Selasa, 21 Apr 2026
light_mode

Organik Terjal

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2020
  • print Cetak

Menelusur Perusahaan yang Didirikan Petani (bagian 3)

Oleh : Dahlan Iskan

Beras organik PT Pengayom siap ekspor

Ternyata Indonesia memang sudah bisa ekspor beras. Ironi tapi nyata. Dan ekspor itu ternyata dari Desa Kebon Agung, Sidoharjo, Wonogiri.

”Tadi malam kami kerja sampai larut malam. Menaikkan beras ke kontainer,” ujar Mahmudsyah dalam WA-nya kepada saya kemarin.

Mahmudsyah adalah staf PT Pengayom Tani Sejagad (lihat DI’s Way kemarin).

Yang diekspor itu adalah beras organik. Hanya beras organik.

Itulah beras hasil kerja 1.600 petani organik di Wonogiri. Yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik. Yang asosiasi itu menjadi pemegang saham 50 persen PT Pengayom.

Ini adalah tahun kedua PT Pengayom ekspor beras. Tahun lalu jumlah ekspornya 160 ton. Tahun ini naik menjadi 230 ton. Itu sesuai dengan komitmen yang datang dari Amerika, Singapura, dan Prancis.

Saya sungguh angkat topi –belakangan saya memang sering bertopi– pada kemampuan ekspor petani Wonogiri itu.

Jumlah ekspornya tidak penting bagi saya. Tapi bahwa bisa sampai ekspor, itu tidak mudah. Mencari partnernya tidak mudah. Merintisnya tidak mudah.

Memenuhi persyaratannya tidak mudah. Administrasi ekspornya njelimet.

Walhasil mereka membuktikan diri bisa ekspor. Kita-kita pengusaha yang mengaku lebih terpelajar tentu malu dengan para petani itu.

”Pernah sekali waktu kami kena komplain. Ditemukan batu kerikil satu buah di beras kami,” ujar Mahmudsyah. ”Kami pun menelusuri asal usul batu kecil itu. Rasanya tidak mungkin. Kami sudah memasang saringan di proses pengepakan beras kami,” ujarnya.

Akhirnya ditemukan. Ada orang masuk gudang tanpa lepas sepatu. ”Sejak itu pengawasan yang masuk ke sini sangat ketat,” tambahnya. ”Setelah kami bisa menjelaskan asal usul batu itu akhirnya kami tidak diklaim,” katanya.

Satu batu kerikil pun sudah akan bisa menjegal mereka. Apalagi kalau ada batu sebesar sembilan naga. ”Sejak itu tidak pernah ada lagi masalah,” katanya.

Merintis pasar ekspor memang sulit. Tapi lebih sulit lagi saat meyakinkan petani –agar mau beralih ke tanaman padi organik.

Perintis utamanya adalah almarhum Pak Budi, ayahanda Hanjar Lukitojati, direktur PT Pengayom itu.

Pak Budi hanya petani tamatan SD. Tapi ia menemukan ramuan pupuk cair pada zamannya. Almarhum adalah tipe petani yang sangat prihatin atas kian luasnya tanah pertanian yang mati –akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Pak Budi punya keinginan menghidupkan kembali tanah mati itu –lewat pupuk kandang dan pupuk cair organik bikinannya.

Waktu itu Hanjar masih sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Tidak bisa membantu ayahnya merealisasikan ide-ide mulianya itu.

Tapi almarhum menemukan anak muda lulusan STM yang mau dibina. Namanya Harjanto. Waktu tamat STM Harjanto jadi sopir Suzuki Carry. Tugasnya mengantar penumpang bus yang baru turun dari Jakarta untuk ke kampung masing-masing.

Zaman itu, kata Harjanto, bisa mengemudikan mobil jadi pujaan gadis-gadis desa. Akhirnya ia kawin dengan gadis Kebon Agung, tetangga desanya.

Tugas Harjanto adalah mencari petani yang mau pindah dari pupuk kimia. ”Sulit sekali. Petani selalu bilang, kalau hasil panennya merosot siapa yang menanggung,” ujar Harjanto.

Akhirnya Pak Budi bikin jaminan. ”Setiap penurunan hasil panen ditutup oleh Pak Budi,” kenang Harjanto.

Didapatlah tiga petani di desa Kebon Agung. Masing-masing punya sawah 3.000 meter persegi. Mereka diajari cara-cara bertani organik.

Misal: sebelum tanah dibajak oleh traktor dihamburi dulu pupuk kotoran sapi.

Hasilnya: panen mereka turun 50 persen.

Biasanya 10 ton tinggal 5 ton.

Pak Budi pun membeli hasil itu dengan harga yang sama dengan 10 ton gabah padi biasa.

Tahun berikutnya bisa naik  sedikit. Tahun ketiga baru bisa 8 ton. Pak Budi terus membelinya dengan harga 10 ton gabah biasa.

Delapan ton itulah hasil terbesarnya. Tidak pernah bisa sama: 10 ton.

Tapi karena harga beras organik 2,5 kali harga beras biasa hasil rupiahnya sudah jauh lebih besar. Saat itulah Pak Budi terbebas dari mensubsidi petani.

Hasil yang nyata itu mulai menarik perhatian petani lain. Anggota petani organik kian banyak.

Tapi Pak Budi keburu meninggal dunia.

Hanjar masih belum tamat sekolah.

”Kegiatan kami sempat terhenti tiga tahun,” ujar Harjanto.

Setelah tamat dari Gontor barulah Hanjar meneruskan rintisan bapaknya. Itu pun harus molor: Hanjar harus mengabdi dulu sebagai guru di Bogor –sesuai doktrin Pondok Gontor. ”Sebenarnya saya sudah mendaftar di IPB, tapi gak jadi. Kegiatan bapak saya sudah vacum terlalu lama,” kata Hanjar.

Hanjar (kiri) dan timnya yang penuh energi bersama Dahlan Iskan (DI’s Way)

Prestasi Hanjar pasti membuat haru bapaknya –meski tidak sempat melihatnya. Mulailah dibentuk asosiasi petani organik. Kini anggotanya sudah 1.600 petani.

Kuncinya adalah keyakinan: tanah mati bisa dihidupkan. Pupuk kimia bisa diganti pupuk hasil ternak petani sendiri. Tani organik bisa lebih menguntungkan.

Tapi memang ada biaya transisi: tiga tahun pertama itu. Saat hasil panen petani menurun sementara itu.

Memang begitu terjal awalnya. Tapi begitu luhur hasilnya.

Dicopy dari : DI’s Way

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua SMSI Sumut Dukung Kapolda Whisnu Hermawan Berantas Narkoba

    Ketua SMSI Sumut Dukung Kapolda Whisnu Hermawan Berantas Narkoba

    • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Medan, ( Mandailing Online ) Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Sumatera Utara mendukung penuh Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto SIK MH memberantas peredaran narkoba di Sumut. SMSI Sumut memastikan ikut menjadi bagian dari upaya pemberantasan tersebut bersama jajaran kepolisian di seluruh wilayah Sumut. Hal tersebut disampaikan langsung Ketua SMSI Sumut, Erris […]

  • RI Tambah Utang ke Jepang

    RI Tambah Utang ke Jepang

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NUSA DUA–Indonesia kembali menambah utang luar negerinya ke Jepang. Penambahan utang luar negeri itu akan disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (10/12) disela-sela Bali Democracy Forum III 2010. Perjanjian kerjasama RI dengan Jepang akan ditandatangani Menlu RI Marty Natalegawa dengan Menlu Jepang Seiji Maihara di Westin Hotel, Nusa Dua, Jumat (10/12) pagi. Sebelum penandatangan […]

  • Surat Pengunduran Diri Bupati Madina Dinilai Lebay

    Surat Pengunduran Diri Bupati Madina Dinilai Lebay

    • calendar_month Senin, 22 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIANTAR (Mandailing Online) – Surat pengajuan pengunduran diri Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution dinilai telah menimbulkan goncangan. Oleh karena itu, perantau asal Mandailing Natal (Madina) meminta bupati mencabut surat pengajuan pengunduran dirinya. Demikian rilis pers yang dikirim Ilal Mahdi Nasution, putra asal Muara Bangko, Ranto Baek yang saat ini berdomisili di Kota Pematangsiantar yang […]

  • Ini Dia Kontrak Politik Yusuf-Imron dengan PKS

    Ini Dia Kontrak Politik Yusuf-Imron dengan PKS

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah resmi mendukung dan memperjuangkan pemenangan pasangan calon bupati/wakil bupati Madina Drs. HM. Yusuf Nasution,Msi-H. Imron Lubis,S.Pd.MM, Minggu malam (23/8) lalu. Dan kontrak politik antara PKS dengan pasangan Yusuf-Imron tentu menjadi salah satu landasan bagi PKS dan pasangan Yusuf-Imron dalam membangun Madina ke depan yang harus direalisaskan […]

  • Berdiri Sejak 2007, Lubuk Kapundung II Belum Punya SD

    Berdiri Sejak 2007, Lubuk Kapundung II Belum Punya SD

    • calendar_month Senin, 30 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LUBUK KAPUNDUNG II (Mandailing Online) – Selain pembangunan fisik (infrastruktur), pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) juga sangat perlu dalam memajukan daerah. Salah satunya adalah pendidikan. Desa Lubuk Kapundung II di wilayah Siulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis tidak memiliki dua keistimewaan itu. Selain jalan darat yang belum terealisasi, hingga hari ini sejak mekar pada tahun 2007 […]

  • Pencarian Warga Tano Bato yang Hilang Dilakukan Selama 7 Hari

    Pencarian Warga Tano Bato yang Hilang Dilakukan Selama 7 Hari

    • calendar_month Rabu, 11 Jan 2023
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN SELATAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Jafar Sukhairi mengatakan pencarian warga Kelurahan Tano Bato, Kecamatan Panyabungan Selatan, yang hilang sejak Minggu (08/1) akan dilakukan selama tujuh hari. “Apabila dalam jangka waktu tersebut pencarian belum membuahkan hasil akan dilakukan rapat koordinasi untuk mengambil langkah berikutnya,” kata Sukhairi saat berkunjung ke kediaman […]

expand_less