Setelah Viral, Balai TNBG Turunkan Tim Gabungan Bersama Gakkum Wilayah 1 Sumut
- account_circle Muhammad Hanapi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Aktivitas pekerja pelku tambang emas ilegal dikawasan TNBG Madina ( ist )
MADINA (Mandailing Online) – Setelah viral dan menjadi sorotan tajam publik, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) akhirnya bergerak.
Seiring dengan viralnya pemberitaan tentang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di dalam kawasan hutan konservasi Aek Nabontar, Balai TNBG yang bermarkas di Panyabungan langsung menyiapkan Tim Penindakan Gabungan.
Kepala Balai TNBG Agusman melalui KTU Herbet Aritonang, Sabtu (24/10/2026) mengungkapkan pada Media bahwa pihaknya sudah berada di lapangan.
“Terima kasih informasinya rekan-rekan media. Saat ini kami sedang mempersiapkan tim gabungan untuk penanganan ke Aek Nabontar. Saat ini tim dari TNBG sedang di lapangan melakukan penanganan kasus sejenis bersama Tim dari Balai Gakkum Wilayah 1 Sumatera. Mohon dukungannya untuk melakukan penanganan kembali ke Aek Nabontar,” sebut Herbet Aritonang.
Pernyataan ini keluar setelah media membongkar adanya dugaan kuat pelaku PETI dari Jorong Panggambiran, Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat yang telah menyusup masuk ke hutan konservasi TNBG dan mengeruk kekayaan alam Mandailing Natal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat yang meminta identitasnya dirahasiakan, aktivitas haram itu menggunakan alat berat. Saat ini 2 unit excavator sudah beroperasi di Aek Nabontar, dan 1 unit lagi sedang dalam proses pergeseran menuju lokasi.
Artinya, ada 3 unit excavator yang menjadi target operasi tim gabungan TNBG dan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Wilayah I Sumatera.
Masyarakat berharap tim gabungan ini tidak masuk angin dan benar-benar menyita excavator serta menangkap aktor intelektual di balik perusakan hutan konservasi tersebut. Pasalnya, TNBG adalah rumah bagi satwa dilindungi seperti Harimau Sumatera dan paru-paru dunia. Jika PETI dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya emas Madina, tapi juga masa depan ekosistemnya.(*)
- Penulis: Muhammad Hanapi




