Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Nyawa Hilang Di Tangan Saudara Karena Mencekik Ibu, Salah Siapa?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 20 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh : Novida Sari, S.Kom
Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal

Pertiwi kembali berduka, SN (18) seorang adik kandung korban dengan terpaksa membunuh abang kandungnya sendiri AN (34). Pelaku menggunakan kayu yang diambil dari samping rumahnya lalu memukul abangnya di bagian kepala sebanyak 6 kali hingga tewas di tempat kejadian.

SN adik kandung korban dengan terpaksa melakukannya karena AN (34) karena mencekik leher ibunya. Selain itu, korban juga diduga hendak menusuk pakai gunting yang sudah dipersiapkan (beritatapanuli.com, 11 Maret 2021).

Sekularisme Menggerus Bakti

Ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan seharusnya menjadi sosok yang dihormati dan disegani. Keridhoannya sebagai pemilik doa terampuh sejagad di dunia adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan selama ia hidup. Sosok keramat yang dapat menyelamatkan atau malah menjerumuskan anak di hadapan Rabb-Nya kelak.

Namun tampaknya sekularisme yang menggerogoti negeri ini telah menghilangkan segala jenis kebaikan dan investasi pahala yang bisa didapatkan melalui orang tua. Seperti tidak menyadari kelak akan menjadi orang tua yang renta, kasus ini telah menambah rentetan daftar panjang anak-anak durhaka pada orang tua. Padahal agama manapun tidak ada yang menganjurkan untuk melupakan jasa dan kebaikan orang tua. Mereka adalah sosok yang tidak bisa dihilangkan perannya di dalam menjalani lika-liku kehidupan sejak dilahirkan hingga dewasa dan menikah.

Sekularisme memang banyak menghasilkan orangtua yang salah dalam pengasuhan, sehingga menimbulkan luka yang sulit untuk dihapuskan. Di satu sisi, kesalahan pengasuhan orang tua diakibatkan oleh rusaknya sistem pergaulan, tatanan masyarakat dan sulitnya ekonomi sehingga menitikberatkan kesalahan pada orang tua bukanlah suatu keniscayaan. Karena bagaimanapun orang tua dan keluarga adalah benteng terakhir dalam mendidik dan membesarkan anak mereka di tengah gempuran pengrusakan akidah dan moral.

Negara Benteng Utama Pertahanan Keluarga

Berharap peran negara di tengah sistem kapitalisme yang nyatanya menjauhkan agama dari kehidupan tak ubahnya bagaikan pungguk merindukan bulan. Ketahanan keluarga diserahkan kembali pada individu-individu keluarga yang seharusnya dinaunginya. Keluarga lebih sibuk memperhatikan urusan perut yang kian sulit dijangkau di tengah dibukanya keran liberalisasi budaya dan peradaban asing yang kebanyakan berlawanan dengan budaya dan peradaban Islam dan ketimuran.

Namun Islam adalah ajaran yang paripurna, di dalamnya terdapat aturan yang mahasempurna untuk diterapkan di tengah-tengah manusia. Keberadaannya sebagai benteng utama yang menghadang dan melindungi segala jenis kerusakan di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana sabda Rasul SAW, “Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâ`ihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in ya`muru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu

Artinya : “Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika dia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika dia memerintahkan yang selainnya maka dia harus bertanggungjawab atasnya)” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Hadits ini memberikan makna bahawa keberadaan seorang al-imâm atau khalifah itu akan menjadikan umat Islam memiliki junnah atau perisai yang melindungi umat Islam dari berbagai marabahaya, keburukan, kemudaratan, kezaliman, perusakan moral dan sebagainya.

Nampak jelas fakta hari ini, dengan ketiadaan Imam yang dimaksudkan oleh hukum syara’ yakni Khilafah atau Imarah telah terjadi. Hilangnya makna yuttaqâ bihi (berlindung dengannya) bukan menjadikan imam sebagai perisai dalam pertempuran. Tetapi maknanya adalah masyarakat berlindung dengannya dari keburukan musuh, para pembuat kerusakan, kezaliman dan segala bentuk keburukan dan kemudaratan.

Karena imam itu memerintahkan fa in amara bitaqwallâhi (imam memerintahkan ketakwaan) bukan dengan penjauhan agama dari kehidupan. Sehingga apabila imam tersebut berlaku adil maka baginya pahala. Ini sekaligus menunjukkan dengan apa seorang imam menjalankan pengurusannya kepada rakyat dan orang-orang yang diurusnya.

Tidak seperti hari ini, Negara lebih sibuk mencari investor swasta, asing dan aseng yang hanya mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memperhatikan untuk siapa sebenarnya kekayaan alam itu dianugerahkan Allah SWT.

Di samping itu, Negara hari ini lebih serius menjaga kepentingan diri dan kelompoknya daripada menjaga keutuhan keluarga. Meskipun kerusakan dan kebobrokan dari kebijakan sekularisme ini telah merambah ke seluruh penjuru negeri, muda maupun tua. Anak dan orang tuapun bersaing dan saling membunuh demi nafsu dunia. Keserakahan yang telah menggantikan posisi moral dan akhlak yang seharusnya bersemayam di dalam diri.

Kita tidak perlu lagi menunggu kasus anak lain yang mencekik leher orang tuanya dan berakhir kehilangan nyawa di tangan saudara kandung sendiri. Karena sebenarnya kapitalisme yang dilahirkan dari sekularismelah yang menjadi penyebabnya. Padahal Allah SWT telah menantang keimanan kita untuk mengimani hukum yang berasal darinya yakni Islam, sebagaimana firman Allah SAW:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya : “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”(TQS Al Maidah : 50)

Oleh karenanya, sudah seharusnya muslim beriman menjawab seruan Allah SWT untuk mengambil hukum yang berasal dari Allah SWT agar tercipta Islam Rahmatan Lil Alamin.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Askolani Nasution (Bahan pada Sarasehan Kebudayaan Mandailing, Jakarta, 1 Juni 2013) Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut: 1.Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain: […]

  • Mencari Keluarga Ayah

    Mencari Keluarga Ayah

    • calendar_month Senin, 6 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Seorang keturunan Mandailing bernama Tapian Suri Sundari yang berdomisili di Jalan R Wolter Monginsidi No. 210, Yosomulyo 21D, Kodya Metro Lampung saat ini sedang berjuang mencari keberadaan ayah kandungnya bernama Aziz Nasution. Tapian Suri Sundari tidak pernah bertemu sang ayah, karena sang ayah sudah menghilang ketika Tapian Suri Sundari masih di dalam kandungan. Hingga kini […]

  • Massa Geruduk Poldasu Desak Pemilik PT Sago Nauli Ditangkap

    Massa Geruduk Poldasu Desak Pemilik PT Sago Nauli Ditangkap

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      MEDAN – Puluhan massa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Hukum Indonesia melakukan unjuk rasa di Poldasu, Kamis (28/5) siang. Mereka menuntut Kapoldasu Irjen Eko Hadi Sutedjo menangkap IS selaku pemilik PT Sago Nauli, yang dinilai melakukan propaganda dan teror terhadap Paijan dan keluarganya di Desa Muara Pertemuan, Kecamatan Batahan, Mandailing Natal. Tindakan hukum yang […]

  • Pengoplos Beras Ditangkap

    Pengoplos Beras Ditangkap

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Stabat, Masyarakat Stabat, Kabupaten Langkat resah. Pasalnya, beras palsu telah beredar di sejumlah pasar di daerah tersebut. Belum diketahui berapa ton beras palsu yang telah beredar dan masih dalam penyelidikan petugas kepolisian. Resahnya warga atas beredarnya beras palsu, telah dilaporkan ke Polres Langkat. Dari hasil penyelidikan, petugas akhirnya mengamankan Asiong (40) warga Jalan Sempurna, Kelurahan […]

  • Mahasiswa Desak Kejatisu Tetapkan Tersangka Kasus Taman Raja Batu

    Mahasiswa Desak Kejatisu Tetapkan Tersangka Kasus Taman Raja Batu

    • calendar_month Kamis, 4 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rahman Simanjuntak saat melakukan orasi di depan kantor Kejatisu, Kamis (4/7). (foto : Ima Tabagsel)   MEDAN (Mandailing Online) : Mahasiswa kembali berunjukrasa di Kejatisu, menuntut penetapan nama-nama tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Taman Raja Batu dan Tapian Sirisiri di Madina. Unjukrasa dengan massa sekitar 600 orang itu dimotori Ikatan Mahasiswa Tapanuli Bagian Selatan (Ima […]

  • Adi Mansar: Modus KTP di PSU Harus Diantisipasi

    Adi Mansar: Modus KTP di PSU Harus Diantisipasi

    • calendar_month Kamis, 22 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemanfaatan KTP secara sistematis dan terencana dilakukan pihak tertentu dikhawtirkan dapat berakibat gangguan perolehan suara pada pelaksanaan pemungutan suara ulang (PSU) Pilkada Madina. Pola mengumpulkan KTP elektronik milik sejumlah warga yang terdaftar dalam DPT di tiga TPS harus menjadi perhatian semua pihak. Kekhawtiran itu Dr H. Adi Mansar, SH, M.Hum kuasa […]

expand_less