Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Kisah Nyai Jepang dan Praktek Prostistusi di Aceh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 5 Agt 2022
  • print Cetak

Ketika Jepang masuk ke Aceh, mereka juga membawa ratusan perempuan dukungan, pemuas birahi para tentara dalam perang dunia kedua.

Orang Aceh menyebut para perempuan itu sebagai Nyai Jepang, sementara orang Jepang sendiri menamainya Jugun Ianfu .

Kisahnya hampir sama dengan tempat prostistusi masa kolonial Belanda berkuasa di Aceh yang dibangun pensiunan tentara berkebangsaan Yahudi bernama Bolchover.

Kisah tentang tempat pelacuran Bolchover ini bisa dibaca dalam buku Peutjoet. Buku yang ditulis oleh Tjoetje mantan pegawai Kolonial Belanda di Bestuurs Meulaboh, Aceh Barat, diterbitkan pada tahun 1972. Isi buku masih menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Sementara kisah Nyai Jepang di Aceh, bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan. Buku ini ditulis oleh Teuku Alibasyah Talsya, diterbitan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh.

Talsya menceritakan, ketika kekuasaan Jepang berakhir di Aceh. Residen Aceh mengambil alih berbagai kantor pemerintahan dan merebut senjata-senjata Jepang untuk menghalau kemungkinan masuknya tentara NICA dan sekutu ke Aceh.

Dalam suasana pesta pernikahan tersebut, ada suatu masalah meyangkut kehidupan di Aceh, yakni keberadaan-wanita peliharaan Jepang.

Pada 8 November 1945, Residen Aceh mengeluarkan maklumat berisi pengumuman bahwa praktek mainan dan pemeliharaan nyai, dilarang, mulai tanggal 9 November 1945, jam 01.00, meskipun sebelumnya sudah mendapat izin dari Gunseibu (Pemerintah Jepang).

Dalam maklumat tersebut Residen Aceh juga melarang penjualan minuman keras (arak) yang pada masa pendudukan Jepang diperjualbelikan secara bebas. Izin praktek mainan dan penjualan minuman keras dari Gunseibu tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi, karena Residen Aceh sudah membentuk pemerintahan baru. Senjata api yang tidak memiliki surat izin diminta untuk segera diserahkan kepada pihak yang berwajib (Residen Aceh).

Masalah kemudian adalah, bagaimana dengan keberadaan para wanita peliharaan di tempat prostistusi (Nyai Jepang) tersebut setelah keluar dari Aceh, sementara para perempuan peliharaan tersebut merupakan wanita-wanita dari luar Aceh yang dibawa ke Aceh sebagai wanita perhatian.

Kisah tempat prostistusi di Aceh juga terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Adalah Bolchover mantan tentara Belanda berkebangsaan Yahudi yang membuka tempat prostistusi pertama di Aceh.

Ketika pensiun dari dinas kemiliteran, Bolchover membangun sebuah perkebunan di bekas tempat pemeliharaan kuda kalvaleri militer Belanda, letaknya di sebelah selatan Kerkhof Peucut komplek kuburan Belanda di Banda Aceh.

Awalnya Bolchover hanya berkebun di sana, tapi kemudian ia membangun tempat penginapan, lengkap dengan bar dan tempat hiburan malam. Para tentara Belanda kelas bawah yang kelelahan dari tugas dinas kemiliterannya di Aceh, sering datang ke tempat Bolchover tersebut untuk mencari hiburan.

Begitu juga dengan para istri tentara Belanda yang disimpan di luar Banda Aceh. Mereka sering mendengar musik, berdansa, dan menikmati minuman keras di tempat Bolchover, sehingga kemudian terjadi berbagai kisah perselingkuhan antara tentara Belanda dengan para istri rekannya yang melakukan operasi militer dan di luar Banda Aceh.

Dari kisah perselingkuhan, kemudian tempat-tempat tersebut tumbuh menjadi tempat prostistusi. Bolchover yang semula membangun perkebunan, kini lebih banyak mendapat keuntungan dari bar dan rumah penginapannya, sehingga tempat Bolchover tersebut menjadi tempat yang sangat negatif. Tjoete menyebut tempat itu sebagai komplek perkebunan dan tempat pembohong seks.

Setelah Belanda kalah, ketika Jepang masuk ke Nusantara, tempat-tempat prostistusi seperti taman Bolchover tersebut tidak hilang, malah praktik prostistusi semakin bertambah dengan adanya wanita-wanita peliharaan yang dibawa oleh Pemerintah Jepang dari wilayah lain ke Aceh.

Tempat-tempat praktek prostistusi malah diberi izin oleh Gunseibu (Pemerintah Jepang) sebagai tempat beroperasinya para wanita yang dibawa Jepang sendiri ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan biologis pejabat dan tentara Jepang.

Praktek protistusi baru benar-benar hilang di Aceh setelah Residen Aceh Teuku Nyak Arief berhasil melucuti kekuasaan Jepang. Terhitung sejak 9 November 1945 pukul 01.00 siang semua tempat prostistusi resmi ditutup, dan minuman keras dilarang beredar di Aceh.

Penulis: Iskandar Norman
Dikutip dari: Facebook akun Teuku Malikul Mubin

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 9 Ranperda Madina Menunggu Evaluasi Dari Pemprovsu

    9 Ranperda Madina Menunggu Evaluasi Dari Pemprovsu

    • calendar_month Rabu, 16 Mar 2016
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Setelah mendapat keputusan dari DPRD Madina, 9 Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Mandailing Natal saat ini sudah diajukan kepada  Biro Hukum Sekretariat Daerah Propinsi Sumatra untuk di registrasi, namun hingga kini masih menunggu evaluasi dan registrasi dari Biro Hukum Pemprovsu, demikian disampaikan Kabag Hukum Pemkab Madina, Alamulhaq Daulay kepada wartawan kemarin. Dikatakannya, 9 […]

  • Pegawai Honorer Jadi Kades. Ini Kata PMD Madina

    Pegawai Honorer Jadi Kades. Ini Kata PMD Madina

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Terkait Kepala Desa Batang Gadis yang masih ber status honorer di Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ). Kepala Bidang Pemerintahan Desa Dinas PMD Madina Anjur Brutu mengatakan. Tidak ada aturan yang melanggar hal tersebut selagi Kades itu diberhentikan dari statusnya tenaga honorer apabila ia menang dalam pemilihan […]

  • Minggu Pembuka JiFFest 2013, SUKSES!

    Minggu Pembuka JiFFest 2013, SUKSES!

    • calendar_month Kamis, 21 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Setelah absen selama dua tahun, JiFFest (Jakarta International Film Festival) kembali di gelar di bulan November 2013. Pemutaran film yang dimulai akhir pekan lalu berlangsung dengan sangat sukses. JiFFest 2013 menghadirkan dua program highlights, Pop Up Festival dan Retrospective Bong Joon Ho yang diadakan dari hari Jumat (15/11) sampai dengan Minggu (17/11). Tiga film Indonesia […]

  • Honor Kepdes di Madina Kemana? Sejak Januari Hingga Juni Belum Dicairkan Pemkab

    Honor Kepdes di Madina Kemana? Sejak Januari Hingga Juni Belum Dicairkan Pemkab

    • calendar_month Senin, 27 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejak Januari hingga Juni 2016, honor para kepala desa dan aparat desa se Kabupaten Mandailing Natal entah dimana rimbanya. Pasalnya, selama rentang 6 bulan itu, para para kepala desa dan aparat desa belum menerima walau 1 rupiah. Lalu, kemana uang itu diperam? Fakta ini terungkap ketika puluhan kepala desa mendatangi kantor […]

  • Kebakaran Perkebunan Terus Meluas, 25 Rumah Penduduk Terbakar

    Kebakaran Perkebunan Terus Meluas, 25 Rumah Penduduk Terbakar

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Kebakaran hutan dan perkebunan di wilayah Pantai Barat, Mandailing Natal (Madina) kian meluas. Hingga Selasa (18/2/2014) gerakan api tdak saja di areal perkebunan, tetapi sudah merembet ke pemukiman penduduk. Berdasar data Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Madina, sekitar 25 rumah warga di SP I dan SP II di Kecamatan […]

  • Sidak, Atika Soroti Kehadiran ASN

    Sidak, Atika Soroti Kehadiran ASN

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa instansi di lingkungan Pemkab Madina, Rabu (5/1). Adapun instansi yang dikunjungi Wakil Bupati peraih dua rekor MURI ini adalah Dinas Pariwasata, Inspektorat, dan Dinas Perhubungan. Dalam sidak ini Atika menyoroti kehadiran ASN dan kebersihan lingkungan […]

expand_less