Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Siapa Bilang “Sekda Planga Plongo” dan “Bupati Keong”? (bagian 1 dari 3 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

MELACAK ARAH CAP “SEKDA PLANGA-PLONGO” DAN “BUPATI KEONG”

Oleh: Tim Peci Manajemen

 

Dalam beberapa hari terakhir dunia maya khsusnya di facebook muncul postingan yang mengkritisi pemerintah daerah. Bentuk kritiknya berupa simbol dan sifat tertentu terhadap figur bupati dan sekda. Lantas bagaimana menyikapi topik-topik ini?

 

Ketika Kritik Berubah Menjadi Simbol Politik

Dalam politik, kritik yang paling berbahaya bukan kritik yang panjang. Bukan pula kritik yang disampaikan dalam seminar atau forum resmi.
Yang paling berbahaya adalah kritik yang berhasil berubah menjadi simbol.

Belakangan, ruang publik (medsos) mulai diwarnai dua cap yang cukup keras. Sekretaris daerah disebut “planga-plongo”. Sementara bupati diberi julukan “keong”.
Awalnya hanya terdengar sebagai obrolan warung kopi.

Postingan di Facebook yang mengkritisi bupati

 

Kemudian muncul dalam grup percakapan. Kini mulai tampil secara terbuka di media sosial melalui poster dan unggahan yang secara langsung menyasar pimpinan pemerintahan daerah.
Pertanyaannya bukan apakah cap tersebut benar.
Pertanyaannya adalah:
mengapa cap itu mulai menemukan pendengarnya?

Sebab, dalam komunikasi politik, tidak semua kritik mampu hidup lama. Sebuah label hanya bertahan apabila menemukan ruang sosial yang membuatnya terasa masuk akal bagi sebagian orang.

Di titik ini, istilah “planga-plongo” dan “keong” sesungguhnya sedang menyampaikan satu pesan yang sama.

Bahwa sebagian masyarakat mulai mempertanyakan kecepatan dan efektivitas pemerintahan.
Tentu saja persepsi belum tentu sama dengan kenyataan.

Tetapi dalam politik, persepsi yang dibiarkan tumbuh tanpa jawaban sering kali berubah menjadi kenyataan politik baru.
Karena itu, pemerintah tidak perlu sibuk mencari siapa yang pertama mengucapkannya.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa istilah itu mulai beredar.

Apakah karena komunikasi pemerintahan kurang kuat?

Apakah karena hasil pembangunan belum cukup terlihat?

Ataukah karena ada pihak-pihak tertentu yang sedang membangun opini?
Bisa jadi semuanya sekaligus.

Postingan di facebook yang mengkritisi sekda dengan sifat tertentu

Namun satu hal pasti.
Simbol lahir ketika ada ruang kosong.
Dan ruang kosong itu hanya bisa ditutup oleh kinerja yang terlihat dan komunikasi yang meyakinkan.

Maka sesungguhnya, persoalan terbesar bukanlah siapa yang menyebut sekda planga-plongo atau bupati keong.
Yang jadi masalah adalah mengapa simbol tersebut mulai menemukan rumahnya di ruang publik. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perolehan PAD Madina Masih 31 Persen

    Perolehan PAD Madina Masih 31 Persen

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Realisasi perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mandailing Natal hingga pertengahan September 2016 masih sekitar 31 persen. Itu terungkap dalam rapat antara Badan Anggaran DPRD Mandailing Natal (Madina) dengan Pemkab Madina di gedung dewan, Kamis (15/9) membahas serapan anggaran untuk semester pertama APBD 2016. Rendahnya perolehan PAD itu menimbulkan aura […]

  • Awas! Miras Makin Bebas, Kejahatan Makin Meluas

    Awas! Miras Makin Bebas, Kejahatan Makin Meluas

    • calendar_month Jumat, 27 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kemendagri akan mencabut 3.266 peraturan daerah (Perda) yang dianggap menghambat investasi dan pembangunan. Mendagri Tjahjo Kumolo mengakui bahwa di antara Perda tersebut, ada Perda yang berisi pelarangan terhadap minuman beralkohol. Meski demikian, kata Tjahjo, dengan pencabutan Perda-perda itu bukan berarti Pemerintah mendukung peredaran minuman beralkohol.  “(Perda) yang saya cabut itu karena bertentangan dengan peraturan dan perundangan,” […]

  • Lingkar Timur Diaspal, Atika Tinjau Pengerjaan

    Lingkar Timur Diaspal, Atika Tinjau Pengerjaan

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil bupati (Wabup) Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution bersama Plt.Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Madina Ir. Elfi Yanti Harahap, ST meninjau proyek pengaspalan Jalan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (lingkar timur), Kecamatan Panyabungan, Madina, Rabu (4/12/2024). Saat peninjauan, Wabup Madina Atika, Kepala Dinas PUPR Elfi […]

  • Anggaran PNPM untuk Madina Turun

    Anggaran PNPM untuk Madina Turun

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) mendapat anggaran sebesar Rp 40,75 miliar melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Anggaran untuk pemberdayaan pedesaan di semua kecamatan tersebut menurun dibandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp 48,5 miliar. “Meski menurun, Madina merupakan daerah dengan alokasi anggaran PNPM Mandiri terbesar kedua di Sumut setelah Kota Sibolga,” kata […]

  • Video: Festival Nasyid di Kecamatan Siabu

    Video: Festival Nasyid di Kecamatan Siabu

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Festival Nasyid diselenggarakan di Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu.

  • UMP Rp2,4 juta bisa di Sumut

    UMP Rp2,4 juta bisa di Sumut

    • calendar_month Selasa, 20 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO) – Keinginan buruh di Sumatera Utara untuk segera menikmati Upah Minimum Provinsi (UMP) di kisaran Rp2,4 juta tampaknya bisa terwujud pada 2013 mendatang. Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dan Dewan Pengupahan Daerah Sumatera Utara segera melakukan pertemuan untuk membahas tuntutan buruh tersebut. Kita akan coba bicarakan nantinya Upah Minimum Provinsi (UMP) yang diusulkan para […]

expand_less