Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 8)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
  • print Cetak

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

Ada sejumput cerita tentang munculnya pasar bawah setiap pekan Ramadhan di kampung kami. Ya, orang orang menyebutnya pasar bawah karena lokasinya terpisah dengan pasar yang sebenarnya.

Lokasinya sedikit tersembunyi  di tepi sungai, di sela sela pohon kopi.  Dingin dan sejuk.

Awal mula para pedagang hanya ingin melepas penat sambil menunggu sholat dzuhur di bawah pohon kopi di bibir sungai Batang Gadis itu, tapi ada juga para musafir dan pekerja keras yang buka bekal. Tidak salah karena mereka musafir dan pekerja keras, dalam agama pun membolehkan. Tapi lama kelamaan tidak jelas lagi mana  yang musafir, mana pekerja keras dan mana orang orang yang enggan melaksanakan perintah agama. Campur baur jadi satu.

Bukan hanya pedagang saja yang meramaikan, malah warga setempat pun ada pula yang turut serta. Mereka merokok dan minum-minum kopi, mereka berkumpul bergerombol memperbanyak dosa,  di bawah pohon kopi itu. 

Astagfirullah, pedagang makanan dan minuman pun bermunculan.  Terjadi transaksi antar pejual dan pembeli.

Tenda-tenda makanan dan minuman berdiri layaknya sebuah pasar betulan. Makin lama makin tidak terkendali,  sehingga suatu waktu tanpa ada angin tanpa ada hujan, dirazia oleh petugas. Para pengunjung lari tunggang langgang tak jelas tujuan. Ada yang basah kuyub karena kecebur ke sungai.

Peralatan masak pun ikut berhamburan melayang  beterbangan ke tengah sungai, di buang oleh petugas. Tenda tenda dibongkar dan dirobohkan. Gulai ayam setengah masak dijungkir balikkan. Seketika suasana menjadi tegang.

Para memilik warung menjadi tersangka, mereka digelandang ke kantor polisi dengan menenteng periuk hitam sebagai barang bukti. 

Syukurlah, masih ada kontrol sosial.

***

Siang itu sangatlah terik, matahari serasa bertengger di atas ubun ubun. Ogung baru saja bergema dari menara mesjid raya disusul berkumandangnya azan waktu dzuhur.  

Empat orang muda masih asyik di bawah pohon kelapa. Satu orang menggunakan kaos singlet yang lainnya bertelanjang dada. Mereka menggunakan celana pendek yang sudah agak kumal. 

Empat moncong meriam telah mereka arahkan ke desa seberang,  sepertinya perang sore ini akan berkecamuk dengan hebatnya.  Mereka menyebut hari pembalasan.  Kemaren sore mereka kalah telak.  Dentuman meriam dari desa seberang bertubi tubi ke arah mereka. 

Hari ini betul betul mereka persiapkan dengan sangat matang,  tidak tanggung-tanggung, meriam ditambah satu sehingga genap menjadi empat. Biar tidak terulang seperti hari kemaren sore, minyak lampu sebagi bahan mesiu pun kehabisan. Dentuman meriam dari desa seberang tak bisa dibalas,  akhirnya meraka mundur dari pertempuran. 

Lihatlah meriam yang paling ujung,  diameternya kurang lebih 13 centimeter, panjangnya satu setengah meter, bahannya dari pangkal bambu bulu tolang, tebal dan kekar. Bagian tengah, ujung dan pangkal sengaja diikat menggunakan kawat. Sekedar berjaga jaga, kalau kalau bambunya terbelah, tidak sampai membahayakan.

Minyak lampu telah dimasukkan ke dalam perut meriam. Selanjutnya  dipanaskan barang 10 sampai lima belas menit. Untuk bahan pematik,  lampu teplok tanpa semprong sudah pula dinyalakan. Ketiga orang muda itu bersiap siap. Sekali dua mereka coba, ternyata belum bersuara, hanya asap putih saja yang keluar dari moncong meriam.  Itu berarti minyak tanah yang berada diperut meriam belum terlalu panas, sehingga daya hisapnya masih rendah.

Sementara meriam dari desa seberang sudah berdentum satu kali, menandakan mereka sudah siap bertempur sore ini. 

Woww… Tiba tiba meriam dengan diameter 13 centimeter menyalak,  berdentum membelah bumi.  Keempat sekawan itu merasa girang, mereka yakin, sore ini mereka akan menang.

Rentetan dentuman saling balas membalas, meriam anak-anak dari kaki Bukit Siojo mendominasi menyerang. Sang lawan hanya  membalas dengan dentuman yang lebih lemah. 

Haripun mulai menjelang petang,  nampak di udara kelelawar menghitam pulang ke Lubuk Jorbing. Sebentar lagi beduk akan berbunyi. Acara  papotang potang ari, usai sudah. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rakyat Sumbang Koin untuk Presiden

    Rakyat Sumbang Koin untuk Presiden

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Setelah SBY Mengeluh Gaji Kurang JAKARTA-Keluhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sudah 7 tahun tak naik gaji, berkembang cepat. Dukungan, simpati, sindiran dan kritikan terhadap pernyataan yang dilontarkannya dalam pidato pada Rapim TNI dan Polri Jumat (21/1) terus mengalir. Seperti halnya di situs microblogging Twitter, beberapa tweeps (pemilik akun twitter) memberikan komentar yang beragam. […]

  • “Berkawan” dengan Pers (bagian 2-selesai)

    “Berkawan” dengan Pers (bagian 2-selesai)

    • calendar_month Senin, 4 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    (Belajar dari Kasus Malintang Pos) Oleh : Muhammad Ludfan Nasution, S.Sos* Bedah “Kasus” Malintang Pos Apakah Malintang Pos termasuk pers oposan bagi Pemkab Madina? Ukuran kuantitatifnya bisa saja mengacu pada perbandingan antara jumlah berita yang mengkritik menggunakan bahasa sarkastis atau sensasional dengan berita yang sekedar informatif (promotif). Namun sejatinya, sekalipun kategori “pers oposan” itu ada, […]

  • Warga Siabu Keluhkan Lampu Jalan Banyak Mati

    Warga Siabu Keluhkan Lampu Jalan Banyak Mati

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Warga Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina) kecewa terhadap Pemkab Madina karena selalu berjanji memperbaiki lampu jalan, tapui tak pernah ditepati. Bola lampu jalan di sepanjang jalan raya dan jalan-jalan kampung sudah lama banyak yang mati, tetapi dibiarkan saja oleh pihak Badan Lingkungan Hidup Kebersihan Pertamanan (BLHKP). “Sudah berkali-kali diberitahukan kepada […]

  • Stok Pupuk di Madina Aman, Harga Masih Normal

    Stok Pupuk di Madina Aman, Harga Masih Normal

    • calendar_month Kamis, 14 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Harga berbagai jenis pupuk baik subsidi dan non subsidi di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) diharga normal. Dari data yang didapat dari salah satu distributor pupuk di Kota Panyabungan PT Mitra Tani Sari menyebutkan pupuk subsidi jenis Urea normal diharga Rp.112.000.Per sak nya dengan ukuran 50kg, dan NPK Phonska […]

  • Bupati Madina Terima Waspada Award, Ketua PP: Cermin Pemkab Madina Dekat dengan Pers

    Bupati Madina Terima Waspada Award, Ketua PP: Cermin Pemkab Madina Dekat dengan Pers

    • calendar_month Kamis, 13 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Keberhasilan Bupati Mandailing Natal (Madina) meraih anugerah Waspada Award pada Selasa (11/1) kemarin mendapat apresiasi dari MPC Pemuda Pancasila Madina. Apresiasi itu disampaikan Ketua MPC PP Akhmad Arjun Nasution kepada Mandailing Online, Rabu (12/1) di kantor MPC PP Madina, Pidoli Dolok. Arjun menilai pemberian award tersebut menunjukkan kedekatan Pemkab Madina dengan […]

  • Kontras Minta Kapolda Sumut Diganti

    Kontras Minta Kapolda Sumut Diganti

    • calendar_month Minggu, 1 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kontras menilai Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisnu Amat Sastro tidak tegas dalam mengambil tindakan terhadap anggota yang dinilai melakukan tindakan kekerasan di lapangan. Bisa dilihat banyaknya jumlah kasus yang terjadi, namun sangat disayangkan belum ada pelaku (oknum) sampai ke meja persidangan. “Kapolda dibawah kepemimpinan Wisnu tidak reformis dan tegas dalam mengambil tindakan terhadap […]

expand_less