Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 8)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
  • print Cetak

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

Ada sejumput cerita tentang munculnya pasar bawah setiap pekan Ramadhan di kampung kami. Ya, orang orang menyebutnya pasar bawah karena lokasinya terpisah dengan pasar yang sebenarnya.

Lokasinya sedikit tersembunyi  di tepi sungai, di sela sela pohon kopi.  Dingin dan sejuk.

Awal mula para pedagang hanya ingin melepas penat sambil menunggu sholat dzuhur di bawah pohon kopi di bibir sungai Batang Gadis itu, tapi ada juga para musafir dan pekerja keras yang buka bekal. Tidak salah karena mereka musafir dan pekerja keras, dalam agama pun membolehkan. Tapi lama kelamaan tidak jelas lagi mana  yang musafir, mana pekerja keras dan mana orang orang yang enggan melaksanakan perintah agama. Campur baur jadi satu.

Bukan hanya pedagang saja yang meramaikan, malah warga setempat pun ada pula yang turut serta. Mereka merokok dan minum-minum kopi, mereka berkumpul bergerombol memperbanyak dosa,  di bawah pohon kopi itu. 

Astagfirullah, pedagang makanan dan minuman pun bermunculan.  Terjadi transaksi antar pejual dan pembeli.

Tenda-tenda makanan dan minuman berdiri layaknya sebuah pasar betulan. Makin lama makin tidak terkendali,  sehingga suatu waktu tanpa ada angin tanpa ada hujan, dirazia oleh petugas. Para pengunjung lari tunggang langgang tak jelas tujuan. Ada yang basah kuyub karena kecebur ke sungai.

Peralatan masak pun ikut berhamburan melayang  beterbangan ke tengah sungai, di buang oleh petugas. Tenda tenda dibongkar dan dirobohkan. Gulai ayam setengah masak dijungkir balikkan. Seketika suasana menjadi tegang.

Para memilik warung menjadi tersangka, mereka digelandang ke kantor polisi dengan menenteng periuk hitam sebagai barang bukti. 

Syukurlah, masih ada kontrol sosial.

***

Siang itu sangatlah terik, matahari serasa bertengger di atas ubun ubun. Ogung baru saja bergema dari menara mesjid raya disusul berkumandangnya azan waktu dzuhur.  

Empat orang muda masih asyik di bawah pohon kelapa. Satu orang menggunakan kaos singlet yang lainnya bertelanjang dada. Mereka menggunakan celana pendek yang sudah agak kumal. 

Empat moncong meriam telah mereka arahkan ke desa seberang,  sepertinya perang sore ini akan berkecamuk dengan hebatnya.  Mereka menyebut hari pembalasan.  Kemaren sore mereka kalah telak.  Dentuman meriam dari desa seberang bertubi tubi ke arah mereka. 

Hari ini betul betul mereka persiapkan dengan sangat matang,  tidak tanggung-tanggung, meriam ditambah satu sehingga genap menjadi empat. Biar tidak terulang seperti hari kemaren sore, minyak lampu sebagi bahan mesiu pun kehabisan. Dentuman meriam dari desa seberang tak bisa dibalas,  akhirnya meraka mundur dari pertempuran. 

Lihatlah meriam yang paling ujung,  diameternya kurang lebih 13 centimeter, panjangnya satu setengah meter, bahannya dari pangkal bambu bulu tolang, tebal dan kekar. Bagian tengah, ujung dan pangkal sengaja diikat menggunakan kawat. Sekedar berjaga jaga, kalau kalau bambunya terbelah, tidak sampai membahayakan.

Minyak lampu telah dimasukkan ke dalam perut meriam. Selanjutnya  dipanaskan barang 10 sampai lima belas menit. Untuk bahan pematik,  lampu teplok tanpa semprong sudah pula dinyalakan. Ketiga orang muda itu bersiap siap. Sekali dua mereka coba, ternyata belum bersuara, hanya asap putih saja yang keluar dari moncong meriam.  Itu berarti minyak tanah yang berada diperut meriam belum terlalu panas, sehingga daya hisapnya masih rendah.

Sementara meriam dari desa seberang sudah berdentum satu kali, menandakan mereka sudah siap bertempur sore ini. 

Woww… Tiba tiba meriam dengan diameter 13 centimeter menyalak,  berdentum membelah bumi.  Keempat sekawan itu merasa girang, mereka yakin, sore ini mereka akan menang.

Rentetan dentuman saling balas membalas, meriam anak-anak dari kaki Bukit Siojo mendominasi menyerang. Sang lawan hanya  membalas dengan dentuman yang lebih lemah. 

Haripun mulai menjelang petang,  nampak di udara kelelawar menghitam pulang ke Lubuk Jorbing. Sebentar lagi beduk akan berbunyi. Acara  papotang potang ari, usai sudah. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bunga Bangkai Mekar di Sipirok

    Bunga Bangkai Mekar di Sipirok

    • calendar_month Jumat, 15 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK, (MO)  – Hutan hujan tropis di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) yang merupakan kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali, menyimpan potensi flora dan fauna yang luar biasa. Salah satunya jenis bunga raksasa yang biasa disebut Bunga Bangkai atau Atturbung, belum lama ini ditemukan tumbuh di kawasan itu. “Kami menemukan Bunga Bangkai itu di daerah […]

  • Cegah Stunting, Atika Minta Calon Pengantin Diedukasi Sebelum Menikah

    Cegah Stunting, Atika Minta Calon Pengantin Diedukasi Sebelum Menikah

    • calendar_month Selasa, 6 Jun 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina), Sumut, Atika Azmi Utammi Nasution meminta Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Madina menyampaikan secara humanis kepada calon pasangan pengantin (catin) cara mendapatkan izin menikah dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Madina. Hal ini guna menekan risiko keluarga stunting. “Untuk menikah saja pemerintah ikut mengurusnya agar […]

  • Pemprovsu Siapkan Perda Kemudahan Investasi

    Pemprovsu Siapkan Perda Kemudahan Investasi

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) tengah menyiapkan penerbitan peraturan daerah (perda) yang mengatur pemberian insentif dan kemudahan investasi. Penerbitan Perda untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi di Sumut. Draf Ranperda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal dibahas dalam rapat yang dipimpin Asisten Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Sumut Hj R Sabrina dan Kepala Badan […]

  • Bupati Madina Didemo untuk Desak Stop Kegiatan PT SMGP

    Bupati Madina Didemo untuk Desak Stop Kegiatan PT SMGP

    • calendar_month Jumat, 6 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Panyabungan. Sedikitnya 50 massa MPC Pemuda Pancasila (PP) Mandailing Natal (Madina) melaksanakan demo ke Pemkab Madina menuntut agar Bupati HM Hidayat Batubara menghentikan kegiatan PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) karena keberadaannya meresahkan masyarakat. Desakan tersebut disampikan Tan Gojali salah seorang orator saat melakukan aksi demo di depan Pintu Masuk Kantor Bupati Madina dengan pengawalan […]

  • Hanafi Sang Pengayom Masyarakat

    Hanafi Sang Pengayom Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Mentawai: Hanafi, seorang polisi lalu lintas, pengayom masyarakat yang gemar membagikan ilmu bercocok tanam kepada warga di Dusun Turonia, desa Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Ahad (28/11). Di petang hari dan di waktu luangnya, Hanafi lebih sering terlihat di lahan dekat kantornya bekerja, yang disulap menjadi ladang bercocok tanam. Sejak bertugas di Kepulauan Mentawai, Hanafi […]

  • Harga Karet Di Madina Bergerak Naik

    Harga Karet Di Madina Bergerak Naik

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah lama harga karet alam membuat petani kalang kabut, kini harga terlihat bergerak naik. Pantauan wartawan di Kecamatan Kotanopan, Panyabungan dan Kecamatan Panyabungan Timur di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) penjualan getah karet di tingkat petani naik antara 800 hingga 1.000 rupiah per kilo gram. “Kita menjual karet hari ini […]

expand_less