Selasa, 19 Mei 2026
light_mode

Mengukur Risiko Gagal “Kampung Pisang”: Antara Jargon dan Fakta Lapangan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum*

 

Program “Kampung Pisang” di Mandailing Natal datang dengan bahasa yang meyakinkan: ada “general check-up” tanah, identifikasi hama dan penyakit, hingga “terapi awal” sebelum pengembangan kawasan. Sekilas, semua terdengar rapi—bahkan ilmiah.

Namun pertanyaannya sederhana: seberapa jauh istilah-istilah itu benar-benar mencerminkan kondisi faktual di lapangan?

Karena dalam banyak program pembangunan, kegagalan jarang dimulai dari niat yang buruk. Ia justru sering berawal dari jargon yang terdengar siap, sementara realitas teknisnya belum benar-benar teruji.

Apalagi ketika program ini sudah ditopang oleh MoU, yang seringkali lebih cepat mengikat daripada memberi ruang untuk mengoreksi.

Diagnosa atau Sekadar Kesan Awal?

Istilah “general check-up” memberi kesan bahwa lahan telah diperiksa secara menyeluruh. Tapi dalam praktik pertanian, pemeriksaan itu tidak cukup dengan observasi umum.

Yang dibutuhkan adalah:

* Uji pH tanah dan kandungan hara,
* Analisis bahan organik, serya
* Pemetaan spesifik organisme pengganggu tanaman.

Tanpa itu, “pemeriksaan” berisiko hanya menjadi kesan awal yang terlihat ilmiah, tetapi belum cukup kuat untuk menopang keputusan besar.

Hal yang sama berlaku untuk istilah “terapi”. Dalam pertanian, terapi bukan metafora—ia harus konkret: pengapuran, perbaikan struktur tanah, penggunaan agen hayati, hingga sanitasi kebun. Jika tidak dijelaskan secara terbuka, maka “terapi” mudah berubah menjadi kata yang menenangkan, bukan tindakan yang menyelesaikan.

Pisang Kepok: Tanaman yang Tidak Sesederhana Narasinya

Pisang kepok sering dipersepsikan sebagai tanaman yang mudah tumbuh. Padahal, di balik itu, ada risiko agronomis yang serius:

* kerentanan terhadap penyakit tanah seperti layu fusarium,
* ketergantungan tinggi pada kualitas lahan awal,
* serta dampak jangka panjang jika salah penanganan di fase awal.

Kesalahan kecil di tahap persiapan tidak berhenti di musim tanam pertama. Ia bisa menjadi masalah berulang yang sulit dipulihkan—bahkan ketika program sudah berjalan.

Di titik ini, optimisme tanpa kehati-hatian justru menjadi pintu masuk kegagalan.

MoU: Mempercepat atau Mengunci?

MoU sering diposisikan sebagai langkah maju—tanda keseriusan kerja sama. Namun dalam praktik kebijakan, ia juga bisa menjadi titik rawan.

Ketika MoU ditandatangani sebelum validasi teknis benar-benar matang, yang terjadi adalah:

* keputusan berjalan lebih cepat dari data,
* komitmen mendahului kesiapan,
* dan ruang koreksi menjadi semakin sempit.

Bagi pemerintah daerah, ini bukan sekadar soal program. Ini soal risiko kebijakan—di mana kegagalan tidak hanya berdampak pada proyek, tetapi juga pada kepercayaan publik.

Jangan Terburu-buru Menjual “Wisata”

Konsep agro-eco-edu-tourism memang menjanjikan. Tapi ia bukan titik awal—melainkan hasil akhir dari proses yang panjang.

Urutannya tidak bisa dibalik:

1. produksi harus stabil,
2. praktik budidaya harus berkelanjutan,
3. nilai edukasi harus terbentuk,
4. barulah wisata punya fondasi.

Jika langsung melompat ke “branding wisata”, yang sering terjadi adalah:

* kebun belum siap,
* pengunjung datang tanpa pengalaman yang kuat,
* dan program perlahan kehilangan arah.

Yang tersisa hanya nama besar tanpa isi yang konsisten.

Mengukur Risiko, Bukan Menolak Program

Tulisan ini bukan untuk menolak “Kampung Pisang”. Justru sebaliknya—untuk memastikan ia tidak gagal karena terlalu cepat merasa siap.

Ada beberapa langkah penting yang layak dipertimbangkan oleh Pemda Mandailing Natal:

Audit teknis independen terhadap kondisi tanah dan hama penyakit.
Uji coba terbatas (pilot project) sebelum perluasan skala.
Transparansi metode “terapi” yang benar-benar dilakukan di lapangan.
MoU berbasis tahapan (milestone), bukan komitmen sekaligus

Langkah-langkah ini mungkin terlihat memperlambat. Tapi dalam banyak kasus, justru itulah cara tercepat untuk menghindari kegagalan yang mahal.

Penutup

“Kampung Pisang” bisa menjadi langkah maju bagi Mandailing Natal. Tapi ia juga bisa menjadi contoh lain dari program yang tampak siap di atas kertas, namun rapuh di lapangan.

Di antara dua kemungkinan itu, satu hal menjadi kunci: keberanian untuk menguji fakta sebelum mempercayai jargon.

Karena dalam pembangunan, yang paling berbahaya bukan rencana yang gagal—
melainkan rencana yang terlalu cepat dianggap berhasil.***

 

*Mandailing Epicentum adalah wadah yang siap untuk terus memberi kritik, motivasi dan support untuk Pemkab Madina.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertumbuhan Transportasi di Mandailing Masa Kolonial

    Pertumbuhan Transportasi di Mandailing Masa Kolonial

    • calendar_month Kamis, 2 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Askolani Nasution Budayawan Tanggal 15 Desember 1847, Belanda menggalakkan kebijakan tanaman kopi di kawasan Mandailing Angkola. Asisten Residen A.P. Godon melibatkan pemerintahan raja-raja tradisional untuk memobilisasi budi daya kopi secara massal. Pemerintah kolonial memaksa setiap penduduk untuk menanam kopi dan hasilnya wajib dijual kepada Belanda dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetapi sampai […]

  • Pedagang Pupuk: Sudah 3 Bulan Pupuk Tak Datang

    Pedagang Pupuk: Sudah 3 Bulan Pupuk Tak Datang

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kelangkaan pupuk bersubsidi zenis ZA dan Ponska di Mandailing Natal (Madina) diakui pihak pedagang kebenarannya. Aswin, seorang penjual pupuk dan obat-obatan pertanian di Panyabungan menyatakan, Jum’at (25/10/2013) bahwa sudah 3 bulan terakhir pupuk ZA dan Ponska tidak masuk. “Jadi ada kelangkaan. Kita dengar informasi bahwa ada kekosongan barang, dan sudah banyak […]

  • Penjelasan Ilmiah Soal Fenomena Hujan Es

    Penjelasan Ilmiah Soal Fenomena Hujan Es

    • calendar_month Jumat, 5 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Hujan es yang terjadi di Desa Simaninggir Kecamatan Siabu, Mandailing Natal, Rabu sore (3/5/2017) mengejutkan warga. Lantas muncul pelbagai pertanyaan di benak warga, mengapa timbul hujan es? Apa arti fenomena ini? Berdasar paparan Kepala BBTMC – BPPT, Dr Tri Handoko Seto, S.Si, M.Sc, fenomena ini sangat bisa dijelaskan secara meteorologis: musim dingin di kawasan […]

  • Umak-Umak Pengajian Undang Atika, Karena Dinilai Calon Pemimpin Cerdas

    Umak-Umak Pengajian Undang Atika, Karena Dinilai Calon Pemimpin Cerdas

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN SELATAN (Mandailing Online) – Kaum ibu-ibu pengajian wirid yasin Pagaran Tonga, Desa Hayuraja, Kecamatan Panyabungan Selatan mengundang calon wakil bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution ke pengajian itu. Atika hadir di pengajian itu pada Sabtu (24/10/2020) lalu. Penyambutan calon wakil calon bupati nomor 1 itu diiringi dengan pemembacaan suroh yasin tiga kali berturut turut, […]

  • Baliho Maklumat dan Kasus Taman Raja Batu

    Baliho Maklumat dan Kasus Taman Raja Batu

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Jika anda pernah melintas di jalan raya Lintas Sumatera titik Desa Parbangunan, Panyabungan Mandailing Natal pada Pebruari 2018, anda mungkin melihat satu baliho dipajang di dekat Taman Raja Batu. Baliho itu menghadap jalan raya, tak jauh dari simpang menuju komplek perkantoran pemkab Mandailing Natal (Madina) sehingga mudah terlihat oleh pelintas. Baliho itu berisi maklumat […]

  • Bank BRI Sidimpuan Dirampok, Rp900 Juta Melayang

    Bank BRI Sidimpuan Dirampok, Rp900 Juta Melayang

    • calendar_month Selasa, 24 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kawanan perampok membobol Bank BRI Unit, Jalan Sisingamangaraja, Kota Padang Sidimpuan, Sabtu (21/01/2012) malam. Perampok berhasil menggasak uang dari dalam brankas BRI sebanyak Rp900 juta. Berdasarkan hasil rekaman CCTV, kawanan perampok membutuhkan waktu lima jam, Sabtu (21/01/2012) pukul 21.20 WIB hingga Ahad (22/01/2012) pukul 02.30 WIB, untuk membobol brankas berisi uang Rp900 juta dengan […]

expand_less