Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 8)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
  • print Cetak

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

Ada sejumput cerita tentang munculnya pasar bawah setiap pekan Ramadhan di kampung kami. Ya, orang orang menyebutnya pasar bawah karena lokasinya terpisah dengan pasar yang sebenarnya.

Lokasinya sedikit tersembunyi  di tepi sungai, di sela sela pohon kopi.  Dingin dan sejuk.

Awal mula para pedagang hanya ingin melepas penat sambil menunggu sholat dzuhur di bawah pohon kopi di bibir sungai Batang Gadis itu, tapi ada juga para musafir dan pekerja keras yang buka bekal. Tidak salah karena mereka musafir dan pekerja keras, dalam agama pun membolehkan. Tapi lama kelamaan tidak jelas lagi mana  yang musafir, mana pekerja keras dan mana orang orang yang enggan melaksanakan perintah agama. Campur baur jadi satu.

Bukan hanya pedagang saja yang meramaikan, malah warga setempat pun ada pula yang turut serta. Mereka merokok dan minum-minum kopi, mereka berkumpul bergerombol memperbanyak dosa,  di bawah pohon kopi itu. 

Astagfirullah, pedagang makanan dan minuman pun bermunculan.  Terjadi transaksi antar pejual dan pembeli.

Tenda-tenda makanan dan minuman berdiri layaknya sebuah pasar betulan. Makin lama makin tidak terkendali,  sehingga suatu waktu tanpa ada angin tanpa ada hujan, dirazia oleh petugas. Para pengunjung lari tunggang langgang tak jelas tujuan. Ada yang basah kuyub karena kecebur ke sungai.

Peralatan masak pun ikut berhamburan melayang  beterbangan ke tengah sungai, di buang oleh petugas. Tenda tenda dibongkar dan dirobohkan. Gulai ayam setengah masak dijungkir balikkan. Seketika suasana menjadi tegang.

Para memilik warung menjadi tersangka, mereka digelandang ke kantor polisi dengan menenteng periuk hitam sebagai barang bukti. 

Syukurlah, masih ada kontrol sosial.

***

Siang itu sangatlah terik, matahari serasa bertengger di atas ubun ubun. Ogung baru saja bergema dari menara mesjid raya disusul berkumandangnya azan waktu dzuhur.  

Empat orang muda masih asyik di bawah pohon kelapa. Satu orang menggunakan kaos singlet yang lainnya bertelanjang dada. Mereka menggunakan celana pendek yang sudah agak kumal. 

Empat moncong meriam telah mereka arahkan ke desa seberang,  sepertinya perang sore ini akan berkecamuk dengan hebatnya.  Mereka menyebut hari pembalasan.  Kemaren sore mereka kalah telak.  Dentuman meriam dari desa seberang bertubi tubi ke arah mereka. 

Hari ini betul betul mereka persiapkan dengan sangat matang,  tidak tanggung-tanggung, meriam ditambah satu sehingga genap menjadi empat. Biar tidak terulang seperti hari kemaren sore, minyak lampu sebagi bahan mesiu pun kehabisan. Dentuman meriam dari desa seberang tak bisa dibalas,  akhirnya meraka mundur dari pertempuran. 

Lihatlah meriam yang paling ujung,  diameternya kurang lebih 13 centimeter, panjangnya satu setengah meter, bahannya dari pangkal bambu bulu tolang, tebal dan kekar. Bagian tengah, ujung dan pangkal sengaja diikat menggunakan kawat. Sekedar berjaga jaga, kalau kalau bambunya terbelah, tidak sampai membahayakan.

Minyak lampu telah dimasukkan ke dalam perut meriam. Selanjutnya  dipanaskan barang 10 sampai lima belas menit. Untuk bahan pematik,  lampu teplok tanpa semprong sudah pula dinyalakan. Ketiga orang muda itu bersiap siap. Sekali dua mereka coba, ternyata belum bersuara, hanya asap putih saja yang keluar dari moncong meriam.  Itu berarti minyak tanah yang berada diperut meriam belum terlalu panas, sehingga daya hisapnya masih rendah.

Sementara meriam dari desa seberang sudah berdentum satu kali, menandakan mereka sudah siap bertempur sore ini. 

Woww… Tiba tiba meriam dengan diameter 13 centimeter menyalak,  berdentum membelah bumi.  Keempat sekawan itu merasa girang, mereka yakin, sore ini mereka akan menang.

Rentetan dentuman saling balas membalas, meriam anak-anak dari kaki Bukit Siojo mendominasi menyerang. Sang lawan hanya  membalas dengan dentuman yang lebih lemah. 

Haripun mulai menjelang petang,  nampak di udara kelelawar menghitam pulang ke Lubuk Jorbing. Sebentar lagi beduk akan berbunyi. Acara  papotang potang ari, usai sudah. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengusaha Penggilingan Padi Sebut Harga Gabah di Madina Normal

    Pengusaha Penggilingan Padi Sebut Harga Gabah di Madina Normal

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Pengusaha penggilingan Padi di Kabupaten Mandailing Natal bicara harga gabah. Dari Januari 2025 sampai hari ini belum ada kenaikan, namun dipastikan tak ada penurunan harga. Stok gabah dan beras di awal tahun melimpah. Diketahui Tahun 2025 ini Harga Gabah Basah (HGB) stak di harga Rp.5.600 perkilonya, sementara Harga Gabah Kering […]

  • Geliat Pastap Julu, Ekowisata Hingga Agribisnis (bagian 1)

    Geliat Pastap Julu, Ekowisata Hingga Agribisnis (bagian 1)

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Desa Pastap Julu berada di Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Desa ini berposisi paling ujung jalur Pastap, sekitar 6 Km dari simpang jalan raya Lintas Sumatera. Lebar badan jalan jalur Pastap rata rata sekitar 2,5 meter. Waktu tempuhnya lumayan lama karena separoh jalan merupakan bebatuan bekas aspal lapen yang […]

  • PT SMGP Gelar Sosialisasi Pelestarian Alam

    PT SMGP Gelar Sosialisasi Pelestarian Alam

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) yang bergerak di bidang panas bumi menggelar sosialisasi pelestarian alam terhadap masyarakat di 3 kecamatan yakni Kecamatan Panyabungan Selatan, Panyabungan Barat, dan Kecamatan Puncak Sorik Merapi Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Acara tersebut selama tiga hari di Kecamatan Penyabungan sejak Selasa (14/12), dan berakhir di aula Kantor Camat Kecamatan […]

  • Atika Tinjau Ruas Jalan Tambiski-Sayurmaincat

    Atika Tinjau Ruas Jalan Tambiski-Sayurmaincat

    • calendar_month Kamis, 6 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    NAGA JUANG (Mandailing Onlibne) – Ruas jalan Tambiski-Sayur Maincat yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2022 sepanjang 2,5 KM senilai Rp.2.947.225.000 melalui Dinas PUPR oleh CV Taufik Prima Putra telah selesai 100persen. Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utami didampingi Kadis PUPR Ruly Andriansyah dan Kabid […]

  • Gunung Sinabung Meletus

    Gunung Sinabung Meletus

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Bupati Karo: Kami Masih Bisa Atasi Kabanjahe, – Bupati Karo, Kena Ukur, memastikan pihaknya masih bisa menangani masalah evakuasi dan penanganan keselamatan masyarakatnya pasca erupsi Gunung Sinabung yang terjadi, Minggu (14/9) dinihari. Meski pihak Pemprov Sumatera Utara sudah menyatakan kesiapan satuan kerja perangkat dinas (SKPD) untuk terjun langsung membantu ke lapangan, namun ia mengaku situasi […]

  • Hadiri Halalbihalal PC NU, Bupati: Ini Momen Saling Memaafkan

    Hadiri Halalbihalal PC NU, Bupati: Ini Momen Saling Memaafkan

    • calendar_month Rabu, 18 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution mengatakan halalbihalal merupakan momentum untuk saling memaafkan antar sesama. Hal itu disampaikan Sukhairi saat menghadiri acara halalbihalal Badan Otonom PC NU Madina pada Rabu (18/5) di kantor PC NU Madina, Desa Parbangunan, Panyabungan. “Kita harus memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah […]

expand_less