Sabtu, 7 Mar 2026
light_mode

Proyeksi Palsu

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 3 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh : Alfisyah S.Pd
Guru dan Pemerhati Masyarakat

Sungguh jika manusia yang membuat sebuah proyeksi, apalagi proyeksi ekonomi masa depan, maka siap-siaplah akan keliru. Andaipun jika proyeksi itu tepat, tetap saja akan meleset dan ada galat erornya. Itulah buktinya bahwa manusia itu lemah, serba kurang dan sangat terbatas. Apalagi yang dijadikan sebagai pijakan adalah sistem ekonomi yang rusak tentu akan menghasilkan kesalahan yang besar. Maka wajarlah kemudian jika hasilnya menjadi angan-angan dan halusinasi belaka.

Begitulah ketika Menkeu Sri Mulyani mempromosikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 lalu untuk tahun ini. Beliau menyatakan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia terukur dengan angka PDB yang berkisar minus 1,7 hingga monus 2,2. Proyeksi ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Sementara itu Asian Development Bank (ADB) juga memprediksikan pada angka minus 2,2. Demikian juga world bank di angka yang sama.

Realitanya kegiatan ekonomi di negeri ini belumlah seperti yang dikehendaki. Sebab pandemi belum usai sepanjang tahun 2020 dan entah sampai kapan. Realitanya justru sebaliknya karena sektor usaha makro dan usaha mikro shock. Angka produksi dan konsumsi pun melorot. Semuanya itu akibat dari kebijakan negara maju dan berkembang yang masih belum membuka diri untuk investasi besar- besaran dalam bidang ekonomi.

Proyeksi Menkeu, ADB dan World Bank itu memang bukan gambaran yg sebenarnya. Pasalnya kondisi masyarakat masih belum sejahtera  bahkan menderita dalam tekanan ekonomi yang menimpa mereka. Proyeksi itu tak terwujud sama sekali. Sebab semua parameternya palsu. Perhitungan angka PDB yang diambil dari penjumlahan pendapatan semua penduduk Indonesia lalu dibagikan dengan jumlah itu juga menghasilkan angka rata-rata. Angka itu menutupi kenyataan sebenarnya pendapatan orang per orang. Sekali lagi proyeksi itu semu. Jika proyeksi semu itu saja tidak terwujud, bagaimana mungkin angka sesungguhnya dari pertumbuhan ekonomi itu akan terwujud?

Inilah sebuah pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban. Pertumbuhan ekonomi itu disandarkan pada mata uang yg palsu. Mata uang yang nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai zat mata uangnya. Bahkan dalam pencetakannya tidak ditopang oleh sesuatu yang tetap (fix) semisal emas dan perak. Pasarnya pun  juga tidak ril sebab jual belinya banyak di sektor non ril. Oleh karena itu pertumbuhan ekonominya palsu atau semu.

Itulah jika sistem ekonominya berbasis ekonomi kapitalistik. Selama sistem ekonomi itu yang digunakan maka proyeksinya selalu meleset dan tidak terbukti. Berdasaran uraian di atas bangsa ini sangat membutuhkan sistem ekonomi yang stabil, anti krisis dan juga tumbuh secara ril. Ukuran kesejahteraannya pun dihitung orang per orang. Bukan dari nilai rata-rata hasil bagi.

Sistem itu juga akan menata kebijakan fiskalnya. Sehingga pergerakan roda ekonomi tidak lagi bertumpu pada pajak yang rentan krisis. Sistem ekonomi itu pula tidak berbasis riba. Sebab Riba itu menjadi biang krisis di negara-negara maju saat ini. Benarlah jika dalam beberapa agama termasuk Islam, bahwa pelaku riba itu akan seperti orang yg labil. Tidak bisa berdiri tegak sebab dia seperti orang yang kerasukan setan. Saat berdiri orang itu akan gamang, mudah jatuh dan tumbang. Begitulah juga sebuah negara yg berbasis riba. Dipastikan keadaannya tak jauh dari gambaran pemakan riba. Negara itu akan rapuh dan goncang ekonominya karena kerusakan sistem itu sendiri.

Bukan hanya itu, sistem ekonomi yg baik adalah sistem yang bergerak dalam sektor ril. Sektor non ril dalam saham, obligasi dan surat berharga, pasar uang itu hanya akan membuat pergerakan ekonomi rapuh dan jauh dari keadilan untuk seluruh manusia. Pada sektor non ril para kapital yang memegang akses ekonominya. Kesejahteraan hanya akan menimpa mereka para pemilik modal, bukan untuk seluruh rakyat.

Sistem ekonomi yg benar akan menjadikan mata uangnya berbasis emas dan perak. Jika ingin mencetak uang kertas, back up emas dan peraknya sesuai dengan yang dicetak. Sebab back up emas dan perak itulah yg menjadi nilai intrinsiknya atas kertas yang digunakan. Meskipun demikian cetakan uang yg merupakan bahan emas dan perak akan tetap ada. Goncangan inflasi dan deflasi mustahil ada dalam sistem ini.

Oleh karena itu jika sistem yg benar ini diterapkan maka tak dibutuhkan proyeksi yg keliru dan semu itu. Perekonomian akan bergerak cepat dan hidup. Konsep kepemilikan umum akan diurus sendiri oleh negara secara independen. Peluang intervensi dan penjajahan negara lain akan nihil. Kekayaan milik umum akan dinikmati bersama. Sama-sama sejahtera akan tercapai. Bahkan peluang APBN yg surplus mudah dicapai secara otomatis. Jaminan kesejahteraan orang per orang bukan hanya menjadi janji namun terbukti pada masyarakat baik muslim maupun non muslim tanpa kecuali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Madina Siap Bergandengan Tangan Dengan KNPI

    Polres Madina Siap Bergandengan Tangan Dengan KNPI

    • calendar_month Rabu, 23 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal siap bergandengan tangan dengan DPD KNPI dalam menjaga Kamtibmas. Itu diungkap Kapolres Mandailing Natal (Madina) AKBP Andry Setiawan Sik ketika menerima audensi pengurus DPD KNPI Madina, Rabu (23/3/2016). Dikatakanyna, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) merupakan suatu organisasi kumpulan organisasi kepemudaan yang ada di Madina ini diharapkan dapat bergandengan […]

  • Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Sumut Tinggi

    Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Sumut Tinggi

    • calendar_month Selasa, 27 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN, (MO) – Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia masih tinggi, termasuk di Sumatera Utara (Sumut). Berdasarkan data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang dikumpulkan dari 34 lembaga di Sumut,selama tahun 2011 saja,ada 344 dari 8.277 kasus kekerasan terhadap perempuan yang merupakan kekerasan seksual. “Kasus kekerasan dalam rumah tangga ada 7.120 […]

  • KNKT: Aek Latong tak layak dilintasi

    KNKT: Aek Latong tak layak dilintasi

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK – Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tadi malam merekomendasikan bahwa Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian tengah di Aek Latong, Tapanuli Selatan, tidak layak dilintasi kendaraan roda empat karena kondisi jalan tersebut sudah sangat tak mungkin untuk digunakan sehingga perlu jalan alternatif. Sebuah kecelakan terjadi di Jalinsum bagian tengah Aek Latong Tapsel, pekan lalu, yang […]

  • Pengusaha di By Pass Tak Punya SITU

    Pengusaha di By Pass Tak Punya SITU

    • calendar_month Sabtu, 11 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN- Pemko Psp mengimbau dan meminta pengusaha di sepanjang jalan baru Jalan By Pass di Kecamatan Psp Batunadua dan Psp Tenggara untuk mengurus surat tempat izin usaha (SITU). Imbauan ini adalah keharusan agar seluruh pedagang ditata. Sekretaris Daerah (Sekda) Psp, Sarmadan Hasibuan SH MM kepada METRO, Jumat (10/2) menuturkan, untuk penataan usaha tenda biru di […]

  • Zubaidah Reses di Hutaraja, Pengajian Kaum Ibu Langsung Terima Bantuan

    Zubaidah Reses di Hutaraja, Pengajian Kaum Ibu Langsung Terima Bantuan

    • calendar_month Jumat, 27 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Anggota DPRD dari fraksi Partai Golkar Zubaidah Nasution menggelar Reses II Anggota DPRD Madina Tahun Sidang 2021-2022 di Desa Hutaraja, Kecamatan Siabu, Selasa (24/5). Di tengah-tengah reses tersebut, kelompok pengajian kaum ibu langsung menerima bantuan pembelian perlengkapan dan kebutuhan kelompok tersebut. “Saya takut kalau ditunggu-tunggu nanti enggak sempat. Ini langsung saja […]

  • Pintu Pilpres 2024 Sudah Terbuka Akankah Ada Perubahan

    Pintu Pilpres 2024 Sudah Terbuka Akankah Ada Perubahan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ummu Umar Momen Hari Raya Idulfitri 1443 H menjadi ajang bagi para politikus untuk bersilaturahmi Lebaran. Kegiatan bernuansa politik berbalut silaturahmi mulai dari hari H hingga masa libur Lebaran dimanfaatkan untuk saling berkunjung. Meski ada kegiatan yang dinilai tidak bernuansa politik, tetap ada saja pihak-pihak yang menggunakan simbol-simbol yang mengarah kepada persiapan menuju Pemilu […]

expand_less