Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Peradaban Sungai Batang Gadis dan Batang Angkola (Bagian II)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Falah Nasution
Guru Sejarah SMAN 2 Plus Panyabungan/Alumni Pend. Sejarah FIS UNIMED

Menurut Drs. Askolani, selaku budayawan Mandailing, mengatakan bahwa sungai Batang Angkola menjadi rute transportasi air dalam pengangkutan kapur barus dan kemenyan dari dataran tinggi Tapanuli Bagian Selatan menuju Barus melewati laut barat Sumatera pada perdagangan kapur barus di Barus saat itu. Sedangkan sungai Batang Gadis terdapat penambangan emas di sekitaran sungainya. Hal itu memiliki keterkaitan dengan sebutan pada tanah Mandailing sebagai “Tano Sere” atau tanah emas. Penambangan emas disekitaran sungai Batang Gadis diperkuat lagi dengan adanya lubang penggalian emas oleh masyarakat pada masa itu yang terletak tidak jauh dari Lumpatan Harimau (sekitaran muara).

Selain hal di atas, awal abad ke-16 M pada masa kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, pulau Sumatera dikatakan sebagai penghasil emas dengan jumlah yang banyak diperoleh dari pedalaman ke Pedir di pantai Timur Aceh (MeKinnon, 2013: 19). Pernyataan itu ditulis seorang penulis Portugis bernama Tome Pires yang dapat memberikan penguatan bahwa daerah aliran sungai (DAS) Batang Gadis dan Batang Angkola penghasil emas dengan adanya penambangan emas pada masa itu.

Pernyataan bahwa sungai Batang Angkola sebagai rute perdagangan dalam perdagangan kapur barus dan kemenyan di Barus dapat dikaitkan dan dikatkan dengan sumber-sumber yang menyinggung daerah-daerah di Tapanuli Bagian Selatan sebagai penghasil kapur barus dan kemenyan. Dalam sebuah jurnal yang berjudul “The Trans-Sumatra Trade and the Ethnicization of the Batak” oleh Leonard Y. Andaya (2002) menyebut bahwa keberadaan kapur barus dan kemenyan tumbuh di tanah Sumatera, yaitu Singkel dan Air Bangis di Sumatera barat laut. Selain itu, dalam  jurnal ini dikatakan bahwa jenis tanaman ini ditemukan di sebelah utara Padang Sidempuan ke daerah sekitar Tarutung. Sehingga tidak menutup kemungkinan sungai Batang Angkola dijadikan sebagai rute perdagangan mengangkut komoditi kapur barus dan kemenyan menuju Barus.

Pada perkembangan selanjutnya, akhir abad ke-8 M Kerajaan Sriwijaya menguasai perdagangan (monopoli) kapur barus dengan salah satunya mencegah ekspor kapur barus ke pelabuhan di Delta Mekong. Adanya monopoli perdagangan kapur barus oleh Sriwijaya di daerah laut barat Sumatera ini telah melibatkan daerah aliran sungai Batang Angkola dan sungai Batang Gadis sebagai lintasan perdagangan dalam pengangkutan komoditi kapur barus dan kemenyan dari huta barat laut Sumatera. Padang Lawas sebagai pusat pengumpulan komoditi dan selanjutnya komoditi tersebut dibawa melintasi pegunungan menuju lembah Angkola dekat Si Abu (Siabu sekarang) dan dilanjutkan ke selatan melalui Bonan Dolok ke Penyabungan dan Hutanopa di lembah Batang Gadis dan melewati beberapa daerah sampai tiba di kerajaan Sriwijaya.

Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola: Situs-situs Hindu-Buddha

Jalur perdagangan yang telah ada di sungai Batang Gadis dan Batang Angkola serta di daerah aliran sungai kedua sungai tersebut telah meninggalkan hasil kebudayaan masyarakatnya. Hasil kebudayaan yang ditinggalkan berupa candi-candi atau dalam sebutan pada masyarakat Mandailing disebut “biara” yang bercorak Hindu-Buddha. Hal tersebut memberikan tanda bahwa pada masa lalu di daerah kedua sungai tersebut masyarakat dengan kebudayaan Hindu-Buddha datang dan bertempat tinggal di daerah tersebut, sehingga melahirkan situs-situs berkebudyaan yang dibawanya.

Pada masyarakat Hindu-Buddha di Nusantara, bangunan candi bukanlah sekedar bangunan saja.  Candi bagi masyarakatnya memiliki fungsi dan berarti penting dalam politik dan religi. Candi pada masyarakat Hindu memilik fungsi sebagai tempat pemakaman, sedangkan candi pada masyarakat Buddha berfungsi sebagai tempat peribadatan (Darini, 2013: 59-60).

Peninggalan kebudayaan bercorak Hindu-Buddha di DAS Batang Gadis dan Batang Angkola ditemukan 5 situs yakni situs Biara Dagang dan Biara Balik atau Saba Biara di Pidoli Lombang, Panyabungan; situs Huta Siantar di Panyabungan dan situs Sibaluang di Siabu, serta situs Biara Simangambat di Desa Simangambat (Soedewo, 2008: 49). Jika dikelompokkan berdasarkan daerah ditemukannya situs-situs candi tersebut pada setiap aliran kedua sungai, maka dapat dilihat situs Biara Dagang dan Biara Balik atau Saba Biara di Pidoli Lombang, Panyabungan dan Situs Huta Siantar di Panyabungan terdapat di DAS Batang Gadis sedangkan Situs Sibaluang di Siabu dan Situs Biara Simangambat di Desa Simangambat terdapat di DAS Batang Angkola.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dianalisis antara keberadaan kelima situs dengan perdagangan internasional dan perdagangan Sumatera pada saat itu memiliki keterkaitan dan hubungan antara keduanya. Selain itu, adanya aktifitas perdagangan berbagai suku bangsa di Sumatera Timur pada awal tarikh telah meninggalkan peradaban manusia berupa jalur perdagangan dan bangunan megah dan indah berupa candi-candi.

Referensi

Andaya, Leonard Y. 2002. The Trans-Sumatra Trade and the Ethnicization of the Batak. KITLV. Volume 158, No. 3. Diunduh dari situs http://www.jstor.org/stable/27865844

Asnan, Gusti. 2016. Sungai  & Sejarah Sumatra. Yogyakarta: Ombak

Azhari, Ichwan. 2017. “Politik Historiografi” Sejarah Lokal: Kisah Kemenyan dan Kapur dari Barus, Sumatera Utara. Jurnal Sejarah dan Budaya No. 1.

Darini, Ririn. 2013. Sejarah Kebudayaan Indonesia Masa Hindu-Buddha. Yogyakarta: Ombak

MeKinnon, Edmund Edwards. Kota China: Konteks dan Makna Dalam Perdagangan Asia Tenggara pada Abad Kedua Belas hingga Abad Keempat Belas. Medan Estate: Unimed Press

Reid, Anthony. (2011). Menuju Sejarah Sumatrs: Antara Indonesia dan Dunia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

BPS Kabupaten Mandailing Natal. 2010. Statistik Daerah Kabupaten Mandailing Natal 2010.

Diunduh dari situs https://mandailingnatalkab.bps.go.id

Soedewo, Ery. 2008. Sumberdaya Lahan Basah di Situs-Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Aliran Sungai Batang Gadis dan Batang Angkola. Jurnal Berkala Arkeologi Sangkhakala. Volume 22. No. 11.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PTPN IV DISOMASI

    PTPN IV DISOMASI

    • calendar_month Selasa, 2 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tenderkan Lahan Bermasalah PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PT. Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) Medan akan digugat ke pengadilan karena diduga telah menenderkan lahan yang bermasalah kepada kontraktor untuk Pekerjaan Tanaman Baru Kelapa Sawit Tahun 2012 di proyek Plasma Madina Paket II KUD Setia Budi. Gugatan ini akan dilayangkan tim advokad dari Kantor Advokat Law Office […]

  • Rawan Longsor, Kementerian PUPR Bangun Tembok Penahan di Jalinsum Morsip

    Rawan Longsor, Kementerian PUPR Bangun Tembok Penahan di Jalinsum Morsip

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Jalan Nasional di titik Desa Tanjung Alai, Dusun Pintu Angin, Kecamatan Muara Sipongi (Morsip) Kabupaten Mandailing Natal sedang berlangsung pembangunan tembok penahan longsor tebing. Pembiayaan proyek ini berasal dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Titik ini termasuk rawan longsor,  dan beberapa ruas […]

  • Lantik Pejabat Eselon

    • calendar_month Kamis, 6 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Lantik: Sekretaris Daerah M Daud Batubara atas nama bupati Madina Hidayat Batubara melantik pejabat eselon II,III dan IV di gedung serba guna, Parbangunan, Rabu (4/6/2013). Sebanyak 169 PNS yang ikut dalam rotasi jabatan itu. Eselon II terdapat 6 orang. Sementara eselon III dan IV sebanak 163 orang. (foto: Maradotang Pulungan/Mandailing Online)

  • Golkar pasca Amru "Mau dibawa kemana"

    Golkar pasca Amru "Mau dibawa kemana"

    • calendar_month Sabtu, 28 Agt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Perjalanan Pilkada madina telah usai namun bagi Golkar selama ini sebagai partai pendukung incumbent masih terus menyisakan banyak pertanyaan. Mungkin persoalannya masih agak sedikit mengambang, artinya memang perlu waktu tetapi kalau kritikan itu justru sangat mendasar dan disampaikan maka sudah semestinya perlu di terima, di evaluasi dan dikerjakan dengan lebih baik. Dari awal Partai golkar […]

  • Anjloknya PAD Retribusi Pasar di Madina Ternyata Sudah Berulang

    Anjloknya PAD Retribusi Pasar di Madina Ternyata Sudah Berulang

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : ternyata anjloknya PAD retribusi pasar se Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) sudah terjadi berulang. Tahun 2022 lalu, capaian retribusi pasar juga tidak memenuhi taget. Sama hal nya pada tahun 2023 lewat. Dari daftar target realisasi retribusi pasar dan kebersihan pasar se Kabupaten Mandailing Natal tahun 2022 per 30 Desember. Tak […]

  • Serial HUT Madina ke-16: Pasar Lelang Karet Mubazir, Dana 400 Juta Sia-sia

    Serial HUT Madina ke-16: Pasar Lelang Karet Mubazir, Dana 400 Juta Sia-sia

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal memasuki Hari Ulang Tahun ke-16 pada 9 Maret 2015, dan sejauh itu pula banyak ditemukan kebijakan pemerintah daerah yang diduga salah kaprah berakibat uang negara yang nota bene uang rakyat mubazir dihamburkan. Kasus komplek bangunan pasar lelang karet di kawasan Desa Tobang Kecamatan Kotanopan, mubazir alias tak dimanfaatkan […]

expand_less