Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Kisah Nyai Jepang dan Praktek Prostistusi di Aceh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 5 Agt 2022
  • print Cetak

Ketika Jepang masuk ke Aceh, mereka juga membawa ratusan perempuan dukungan, pemuas birahi para tentara dalam perang dunia kedua.

Orang Aceh menyebut para perempuan itu sebagai Nyai Jepang, sementara orang Jepang sendiri menamainya Jugun Ianfu .

Kisahnya hampir sama dengan tempat prostistusi masa kolonial Belanda berkuasa di Aceh yang dibangun pensiunan tentara berkebangsaan Yahudi bernama Bolchover.

Kisah tentang tempat pelacuran Bolchover ini bisa dibaca dalam buku Peutjoet. Buku yang ditulis oleh Tjoetje mantan pegawai Kolonial Belanda di Bestuurs Meulaboh, Aceh Barat, diterbitkan pada tahun 1972. Isi buku masih menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Sementara kisah Nyai Jepang di Aceh, bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan. Buku ini ditulis oleh Teuku Alibasyah Talsya, diterbitan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh.

Talsya menceritakan, ketika kekuasaan Jepang berakhir di Aceh. Residen Aceh mengambil alih berbagai kantor pemerintahan dan merebut senjata-senjata Jepang untuk menghalau kemungkinan masuknya tentara NICA dan sekutu ke Aceh.

Dalam suasana pesta pernikahan tersebut, ada suatu masalah meyangkut kehidupan di Aceh, yakni keberadaan-wanita peliharaan Jepang.

Pada 8 November 1945, Residen Aceh mengeluarkan maklumat berisi pengumuman bahwa praktek mainan dan pemeliharaan nyai, dilarang, mulai tanggal 9 November 1945, jam 01.00, meskipun sebelumnya sudah mendapat izin dari Gunseibu (Pemerintah Jepang).

Dalam maklumat tersebut Residen Aceh juga melarang penjualan minuman keras (arak) yang pada masa pendudukan Jepang diperjualbelikan secara bebas. Izin praktek mainan dan penjualan minuman keras dari Gunseibu tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi, karena Residen Aceh sudah membentuk pemerintahan baru. Senjata api yang tidak memiliki surat izin diminta untuk segera diserahkan kepada pihak yang berwajib (Residen Aceh).

Masalah kemudian adalah, bagaimana dengan keberadaan para wanita peliharaan di tempat prostistusi (Nyai Jepang) tersebut setelah keluar dari Aceh, sementara para perempuan peliharaan tersebut merupakan wanita-wanita dari luar Aceh yang dibawa ke Aceh sebagai wanita perhatian.

Kisah tempat prostistusi di Aceh juga terjadi pada zaman penjajahan Belanda. Adalah Bolchover mantan tentara Belanda berkebangsaan Yahudi yang membuka tempat prostistusi pertama di Aceh.

Ketika pensiun dari dinas kemiliteran, Bolchover membangun sebuah perkebunan di bekas tempat pemeliharaan kuda kalvaleri militer Belanda, letaknya di sebelah selatan Kerkhof Peucut komplek kuburan Belanda di Banda Aceh.

Awalnya Bolchover hanya berkebun di sana, tapi kemudian ia membangun tempat penginapan, lengkap dengan bar dan tempat hiburan malam. Para tentara Belanda kelas bawah yang kelelahan dari tugas dinas kemiliterannya di Aceh, sering datang ke tempat Bolchover tersebut untuk mencari hiburan.

Begitu juga dengan para istri tentara Belanda yang disimpan di luar Banda Aceh. Mereka sering mendengar musik, berdansa, dan menikmati minuman keras di tempat Bolchover, sehingga kemudian terjadi berbagai kisah perselingkuhan antara tentara Belanda dengan para istri rekannya yang melakukan operasi militer dan di luar Banda Aceh.

Dari kisah perselingkuhan, kemudian tempat-tempat tersebut tumbuh menjadi tempat prostistusi. Bolchover yang semula membangun perkebunan, kini lebih banyak mendapat keuntungan dari bar dan rumah penginapannya, sehingga tempat Bolchover tersebut menjadi tempat yang sangat negatif. Tjoete menyebut tempat itu sebagai komplek perkebunan dan tempat pembohong seks.

Setelah Belanda kalah, ketika Jepang masuk ke Nusantara, tempat-tempat prostistusi seperti taman Bolchover tersebut tidak hilang, malah praktik prostistusi semakin bertambah dengan adanya wanita-wanita peliharaan yang dibawa oleh Pemerintah Jepang dari wilayah lain ke Aceh.

Tempat-tempat praktek prostistusi malah diberi izin oleh Gunseibu (Pemerintah Jepang) sebagai tempat beroperasinya para wanita yang dibawa Jepang sendiri ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan biologis pejabat dan tentara Jepang.

Praktek protistusi baru benar-benar hilang di Aceh setelah Residen Aceh Teuku Nyak Arief berhasil melucuti kekuasaan Jepang. Terhitung sejak 9 November 1945 pukul 01.00 siang semua tempat prostistusi resmi ditutup, dan minuman keras dilarang beredar di Aceh.

Penulis: Iskandar Norman
Dikutip dari: Facebook akun Teuku Malikul Mubin

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Klarifikasi Berita Tentang Anggota DPRD Madina Dapil III dari Nasdem

    Klarifikasi Berita Tentang Anggota DPRD Madina Dapil III dari Nasdem

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Terkait adanya berita yang pernah dilansir Mandailing Online edisi Jum’at (21/11) lalu yang berisi oknum anggota DPRD Madina diduga sedang minum minuman beralkohol di salah satu café di lingkar timur Panyabungan saat Satpol PP melakukan razia, Kamis (20/11), Redaksi Mandailing Online melakukan investigasi lanjutan untuk mendalami alibi di TKP (tempat […]

  • 210 Lulusan MAN Panyabungan Masuk PTN

    210 Lulusan MAN Panyabungan Masuk PTN

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – MAN Panyabungan kembali mengukir prestasi. Dari total 320 yang lulus, sebanyak 210 orang  berhasil masuk ke berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia melalui jalur bebas testing (SNMPTN / undangan).  Angka ini jauh melampaui tahun sebelumnya  yang berjumlah 126 orang. Kepala MAN Panyabungan, Drs. Darwin Nasution kepada wartawan menyatakan, data […]

  • Pipa Pengeboran Geothermal Hanya Berdiameter 75 Cm

    Pipa Pengeboran Geothermal Hanya Berdiameter 75 Cm

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ukuran diameter pipa pengeboran geothermal hanya sekitar 75 cm. Itu tercuat dalam acara diskusi proyek panas bumi, kegiatan pengeboran, keselamatan kerja dan dampak proyek yang dilaksanakan PT. Sorik Marapi Geothermal Power (PT SMGP) dihadiri masyarakat  dari 3 desa, yakni Desa Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu Kecamatan Puncak Sorik Marapi di […]

  • 177 Pejabat Eselon II, III dan IV Dilantik

    177 Pejabat Eselon II, III dan IV Dilantik

    • calendar_month Rabu, 18 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Meski tergolong terlambant dibanding sejumlah kabupaten/kota di Sumut, bupati Mandailing Natal (Madina) akhirnya melantik pejabat eselon III dan II serta pengukuhan 4 pejabat eselon II. Pelantikan ini memenuhi Peraturan Pemerintah Nomor (PP) 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Pelantikan berlangsung di aula kantor bupati Madina, Rabu (18/1) oleh Wakil Bupati Madina, […]

  • Jaringan Advokasi Tambang Akan Didirikan

    • calendar_month Rabu, 5 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) berencana membuka perwakilan di Mandailing Natal. Aktivis pemerhati lingkungan dan pertambangan di Madina, Parwis Nasution kepada wartawan, kemarin menyatakan Jatam diharapkan mampu bersinergis dalam peran advokasi maupun pencerahan tentang tambang kepada rakyat. Dikatakan, saat ini Parwis mengaku sudah membangun komunikasi dengan pengurus Jatam di Jakarta dan sudah […]

  • DCS Dapil 2 Hanura Madina

    DCS Dapil 2 Hanura Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 2 Hanura Madina

expand_less