Selasa, 28 Jul 2026
light_mode

Suhu Bumi Memanas, Kita Wajib Was-was

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 22 Jun 2023
  • print Cetak

Oleh: Ari Nurainun,SE
Aktivis Muslimah, Pemerhati Kebijakan Publik

Di negeri ini tak hanya suhu politik yang memanas, suhu di permukaan bumi juga memanas. Hal ini diungkapkan oleh Mardiono (54), petani sayur dari Kampung Baru, Kelurahan Teluk Bayur, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kenaikan suhu di Berau yang mencapai 0,95 derajat celsius dalam 16 tahun terakhir, membuat dirinya dan para petani di Kampung Baru terpaksa harus mengubah jam kerja menjadi pagi sebelum jam 09.30 dan sore hingga malam hari untuk menghindari paparan panas.

Panas yang terlalu terik karena kenaikan suhu yang mencapai 0,95 derajat celsius dalam 16 tahun terakhir, membuat para petani di daerah tersebut tidak sanggup lagi bekerja di siang hari. Mereka mengganti jam kerja di pagi dan sore hingga malam hari.

Nicholas Wolff peneliti The Nature Conservancy, Nicholas Wolff, dalam laporannya menunjukkan terjadi kenaikan suhu permukaan tanah di Berau mencapai 0,95 derajat celcius dalam 16 tahun atau setara dengan 0,59 derajat celcius per dekade. Pengamatan ini didasarkan rekaman satelit dari periode tahun 2002-2018. Selain itu, menurut pengamatan yang dilakukan oleh BMKG selama 40 tahun terakhir di berbagai stasiun di Indonesia dan ditemukan laju kenaikan tertinggi terekam di Samarinda, Kalimantan Timur. Hal ini  disampaikan oleh peneliti perubahan iklim sekaligus dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Dodo Gunawan.

Krisis Iklim Buah dari Deforestasi Hutan

Tak sulit mencari penyebab terjadinya peningkatan suhu dan krisis iklim yang kini melanda tak hanya di berau, juga melanda wilayah lain di Indonesia bahkan dunia.
PBB menyatakan sejak tahun 1990, dunia telah kehilangan 420 juta hektare hutan.

Sementara itu, menurut data dari Global Forest Watch, Indonesia kehilangan 9,75 juta hektar hutan primer antara tahun 2002 dan 2020. Dampak deforestasi ini sangat mengerikan. Berdasarkan kajian Wolff dan tim, peningkatan suhu harian di Berau ini telah meningkatkan 7,3–8,5 persen kematian dari semua penyebab, atau sekitar 101–118 tambahan kematian per tahun pada 2018. Di sisi lain, peningkatan suhu ini juga menyebabkan peningkatan waktu kerja yang tidak aman sebesar 0,31 jam per hari di daerah yang terjadi deforestasi dibandingkan dengan 0,03 jam per hari di daerah yang mempertahankan tutupan hutan.

Ike Anggraini, pengajar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman Samarinda, yang ikut serta dalam tim kajian Wolff di Berau mengatakan, deforestasi telah menghilangkan fungsi pendinginan dari hutan. Hilangnya tempat berteduh, mengganggu evapotranspirasi, dan siklus air. Dalam jangka panjang, penggundulan hutan juga meningkatkan emisi karbon sehingga berkontribusi terhadap pemanasan global. Hal ini juga berdampak pada kesehatan, terutama dari meningkatnya paparan panas yang bisa memicu dehidrasi hingga gangguan ginjal.

Sebuah kajian terpisah yang dipublikasikan jurnal Global Environmental Change pada 2019, Ike dan tim juga menunjukkan, perubahan pola kerja yang dialami petani di Berau, sebagaimana dipaparkan Mardiono. Produktivitas pekerja di luar ruangan, seperti petani menjadi menurun, karena waktu istirahat makin banyak di siang hari.

Jelas bahwa panas dari deforestasi telah menurunkan kemampuan untuk bekerja dengan aman. Hutan-hutan yang menghilang dalam hitungan hari hingga tahun itu telah memperdalam dampak krisis iklim di Berau.

Terjadinya krisis iklim dan terus menurunnya ketersediaan air hingga menuju kekeringan ini dipicu industrialisasi yang digalakkan dalam era kapitalisme. Industrialisasi menjadi penyebab utama terjadinya deforestasi. Industrialisasi menyebabkan kesalahan pola penggunaan air. Air yang seharusnya mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga di suatu daerah, disedot untuk kepentingan industri tertentu. Akhirnya warga kesulitan air. Industri-industri tersebut mengambil air tanah sehingga mayoritas penduduk yang berada di sekitarnya mengalami kesulitan mendapatkan air. Secara sadar, telah terjadi pelanggaran PP 43/2008 tentang Air Tanah dan Kepmen ESDM No. 31/2018 tentang Zona Konservasi Air Tanah, namun tidak ada sanksi.

Tak hanya merusak kualitas air, pembuangan limbah juga mencemari sungai, merusak kawasan tangkapan air dan sumber air. Tak hanya itu, atas nama peningkatan perekonomian, banyak terjadi alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, perumahan, pergudangan, industri, dan lain-lain.

Demikianlah kapitalisasi SDA menjadi penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim yang berujung pada ancaman kekeringan.

Islam Penjaga Paru-Paru Dunia

Pengelolaan SDA yang kapitalistik  menyebabkan krisis lingkungan dan krisis iklim. Hal ini diakibatkan pengelolaan SDA yang serampangan oleh swasta. Kapitalisme membolehkan SDA diprivatisasi atau dikelola oleh pihak swasta demi meraih keuntungan sebesar-besarnya. Setiap individu dapat memiliki semua hal, tidak ada larangan dan batasan sama sekali.

Bertolak belakang dengan aturan Islam. Islam menjadikan SDA yang menentukan hajat hidup orang banyak sebagai kepemilikan milik umum, milik bersama yang tidak boleh diprivatisasi. Misalnya hutan, sumber air yang langka, tambang minyak dan gas maupun tambang lain yang kandungannya cukup banyak, serta hal lain yang sifatnya tidak dapat dimiliki individu, seperti laut, sungai, dan jalan. SDA tersebut harus dikelola negara dan tidak boleh diserahkan kepada individu atau swasta.

Negara bertugas sebagai pelindung dan melaksanakan fungsi pelayanan bagi rakyatnya. Oleh karenanya, SDA yang ada akan dikelola sebaik-baiknya demi kepentingan rakyat. Hutan misalnya, akan dijaga karena fungsinya sebagai paru-paru bumi, sebagai daerah tangkapan dan cadangan air tanah, serta pencegah bencana banjir dan longsor. Jika ada hutan yang rusak, negara akan melakukan reforestasi dan akan menindak tegas jika ada yang melakukan deforestasi.

Hanya menerapkan ini saja, perubahan iklim dan pemanasan global akan dapat dihindari. Karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Tak hanya menjaga paru-paru dunia. Namun juga melindungi alam semesta.

Wallahu’alam bi showab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah, Bolehkah?

    Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah, Bolehkah?

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ustaz Nashih Nashrullah Ucapan selamat bukan ritual agama. Pada Selasa (5/11), tibalah masa peralihan tahun baru Hijriyah, dari 1434 menuju 1435 H. Sistem kalender Islam memang bukan sekadar penanggalan biasa. Melainkan, ada banyak hal momentum berharga di baliknya, termasuk soal identitas. Maka, dalam tradisi sebagian kalangan belakangan ini muncul fenomena ritual keagamaan atau sebatas […]

  • Polres Madina Musnahkan 65 Kg Ganja

    Polres Madina Musnahkan 65 Kg Ganja

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal (Madina) melakukan pemusnahan daun ganja kering dan 300 batang ganja di halaman Mapolres Madina, Jum’at (19/8/2014). Kasat Resnarkoba AKP Timbul Sihombing dalam laporannya menyampaikan, barang haram jenis daun ganja kering yang dimusnahkan berjumlah 65 Kg yang disita dari para pengedar narkoba. Lalu 300 batang ganja dari total […]

  • BPBD Madina Cari Korban Hanyut di Aek Galoga

    BPBD Madina Cari Korban Hanyut di Aek Galoga

    • calendar_month Selasa, 13 Nov 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim BPBD Madina bersama warga hingga kini masih melakukan pencarian Roni Rizky yang hanyut di Sungai Batang Gadis, titik Aek Galoga, Selasa (13/11/2018). Berdasar informasi yang dihimpun di lapangan, remaja warga Aek Galoga, Panyabungan, Mandailing Natal itu hanyut ketika melompat ke sungai mengejar bola. Dia dan rekan-rekannya bermain bola di lapangan […]

  • PPK Proyek Jalan Nasional di Madina Diduga Perintahkan PT Jaya Kontruksi Bongkar Ulang Bangunan Drainase Tak Sesuai Bestek

    PPK Proyek Jalan Nasional di Madina Diduga Perintahkan PT Jaya Kontruksi Bongkar Ulang Bangunan Drainase Tak Sesuai Bestek

    • calendar_month Jumat, 15 Des 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Proyek Draninase satu paket dengan pengerjaan jalan proyek jalan nasional yang dikerjakan oleh PT Jaya Kontruksi ( Jakon ) di Kabupaten Mandailing kerap bermasalah. Drainase jalan nasional di wilayah pidoli dolok contoh ya, meski drainase itu sudah selesai dikerjakan namun dua hari terakhir kembali di bongkar, ada dugaan PPK ( Pejabat […]

  • Dengan Semangat HUT Madina Ke 15 Mari Kita Lanjutkan Pembangunan Untuk Kesejahteraan Rakyat

    Dengan Semangat HUT Madina Ke 15 Mari Kita Lanjutkan Pembangunan Untuk Kesejahteraan Rakyat

    • calendar_month Kamis, 6 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Oleh : Maradotang Pulungan Salah satu upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah dengan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebagai sasaran utama strategi pembangunan, laju pertumbuhan ekonomi merupakan hal penting yang selalu dikedepankan oleh pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan tujuan utama, mengingat Mandailing Natal sebagai Kabupaten yang berkembang, pertumbuhan ekonomi merupakan hal […]

  • 4 Pejabat Ikuti Seleksi Calon Sekda Madina

    4 Pejabat Ikuti Seleksi Calon Sekda Madina

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Total empat pejabat yang tertarik menduduki jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Sejak pengumuman seleksi calon sekda Madina tanggal 25 Juni 2019 hingga batas akhir penerimaan berkas 2 Agustus 2019, tercatat empat calon yang mengajukan berkas yang diterima panitia seleksi. Keempat pejabat itu, Alamulhaq Daulay (saat ini menjabat Asissten […]

expand_less