Rabu, 9 Sep 2026
light_mode

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 8)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
  • print Cetak

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

Ada sejumput cerita tentang munculnya pasar bawah setiap pekan Ramadhan di kampung kami. Ya, orang orang menyebutnya pasar bawah karena lokasinya terpisah dengan pasar yang sebenarnya.

Lokasinya sedikit tersembunyi  di tepi sungai, di sela sela pohon kopi.  Dingin dan sejuk.

Awal mula para pedagang hanya ingin melepas penat sambil menunggu sholat dzuhur di bawah pohon kopi di bibir sungai Batang Gadis itu, tapi ada juga para musafir dan pekerja keras yang buka bekal. Tidak salah karena mereka musafir dan pekerja keras, dalam agama pun membolehkan. Tapi lama kelamaan tidak jelas lagi mana  yang musafir, mana pekerja keras dan mana orang orang yang enggan melaksanakan perintah agama. Campur baur jadi satu.

Bukan hanya pedagang saja yang meramaikan, malah warga setempat pun ada pula yang turut serta. Mereka merokok dan minum-minum kopi, mereka berkumpul bergerombol memperbanyak dosa,  di bawah pohon kopi itu. 

Astagfirullah, pedagang makanan dan minuman pun bermunculan.  Terjadi transaksi antar pejual dan pembeli.

Tenda-tenda makanan dan minuman berdiri layaknya sebuah pasar betulan. Makin lama makin tidak terkendali,  sehingga suatu waktu tanpa ada angin tanpa ada hujan, dirazia oleh petugas. Para pengunjung lari tunggang langgang tak jelas tujuan. Ada yang basah kuyub karena kecebur ke sungai.

Peralatan masak pun ikut berhamburan melayang  beterbangan ke tengah sungai, di buang oleh petugas. Tenda tenda dibongkar dan dirobohkan. Gulai ayam setengah masak dijungkir balikkan. Seketika suasana menjadi tegang.

Para memilik warung menjadi tersangka, mereka digelandang ke kantor polisi dengan menenteng periuk hitam sebagai barang bukti. 

Syukurlah, masih ada kontrol sosial.

***

Siang itu sangatlah terik, matahari serasa bertengger di atas ubun ubun. Ogung baru saja bergema dari menara mesjid raya disusul berkumandangnya azan waktu dzuhur.  

Empat orang muda masih asyik di bawah pohon kelapa. Satu orang menggunakan kaos singlet yang lainnya bertelanjang dada. Mereka menggunakan celana pendek yang sudah agak kumal. 

Empat moncong meriam telah mereka arahkan ke desa seberang,  sepertinya perang sore ini akan berkecamuk dengan hebatnya.  Mereka menyebut hari pembalasan.  Kemaren sore mereka kalah telak.  Dentuman meriam dari desa seberang bertubi tubi ke arah mereka. 

Hari ini betul betul mereka persiapkan dengan sangat matang,  tidak tanggung-tanggung, meriam ditambah satu sehingga genap menjadi empat. Biar tidak terulang seperti hari kemaren sore, minyak lampu sebagi bahan mesiu pun kehabisan. Dentuman meriam dari desa seberang tak bisa dibalas,  akhirnya meraka mundur dari pertempuran. 

Lihatlah meriam yang paling ujung,  diameternya kurang lebih 13 centimeter, panjangnya satu setengah meter, bahannya dari pangkal bambu bulu tolang, tebal dan kekar. Bagian tengah, ujung dan pangkal sengaja diikat menggunakan kawat. Sekedar berjaga jaga, kalau kalau bambunya terbelah, tidak sampai membahayakan.

Minyak lampu telah dimasukkan ke dalam perut meriam. Selanjutnya  dipanaskan barang 10 sampai lima belas menit. Untuk bahan pematik,  lampu teplok tanpa semprong sudah pula dinyalakan. Ketiga orang muda itu bersiap siap. Sekali dua mereka coba, ternyata belum bersuara, hanya asap putih saja yang keluar dari moncong meriam.  Itu berarti minyak tanah yang berada diperut meriam belum terlalu panas, sehingga daya hisapnya masih rendah.

Sementara meriam dari desa seberang sudah berdentum satu kali, menandakan mereka sudah siap bertempur sore ini. 

Woww… Tiba tiba meriam dengan diameter 13 centimeter menyalak,  berdentum membelah bumi.  Keempat sekawan itu merasa girang, mereka yakin, sore ini mereka akan menang.

Rentetan dentuman saling balas membalas, meriam anak-anak dari kaki Bukit Siojo mendominasi menyerang. Sang lawan hanya  membalas dengan dentuman yang lebih lemah. 

Haripun mulai menjelang petang,  nampak di udara kelelawar menghitam pulang ke Lubuk Jorbing. Sebentar lagi beduk akan berbunyi. Acara  papotang potang ari, usai sudah. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara Hilangkan Dendam

    Cara Hilangkan Dendam

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Oleh: Ahmad Syafiul Anam JAKARTA – Menjadi sebuah hal yang wajar ketika seorang membalas keburukan dengan keburukan serupa sebagaimana seorang membalas kebaikan dengan kebaikan yang serupa, bahkan lebih baik lagi. Islam mengajarkan untuk senantiasa membalas kebaikan orang lain. Ketika seseorang memberi uang 10 ribu rupiah kepada kita, kemudian suatu saat kita memberikan kepadanya 20 ribu […]

  • Dukung Program KT Panyabungan Barat, Tokoh Al Washliyah Donasi Quran

    Dukung Program KT Panyabungan Barat, Tokoh Al Washliyah Donasi Quran

    • calendar_month Rabu, 24 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebagai bentuk dukungan program Karang Taruna (KT) Panyabungan Barat, Tokoh Al Washliyah Mukhtar Nasution donasikan Al Quran pada Rabu (24/11). Nasution yang dijumpai di kediamannya, Jl. Bermula Panyabungan, menyampaikan, di tengah merosotnya moral dan akhlak, program Tabur 100 Quran yang digagas KT Panyabungan Barat sangat positif. “Kegiatan yang dipelopori Karang Taruna […]

  • Bupati Madina Serahkan Urusan Penonaktifan ke Menteri

    Bupati Madina Serahkan Urusan Penonaktifan ke Menteri

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    MEDAN, – Bupati Mandailing Natal Muhammad Hidayat Batubara menyerahkan urusan penonaktifannya sebagai kepala daerah pada pemerintah pusat. Pernyataan ini disampaikan Hidayat usai menjadi saksi kasus suap dengan terdakwa PT Bumi Lestari Surung Panjaitan di Pengadilan Tipikor Medan, Rabu (25/9/2013). Selama kurang lebih tiga jam. Namun ia tetap kukuh menyatakan, uang Rp 1 miliar dari Surung […]

  • PPPK Tahun Depan Pemkab Madina Buka 315 Formasi Guru PAI

    PPPK Tahun Depan Pemkab Madina Buka 315 Formasi Guru PAI

    • calendar_month Kamis, 9 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) akan membuka 315 formasi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada ujian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun depan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Arbiuddin Harahap ketika mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi I DPRD dengan agenda Menindaklanjuti Surat Audiensi AGPAI Madina […]

  • Misteri: Ketika Raja Inggris Bersyahadat

    Misteri: Ketika Raja Inggris Bersyahadat

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    LIVERPOOL – Tidak ada yang tahu apa yang sedang berlangsung atau apa yang sedang dipikirkan saat Raja Offa di Inggris mencetak uang negaranya dengan ucapan syahadat. Raja Anglo-Saxon yang memerintah Mercia, Inggris, tahun 757 sampai 796 ini sangat kontroversial, khususnya dalam hubungannya dengan pemerintahan Abbasiyah di Irak. Para sejarawan menganggap Offa merupakan salah satu raja […]

  • Di Sidimpuan, Satu Keluarga Hanyut Diterjang Banjir Bandang

    Di Sidimpuan, Satu Keluarga Hanyut Diterjang Banjir Bandang

    • calendar_month Senin, 27 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN (Mandailing Online)  – Sejauh ini, data banjir bandang di Sidimpuan, satu keluarga terdiri dari suami, istri dan dua putri mereka meninggal dunia setelah hanyut diterjang arus deras. Berdasar informasi di Mapolsek Hutaimbaru, keluraga ini terdiri dari suami istri dan dua putri mereka. Mereka hanyut pada Minggu malam (26/3/2017) di perladangan dalam peristiwa banjir bandang […]

expand_less