Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Siapa Bilang “Sekda Planga Plongo” dan “Bupati Keong”? (bagian 2 dari 3 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
  • print Cetak

AGENDA PARKIR, BIROKRASI LELET

Oleh: Tim Peci Manajemen

Dari Disposisi Bupati ke Meja yang Tak Kunjung Bergerak

Jabatan Sekretaris Daerah sering kali dipahami sebagai jabatan administratif. Padahal, sesungguhnya tidak.

Jika, Sekda adalah ruang mesin pemerintahan, maka Bupati yang menentukan arahnya.
Selajutnya, Sekda mestinya segera memastikan arah itu berubah menjadi gerakan.

Ukuran keberhasilan seorang Sekda bukan banyaknya rapat yang dipimpin. Bukan pula banyaknya surat yang masuk.
Patokan sesungguhnya adalah: berapa banyak agenda yang sudah dapat direalisasikan.

Di banyak daerah, penyakit birokrasi paling berbahaya bukan kekurangan gagasan. Melainkan terlalu banyak gagasan yang berhenti di meja koordinasi.
Setelah diterima.
Setelah perintah diterima. Lalu, didisposisi. Terus, dibahas. Kemudian, perintah itu perlahan menghilang.

Fenomena seperti inilah yang disebut sebagai budaya parkir agenda.
Dalam konteks daerah, kritik terhadap Sekda seharusnya tidak dibaca sebagai kritik terhadap pribadi. Sasaran kritik itu adalah fungsi koordinasi.
Di sekitar kritik itu mengemuka pertanyaan:

Apakah semua agenda yang masuk sudah memperoleh kepastian?

Apakah usulan masyarakat mendapat respons yang jelas?
Apakah disposisi pimpinan benar-benar berubah menjadi tindakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting bukan hanya bagi pihak-pihak yang sedang mengajukan permohonan, tapi juga bagi pihak Pemda.
Jelas, masyarakat tidak selalu menuntut agar usulannya diterima. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian: Apakah usul atau permohonan diterima atau ditolak? Diproses atau ditunda?
Yang mereka tuntut adalah keputusan.
Bukan sikap yang menggantung.

Sebaliknya, jika budaya parkir agenda dibiarkan, maka yang macet bukan hanya administrasi.
Kepercayaan pada birokrasi bisa runtuh!
Dan ketika kepercayaan mulai macet, berbagai label negatif akan lebih mudah tumbuh.
Karena itu, menurut kami, reformasi kecil perlu segera dilakukan.

Setiap disposisi harus memiliki batas waktu. Semua surat harus memiliki status yang jelas. Agenda kerja harus memiliki titik akhir keputusan.

Sebab birokrasi modern dari banyaknya keputusan yang dihasilkan. Bukan dari banyaknya dokumen yang diterima. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kadin Madina : Mendorong Pelaku Usaha Hingga Penguatan Ekonomi Kreatif

    Kadin Madina : Mendorong Pelaku Usaha Hingga Penguatan Ekonomi Kreatif

    • calendar_month Rabu, 25 Okt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Malam ini, Rabu (25/10/2017) Kadin Madina akan dilantik bertempat di aula Hotel Rindang, Panyabungan. Lalu, apa langkah-langkah dan program yang akan dicuatkan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) ke depan? Ketua Kadin Madina, Sobir Lubis dalam satu wawancara dengan wartawan, Rabu padi mencuatkan berbagai item program yang akan disiapkan dan disusung Kadin ke depan dalam […]

  • Model asal Sumbar jadi Putri Indonesia 2013

    Model asal Sumbar jadi Putri Indonesia 2013

    • calendar_month Minggu, 3 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, (MO)- Putri Indonesia Sumatera Barat, Whulandary Herman, secara resmi menyandang gelar Putri Indonesia 2013. “Ini adalah pemilihan terbesar dan mimpi saya sejak kecil. Namun saya rasa ini adalah impian banyak perempuan Indonesia, dan saya bangga bisa mewakili mimpi seluruh perempuan Indonesia,” ujar Whulandary usai final pemilihan Putri Indonesia 2013 di Jakarta, Jumat. Whulandary adalah […]

  • Ketika Pencuri pun Malas Mengambil Buku

    Ketika Pencuri pun Malas Mengambil Buku

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Moecktar Nasution
    • 0Komentar

    Oleh: Moechtar Nasution Forum Lintas Studi Tulila*     Titi Gantung  Pernah mendengar ungkapan lama ini? “Pembaca tidak mencuri, dan pencuri tidak membaca.” Ada benarnya juga, ya. Kalau kita menengok ke belakang, ada satu tempat legendaris di Kota Medan yang menjadi bukti nyata dari kebenaran kalimat itu: Titi Gantung. Bagi anak Medan, terutama para pemburu […]

  • Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014. Ruang I. (Sesi I) Hari :  Jumat, Pukul : 08.00 s/d 10.00 wib Tanggal : 19 Desember 2014   NO.   RUANG UJIAN   NO. PESERTA   NAMA PESERTA 1 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 1 52132001419 DEWI AGUSTINA SIHOMBING 2 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB […]

  • Padi Siganteng, 7 Pantak Hasilnya 156 Kaleng

    Padi Siganteng, 7 Pantak Hasilnya 156 Kaleng

    • calendar_month Rabu, 2 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sarwedi Hasibuan, petani di Desa Gunung Tua Julu sudah memakai varietas padi Siganteng di areal sawah yang digarapnya seluas 7 pantak (36 pantak = 1 hektar) dan 3 pekan lalu sudah panen. Mengejutkan sekali bagi Sarwedi karena pendapatan dari lahan 7 pantak itu diperoleh 156 kaleng (1 kaleng rata-rata 11 kg). […]

  • Harga Karet Turun dari Pekan Lalu

    Harga Karet Turun dari Pekan Lalu

    • calendar_month Kamis, 10 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga karet di Panyabungan, Mandailing Natal turun dibanding pekan lalu. Pantauan wartawan di pertimbangan Iparbondar, Panyabungan, Kamis (10/10/2019) harga terrendah di kisaran 7.300 rupiah per kg, sedangkan tertinggi di kisaran 7.500 rupiah per kg. Harga itu mengalami penurunan sekitar 500 rupiah dibanding Kamis pekan lalu dimana harga terrendah masih […]

expand_less