Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

Proklamasi Kemerdekaan Rakyat Maluku

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 15 Agt 2019
  • print Cetak

Potret raja Maluku bersama pengawalnya sekitar akhir abad ke-19. (Wikimedia Commons).

 

Oleh :  M. Fazil Pamungkas

 

Tak banyak orang Indonesia tahu,  lebih dari satu abad sebelumnya (1817), proklamasi kemerdekaan pernah digaungkan di Maluku. Adalah Thomas Mattulesi alias Kapitan Pattimura yang menjadi ujung tombak dari perlawanan rakyat terhadap Belanda hingga berhasil membuka jalan menuju penyusunan akta keberatan akan keberadaan Belanda di Maluku.

Proses Mencapai Kemerdekaan

Kabar rencana keberangkatan pasukan Belanda pimpinan Mayor Beetjes menuju basis kekuatan peralawanan rakyat Maluku di Pulau Saparua, Maluku Tengah cepat tersebar. Sebanyak 300 tentara, terdiri dari pasukan infanteri dan marinir, dijadwalkan berangkat pada siang 17 Mei 1817 dari Pulau Seram. Sumber lain menyebut tentara yang berangkat berjumlah 1073 orang. Sementara David Matulessy dalam bukunya, Pattimura-Pattimura Muda Bangkit Memenuhi Tuntutan Sejarah, menyebut perwira yang berangkat ada 500.

Di dalam rombongan pasukan Belanda itu turut ikut raja Sirisori Serani. Ia dipercaya dapat meredakan perlawanan kelompok Thomas Mattulesi yang terus membuat pening pemerintah Belanda.

Sehari sebelumnya, para pembesar Belanda di Ambon menerima kabar jika orang-orang Eropa di Saparua terancam oleh rakyat yang mulai melawan. M. Sapija dalam buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura menyebut jika residen Ambon segera menanggapi kabar itu dengan rapat kilat bersama pemimpin militer Belanda. “Dengan susah payah komisaris Belanda harus membentuk ekspedisi ini untuk memadamkan pemberontakan yang sudah meletus.”

Berita penyerangan itu akhirnya terdengar oleh Mattulesi dan pasukan perlawanan Maluku di Hulaliu. Pada 18 Mei, Mattulesi segera menggerakan seluruh rakyat untuk mengatur penyerangan dan pertahanan saat Beetjes tiba. Tak lupa ia juga menempatkan sejumlah mata-mata di Pelauw, sebelah utara Hulaliu, agar kedatangan pasukan Belanda dapat diketahui dengan cepat.

Dalam buku Kapitan Pattimura, I.O. Nanulaitta menuturkan betapa pentingnya peran mata-mata pada pasukan Mattulesi. Berkat merekalah berita kedatangan pasukan Belanda tersebar dengan cepat ke khalayak. “Pada waktu arombai (perahu) mulai dikumpulkan di Pelau, pengamat-pengamat rakyat segera berlari menuju ke Hulaliu untuk memberitahukan hal itu kepada para kapitan di sana.”

Tanggal 20 Mei, armada Beetjes telah sampai di Halaliu. Mattulesi kemudian mengarahkan sebagian besar pasukannya ke Saparua. Sementara yang lainnya berjaga di sekitar Halaliu. Ada sekitar 1.000 pasukan rakyat Maluku yang sudah siap menerima perintah Mattulesi di sepanjang pesisir Saparua. Genderang perang yang riuh semakin mempertinggi semangat rakyat untuk bertempur.

Kapal-kapal Beetjes yang telah tiba berusaha mengecoh rakyat dengan berputar-putar di laut. Rakyat berlarian mengikuti arah kapal agar mereka tidak dapat berlabuh. Ombak yang besar pun semakin mempersulit Beetjes untuk mendaratkan pasukannya. Akhirnya para kompeni itu menemukan tempat merapatkan kapalnya, namun di tengah hutan bakau yang sangat menguntungkan pejuang Maluku.

“Pasukan rakyat ini mempunyai tugas untuk menyerang pasukan Beetjes dari belakang, memotong jalan mereka kembali ke laut,” tulis Nanulaitta.

Setelah Beetjes melihat kesunyian di pantai, yang sebenarnya telah direncakan oleh Mattulesi, pasukan Belanda didaratkan. Saat kaki mereka menginjak tanah, Matulessi memberikan aba-aba menembak dari balik pohon. Korban pun berjatuhan dari pihak Belanda. Beetjes berusaha terus maju dan memberi perintah menembak. Namun kondisi senjata yang basah membuat mesiu tidak mau terbakar. Posisi Belanda benar-benar tidak diuntungkan.

Beetjes memutuskan menarik mundur tentaranya. Namun terlambat karena jalan menuju laut telah ditutup oleh ratusan pejuang. Pasukan Belanda pun menerobos sekuat tenaga berharap dapat mencapai laut dengan perahu mereka. Sedangkan  Beetjes sendir tewas di tengah pertempuran.

Laporan pemerintah Belanda di Ambon menyebut hanya ada empat perahu yang dapat kembali. Satu tiba tanggal 21 Mei, membawa kira-kira tiga belas orang. Beberapa hari kemudian tiba lagi satu perahu berisi dua puluh orang tentara. Sementara satu perahu berisi makanan, mesiu, dan senjata berhasil kembali, namun segera diamankan karena para penumpangnya dituduh melarikan diri tanpa sebelumnya turut bertempur.

“Hanya 30 orang tentara berhasil menyelamatkan diri. Mereka melarikan diri ke Ambon dan membawa berita malapetaka ini kepada pembesar-pembesar mereka,” tulis David.

Walau begitu, bukan berarti pihak Mattulesi mengalami kerugian yang kecil. Banyak pejuang yang terluka, dan meninggal. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak Belanda.

Detik-Detik Proklamasi

Kemenangan membawa kegembiraan di seluruh negeri. Rakyat bersuka ria menyambut para pahlawan mereka. Semalam suntuk rakyat menari dan bernyanyi merayakan keberhasilan menghalau penjajahan dari tanah Saparua.

Mampu memimpin para pejuang melawan Belanda, tidak membuat Mattulesi larut di dalamnya. Ia segera mengumpulkan para pemimpin pejuang untuk membicarakan langkah setelahnya. Ada tiga rencana penting yang dibicarakan, dan dalam waktu singkat harus dijalankan.

Pertama, tanggal 26 Mei, pemimpin rakyat dari seluruh negeri di Maluku akan dikumpulkan di Haria, salah satu daerah di Saparua. Hal itu dilakukan untuk mempertegas keberatan rakyat atas seluruh tindakan Belanda dan memberitahu alasan Mattulesi bersama pasukannya mengangkat senjata.

Kedua, mengamankan pulau Haruku, yang digunakan oleh tentara Belanda saat penyerangan ke Saparua. Mattulesi ingin membersihkan pulau itu dari sisa-sisa pasukan Belanda sebelum mereka melakukan serangan balasan. Ketiga, membangun benteng pertahanan di seluruh area Saparua dengan membuat parit-parit yang berisi bambu runcing.

“Minggu itu berjalan sangat sibuk, pasukan-pasukan dari segenap penjuru membajiri Halaliu. Di situ didirikan markas komando pertahanan rakyat,” terang Nanulaitta.

Untuk menambah daya serang pasukan rakyat, Mattulesi mengangkat Lukas Selano sebagai komandan. Sementara dua tokoh lainnya, Lukas Lisapaly dan Pattisaba, bertugas membantu seluruh persiapan dalam pertahanan dan penyerangan.

Sembari mempersiapkan kekuatan tempur, musyawarah tanggal 26 Mei tetap berjalan sesuai rencana. Para pemimpin berkumpul, didampingi tetua adatnya masing-masing. Mattulesi bersama stafnya turut hadir dalam acara besar itu.

“Kita telah bersatu untuk tidak tunduk lagi kepada perintah-perintah residen, disebabkan oleh karena mereka menindas dan memaksa rakyat atas bermacam-macam cara, sedangkan rakyat tidak mendapat imbalan untuk segala pekerjaan yang dipaksakan kepada mereka,” ucap Mattulesi dikutip dalam buku karya Sapija.

Setelah melalui dua hari proses panjang dalam suasana yang terkadang tegang dan panas, akhirnya seluruh pemimpin tiba pada satu pandangan yang sama. Kesimpulannya tertuang dalam 14 poin berisi keberatan atas keberadaan Belanda di Maluku, dan dibubuhi tanda tangan 21 orang pemimpin rakyat yang hadir. Tepat pada 29 Mei, Mereka mengumumkan hasil musyawarah besar itu, yang kemudian dikenal sebagai “Proklamasi Haria”.

Poin-poin keberatan itu mencakup seluruh bidang kehidupan, mulai dari agama, ekonomi, politik, hingga keluarga. Misalnya dalam bidang agama, Belanda dianggap mengganggu tatanan kepercayaan rakyat Maluku yang waktu itu mayoritas menganut Kristen. Sementara kebijakan Belanda yang paling ditentang adalah kerja paksa dan pengiriman laki-laki Maluku ke Batavia.

“Dengan kekerasan pemerintah itu hendak memisah semua laki-laki dari anak isterinya,” tulis Nanulaitta.

Selain itu, semua orang setuju mengangkat Thomas Mattulesi menjadi ‘panglima perang tertinggi Maluku’ yang memimpin Honimua, Nusalaut, Haruku, Ambon, Seram, dan seluruh negeri. Mattulesi pun kemudian menggunakan gelar ‘Kapitan Pattimura’, mewarisi gelar moyangnya terdahulu.

Segera setelah persiapan selesai dilakukan, naskah Proklamasi Haria disalin dan disebarkan ke seluruh Maluku agar dapat dibaca oleh rakyat. Di tiap daerah kemudian diangkat seorang kapitan yang bertanggung jawab atas pertahanan di wilayahnya. Pattimura mencurahkan seluruh tenaganya untuk persiapan pertempuran yang lebih besar melawan Belanda.

“Di atas pundak Kapitan Pattimura terletak sekarang seluruh tanggung jawab untuk memimpin rakyat dalam perang kemerdekaan ini,” kata Nanulaitta.

Sumber : Historia ( https://historia.id/politik/articles/proklamasi-kemerdekaan-rakyat-maluku  )

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • SISTEM HUKUM MANDAILING (1)

    SISTEM HUKUM MANDAILING (1)

    • calendar_month Selasa, 29 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Entitas dan Kontekstualitas Sejarah Oleh : Askolani Nasution Budayawan/Sutradara Pada awalnya semua suku bangsa memiliki sistem aturan tersendiri yang mengatur pola tingkah laku antar-individu masyarakatnya. Mandailing, sebagai satu suku bangsa, bukan sebatas etnik dalam pengertian sempit, juga memiliki sistem aturan tersebut. Saya tentu tak berkompetensi untuk menjelaskan berbagai pengertian hukum, baik dari segi hukum adat, […]

  • Istri Menggandeng Nama Suami, Bolehkah?

    Istri Menggandeng Nama Suami, Bolehkah?

    • calendar_month Kamis, 21 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jika ini bertujuan mengubah nasab maka dilarang. Polemik di atas pernah memanas pada 2008. Ketika itu, seseorang mengajukan pertanyaan ke Lembaga Fatwa Dar al-Ifta Mesir perihal boleh tidaknya perempuan yang telah menikah menggunakan nama suami atau keluarga suami di belakang nama sang istri. Pemandangan ini banyak dijumpai dalam tradisi negara-negara Barat. Wacana ini pun menjadi […]

  • Gaji insentif guru dipotong

    Gaji insentif guru dipotong

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Kalangan guru – guru yang ada di Mandailing Natal baik dari Guru SD, SMP, SMA/SMK, resah akibat tingginya pemotongan baik insentif baik dari Gubsu, pusat, sertifikasi maupun honor TKS, Widyata bhakti. Semisal pemotongan insentif yang cair pada bulan September lalu sebesar Rp360.000,- dipotong sebesar Rp15.000 diluar pajak. Malah beberapa waktu lalu guru – […]

  • PNS Dapat Tambahan Uang Muka Rumah dari Pemerintah

    PNS Dapat Tambahan Uang Muka Rumah dari Pemerintah

    • calendar_month Kamis, 25 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA — Pemerintah menaikkan pagu bantuan uang muka rumah untuk pegawai negeri sipil. Besar bantuan meningkat dari Rp 1,2 juta-Rp 1,8 juta per orang menjadi maksimum Rp 15 juta per orang. Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana Sekretariat Tetap Badan Pengelola Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Bapertarum PNS) Yasin Kara, saat penandatanganan nota kesepahaman penyaluran tambahan […]

  • Mudik Dilarang, Silahkan Pesan Online Bipang Ambawang?

    Mudik Dilarang, Silahkan Pesan Online Bipang Ambawang?

    • calendar_month Selasa, 11 Mei 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Risdanur, S.Pd Anggota Komunitas Madina Menulis Pemerintah resmi membuat aturan terkait dengan larangan mudik pada lebaran tahun 2021 dengan alasan menekan penularan virus Covid-19 di Indonesia. Larangan mudik ini dimulai dari tanggal 6 sampai 17 Mei 2021 dengan memberlakukan beberapa penyekatan mudik di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pada beberapa titik penyekatan mudik tersebut […]

  • Mantan Sekjen DPP IKANAS Ungkap Sosok Saipullah

    Mantan Sekjen DPP IKANAS Ungkap Sosok Saipullah

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS) Dohot Anakboruna tahun 2010-2019, H. Muhammad Syurbainy Nasution mengungkap sosok calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution, SH, MM. Menurut Syurbainy, Saipullah adalah seorang yang memiliki tipe low profile atau cenderung lebih tenang, tidak terlalu eksentrik, dan tidak […]

expand_less