Sabtu, 11 Apr 2026
light_mode

Kisah Nyai Jepang dan Praktek Prostistusi di Aceh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 5 Agt 2022
  • print Cetak

Ketika Jepang masuk ke Aceh, mereka juga membawa ratusan perempuan dukungan, pemuas birahi para tentara dalam perang dunia kedua.

Orang Aceh menyebut para perempuan itu sebagai Nyai Jepang, sementara orang Jepang sendiri menamainya Jugun Ianfu .

Kisahnya hampir sama dengan tempat prostistusi masa kolonial Belanda berkuasa di Aceh yang dibangun pensiunan tentara berkebangsaan Yahudi bernama Bolchover.

Kisah tentang tempat pelacuran Bolchover ini bisa dibaca dalam buku Peutjoet. Buku yang ditulis oleh Tjoetje mantan pegawai Kolonial Belanda di Bestuurs Meulaboh, Aceh Barat, diterbitkan pada tahun 1972. Isi buku masih menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Sementara kisah Nyai Jepang di Aceh, bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan. Buku ini ditulis oleh Teuku Alibasyah Talsya, diterbitan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh.

Talsya menceritakan, ketika kekuasaan Jepang berakhir di Aceh. Residen Aceh mengambil alih berbagai kantor pemerintahan dan merebut senjata-senjata Jepang untuk menghalau kemungkinan masuknya tentara NICA dan sekutu ke Aceh.

Dalam suasana pesta pernikahan tersebut, ada suatu masalah meyangkut kehidupan di Aceh, yakni keberadaan-wanita peliharaan Jepang.

Pada 8 November 1945, Residen Aceh mengeluarkan maklumat berisi pengumuman bahwa praktek mainan dan pemeliharaan nyai, dilarang, mulai tanggal 9 November 1945, jam 01.00, meskipun sebelumnya sudah mendapat izin dari Gunseibu (Pemerintah Jepang).

Dalam maklumat tersebut Residen Aceh juga melarang penjualan minuman keras (arak) yang pada masa pendudukan Jepang diperjualbelikan secara bebas. Izin praktek mainan dan penjualan minuman keras dari Gunseibu tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi, karena Residen Aceh sudah membentuk pemerintahan baru. Senjata api yang tidak memiliki surat izin diminta untuk segera diserahkan kepada pihak yang berwajib (Residen Aceh).

Masalah kemudian adalah, bagaimana dengan keberadaan para wanita peliharaan di tempat prostistusi (Nyai Jepang) tersebut setelah keluar dari Aceh, sementara para perempuan peliharaan tersebut merupakan wanita-wanita dari luar Aceh yang dibawa ke Aceh sebagai wanita perhatian.

Kisah tempat prostistusi di Aceh juga terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Adalah Bolchover mantan tentara Belanda berkebangsaan Yahudi yang membuka tempat prostistusi pertama di Aceh.

Ketika pensiun dari dinas kemiliteran, Bolchover membangun sebuah perkebunan di bekas tempat pemeliharaan kuda kalvaleri militer Belanda, letaknya di sebelah selatan Kerkhof Peucut komplek kuburan Belanda di Banda Aceh.

Awalnya Bolchover hanya berkebun di sana, tapi kemudian ia membangun tempat penginapan, lengkap dengan bar dan tempat hiburan malam. Para tentara Belanda kelas bawah yang kelelahan dari tugas dinas kemiliterannya di Aceh, sering datang ke tempat Bolchover tersebut untuk mencari hiburan.

Begitu juga dengan para istri tentara Belanda yang disimpan di luar Banda Aceh. Mereka sering mendengar musik, berdansa, dan menikmati minuman keras di tempat Bolchover, sehingga kemudian terjadi berbagai kisah perselingkuhan antara tentara Belanda dengan para istri rekannya yang melakukan operasi militer dan di luar Banda Aceh.

Dari kisah perselingkuhan, kemudian tempat-tempat tersebut tumbuh menjadi tempat prostistusi. Bolchover yang semula membangun perkebunan, kini lebih banyak mendapat keuntungan dari bar dan rumah penginapannya, sehingga tempat Bolchover tersebut menjadi tempat yang sangat negatif. Tjoete menyebut tempat itu sebagai komplek perkebunan dan tempat pembohong seks.

Setelah Belanda kalah, ketika Jepang masuk ke Nusantara, tempat-tempat prostistusi seperti taman Bolchover tersebut tidak hilang, malah praktik prostistusi semakin bertambah dengan adanya wanita-wanita peliharaan yang dibawa oleh Pemerintah Jepang dari wilayah lain ke Aceh.

Tempat-tempat praktek prostistusi malah diberi izin oleh Gunseibu (Pemerintah Jepang) sebagai tempat beroperasinya para wanita yang dibawa Jepang sendiri ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan biologis pejabat dan tentara Jepang.

Praktek protistusi baru benar-benar hilang di Aceh setelah Residen Aceh Teuku Nyak Arief berhasil melucuti kekuasaan Jepang. Terhitung sejak 9 November 1945 pukul 01.00 siang semua tempat prostistusi resmi ditutup, dan minuman keras dilarang beredar di Aceh.

Penulis: Iskandar Norman
Dikutip dari: Facebook akun Teuku Malikul Mubin

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yusuf-Imron Akan Perjuangkan Pengembangan Industri Kecil

    Yusuf-Imron Akan Perjuangkan Pengembangan Industri Kecil

    • calendar_month Sabtu, 5 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    HUTABARGOT (Mandailing Online) –  Bahwa keterpurukan ekonomi yang melanda masyarakat harus menjadi perhatian yang serius. Karena itu pasangan calon bupati Mandailing Natal nomor urut 1 Yusuf Nasution-Imron Lubis akan gigih memperjuangkan anggaran bagi tumbuh kembangnya kelompok-kelompok usaha bersama (kube) di dalam masyarakat dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi sehingga kesejahteraan dapat semakin meningkat. Itu yang dikatakan […]

  • Anggaran Pendidikan 2011 Capai Rp 248 T

    Anggaran Pendidikan 2011 Capai Rp 248 T

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA-Pemerintah kembali merilis rancangan porsi pembiayaan untuk pos pendidikan pada 2011. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyatakan bahwa pendidikan tinggi (dikti) mendapat porsi besar dalam perencanaan anggaran 2011 yakni sekitar Rp28 triliun atau sekitar 51 persen anggaran Kemendiknas 2011. “Jumlah tersebut termasuk anggaran dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP),” ujar Mendiknas Mohammad Nuh, Selasa (4/1). Tahun […]

  • Oknum Polisi Aniaya Karyawan Muka Disulut Rokok Rp50 Ribu Dirampas

    Oknum Polisi Aniaya Karyawan Muka Disulut Rokok Rp50 Ribu Dirampas

    • calendar_month Senin, 28 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BELAWAN, (MO) – Perbuatan oknum polisi Bripka Hotma Tua Samosir, benar-benar kelewatan. Niatnya melerai keributan sepasang kekasih malah berujung tindakan kekerasan terhadap Lambok Simbolon (24), warga Pasar VII, Desa Pematang Johar. Data dihimpun, setelah memukuli karyawan Growth Sumatra Industri (GSI) itu, Bripka Hotman Tua Samosir yang bertugas di Polres Pelabuhan Belawan, ini lalu menyulut wajah […]

  • HIPMI Dukung Saham Daerah di Sorikmas Mining

    HIPMI Dukung Saham Daerah di Sorikmas Mining

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – HIPMI mendukung penyertaan saham daerah di PT Sorikmas Mining, perusahaan yang mengantongi konsesi penambangan emas di Mandailing Natal (Madina). Demikian disampaikan Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Kabupaten Madina, Zainal Arifin, M.Si kepada Mandailing Online, Sabtu (25/4/2020) di Panyabungan. Harapan agar saham daerah ada di PT Sorikmas Mining menguat dari […]

  • Menang di Hari Kemenangan

    Menang di Hari Kemenangan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Ummu Taqiyya   Sebulan penuh Allah beri kesempatan bagi ummat muslim untuk sayembara memperoleh limpahan berkah, rahmat dan ampunan di bulan suci Ramadhan. Di penghujung ramadhan mencapai garis finish kemenangan, semakin banyak rintangan, godaan dari hawa nafsu untuk lengah, hampir menyerah dan kembali berleha-leha dalam ibadah. Tak mudah untuk menang melawan hawa nafsu […]

  • Pemprovsu dan Pemda Harus Atasi Kerisis Energi

    Pemprovsu dan Pemda Harus Atasi Kerisis Energi

    • calendar_month Rabu, 27 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Walhi Sumatra Utara menyesalkan adanya pemadaman bergilir listrik di berbagai wilayah Provinsi Sumatra Utara. Kejadian seperti ini telah terjadi ditahun-tahun sebelumnya dan terjadi lagi di tahun 2013 ini. Menurut Walhi, Pemprov Sumut harus mengambil langkah fundamental dalam mengatasi krisis energi khususnya listrik. “Bentuknya untuk jangka pendek adalah dengan melakukan modernisasi PLTD […]

expand_less