Sabtu, 6 Jun 2026
light_mode

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 8)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
  • print Cetak

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

Ada sejumput cerita tentang munculnya pasar bawah setiap pekan Ramadhan di kampung kami. Ya, orang orang menyebutnya pasar bawah karena lokasinya terpisah dengan pasar yang sebenarnya.

Lokasinya sedikit tersembunyi  di tepi sungai, di sela sela pohon kopi.  Dingin dan sejuk.

Awal mula para pedagang hanya ingin melepas penat sambil menunggu sholat dzuhur di bawah pohon kopi di bibir sungai Batang Gadis itu, tapi ada juga para musafir dan pekerja keras yang buka bekal. Tidak salah karena mereka musafir dan pekerja keras, dalam agama pun membolehkan. Tapi lama kelamaan tidak jelas lagi mana  yang musafir, mana pekerja keras dan mana orang orang yang enggan melaksanakan perintah agama. Campur baur jadi satu.

Bukan hanya pedagang saja yang meramaikan, malah warga setempat pun ada pula yang turut serta. Mereka merokok dan minum-minum kopi, mereka berkumpul bergerombol memperbanyak dosa,  di bawah pohon kopi itu. 

Astagfirullah, pedagang makanan dan minuman pun bermunculan.  Terjadi transaksi antar pejual dan pembeli.

Tenda-tenda makanan dan minuman berdiri layaknya sebuah pasar betulan. Makin lama makin tidak terkendali,  sehingga suatu waktu tanpa ada angin tanpa ada hujan, dirazia oleh petugas. Para pengunjung lari tunggang langgang tak jelas tujuan. Ada yang basah kuyub karena kecebur ke sungai.

Peralatan masak pun ikut berhamburan melayang  beterbangan ke tengah sungai, di buang oleh petugas. Tenda tenda dibongkar dan dirobohkan. Gulai ayam setengah masak dijungkir balikkan. Seketika suasana menjadi tegang.

Para memilik warung menjadi tersangka, mereka digelandang ke kantor polisi dengan menenteng periuk hitam sebagai barang bukti. 

Syukurlah, masih ada kontrol sosial.

***

Siang itu sangatlah terik, matahari serasa bertengger di atas ubun ubun. Ogung baru saja bergema dari menara mesjid raya disusul berkumandangnya azan waktu dzuhur.  

Empat orang muda masih asyik di bawah pohon kelapa. Satu orang menggunakan kaos singlet yang lainnya bertelanjang dada. Mereka menggunakan celana pendek yang sudah agak kumal. 

Empat moncong meriam telah mereka arahkan ke desa seberang,  sepertinya perang sore ini akan berkecamuk dengan hebatnya.  Mereka menyebut hari pembalasan.  Kemaren sore mereka kalah telak.  Dentuman meriam dari desa seberang bertubi tubi ke arah mereka. 

Hari ini betul betul mereka persiapkan dengan sangat matang,  tidak tanggung-tanggung, meriam ditambah satu sehingga genap menjadi empat. Biar tidak terulang seperti hari kemaren sore, minyak lampu sebagi bahan mesiu pun kehabisan. Dentuman meriam dari desa seberang tak bisa dibalas,  akhirnya meraka mundur dari pertempuran. 

Lihatlah meriam yang paling ujung,  diameternya kurang lebih 13 centimeter, panjangnya satu setengah meter, bahannya dari pangkal bambu bulu tolang, tebal dan kekar. Bagian tengah, ujung dan pangkal sengaja diikat menggunakan kawat. Sekedar berjaga jaga, kalau kalau bambunya terbelah, tidak sampai membahayakan.

Minyak lampu telah dimasukkan ke dalam perut meriam. Selanjutnya  dipanaskan barang 10 sampai lima belas menit. Untuk bahan pematik,  lampu teplok tanpa semprong sudah pula dinyalakan. Ketiga orang muda itu bersiap siap. Sekali dua mereka coba, ternyata belum bersuara, hanya asap putih saja yang keluar dari moncong meriam.  Itu berarti minyak tanah yang berada diperut meriam belum terlalu panas, sehingga daya hisapnya masih rendah.

Sementara meriam dari desa seberang sudah berdentum satu kali, menandakan mereka sudah siap bertempur sore ini. 

Woww… Tiba tiba meriam dengan diameter 13 centimeter menyalak,  berdentum membelah bumi.  Keempat sekawan itu merasa girang, mereka yakin, sore ini mereka akan menang.

Rentetan dentuman saling balas membalas, meriam anak-anak dari kaki Bukit Siojo mendominasi menyerang. Sang lawan hanya  membalas dengan dentuman yang lebih lemah. 

Haripun mulai menjelang petang,  nampak di udara kelelawar menghitam pulang ke Lubuk Jorbing. Sebentar lagi beduk akan berbunyi. Acara  papotang potang ari, usai sudah. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pak Bupati, Ada Bocah Penderita Benjolan di Wajah di Desa Tanjung Jae Madina, Berharap Uluran Tangan

    Pak Bupati, Ada Bocah Penderita Benjolan di Wajah di Desa Tanjung Jae Madina, Berharap Uluran Tangan

    • calendar_month Senin, 3 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR( Mandailing Online) Nasaruddin ( 11 ) anak dari pasangan Mulyadi ( 36 ) dan Yusniar ( 35 ), warga Desa Tanjung Jae, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), Sumatera Utara ini sudah 4 tahun terakhir merasakan sakit di bagian tenggorokan dan mengalami lemah saraf otak akibat cairan yang terus membengkak […]

  • BOC Gelar Seminar Kebebasan Finansial

    BOC Gelar Seminar Kebebasan Finansial

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) Komunitas Business Owners Community (BOC) kembali mengadakan seminar di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut. Seminar berlangsung di Cafe Rumah Daun, kawasan Toguda-STAIN, Minggu (31/8/2025). Peserta seminar berasal dari kalangan santri, siswa SLTA, mahasiswa dan masyarakat umum. Seminar ini mengusung tema “Kebebasan Finansial” menghadirkan tiga pemateri. Tiga topik disampaikan pada seminar itu, yakni “Paradigma […]

  • 5.712 PNS Tapsel Terima Tunjangan Beras

    5.712 PNS Tapsel Terima Tunjangan Beras

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TAPSEL – Hari Ini, Selasa (12/5), Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan mencairkan tunjangan beras Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dirapel per 1 Januari 2014 hingga April 2015. Hal tersebut sesuai dengan tindaklanjut dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor per-3/PB/2015 tentang perubahan atas kelima atas Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-67/PB/2010 tentang tunjangan […]

  • Pahala Investasi dan Dosa Investasi

    Pahala Investasi dan Dosa Investasi

    • calendar_month Rabu, 4 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Alfisyah Ummu Arifah, S.Pd Guru dan Pegiat Literasi Islam Medan Ini adalah bahasan yang adil. Bukan hanya mengenai pahala yang kita wariskan pada orang lain tetapi juga dosa yang terus mengalir untuk orang yang mengikuti kita. Demikianlah Allah tidak cacat dalam persoalan catat mencatat terhadap perkara amal yang dilakukan seorang hamba dan yang […]

  • PKS Madina Laksanakan Rakerda

    PKS Madina Laksanakan Rakerda

    • calendar_month Minggu, 29 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Mandailing Natal melakukan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) tahun 2022. Berlangsung di aula Ladang Sari, Panyabungan, Ahad (29/5/2022). Rakerda dihadiri dan dibuka oleh Ketua DPW PKS Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Usman Jafar, Lc.MA. Hadir juga Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah PKS Sumatera Utara, H. […]

  • Pemkab Tapteng Siapkan Peralatan Antisipasi Kecelakaan

    Pemkab Tapteng Siapkan Peralatan Antisipasi Kecelakaan

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      Pandan – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Pemkab Tapteng), melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), telah menyiapkan berbagai peralatan guna mengantisipasi bencana atau kecelakaan yang mungkin terjadi di berbagai lokasi objek wisata di Tapteng. Peralatan yang disediakan guna memberikan kenyamanan dan keamanan kepada para wisatawan. Di beberapa objek wisata yang kita miliki, seperti Pantai Bosur, […]

expand_less