Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

TRADISI MARBANTE

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

(Kearifan Sosial Ekonomi di Mandailing)

Penduduk kampung bersama memotong-motong daging sebelum berbagi bersama. Ilustrasi

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

‘Marbante’ adalah kosa kata Bahasa Mandailing yang berasal dari kata ‘bante” yang dapat diartikan sebagai keseluruhan yang halal untuk dimakan dari bagian tubuh hewan yang berukuran besar, yang sudah disembelih seperti kerbau (horbo) dan lembu (lombu). Kemudian ditambah dengan awal ‘mar’ yang hampir sama fungsinya dengan awalan ‘ber’. Sehingga marbante dapat dimaknai sebagai proses penyembelihan hewan berukuran relatif besar untuk keperluan orang banyak yang dananya bersumber dari masyarakat itu sendiri. Untuk hewan kecil kambing, ayam dan sejenisnya jarang kosa kata ini digunakan untuk menyebutnya sebagai bante

Bante terdengar sangat dekat dengan kata ‘bantai’ dalam bahasa Indonesia, yang bila dimaknakan juga dapat berdekatan, terutama dengan proses penyembelihan hewan, hanya saja membantai cenderung bernilai negatif seperti kata membunuh dengan keji. 

Proses marbante biasanya diawali dari perbincangan pasca lebaran oleh para pria yang telah berumahtangga di lopo (kedai kopi), yang di wilayah Mandailing lopo ini hampir telihat selalu ada minimal satu setiap kampung. Dari percakapan informal kemudian ditanggapi masyarakat lainnya dengan fokus pada rencana marbante yang biasanya untuk keperluan jelang Hari Raya Idul Fitri atau terkadang juga jelang Ramadhan. Bila telah ada kesepakatan dari kelompok kecil, lebih lanjut akan disampaikan niat bersama dari kelompok kecil ini, pada salah satu anggota masyarakat yang terbiasa menjadi penanggungjawab. Tentulah ia anggota masyarakat yang tingkat kemampuan ekonominya lebih baik dan punya jaringan ke luar kampung, yakni toke (saudagar) di kampung.

Setelah menilai kondisi ekonomi masyarakat dan prediksi kemungkinan keadaan ekonomi satu tahun ke depan berdasarkan pengalaman toke, maka toke bila setuju, akan menjalankan semacam daftar peserta yang akan ikut sebagai anggota marbante yang diletakkan di lopo, dengan menuliskan nama dalam daftar bagi yang berminat. Jumlah pendaftar akan dicermati untuk bisa menutupi sejumlah kebutuhan yang seimbang antara besaran dana dan jumlah orang, dengan besaran harga hewan horbo atau lombu. Setelah diperhitungkan dan diyakini cukup, pendaftaran ditutup.

Mulailah peserta marbante mencicil sekali setiap minggu yakni pada hari pekan, setelah ditetapkan besaran cicilan. Tujuan cara cicilan ini adalah untuk tidak membebani diri menutupi kebutuhan jelang lebaran yang relatif cukup banyak. Penetapan hari pencicilan disesuaikan hari pekan untuk memudahkan orang mencicil pada saat menjual hasilnya dalam seminggu. Konfimasi kebenaran orang dalam daftar juga dilakukan sekaligus pada saat pencicilan pertama. Bila tidak datang, maka dilakukan konfirmasi keikutsertaan. Perlu dijelaskan bahwa proses pencicilan, tidak dengan perlakuan penagihan. Proses marbante peserta proaktif menyicil, bukan passif untuk ditagih. 

Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, Ramadhan pun dilalui, toke pun mencari hewan ternak sesuai kesepakatan. Minggu kedua Ramadhan hewan ternak sudah ada di kampung. Anak-anak sekolah di kampung juga libur, dan dengan senang hati mereka akan menggembalakan beramai-ramai sambil menunggu waktu berbuka. Meskipun anak-anak, namun rombongan ini pasti tetap ada ketuanya secara informal. Dan merupakan kebanggaan pula bagi anak-anak ikut menggembalakannya. Terkadang hewan ternak bertambah beratnya selama pengembalaan di kampung, namun tidak jarang pula sedikit lebih kurus. 

Anggota masyarakat yang ladangnya dekat dengan andor (sejenis tali tambang dari tumbuhan) dengan suka rela, jelang akhir Ramadhan akan diambil dan membawanya ke kampung, sekebutuhan untuk keperluan pengikat kaki lembu pada saat menyembelihnya. Acara menyembelih hewan di pagi hari terakhir Ramadhan pun tiba. Ini hari yang menggemberikan, penyembelihan hewan juga sekaligus menjadi hiburan yang khas bagi masyarakat. Kalau remaja dan anak-anak pasti sudah menunggu di lokasi, orangtua juga pada umumnya ikut serta menonton. Dan ada pula orang yang khusus diakui keberadaanya untuk spesialis sembelih berikut parangnya yang cukup tajam dengan kategori parang spesial sembelih. 

Secara logika penyembelihan bukanlah hal yang sulit, tapi itulah seninya berkampung. Momen ini juga membuat orang-orang tertentu seakan lebih perkasa dengan sibuk seakan paling mampu dan paling andil pada proses penyembelihan. Dan proses ini, akan menjadi bahan cerita keperkasaan dan andil penyembelihan saat bercengkerama di lopo

Usai disembelih, darahpun mengalir. Orang-orang yang berpenyakit pecah-pecah telapak kakinya dan mengalami lobang-lobang kecil, yang orang di kampung menyebut penyakit tersebut ‘grabak’, akan berebut memijak-mijak darah untuk obat kakinya. Entahlah benar atau hanya mitos, tapi itu bagian yang menarik juga dalam proses penyembelihan.

Semua bagian yang halal dari hewan akan dipotong lagi dalam ukuran lebih kecil untuk dibagi secara merata, baik daging, tulang, jeroan bahkan kulitnya. Potongan kecil tersebut ditumpukkan lagi sejumlah hitungan hak peserta marbante. Tumpukan bante berjejar di atas daun pisang yang sengaja dibuat sebagai tempat menggelar tumpukan bante.

Usai sudah marbante, tiap peserta yang dipanggil namanya, mengambil sejumlah tumpukan yang menjadi haknya. Proses ini menunjukkan tradisi yang baik sebagai kearifan lokal dari sisi sosial juga ekonomi yang pantas untuk dirawat dan dipelihara sebagai soku guru tata hidup kebersamaan sesuai falsafah Siala Sampagul. 

Marbante telah menujukkan betapa kebersamaan di Mandailing telah diciptakan sejak dahulu. Nilai kebersamaan sangat menonjol dalam proses ini. Pengakuan strata di masyarakat antara toke dan masyarakat dalam hidupnya diakui, namun strata itu digunakan untuk saling mendukung sesuai manfaat terbesar yang dapat disumbangkan dalam komunitasnya. 

Nilai-nilai ekonomi dalam tradisi marbante tetap berjalan, namun keuntungan yang diperoleh lebih mengarah pada pendekatan kebersamaan dengan keuntungan ekonomi yang sepadan dengan nilai keuntungan sosial bermasyarakat. Nilai lainnya adalah membiasakan masyarakat menabung dan mempercayai sesama anggota masyarakat sebagai pengelola, tentu nilai ini sangat bermanfaat menguatkan saling ketergantungan dan tingkat kepercayaan antar masyarakat yang terpelihara.

Marbante juga sering menjadi bagian dari nilai pengukuran harga diri antar kampung, sehingga ada rasa malu bila di kampungnya tidak ada marbante. Dengan demikian tradisi marbante juga menjadi pemicu semangat bagi orang di kampung untuk selalu giat mencari nafkah sehingga tidak dileceh kampung lain, meskipun hanya dalam kelakar.

Marbante masih berlangsung sampai saat ini di berbagai perkampungan terutama di Kecamatan Ulupungkut. Terkadang marbante juga dilakukan secara gratis dengan adanya bantuan dari perantau jelang Idul Fitri.

Namun pergeseran peradaban juga telah banyak merubah pemahaman orang tentang marbante di beberapa tempat. 

Tradisi marbante ini diberbagai tempat di Mandailing juga sudah mulai hilang. Meskipun orang masih menyebut bante, namun pola dan makna yang terjadi sudah jauh beda dengan marbante yang sesungguhnya. Sekarang sudah dengan jual beli hewan ternak yang disembelih secara konvensional. Ada sisi lebih kurangnya, seperti dalam marbante tidak dapat memilih jenis bante yang dibutuhkan, maka bagi yang memiliki kebutuhan khusus, pada perdagangan konvensional tentu dapat diakomodir. Perdagangan konvensional inilah kemudian dianggap sama dengan marbante

Kemudian berkembang pula kata ‘poken bante’ sebagai hari yang dinyatakan waktu untuk jual beli juhut/bante (daging) di hari akhir Ramadhan. Demikian pula kata ‘parbantean’ yang dikenal sebagai rumah potong hewan. Penting pula dipahamkan bahwa marbante terutama dalam masa proses menyembelih, memiliki nilai tersendiri bagi orang di kampung sebagai hiburan yang sering menjadi bahan cerita berbagi kebahagiaan yang dikenang generasinya. 

 

Dr. M. Daud Batubara, MSi;

Ditulis untuk mengenang bahagia masa kecil;”Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin”). 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penggunaan Dana Kelurahan Longat Tahun 2021 Mengangkangi Permendagri dan UU KIP

    Penggunaan Dana Kelurahan Longat Tahun 2021 Mengangkangi Permendagri dan UU KIP

    • calendar_month Rabu, 17 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Online) – Pengerjaan bangunan fisik yang dibiayai oleh Negara wajib memasang papan nama proyek, jenis dan lokasi kegiatan, nomor kontrak, dan jangka waktu atau lama pengerjaan. Hal itu tertuang pada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik Nomor 14 tahun 2008. Transparansi penggunaan uang negara juga diatur dalam Perpres Nomor 54 tahun 2010 dan Nomor 70 […]

  • Madina 14 Orang Positif Corona

    Madina 14 Orang Positif Corona

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Angka hari ini, Jum’at (1/9/2020) jumlah penduduk yang positif corona 14 orang terkonfirmasi di Mandailing Natal (Madina), Sumut. Jumlah ini bertambah satu orang dari hari sebelumnya yang masih berjumlah 13 orang. Berdasar data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Madina, 14 orang terkonfirmasi positif tersebut 12 orang di Kecamatan Panyabungan, 1 […]

  • Sungai Batang Natal Meluap

    Sungai Batang Natal Meluap

    • calendar_month Rabu, 18 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      BATANG NATAL (Mandailing Online) – Sungai Batang Natal meluap. Hingga Rabu sore (18/8/2021) arus air tetap tinggi. Progres dinamika peluapan sudah mulai terlihat sejak kemarin. Sejumlah warga Muara Soma yang dihubungi, di sejumlah titik arus air telah mencapai permukaan tebing sungai. Dan dikhawatirkan arus bisa merembes ke pemukiman jika luapan kian tinggi. Sejauh ini […]

  • Prestasi Atlit Madina Dikhawatirkan Terpuruk di Porwilsu

    Prestasi Atlit Madina Dikhawatirkan Terpuruk di Porwilsu

    • calendar_month Kamis, 29 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Prestasi atlit Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dikhawatirkan melorot tajam di even Pekan Olahraga Wilayah Sumatera Utara (Porwilsu) tahun depan. Pasalnya, aktifitas seluruh pengurus cabang olah raga (pengcab) di Madina, baik pembinaan dan pelatihan atlit maupun kegiatan lainnya nyaris tak ada selama tahun 2013 ini akibat tidak adanya dana KONI yang dianggarkan […]

  • Bupati Madina Diminta Tertibkan Kendaraan Dinas

    Bupati Madina Diminta Tertibkan Kendaraan Dinas

    • calendar_month Selasa, 26 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Penjabat (Pj) Bupati Mandailing Natal (Madina) Ir Aspan Sofyan diminta menertibkan penggunaan kendaraan dinas. Pasalnya, kendaraan dinas itu,baik roda dua maupun roda empat beroperasi di luar jam kantor, bahkan dipakai bukan orang yang berhak menggunakannya. Demikian dikatakan Wakil Ketua DPC PKB Madina Abdul Waris Ray kepada MedanBisnis, Senin (25/10), di Panyabungan. “Kita berharap agar […]

  • Pemuda LIRA Madina Gelar Aksi Peduli dan Berbagi

    Pemuda LIRA Madina Gelar Aksi Peduli dan Berbagi

    • calendar_month Kamis, 2 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di masa pandemi covid-19 dan pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), berbagai upaya sosial dilakukan sejumlah kalangan untuk membantu masyarakat yang terdampak, sekaligus melakukan himbauan pentingnya menjaga kesehatan. Seperti yang dilakukan pengurus DPD Pemuda LIRA Kabupaten Mandailing Natu (Madina), Kamis (03/09/2021) di Panyabungan. Pemuda LIRA turun ke jalan di bawah teriknya sinar […]

expand_less