Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Siapa Bilang “Sekda Planga Plongo” dan “Bupati Keong”? (bagian 2 dari 3 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 50 menit yang lalu
  • print Cetak

AGENDA PARKIR, BIROKRASI LELET

Oleh: Tim Peci Manajemen

Dari Disposisi Bupati ke Meja yang Tak Kunjung Bergerak

Jabatan Sekretaris Daerah sering kali dipahami sebagai jabatan administratif. Padahal, sesungguhnya tidak.

Jika, Sekda adalah ruang mesin pemerintahan, maka Bupati yang menentukan arahnya.
Selajutnya, Sekda mestinya segera memastikan arah itu berubah menjadi gerakan.

Ukuran keberhasilan seorang Sekda bukan banyaknya rapat yang dipimpin. Bukan pula banyaknya surat yang masuk.
Patokan sesungguhnya adalah: berapa banyak agenda yang sudah dapat direalisasikan.

Di banyak daerah, penyakit birokrasi paling berbahaya bukan kekurangan gagasan. Melainkan terlalu banyak gagasan yang berhenti di meja koordinasi.
Setelah diterima.
Setelah perintah diterima. Lalu, didisposisi. Terus, dibahas. Kemudian, perintah itu perlahan menghilang.

Fenomena seperti inilah yang disebut sebagai budaya parkir agenda.
Dalam konteks daerah, kritik terhadap Sekda seharusnya tidak dibaca sebagai kritik terhadap pribadi. Sasaran kritik itu adalah fungsi koordinasi.
Di sekitar kritik itu mengemuka pertanyaan:

Apakah semua agenda yang masuk sudah memperoleh kepastian?

Apakah usulan masyarakat mendapat respons yang jelas?
Apakah disposisi pimpinan benar-benar berubah menjadi tindakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting bukan hanya bagi pihak-pihak yang sedang mengajukan permohonan, tapi juga bagi pihak Pemda.
Jelas, masyarakat tidak selalu menuntut agar usulannya diterima. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian: Apakah usul atau permohonan diterima atau ditolak? Diproses atau ditunda?
Yang mereka tuntut adalah keputusan.
Bukan sikap yang menggantung.

Sebaliknya, jika budaya parkir agenda dibiarkan, maka yang macet bukan hanya administrasi.
Kepercayaan pada birokrasi bisa runtuh!
Dan ketika kepercayaan mulai macet, berbagai label negatif akan lebih mudah tumbuh.
Karena itu, menurut kami, reformasi kecil perlu segera dilakukan.

Setiap disposisi harus memiliki batas waktu. Semua surat harus memiliki status yang jelas. Agenda kerja harus memiliki titik akhir keputusan.

Sebab birokrasi modern dari banyaknya keputusan yang dihasilkan. Bukan dari banyaknya dokumen yang diterima. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerindra Dijanjikan Kursi BK Pascaamendemen UU MD3

    Gerindra Dijanjikan Kursi BK Pascaamendemen UU MD3

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menerima informasi keterlibatan Fraksi Gerindra di Badan Kehormatan (BK) DPR RI selepas amandemen Undang-Undang RI Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (MD3). Itu berarti, nasib Fraksi Gerindra bakal ditentukan bulan Juni mendatang. “Buat Gerindra tidak […]

  • Rebecca Pacari Anak Medan

    Rebecca Pacari Anak Medan

    • calendar_month Sabtu, 27 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Penyanyi Rebecca akhirnya mengakui sudah punya kekasih. Mengaku serius pacaran dan ingin menikah, penyanyi yang punya banyak tato ini masih merahasiakan identitas pujaan hatinya. “Sudah ada, bahkan kita sudah bertemu keluarga masing-masing,” kata Rebeccan Meski serius bukan berarti Rebecca ingin menikah cepat. Kekasih Rebecca yang kabarnya berdarah Kanada dan Medan itu juga belum mau mengajak […]

  • Negeri Kaya Masalah Miskin Solusi

    Negeri Kaya Masalah Miskin Solusi

    • calendar_month Rabu, 15 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tidaklah sesuatu yang mendramatisir, kalau kita mengatakan negeri ini sungguh kaya berbagai permasalahan, tetapi sangat miskin dalam solusi Mencermati permasalahan bangsa ini, yang demikian kompleks, beberapa pengamat yang biasanya pintar berdiskusi–ikut larut dalam suasana putus asa–menyatakan entah dari mana akan kita mulai membenahi kondisi bangsa yang sungguh memprihatinkan ini. Apa yang menjadikan keprihatinan bagi para […]

  • Warga MBG Dukung SAHATA Untuk Lanjutkan Pembangunan Infrastruktur

    Warga MBG Dukung SAHATA Untuk Lanjutkan Pembangunan Infrastruktur

    • calendar_month Kamis, 10 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Dukungan untuk pasangan calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA) di Pilkada Madina 2024 terus mengalir. Kali ini dukungan datang dari sejumlah warga Desa Manuncang dan Desa Tagilang Julu, Kecamatan Muara Batang Gadis. Mereka menyampaikan dukungan ke Paslon SAHATA […]

  • Islam Meniadakan Perilaku Aborsi

    Islam Meniadakan Perilaku Aborsi

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Novida Sari Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal   Anak merupakan amanah yang berasal dari Allah Swt. Tidak semua pasangan yang telah menikah langsung dikaruniai anak. Ada yang langsung diberikan amanah namun tak sedikit yang menunggu hingga puluhan tahun. Namun kapitalisme yang menjangkiti Negara ini telah membuat beberapa oknum untuk membuka klinik […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 8)

    MARSIDAO-DAO (episode 8)

    • calendar_month Kamis, 3 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Naisuratkon : Dahlan Batubara Sonima arasoki ni na tingon tobat i, arop mandapoti do halak bope namarsoluk-soluk tingon manyogot ni ari santak tu arian. Soni muse pala borngin ni ari les dodas do adong arasokina, ima halak namarsulu. I longko-longko ni tobat i asa pe longko na ilambung pambulu nai ma marlagut gulaen […]

expand_less