Senin, 14 Sep 2026
light_mode

TRADISI MARBANTE

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

(Kearifan Sosial Ekonomi di Mandailing)

Penduduk kampung bersama memotong-motong daging sebelum berbagi bersama. Ilustrasi

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

‘Marbante’ adalah kosa kata Bahasa Mandailing yang berasal dari kata ‘bante” yang dapat diartikan sebagai keseluruhan yang halal untuk dimakan dari bagian tubuh hewan yang berukuran besar, yang sudah disembelih seperti kerbau (horbo) dan lembu (lombu). Kemudian ditambah dengan awal ‘mar’ yang hampir sama fungsinya dengan awalan ‘ber’. Sehingga marbante dapat dimaknai sebagai proses penyembelihan hewan berukuran relatif besar untuk keperluan orang banyak yang dananya bersumber dari masyarakat itu sendiri. Untuk hewan kecil kambing, ayam dan sejenisnya jarang kosa kata ini digunakan untuk menyebutnya sebagai bante

Bante terdengar sangat dekat dengan kata ‘bantai’ dalam bahasa Indonesia, yang bila dimaknakan juga dapat berdekatan, terutama dengan proses penyembelihan hewan, hanya saja membantai cenderung bernilai negatif seperti kata membunuh dengan keji. 

Proses marbante biasanya diawali dari perbincangan pasca lebaran oleh para pria yang telah berumahtangga di lopo (kedai kopi), yang di wilayah Mandailing lopo ini hampir telihat selalu ada minimal satu setiap kampung. Dari percakapan informal kemudian ditanggapi masyarakat lainnya dengan fokus pada rencana marbante yang biasanya untuk keperluan jelang Hari Raya Idul Fitri atau terkadang juga jelang Ramadhan. Bila telah ada kesepakatan dari kelompok kecil, lebih lanjut akan disampaikan niat bersama dari kelompok kecil ini, pada salah satu anggota masyarakat yang terbiasa menjadi penanggungjawab. Tentulah ia anggota masyarakat yang tingkat kemampuan ekonominya lebih baik dan punya jaringan ke luar kampung, yakni toke (saudagar) di kampung.

Setelah menilai kondisi ekonomi masyarakat dan prediksi kemungkinan keadaan ekonomi satu tahun ke depan berdasarkan pengalaman toke, maka toke bila setuju, akan menjalankan semacam daftar peserta yang akan ikut sebagai anggota marbante yang diletakkan di lopo, dengan menuliskan nama dalam daftar bagi yang berminat. Jumlah pendaftar akan dicermati untuk bisa menutupi sejumlah kebutuhan yang seimbang antara besaran dana dan jumlah orang, dengan besaran harga hewan horbo atau lombu. Setelah diperhitungkan dan diyakini cukup, pendaftaran ditutup.

Mulailah peserta marbante mencicil sekali setiap minggu yakni pada hari pekan, setelah ditetapkan besaran cicilan. Tujuan cara cicilan ini adalah untuk tidak membebani diri menutupi kebutuhan jelang lebaran yang relatif cukup banyak. Penetapan hari pencicilan disesuaikan hari pekan untuk memudahkan orang mencicil pada saat menjual hasilnya dalam seminggu. Konfimasi kebenaran orang dalam daftar juga dilakukan sekaligus pada saat pencicilan pertama. Bila tidak datang, maka dilakukan konfirmasi keikutsertaan. Perlu dijelaskan bahwa proses pencicilan, tidak dengan perlakuan penagihan. Proses marbante peserta proaktif menyicil, bukan passif untuk ditagih. 

Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, Ramadhan pun dilalui, toke pun mencari hewan ternak sesuai kesepakatan. Minggu kedua Ramadhan hewan ternak sudah ada di kampung. Anak-anak sekolah di kampung juga libur, dan dengan senang hati mereka akan menggembalakan beramai-ramai sambil menunggu waktu berbuka. Meskipun anak-anak, namun rombongan ini pasti tetap ada ketuanya secara informal. Dan merupakan kebanggaan pula bagi anak-anak ikut menggembalakannya. Terkadang hewan ternak bertambah beratnya selama pengembalaan di kampung, namun tidak jarang pula sedikit lebih kurus. 

Anggota masyarakat yang ladangnya dekat dengan andor (sejenis tali tambang dari tumbuhan) dengan suka rela, jelang akhir Ramadhan akan diambil dan membawanya ke kampung, sekebutuhan untuk keperluan pengikat kaki lembu pada saat menyembelihnya. Acara menyembelih hewan di pagi hari terakhir Ramadhan pun tiba. Ini hari yang menggemberikan, penyembelihan hewan juga sekaligus menjadi hiburan yang khas bagi masyarakat. Kalau remaja dan anak-anak pasti sudah menunggu di lokasi, orangtua juga pada umumnya ikut serta menonton. Dan ada pula orang yang khusus diakui keberadaanya untuk spesialis sembelih berikut parangnya yang cukup tajam dengan kategori parang spesial sembelih. 

Secara logika penyembelihan bukanlah hal yang sulit, tapi itulah seninya berkampung. Momen ini juga membuat orang-orang tertentu seakan lebih perkasa dengan sibuk seakan paling mampu dan paling andil pada proses penyembelihan. Dan proses ini, akan menjadi bahan cerita keperkasaan dan andil penyembelihan saat bercengkerama di lopo

Usai disembelih, darahpun mengalir. Orang-orang yang berpenyakit pecah-pecah telapak kakinya dan mengalami lobang-lobang kecil, yang orang di kampung menyebut penyakit tersebut ‘grabak’, akan berebut memijak-mijak darah untuk obat kakinya. Entahlah benar atau hanya mitos, tapi itu bagian yang menarik juga dalam proses penyembelihan.

Semua bagian yang halal dari hewan akan dipotong lagi dalam ukuran lebih kecil untuk dibagi secara merata, baik daging, tulang, jeroan bahkan kulitnya. Potongan kecil tersebut ditumpukkan lagi sejumlah hitungan hak peserta marbante. Tumpukan bante berjejar di atas daun pisang yang sengaja dibuat sebagai tempat menggelar tumpukan bante.

Usai sudah marbante, tiap peserta yang dipanggil namanya, mengambil sejumlah tumpukan yang menjadi haknya. Proses ini menunjukkan tradisi yang baik sebagai kearifan lokal dari sisi sosial juga ekonomi yang pantas untuk dirawat dan dipelihara sebagai soku guru tata hidup kebersamaan sesuai falsafah Siala Sampagul. 

Marbante telah menujukkan betapa kebersamaan di Mandailing telah diciptakan sejak dahulu. Nilai kebersamaan sangat menonjol dalam proses ini. Pengakuan strata di masyarakat antara toke dan masyarakat dalam hidupnya diakui, namun strata itu digunakan untuk saling mendukung sesuai manfaat terbesar yang dapat disumbangkan dalam komunitasnya. 

Nilai-nilai ekonomi dalam tradisi marbante tetap berjalan, namun keuntungan yang diperoleh lebih mengarah pada pendekatan kebersamaan dengan keuntungan ekonomi yang sepadan dengan nilai keuntungan sosial bermasyarakat. Nilai lainnya adalah membiasakan masyarakat menabung dan mempercayai sesama anggota masyarakat sebagai pengelola, tentu nilai ini sangat bermanfaat menguatkan saling ketergantungan dan tingkat kepercayaan antar masyarakat yang terpelihara.

Marbante juga sering menjadi bagian dari nilai pengukuran harga diri antar kampung, sehingga ada rasa malu bila di kampungnya tidak ada marbante. Dengan demikian tradisi marbante juga menjadi pemicu semangat bagi orang di kampung untuk selalu giat mencari nafkah sehingga tidak dileceh kampung lain, meskipun hanya dalam kelakar.

Marbante masih berlangsung sampai saat ini di berbagai perkampungan terutama di Kecamatan Ulupungkut. Terkadang marbante juga dilakukan secara gratis dengan adanya bantuan dari perantau jelang Idul Fitri.

Namun pergeseran peradaban juga telah banyak merubah pemahaman orang tentang marbante di beberapa tempat. 

Tradisi marbante ini diberbagai tempat di Mandailing juga sudah mulai hilang. Meskipun orang masih menyebut bante, namun pola dan makna yang terjadi sudah jauh beda dengan marbante yang sesungguhnya. Sekarang sudah dengan jual beli hewan ternak yang disembelih secara konvensional. Ada sisi lebih kurangnya, seperti dalam marbante tidak dapat memilih jenis bante yang dibutuhkan, maka bagi yang memiliki kebutuhan khusus, pada perdagangan konvensional tentu dapat diakomodir. Perdagangan konvensional inilah kemudian dianggap sama dengan marbante

Kemudian berkembang pula kata ‘poken bante’ sebagai hari yang dinyatakan waktu untuk jual beli juhut/bante (daging) di hari akhir Ramadhan. Demikian pula kata ‘parbantean’ yang dikenal sebagai rumah potong hewan. Penting pula dipahamkan bahwa marbante terutama dalam masa proses menyembelih, memiliki nilai tersendiri bagi orang di kampung sebagai hiburan yang sering menjadi bahan cerita berbagi kebahagiaan yang dikenang generasinya. 

 

Dr. M. Daud Batubara, MSi;

Ditulis untuk mengenang bahagia masa kecil;”Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin”). 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelajaran “Markobar” Wajib Dimasukkan ke Dalam Muatan Lokal

    Pelajaran “Markobar” Wajib Dimasukkan ke Dalam Muatan Lokal

    • calendar_month Kamis, 24 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Markobar atau marhata-hata wajib dimasukkan ke dalam muatan lokal pendidikan formal untuk tingkat SLTP dan SLTA di Mandailing Natal. Sebab, belakangan ini warga Mandailing yang pandai markobar hanya tinggal sedikit, sedangkan di sisi lain markobar merupakan satu item penting dalam sistem sosial di Mandailing. Markobar adalah kegiatan menyampaikan ucapan-ucapan di forum […]

  • Mendadak, Pemuda Pancasila Madina Sambangi Kantor Koramil 13 Panyabungan

    Mendadak, Pemuda Pancasila Madina Sambangi Kantor Koramil 13 Panyabungan

    • calendar_month Selasa, 5 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rombongan pengurus MPC Pemuda Pancasila Madina Menyambangi Kantor Koramil 13 Panyabungan di Kayujati, Selasa (5/10) malam. Rombongan yang dipimpin oleh Dan Koti Mahatidana MPC PP Madina Safruddin Lubis tiba di kantor Koramil sekitar pukul 21.45 WIB. Kedatangan anggota Pemuda Pancasila ini untuk memberikan kejutan kepada Dan Ramil 13 Panyabungan Kapten Inf. […]

  • Hadiri Sejuta Selawat, Atika Kembali Ingatkan Pengawasan Ponsel Anak

    Hadiri Sejuta Selawat, Atika Kembali Ingatkan Pengawasan Ponsel Anak

    • calendar_month Kamis, 31 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Calon wakil bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution meminta para orangtua untuk proaktif mengawasi penggunaan ponsel pada anak, terutama aplikasi yang berkaitan dengan judi online (daring) dan pornografi. Hal itu disampaikan calon wakil bupati yang berpasangan dengan Saipullah Nasution itu saat menghadiri acara sejuta selawat di Desa Lumban […]

  • Kandidat Doktor di Malaysia Berqurban di Mandailing

    Kandidat Doktor di Malaysia Berqurban di Mandailing

    • calendar_month Jumat, 24 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        BATANG NATAL (Mandailing Online) – Lama menimba ilmu di luar negeri, tak menyurutkan tekad Karimuddin Nasution, S.Ud,MIS. Pria berusia 27 tahun asal Desa Sipogu, Batang Natal, Mandailing  Natal yang kini kandidat doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia (The National University of Malaysia), terus melakukan qurban Idul Adha di kampung halaman. Dalam tiga tahun terakhir […]

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 2)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 2)

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Askolani Nasution Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut: Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain: “Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” […]

  • Plang Nama Dirusak, Kantor Jadi Tempat Hiburan

    Plang Nama Dirusak, Kantor Jadi Tempat Hiburan

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Aksi Karyawan PTPN2-PT LNK LANGKAT-Aksi mogok kerja 4.000-an karyawan PTPN II-PT Langkat Nusantara Kepong (LNK) Rayon Tengah di Langkat masih berlanjut. Bahkan, aksi mogok kerja semakin memanas, dengan dirusaknya papan nama (plang) dan di dudukinya kantor perkebunan, Selasa (25/1). Pantauan di pusat kantor PT LNK di kebun Gohor Lama, Kecamatan Wampu, papan nama perusahan PTPN […]

expand_less