Jumat, 6 Nov 2026
light_mode

Organik Terjal

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2020
  • print Cetak

Menelusur Perusahaan yang Didirikan Petani (bagian 3)

Oleh : Dahlan Iskan

Beras organik PT Pengayom siap ekspor

Ternyata Indonesia memang sudah bisa ekspor beras. Ironi tapi nyata. Dan ekspor itu ternyata dari Desa Kebon Agung, Sidoharjo, Wonogiri.

”Tadi malam kami kerja sampai larut malam. Menaikkan beras ke kontainer,” ujar Mahmudsyah dalam WA-nya kepada saya kemarin.

Mahmudsyah adalah staf PT Pengayom Tani Sejagad (lihat DI’s Way kemarin).

Yang diekspor itu adalah beras organik. Hanya beras organik.

Itulah beras hasil kerja 1.600 petani organik di Wonogiri. Yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik. Yang asosiasi itu menjadi pemegang saham 50 persen PT Pengayom.

Ini adalah tahun kedua PT Pengayom ekspor beras. Tahun lalu jumlah ekspornya 160 ton. Tahun ini naik menjadi 230 ton. Itu sesuai dengan komitmen yang datang dari Amerika, Singapura, dan Prancis.

Saya sungguh angkat topi –belakangan saya memang sering bertopi– pada kemampuan ekspor petani Wonogiri itu.

Jumlah ekspornya tidak penting bagi saya. Tapi bahwa bisa sampai ekspor, itu tidak mudah. Mencari partnernya tidak mudah. Merintisnya tidak mudah.

Memenuhi persyaratannya tidak mudah. Administrasi ekspornya njelimet.

Walhasil mereka membuktikan diri bisa ekspor. Kita-kita pengusaha yang mengaku lebih terpelajar tentu malu dengan para petani itu.

”Pernah sekali waktu kami kena komplain. Ditemukan batu kerikil satu buah di beras kami,” ujar Mahmudsyah. ”Kami pun menelusuri asal usul batu kecil itu. Rasanya tidak mungkin. Kami sudah memasang saringan di proses pengepakan beras kami,” ujarnya.

Akhirnya ditemukan. Ada orang masuk gudang tanpa lepas sepatu. ”Sejak itu pengawasan yang masuk ke sini sangat ketat,” tambahnya. ”Setelah kami bisa menjelaskan asal usul batu itu akhirnya kami tidak diklaim,” katanya.

Satu batu kerikil pun sudah akan bisa menjegal mereka. Apalagi kalau ada batu sebesar sembilan naga. ”Sejak itu tidak pernah ada lagi masalah,” katanya.

Merintis pasar ekspor memang sulit. Tapi lebih sulit lagi saat meyakinkan petani –agar mau beralih ke tanaman padi organik.

Perintis utamanya adalah almarhum Pak Budi, ayahanda Hanjar Lukitojati, direktur PT Pengayom itu.

Pak Budi hanya petani tamatan SD. Tapi ia menemukan ramuan pupuk cair pada zamannya. Almarhum adalah tipe petani yang sangat prihatin atas kian luasnya tanah pertanian yang mati –akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Pak Budi punya keinginan menghidupkan kembali tanah mati itu –lewat pupuk kandang dan pupuk cair organik bikinannya.

Waktu itu Hanjar masih sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Tidak bisa membantu ayahnya merealisasikan ide-ide mulianya itu.

Tapi almarhum menemukan anak muda lulusan STM yang mau dibina. Namanya Harjanto. Waktu tamat STM Harjanto jadi sopir Suzuki Carry. Tugasnya mengantar penumpang bus yang baru turun dari Jakarta untuk ke kampung masing-masing.

Zaman itu, kata Harjanto, bisa mengemudikan mobil jadi pujaan gadis-gadis desa. Akhirnya ia kawin dengan gadis Kebon Agung, tetangga desanya.

Tugas Harjanto adalah mencari petani yang mau pindah dari pupuk kimia. ”Sulit sekali. Petani selalu bilang, kalau hasil panennya merosot siapa yang menanggung,” ujar Harjanto.

Akhirnya Pak Budi bikin jaminan. ”Setiap penurunan hasil panen ditutup oleh Pak Budi,” kenang Harjanto.

Didapatlah tiga petani di desa Kebon Agung. Masing-masing punya sawah 3.000 meter persegi. Mereka diajari cara-cara bertani organik.

Misal: sebelum tanah dibajak oleh traktor dihamburi dulu pupuk kotoran sapi.

Hasilnya: panen mereka turun 50 persen.

Biasanya 10 ton tinggal 5 ton.

Pak Budi pun membeli hasil itu dengan harga yang sama dengan 10 ton gabah padi biasa.

Tahun berikutnya bisa naik  sedikit. Tahun ketiga baru bisa 8 ton. Pak Budi terus membelinya dengan harga 10 ton gabah biasa.

Delapan ton itulah hasil terbesarnya. Tidak pernah bisa sama: 10 ton.

Tapi karena harga beras organik 2,5 kali harga beras biasa hasil rupiahnya sudah jauh lebih besar. Saat itulah Pak Budi terbebas dari mensubsidi petani.

Hasil yang nyata itu mulai menarik perhatian petani lain. Anggota petani organik kian banyak.

Tapi Pak Budi keburu meninggal dunia.

Hanjar masih belum tamat sekolah.

”Kegiatan kami sempat terhenti tiga tahun,” ujar Harjanto.

Setelah tamat dari Gontor barulah Hanjar meneruskan rintisan bapaknya. Itu pun harus molor: Hanjar harus mengabdi dulu sebagai guru di Bogor –sesuai doktrin Pondok Gontor. ”Sebenarnya saya sudah mendaftar di IPB, tapi gak jadi. Kegiatan bapak saya sudah vacum terlalu lama,” kata Hanjar.

Hanjar (kiri) dan timnya yang penuh energi bersama Dahlan Iskan (DI’s Way)

Prestasi Hanjar pasti membuat haru bapaknya –meski tidak sempat melihatnya. Mulailah dibentuk asosiasi petani organik. Kini anggotanya sudah 1.600 petani.

Kuncinya adalah keyakinan: tanah mati bisa dihidupkan. Pupuk kimia bisa diganti pupuk hasil ternak petani sendiri. Tani organik bisa lebih menguntungkan.

Tapi memang ada biaya transisi: tiga tahun pertama itu. Saat hasil panen petani menurun sementara itu.

Memang begitu terjal awalnya. Tapi begitu luhur hasilnya.

Dicopy dari : DI’s Way

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menkominfo Usulkan Kebebasan Pers Yang Berkarakter

    Menkominfo Usulkan Kebebasan Pers Yang Berkarakter

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kupang, Menkominfo Tifatul Sembiring menyatakan bahwa komitmen pemerintah atas kebebasan pers tetap dihormati, namun ia mengusulkan kepada kalangan pers supaya kebebasan pers itu yang berkarakter. Saat peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, NTT, Rabu siang, ia mengatakan bahwa ada enam ciri kebebasan pers yang berkarakter, di antaranya bermoral, ada etika sesuai kode etik […]

  • Banyak Kontraktor di Madina Belum Layak Dapat Paket

    Banyak Kontraktor di Madina Belum Layak Dapat Paket

    • calendar_month Rabu, 2 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pembuatan dokumen penawaran paket proyek fisik melibatkan PNS di Dinas PU Mandailing Natal (Madina) diakui salah satu pejabat di instansi itu. “Sepanjang tidak menganggu tugas, bisa pegawai buat dokemen penawaran proyek,” kata Sahruddin salah seorang PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) menjawab wartawan pada Jum’at (27/9/2013) lalu usai mengikuti rapat di ruang Sekda […]

  • Banjir Landa Ranto Baek

    Banjir Landa Ranto Baek

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Bencana banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal, Senin (29/11/2010) sekira pukul 17.00 WIB. Bencana banjir terjadi di 120 km dari Kota Panyabungan, Ibukota Kabupaten Madina. Banjir di Ranto Baek terjadi akibat meluapnya Sungai Simpang Talap, setelah wilayah tersebut diguyur hujan disertai angin kencang sejak pukul 12.00 WIB. Dari keterangan […]

  • Menanti Sikap Tegas Indonesia Soal Muslim Uighur

    Menanti Sikap Tegas Indonesia Soal Muslim Uighur

    • calendar_month Rabu, 19 Des 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Laporan-laporan soal kondisi mengenaskan Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, Cina, yang mengalami penahanan dalam kamp-kamp reedukasi di Xinjiang terus bermunculan. Belakangan ini, sejumlah media internasional mengungkapkan, Pemerintah Cina mempekerjakan paksa para tahanan etnis Uighur dan Kazakhs di kamp-kamp reedukasi tersebut. Wilayah Xinjiang yang terletak di bagian utara Cina dihuni oleh mayorits Muslim dari etnis […]

  • 10,46% kosmetik di Sumut tak aman

    10,46% kosmetik di Sumut tak aman

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kaum wanita di Sumatera Utara diingatkan dalam menggunakan kosmetik. Pasalnya, kosmetik yang beredar di Sumut masih belum aman Dari hasil uji kosmetik tahun 2010 yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Sumut, sebanyak 10,46 persen kosmetik tidak memenuhi syarat kesehatan. Sebagian terbukti mengandung pewarna yang dilarang. Bahkan, masih ada yang mengandung […]

  • Kejati Periksa 20 Saksi Dugaan Korupsi Pemkab Batubara

    Kejati Periksa 20 Saksi Dugaan Korupsi Pemkab Batubara

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Tim penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) telah memeriksa sedikitnya 20 saksi terkait dugaan korupsi dana pembangunan kantor tujuh Satuan Kerja Prangkat Daerah (SKPD) senilai Rp6,7 miliar. “Sudah ada 20 saksi setingkat kepala dinas kita periksa, disamping sejumlah rekanan proyek,” kata Kasi Penerangan Hukum/Humas Kejati Sumut Edi Irsan Kurniwan Tarigan di Medan, Kamis […]

expand_less