Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Menghitung Detak Jantung Bandara Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Apakah ATR Wings Air bakal menggeser Capung Susi Air?

Jawabannya, tergantung pada siapa yang menjadi penumpangnya – pelanggan, dan berapa lama jantung JBAH Nasution berdetak dan memberi ruang lega bagi moda darat – tak jadi korban euforia aviasi semusim?

Kabar bahwa Lion Air Group melalui Wings Air akan membuka jalur Medan–Madina dan Madina–Padang lewat Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (bandara Madina) langsung memantik optimisme publik.

Pertemuan Bupati Madina H. Saipullah Nasution dengan pemilik maskapai Rusdi Kirana yang dikawal Anggota DPR RI dari Dapil Sumut II Marwan Dasopang dianggap sebagai angin segar bagi napas bandara yang selama ini masih mencari bentuk keberlanjutannya.

Tetapi setelah euforia awal itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting — dan jauh lebih menentukan: Siapa sebenarnya yang akan mengisi kursi-kursi pesawat itu?

Karena dalam dunia penerbangan, yang menentukan hidup-matinya sebuah rute bukan:
• pidato pejabat,
• foto lobi politik,
• atau megahnya terminal.

Melainkan:
keterisian kursi secara konsisten.

Dan ketika yang dibicarakan adalah pesawat ATR milik Wings Air, maka pembahasannya harus masuk ke matematika pasar — bukan lagi sekadar romantisme pembangunan.

ATR Wings Air: Pesawat Kecil, Beban Pasar Besar

Pesawat ATR yang biasa dioperasikan Wings Air umumnya bertipe:
• ATR 72-500,
• atau ATR 72-600.
Kapasitasnya sekitar: 72 penumpang.

Artinya, kalau nanti penerbangan Medan–Madina berjalan:
• sekali terbang memerlukan sekitar 72 penumpang,
• pulang-pergi berarti sekitar 144 kursi,
• belum termasuk potensi jalur Madina–Padang.

Kalau penerbangan dilakukan beberapa kali seminggu, maka pasar Madina harus mampu menyediakan:
ratusan penumpang rutin setiap pekan.

Dan di sinilah pertanyaan paling brutal mulai muncul:
Apakah Madina sudah punya denyut mobilitas yang cukup stabil untuk menopang itu?

Karena ATR memang lebih kecil dibanding Boeing atau Airbus.
Tetapi untuk ukuran daerah seperti Madina, angka 72 kursi tetap bukan angka ringan.

Lalu Siapa Penumpangnya?

Ini yang sering tidak dibicarakan secara jujur.
Kalau hanya mengandalkan:
• pejabat,
• perjalanan dinas,
• atau penumpang elite,
maka, rute akan cepat megap-megap.

Penumpang potensial yang sebenarnya jauh lebih luas ialah:
• ASN,
• kontraktor,
• pelaku perkebunan dan tambang,
• perantau Mandailing,
• mahasiswa,
• pasien rujukan,
• wisatawan,
• pebisnis lintas Sumut–Sumbar,
• hingga keluarga kelas menengah yang membutuhkan efisiensi waktu.

Tetapi, masalahnya, bukan sekadar ada atau tidak ada penumpang.

Masalahnya: Apakah mereka cukup rutin untuk menjaga okupansi pesawat?

Karena penerbangan tidak hidup dari keramaian musiman. Bandara hidup dari:
• rutinitas,
• kesinambungan,
• dan sirkulasi ekonomi yang terus bergerak.

Kalau hanya ramai saat:
• lebaran,
• pilkada,
• musim libur,
• atau kunjungan pejabat,
maka rute akan rapuh sejak awal.

Belajar dari Susi Air

Publik juga mulai bertanya:
“Kalau selama ini sudah ada Susi Air, bagaimana sebenarnya progresnya?”
Ini pertanyaan yang sangat penting.
Karena untuk membaca masa depan Wings Air, Madina harus lebih dulu membaca pengalaman Susi Air secara jujur.

Susi Air selama ini bermain di segmen penerbangan perintis:
• pesawat kecil,
• kapasitas terbatas,
• biaya operasional berbeda,
• dan kebutuhan pasar yang lebih ringan.
Artinya, tekanan pasar Susi Air sebenarnya jauh lebih kecil dibanding ATR Wings Air.

Kalau pesawat kecil saja masih menghadapi tantangan okupansi dan kesinambungan pasar, maka ATR otomatis membutuhkan: basis penumpang yang lebih besar dan lebih stabil. Dan di titik inilah publik wajar bertanya:
• Apakah Susi Air akan mundur?
• Apakah Wings Air menggantikan peran lama?
• Atau, keduanya akan hidup berdampingan?
Secara bisnis, Wings Air memang punya keunggulan:
• jaringan nasional,
• sistem transit,
• integrasi tiket,
• dan kekuatan armada Lion Group.
Tetapi semakin besar kapasitas pesawat, semakin besar pula tekanannya untuk terus terisi.

Jangan Korbankan Moda Darat

Namun ada satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar maskapai:
Jangan sampai gairah membangun bandara justru memukul angkutan umum darat yang selama ini menjadi perintis konektivitas Madina.

Ini penting kami tegaskan ditegaskan lagi.

Karena jauh sebelum pesawat datang, yang menjaga denyut mobilitas masyarakat adalah:
• bus AKAP,
• travel Medan–Madina,
• trayek Madina–Padang,
• bus rute Medan-Padang
• sopir lintas provinsi,
• dan jaringan dan mitra transportasi rakyat yang sudah bertahan puluhan tahun.

Bahkan, mereka tetap berjalan:
• saat jalan rusak,
• saat penerbangan berhenti,
• saat subsidi habis,
• bahkan ketika proyek-proyek transportasi datang dan pergi.

Moda darat bukan sekadar transportasi. Angkutan konvensional itu adalah:
• urat ekonomi rakyat,
• penghubung kampung,
• pengangkut mahasiswa,
• jalur pasien,
• hingga pengikat sosial masyarakat perantauan.

Karenanya, kehadiran Wings Air tidak boleh dibangun dengan logika: “pesawat menggantikan jalan raya.”

Itu keliru!

Transportasi modern justru hidup dari: integrasi antar-moda.

Pesawat untuk kecepatan.
Bus dan travel untuk jangkauan dan fleksibilitas. Keduanya harus saling menopang.

Jalan Raya Makin Bagus

Inilah tantangan terbesar bandara kecil hari ini. Dulu pesawat unggul mutlak karena perjalanan darat sangat berat.
Tetapi sekarang:
• jalan lintas makin baik,
• bus executive makin nyaman,
• travel makin fleksibel,
• dan kendaraan pribadi makin dominan.

Akibatnya, masyarakat mulai menghitung secara rasional:
“Kalau selisih waktu tidak terlalu jauh, mengapa harus membayar tiket lebih mahal?”

Di sinilah bandara kecil menghadapi persaingan sesungguhnya: bukan dengan bandara lain, tetapi dengan jalan raya yang semakin efisien.

Lalu Berapa Lama Rute (Bandara) Ini Akan Bertahan?

Ini pertanyaan paling jujur. Dan jawabannya, bergantung pada satu hal:
Apakah Madina mampu membangun ekosistem mobilitas dan ekonomi yang hidup?

Kalau:
• wisata berkembang,
• investasi bergerak,
• mobilitas bisnis tumbuh,
• logistik aktif,
• dan integrasi transportasi berjalan,
maka, rute bisa bertahan lama.

Tetapi kalau:
• penumpang tidak stabil,
• harga tiket terlalu berat,
• dan penerbangan hanya ramai sesaat,
maka, ancaman mati suri akan terus menghantui.

Karena industri penerbangan tidak hidup dari simbol. Bandara hidup dari angka.

Ujian Sebenarnya

Bandara JBAH Nasution kini sedang memasuki fase paling menentukan dalam sejarahnya. Jelas, tak lagi cukup dipertahankan dengan slogan: “yang penting ada pesawat.”

Kini pertanyaannya jauh lebih serius:
Apakah Madina benar-benar sudah memiliki denyut ekonomi, mobilitas regional, dan integrasi transportasi yang cukup untuk menjaga pesawat itu tetap terbang?

Karena membuka jalur penerbangan memang bisa dilakukan lewat lobi politik. Tetapi menjaga kursinya tetap terisi selama bertahun-tahun — sambil memastikan bus, travel, dan transportasi rakyat tetap hidup — itulah ujian pembangunan yang sesungguhnya. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua DPW PKB Sumut dan Rombongan Iringin Anis-Cak Imin Daftar ke KPU

    Ketua DPW PKB Sumut dan Rombongan Iringin Anis-Cak Imin Daftar ke KPU

    • calendar_month Kamis, 19 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Jakarta ( Mandailing Online ) – Rombongan DPW PKB Sumatera Utara (Sumut) turut mengantar pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) ke Kantor KPU untuk mendaftar sebagai calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) yang diusung Koalisi Perubahan, Kamis (19/10/2023). Rombongan PKB Sumut itu langsung dipimpin Ketua DPW PKB Sumut HM Jakfar Sukhairi […]

  • Pariwisata Belum Pengaruhi Pendapatan Dearah

    Pariwisata Belum Pengaruhi Pendapatan Dearah

    • calendar_month Selasa, 2 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sektor Pariwisatan sejauh ini melum mampu menyumbang terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Mandailing Natal (Madina). Demikian disampaikan aktivis pemerhati lingkungan di Madina, Buyung RBD Daulay yang juga Ketua Angkatan Muda Demokrat Indonesia didampingi Sekretaris Imsaruddin Nasution SHI kepada wartawan, pekan lalu. Menurutnya, kondisi itu akibat pengelolaan objek wisata di Madina belum […]

  • Raja-Raja Mandailing Bantah BPA Meninggal Dunia

    Raja-Raja Mandailing Bantah BPA Meninggal Dunia

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Para raja-raja yang ada di Mandailing Natal (Madina) tidak dapat menerima jika Badan Pemangku Adat (BPA) disebut telah meninggal dunia dan telah uzur serta tidak dapat lagi melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Itu dikatakan Ketua BPA Madina, Baginda Mangaraja Soaloon Nasution kepada wartawan,Senin (10/11) di Panyabungan. Disebutkannya, kalimat “telah meninggal dunia dan […]

  • Ivan Batubara Gagas Bengkel Mujahid Ekonomi di Madina

    Ivan Batubara Gagas Bengkel Mujahid Ekonomi di Madina

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Kadin Sumut, Ivan Iskandar Batubara menggagas pendirian Bengel Mujahid Ekonomi dalam upaya pengembangan ekonomi di Mandailing Natal (Madina). Bengkel Mujahid ini berfungsi mencetak pengusaha-pengusaha yang memiliki jiwa tarung yang tinggi, bermartabat serta menjadi pengusaha pembayar zakat baru. Itu dikatakan Ivan dalam Rapat Kerja Kadin Sumut dan Kadin Madina Dalam […]

  • Siap Siap, Dukcapil Madina Akan Datangi Kecamatan. Ada Apa Ya

    Siap Siap, Dukcapil Madina Akan Datangi Kecamatan. Ada Apa Ya

    • calendar_month Jumat, 14 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online: Jelang Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Mandailing Mandailing Natal Tahun 2024 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Madina wacanakan akan kembali laksanakan Jemput Bola penjaringan perekaman e-KTP bagi pemula. Ridwan Nasution Kadis Dukcapil Madina pada Mandailing Online Jum’at 14/6/2024 menjelaskan rencananya pada bulan Juli ini, akan kembali dilakuka  kegiatan perekaman e-KTP, Pelayanan dan penjaringan […]

  • Dinas PUPR Madina Kembali Teken MoU Pengawasan Dengan Kejaksaan

    Dinas PUPR Madina Kembali Teken MoU Pengawasan Dengan Kejaksaan

    • calendar_month Selasa, 26 Mar 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Dinas PUPR Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) hari ini Selasa 26/3/2024 kembali lakukan penandatanganan MoU Program kerjasama Perdata dan TUN berupa pengawasan dan supervisi oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terhadap implementasi pelaksanaan pekerjaan pembangunan yang didanai APBD Tahun 2024. Pendatanganan MoU dilaksanakan antara Kadis PUPR […]

expand_less