Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Siapa Bilang “Sekda Planga Plongo” dan “Bupati Keong”? (bagian 1 dari 3 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
  • print Cetak

MELACAK ARAH CAP “SEKDA PLANGA-PLONGO” DAN “BUPATI KEONG”

Oleh: Tim Peci Manajemen

 

Dalam beberapa hari terakhir dunia maya khsusnya di facebook muncul postingan yang mengkritisi pemerintah daerah. Bentuk kritiknya berupa simbol dan sifat tertentu terhadap figur bupati dan sekda. Lantas bagaimana menyikapi topik-topik ini?

 

Ketika Kritik Berubah Menjadi Simbol Politik

Dalam politik, kritik yang paling berbahaya bukan kritik yang panjang. Bukan pula kritik yang disampaikan dalam seminar atau forum resmi.
Yang paling berbahaya adalah kritik yang berhasil berubah menjadi simbol.

Belakangan, ruang publik (medsos) mulai diwarnai dua cap yang cukup keras. Sekretaris daerah disebut “planga-plongo”. Sementara bupati diberi julukan “keong”.
Awalnya hanya terdengar sebagai obrolan warung kopi.

Postingan di Facebook yang mengkritisi bupati

 

Kemudian muncul dalam grup percakapan. Kini mulai tampil secara terbuka di media sosial melalui poster dan unggahan yang secara langsung menyasar pimpinan pemerintahan daerah.
Pertanyaannya bukan apakah cap tersebut benar.
Pertanyaannya adalah:
mengapa cap itu mulai menemukan pendengarnya?

Sebab, dalam komunikasi politik, tidak semua kritik mampu hidup lama. Sebuah label hanya bertahan apabila menemukan ruang sosial yang membuatnya terasa masuk akal bagi sebagian orang.

Di titik ini, istilah “planga-plongo” dan “keong” sesungguhnya sedang menyampaikan satu pesan yang sama.

Bahwa sebagian masyarakat mulai mempertanyakan kecepatan dan efektivitas pemerintahan.
Tentu saja persepsi belum tentu sama dengan kenyataan.

Tetapi dalam politik, persepsi yang dibiarkan tumbuh tanpa jawaban sering kali berubah menjadi kenyataan politik baru.
Karena itu, pemerintah tidak perlu sibuk mencari siapa yang pertama mengucapkannya.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa istilah itu mulai beredar.

Apakah karena komunikasi pemerintahan kurang kuat?

Apakah karena hasil pembangunan belum cukup terlihat?

Ataukah karena ada pihak-pihak tertentu yang sedang membangun opini?
Bisa jadi semuanya sekaligus.

Postingan di facebook yang mengkritisi sekda dengan sifat tertentu

Namun satu hal pasti.
Simbol lahir ketika ada ruang kosong.
Dan ruang kosong itu hanya bisa ditutup oleh kinerja yang terlihat dan komunikasi yang meyakinkan.

Maka sesungguhnya, persoalan terbesar bukanlah siapa yang menyebut sekda planga-plongo atau bupati keong.
Yang jadi masalah adalah mengapa simbol tersebut mulai menemukan rumahnya di ruang publik. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akhiri Manasik, 757 Calhaj Madina Simulasi Pelaksanaan Haji

    Akhiri Manasik, 757 Calhaj Madina Simulasi Pelaksanaan Haji

    • calendar_month Senin, 6 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)  : Calon Jamaah Haji atau Calhaj asal Mandailing Natal ( Madina ) hari ini mengahiri manasik akbar dengan memakai pakaian ihram, seterusnya melakukan tawaf, sa’i, dan tahallul. Tidak itu saja jamaah juga dipraktekkan bagai mana qukuf di arafah, thawaf ifadhah, mabit di musdhalifah, serta melontar jumrah aqabah, kemudian tahallul pertama, melempar 3 […]

  • Banjir Bandang Malintang Terparah Dibanding Hutabargot

    Banjir Bandang Malintang Terparah Dibanding Hutabargot

    • calendar_month Senin, 27 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Mandailing natal, Selain di Kecamatan Bukit Malintang, banjir bandang juga melanda Kecamatan Hutabargot. Berdasar data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina yang diperoleh, Senin, jumlah kerusakan lebih besar di Kecamatan Bukit Malintang. Di Kecamatan Bukit Malintang, 3 unit rumah hanyut, sebelas unit rumah rusak berat dan 100 unit […]

  • Pedagang Prediksi Harga Daging 170 Ribu Jelang Idul Fitri

    Pedagang Prediksi Harga Daging 170 Ribu Jelang Idul Fitri

    • calendar_month Rabu, 13 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Pedagang memprediksi harga daging sapi menyentuh Rp170 ribu per kg menjelang Hari Raya Idul Fitri.  Prediksi itu berdasar pergerakan harga daging sapi saat ini yang merangkak naik dari Rp110 ribu per Kg. “Daging sapi ya normalnya Rp110 ribu per Kg. Tapi makin ke sini, pelan-pelan naik jadi Rp130 ribu per Kg. Kadang bisa […]

  • Pemerintah siapkan Rp70 triliun untuk desa

    Pemerintah siapkan Rp70 triliun untuk desa

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA –  Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi menyiapkan anggaran sebesar Rp70 triliun untuk dialokasikan kepada setiap desa dan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di seluruh Indonesia. Dana tersebut merupakan 10 persen dari Rp 700 triliun anggaran transfer daerah, sehingga setiap desa akan dialokasikan sebesar Rp 1,4 miliar, bahkan akan ditingkatkan jumlah sesuai kebutuhan. “Untuk […]

  • Wacana Penggantian Nama Panyabungan, ICMI Muda: Sukhairi-Atika Fokus Saja Menunaikan Janji Kampanye dan Visi Misi

    Wacana Penggantian Nama Panyabungan, ICMI Muda: Sukhairi-Atika Fokus Saja Menunaikan Janji Kampanye dan Visi Misi

    • calendar_month Jumat, 16 Sep 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wacana penggantian nama “Panyabungan” yang dilemparkan Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Jafar Sukhairi Nasution menuai kritik dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muda Madina. Wacana ini dipandang tidak urgen dan kontradiktif dengan janji kampanye dan visi misi pemerintahan Sukhairi-Atika (SUKA). “Wacana itu kontraproduktif dengan sejarah panjang kota Panyabungan dan semangat […]

  • Menteri Pertanian Akan Perkuat Penyuluh Kecamatan

    Menteri Pertanian Akan Perkuat Penyuluh Kecamatan

    • calendar_month Selasa, 29 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      GOWA – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo segera mewujudkan optimalisasi peran penyuluh kecamatan. Untuk memuluskan optimalisasi itu, pemerintah membentuk Sistem Komando Strategis Teknis Pertanian (Kostra Tani) dalam 100 hari pertama. Itu diungkap Syahrul di Rumah Kayu Gowa, Minggu (27/10) seusai mengikuti Car Free Day. Seluruh aktivitas level lapangan, pengendalian dan operasionalnya dipusatkan di kecamatan-kecamatan. […]

expand_less