Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

TRADISI MARBANTE

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

(Kearifan Sosial Ekonomi di Mandailing)

Penduduk kampung bersama memotong-motong daging sebelum berbagi bersama. Ilustrasi

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

‘Marbante’ adalah kosa kata Bahasa Mandailing yang berasal dari kata ‘bante” yang dapat diartikan sebagai keseluruhan yang halal untuk dimakan dari bagian tubuh hewan yang berukuran besar, yang sudah disembelih seperti kerbau (horbo) dan lembu (lombu). Kemudian ditambah dengan awal ‘mar’ yang hampir sama fungsinya dengan awalan ‘ber’. Sehingga marbante dapat dimaknai sebagai proses penyembelihan hewan berukuran relatif besar untuk keperluan orang banyak yang dananya bersumber dari masyarakat itu sendiri. Untuk hewan kecil kambing, ayam dan sejenisnya jarang kosa kata ini digunakan untuk menyebutnya sebagai bante

Bante terdengar sangat dekat dengan kata ‘bantai’ dalam bahasa Indonesia, yang bila dimaknakan juga dapat berdekatan, terutama dengan proses penyembelihan hewan, hanya saja membantai cenderung bernilai negatif seperti kata membunuh dengan keji. 

Proses marbante biasanya diawali dari perbincangan pasca lebaran oleh para pria yang telah berumahtangga di lopo (kedai kopi), yang di wilayah Mandailing lopo ini hampir telihat selalu ada minimal satu setiap kampung. Dari percakapan informal kemudian ditanggapi masyarakat lainnya dengan fokus pada rencana marbante yang biasanya untuk keperluan jelang Hari Raya Idul Fitri atau terkadang juga jelang Ramadhan. Bila telah ada kesepakatan dari kelompok kecil, lebih lanjut akan disampaikan niat bersama dari kelompok kecil ini, pada salah satu anggota masyarakat yang terbiasa menjadi penanggungjawab. Tentulah ia anggota masyarakat yang tingkat kemampuan ekonominya lebih baik dan punya jaringan ke luar kampung, yakni toke (saudagar) di kampung.

Setelah menilai kondisi ekonomi masyarakat dan prediksi kemungkinan keadaan ekonomi satu tahun ke depan berdasarkan pengalaman toke, maka toke bila setuju, akan menjalankan semacam daftar peserta yang akan ikut sebagai anggota marbante yang diletakkan di lopo, dengan menuliskan nama dalam daftar bagi yang berminat. Jumlah pendaftar akan dicermati untuk bisa menutupi sejumlah kebutuhan yang seimbang antara besaran dana dan jumlah orang, dengan besaran harga hewan horbo atau lombu. Setelah diperhitungkan dan diyakini cukup, pendaftaran ditutup.

Mulailah peserta marbante mencicil sekali setiap minggu yakni pada hari pekan, setelah ditetapkan besaran cicilan. Tujuan cara cicilan ini adalah untuk tidak membebani diri menutupi kebutuhan jelang lebaran yang relatif cukup banyak. Penetapan hari pencicilan disesuaikan hari pekan untuk memudahkan orang mencicil pada saat menjual hasilnya dalam seminggu. Konfimasi kebenaran orang dalam daftar juga dilakukan sekaligus pada saat pencicilan pertama. Bila tidak datang, maka dilakukan konfirmasi keikutsertaan. Perlu dijelaskan bahwa proses pencicilan, tidak dengan perlakuan penagihan. Proses marbante peserta proaktif menyicil, bukan passif untuk ditagih. 

Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, Ramadhan pun dilalui, toke pun mencari hewan ternak sesuai kesepakatan. Minggu kedua Ramadhan hewan ternak sudah ada di kampung. Anak-anak sekolah di kampung juga libur, dan dengan senang hati mereka akan menggembalakan beramai-ramai sambil menunggu waktu berbuka. Meskipun anak-anak, namun rombongan ini pasti tetap ada ketuanya secara informal. Dan merupakan kebanggaan pula bagi anak-anak ikut menggembalakannya. Terkadang hewan ternak bertambah beratnya selama pengembalaan di kampung, namun tidak jarang pula sedikit lebih kurus. 

Anggota masyarakat yang ladangnya dekat dengan andor (sejenis tali tambang dari tumbuhan) dengan suka rela, jelang akhir Ramadhan akan diambil dan membawanya ke kampung, sekebutuhan untuk keperluan pengikat kaki lembu pada saat menyembelihnya. Acara menyembelih hewan di pagi hari terakhir Ramadhan pun tiba. Ini hari yang menggemberikan, penyembelihan hewan juga sekaligus menjadi hiburan yang khas bagi masyarakat. Kalau remaja dan anak-anak pasti sudah menunggu di lokasi, orangtua juga pada umumnya ikut serta menonton. Dan ada pula orang yang khusus diakui keberadaanya untuk spesialis sembelih berikut parangnya yang cukup tajam dengan kategori parang spesial sembelih. 

Secara logika penyembelihan bukanlah hal yang sulit, tapi itulah seninya berkampung. Momen ini juga membuat orang-orang tertentu seakan lebih perkasa dengan sibuk seakan paling mampu dan paling andil pada proses penyembelihan. Dan proses ini, akan menjadi bahan cerita keperkasaan dan andil penyembelihan saat bercengkerama di lopo

Usai disembelih, darahpun mengalir. Orang-orang yang berpenyakit pecah-pecah telapak kakinya dan mengalami lobang-lobang kecil, yang orang di kampung menyebut penyakit tersebut ‘grabak’, akan berebut memijak-mijak darah untuk obat kakinya. Entahlah benar atau hanya mitos, tapi itu bagian yang menarik juga dalam proses penyembelihan.

Semua bagian yang halal dari hewan akan dipotong lagi dalam ukuran lebih kecil untuk dibagi secara merata, baik daging, tulang, jeroan bahkan kulitnya. Potongan kecil tersebut ditumpukkan lagi sejumlah hitungan hak peserta marbante. Tumpukan bante berjejar di atas daun pisang yang sengaja dibuat sebagai tempat menggelar tumpukan bante.

Usai sudah marbante, tiap peserta yang dipanggil namanya, mengambil sejumlah tumpukan yang menjadi haknya. Proses ini menunjukkan tradisi yang baik sebagai kearifan lokal dari sisi sosial juga ekonomi yang pantas untuk dirawat dan dipelihara sebagai soku guru tata hidup kebersamaan sesuai falsafah Siala Sampagul. 

Marbante telah menujukkan betapa kebersamaan di Mandailing telah diciptakan sejak dahulu. Nilai kebersamaan sangat menonjol dalam proses ini. Pengakuan strata di masyarakat antara toke dan masyarakat dalam hidupnya diakui, namun strata itu digunakan untuk saling mendukung sesuai manfaat terbesar yang dapat disumbangkan dalam komunitasnya. 

Nilai-nilai ekonomi dalam tradisi marbante tetap berjalan, namun keuntungan yang diperoleh lebih mengarah pada pendekatan kebersamaan dengan keuntungan ekonomi yang sepadan dengan nilai keuntungan sosial bermasyarakat. Nilai lainnya adalah membiasakan masyarakat menabung dan mempercayai sesama anggota masyarakat sebagai pengelola, tentu nilai ini sangat bermanfaat menguatkan saling ketergantungan dan tingkat kepercayaan antar masyarakat yang terpelihara.

Marbante juga sering menjadi bagian dari nilai pengukuran harga diri antar kampung, sehingga ada rasa malu bila di kampungnya tidak ada marbante. Dengan demikian tradisi marbante juga menjadi pemicu semangat bagi orang di kampung untuk selalu giat mencari nafkah sehingga tidak dileceh kampung lain, meskipun hanya dalam kelakar.

Marbante masih berlangsung sampai saat ini di berbagai perkampungan terutama di Kecamatan Ulupungkut. Terkadang marbante juga dilakukan secara gratis dengan adanya bantuan dari perantau jelang Idul Fitri.

Namun pergeseran peradaban juga telah banyak merubah pemahaman orang tentang marbante di beberapa tempat. 

Tradisi marbante ini diberbagai tempat di Mandailing juga sudah mulai hilang. Meskipun orang masih menyebut bante, namun pola dan makna yang terjadi sudah jauh beda dengan marbante yang sesungguhnya. Sekarang sudah dengan jual beli hewan ternak yang disembelih secara konvensional. Ada sisi lebih kurangnya, seperti dalam marbante tidak dapat memilih jenis bante yang dibutuhkan, maka bagi yang memiliki kebutuhan khusus, pada perdagangan konvensional tentu dapat diakomodir. Perdagangan konvensional inilah kemudian dianggap sama dengan marbante

Kemudian berkembang pula kata ‘poken bante’ sebagai hari yang dinyatakan waktu untuk jual beli juhut/bante (daging) di hari akhir Ramadhan. Demikian pula kata ‘parbantean’ yang dikenal sebagai rumah potong hewan. Penting pula dipahamkan bahwa marbante terutama dalam masa proses menyembelih, memiliki nilai tersendiri bagi orang di kampung sebagai hiburan yang sering menjadi bahan cerita berbagi kebahagiaan yang dikenang generasinya. 

 

Dr. M. Daud Batubara, MSi;

Ditulis untuk mengenang bahagia masa kecil;”Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin”). 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kampung Tambahtin, Kampung Berbahasa Mandailing di Malaysia

    Kampung Tambahtin, Kampung Berbahasa Mandailing di Malaysia

    • calendar_month Selasa, 5 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kampung Tambahtin ini berada di Pertang, Jelebu, Negeri Sembilan, Malaysia.  Satu dari tiga kampung yang berbahasa Mandailing di Negeri Sembilan. Penduduk kampung ini adalah etnis Mandailing yang bermigrasi dari Mandailing, Sumatera ke kawasan Negeri Perak di era 1800-an kemudian pindah ke kawasan Negeri Sembilan. Logat mereka berlanggam Mandailing Godang. Menurut Maznah Hasibuan, semua penduduk di […]

  • Bentuk Rasa Syukur, SMSI Madina Berbagi Nasi Kotak

    Bentuk Rasa Syukur, SMSI Madina Berbagi Nasi Kotak

    • calendar_month Jumat, 15 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Sebagai bentuk rasa syukur setahun Serikat Media Siber Indonesia ( SMSI ) berdiri di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), pengurus bagikan nasi kotak kepada jamaah masjid usai sholad jum’at 15/9/2023. Pembagian nasi kotak ini dilakukan di dua Masjid yang berbeda yakni Mesjid Agung Nur Ala Nur dan Mesjid Raya Al Qurro’ […]

  • PBB Terkejut Atas Kondisi Muslim Myanmar

    PBB Terkejut Atas Kondisi Muslim Myanmar

    • calendar_month Kamis, 6 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NEW YORK, (MO) – Pejabat kemanusiaan PBB Valerie Amos mengatakan ia sangat terkejut melihat kondisi warga Muslim Rohingya yang mengungsi akibat konflik di Myanmar barat. Lebih dari 135.000 orang tinggal di kamp-kamp sementara di negara bagian Rakhine, sebagian besar adalah pengungsi Rohingya. Wartawan BBC Jonah Fisher yang melakukan perjalanan bersama Amos ke Rakhine mengatakan ribuan […]

  • Hasil Seleksi CPNS Ditukangi?

    Hasil Seleksi CPNS Ditukangi?

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Pengumunan hasil seleksi CPNS Pemko Medan amburadul dan diduga ditukangi. Pasalnya, Selasa (21/12/2010) sekira pukul 21.00 WIB, Kabid Pengadaan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemko Medan Ayub Saufi dan temannya enggan memberikan pengumuman CPNS Pemko Medan yang sudah distempel dan dijadwalkan akan diberikan Selasa (21/12/2010) malam untuk diumumkan di media cetak, Rabu (22/12/2010). Pantauan wartawan, […]

  • Hadirkan Gagasan Membangun di Pilkades Madina

    Hadirkan Gagasan Membangun di Pilkades Madina

    • calendar_month Senin, 14 Agt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Halvionata Auzora Siregar Putra Batang Natal* Tak lama lagi 256 desa di Kabupaten Mandailing Natal, Sumut akan melaksanakan pesta demokrasi, tepatnya tanggal 21 Agustus tahun 2023. Ini merupakan pemilihan kepala desa sebelum kita menyambut pesta demokrasi yang lebih besar yaitu Pemilihan Umum pada tahun 2024 yaitu pemilihan presiden, anggota DPR, DPD dan Kepala Daerah. […]

  • Jakfar Lubis Asal Madina Utusan Sumut Lomba Kopetensi Siswa Tingkat Nasional

    Jakfar Lubis Asal Madina Utusan Sumut Lomba Kopetensi Siswa Tingkat Nasional

    • calendar_month Jumat, 20 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jakfar Lubis siswa kelas XI SMK Negeri 2 Panyabungan menjadi utusan Sumatera Utara di Lomba Kopetensi Siswa (LKS) bidang Kabinet Making tingkat Nasional. Jakfar Lubis diberangkatkan Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal, Syafei Lubis, Jum’at (20/5/2016) dari perkantoran Pemkab Madina  menuju Malang, Jawa Timur lokasi Lomba Kopetensi Siswa. Lomba tingkat nasional itu […]

expand_less