan perundang-undangan hampir mustahil terjadi. Hal ini disebabkan, akidah sekularisme yang menolak peran agama dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bishshawwab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Soal Kelangkaan Pupuk, Ternyata Akibat Pengurangan Kuota

    Soal Kelangkaan Pupuk, Ternyata Akibat Pengurangan Kuota

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Pemkab Mandailing Natal (Madina) mengakui kebenaran kelangkaan pupuk bersubsidi di daerah ini. Penyebabnya, terjadi pengurangan kuota oleh pemerintah. Kepala Bdang Agribisnis Dinas Pertanian Peternakan Madina, Latifa Hannum menjawab wartawan, Jum’at (25/10/2013) mengungkapkan jenis kuota pupuk yang dikurangi adalah ZA, Ponska dan SP36. Penyebab kekurangan pupuk subsidi ini akibat kelengahan kelompok […]

  • Christopher Shelton: Selesai Baca Alquran, Saya Menjadi Muslim

    Christopher Shelton: Selesai Baca Alquran, Saya Menjadi Muslim

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Setiap harinya, Christopher Shelton mendengar teman-temannya tengah membahas Islam. Satu atau dua temannya memang seorang Muslim.  Itu terjadi ketika Shelton duduk di bangku sekolah. “Awalnya ada teman saya seorang Muslim bernama Raphael, ia bercerita banyak tentang Islam. Saat itu, saya belum tertarik mendengar bahasan itu,” ucap dia seperti dikutip arabnews.com, Rabu (4/12). Memasuki kelas sepuluh, […]

  • Jalur Payabungan-Natal Longsor

    Jalur Payabungan-Natal Longsor

    • calendar_month Senin, 9 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Jalan jalur Panyabungan-Natal, Kabupaten Mandailing Natal baru saja dihantam tanah longsor. Titik longsor berada di antara Desa Bulu Soma dengan Desa Tarlola Kecamatan Batang Natal. Longsor terjadi sekira pukul 17.00 WIB, Senin (9/5/2016). Informasi yang dihimpun dari beberapa penduduk Bulu Soma via telefon selular pukul 17.25 WIB, tebing di atas […]

  • Rumah Dinas Bupati Madina Didatangi Ratusan Guru Honor Pelamar PPPK Madina

    Rumah Dinas Bupati Madina Didatangi Ratusan Guru Honor Pelamar PPPK Madina

    • calendar_month Rabu, 27 Des 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Rumah Dinas Bupati Mandailing Natal ( Madina ) H.M.Ja’far Sukhairi Nasution Rabu sore 27/12/2023 digruduk guru guru peserta pelamar PPPK  yang merasa terzolimi. Mereka melakuka  aksi didepan pintu masuk rumah dinas Bupati. Karena tak kunjung di temui Bupati, pengunjuk rasa yang sejak tadi pagi telah berunjuk rasa mulai dari gedung […]

  • Jalur Darat Sudah Bisa Dilalui

    Jalur Darat Sudah Bisa Dilalui

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banjir Bandang Tongging KARO- Setelah sempat terputus total pascalongsor dan banjir bandang, jalur transportasi darat antara Tongging-Paropo, Sikodon-kodon, Silalahi dan sejumlah desa tetangga di Kabupate Dairi sudah dapat dilalui. “Tadi sore, lima dari delapan titik longsoran di badan jalan telah kita bersihkan. Sebenarnya target, Jumat (4/2) sore jalan sudah dapat dilalui kenderaan roda empat. Namun […]

  • Saroha Malaysia Akan Investasi di Madina, Ketua HIPMI: Kita Sambut Baik Rencana Itu

    Saroha Malaysia Akan Investasi di Madina, Ketua HIPMI: Kita Sambut Baik Rencana Itu

    • calendar_month Rabu, 29 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN, (Mandailing Online) – Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mandailing Natal (Madina) menyambut baik keinginan Perkumpulan Saroha Malaysia berinvestasi di Bumi Gordang Sambilan. Hal itu disampaikan Ketua Umum BPC HIMPI Madina Mhd. Zainal Arifin, M.Si saat meninjau lahan pertanian dan peternakan di wilayah Panyabungan Barat, Rabu (29/6). “HIPMI berkomitmen untuk terus berkontribusi […]

expand_less