Rabu, 12 Agu 2026
light_mode

WawanWawancara CEO Tympanum Novem (Bagian I)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Nov 2012
  • print Cetak

Banyak kemajuan yang sudah dicapai Tympanum Novem sejak muncul tahun lalu melalui film perdana Mandailing “Biola Na Mabugang”. Banyak pihak yang menyebutkan bahwa film ini mengawali gerbong dinamika genre baru dalam segmen hiburan di kawasan Mandailing dan bekas daerah Tapanuli Selatan secara umum. Dalam sebuah kesempatan di tengah-tengah penggarapan film “Lilu”, Holik Mandailing Online menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, CEO Tympanum Novem. Berikut petikannya:


BAGIAN I

Apa kegiatan Tympanum saat ini?

Kita sedang menggarap film anak-anak “Lilu.” Saat ini sedang dalam tahap proses editing gambar. Minggu depan insya allah masuk ke tahap penyusunan ilustrasi musik. Mudah-mudahan akhir bulan ini bisa naik cetak.

Kenapa tertarik membuat film anak-anak?

Banyak faktor saya kira. Secara nasional saja kita merindukan munculnya film anak-anak. Tahun 70-an Indonesia sempat banyak memproduksi film anak-anak. Tentu kita masih ingat zaman keemasan Iramaya Sopha, Adi Bing Slamet, Rano Karno, Cica Koeswoyo, dan lain-lain. Lalu tenggelam. Yang mendominasi kembali film-film percintaan, atau film berbau mistis seperti yang berkembang tahun-tahun terakhir ini. Sekalipun sempat ada film anak-anak semacam “Petualangan Serina” dan sebagainya, saya kira belum sepenuhnya sebanding dengan jumlah film dewasa. Seharusnya kita prihatin. Karena tak cukup tersedia hiburan yang mendidik dan berbudaya bagi anak-anak kita. Padahal banyak ahli berpendapat bahwa anak-anak jauh lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi dibandingkan dengan orang dewasa.

Di televisi kan juga banyak hiburan anak-anak?

Boleh jadi banyak. Tapi berapa persen yang produksi Indonesia. Kebanyakan produksi Barat yang amat tidak sesuai dengan kepribadian dan latar budaya Indonesia. Ada film kartun yang amat tidak rasional, atau film anak-anak tapi dikemas dalam pola pikir orang dewasa, yang hanya berorientasi perkotaan semata. Masyarakat Indonesia pinggiran sama sekali tak tersentuh.

Anda tampaknya tidak puas dengan televisi kita?

Tayangan televisi hanya membuat kita geram. Hampir tak ada nilai paedagogik yang ditawarkan televisi kita. Bahkan tidak bersentuhan sama sekali dengan karakter budaya Indonesia. Belum lagi sinetron yang hanya mengumbar persoalan hedonisme, western, atau percintaan yang vulgar. Pemirsa selalu dicekoki dengan tayangan-tayangan yang dangkal dan tak menyentuh nilai-nilai humanisme kita. Lebih buruk lagi, rendahnya persentase tayangan untuk anak-anak. Padahal penelitian menunjukkan, lebih dari delapan jam anak menghabiskan waktunya di depan televisi. Dan genre televisi itu yang selalu kita jadikan mainstream media hiburan kita, termasuk media lokal.

Lagu Daerah maksud Anda?

Lagu atau film daerah. Apa yang kita beri label sebagai lagu Tapsel-Madina malah nyaris tak menyentuh karakteristik daerah kita, baik dalam materi, kemasan, dan seterusnya. Lagu misalnya, tak tampak sama sekali karakter daerahnya dalam lirik, genre musik, komposisi dan seterusnya. Malah lebih banyak kita adopsi lagu-lagu Hindi, karakter dangdut yang sepenuhya meniru gaya televisi. Lebih buruk lagi adanya anggapan bahwa lagu Mandailing identik dengan jenis musik dangdut. Coba, mana ciri daerahnya?

Realitas pasarnya kan begitu?

Saya tak menyalahkan pasar. Pemusik kita memang tidak pernah berani keluar dari genre musik seperti itu. Saya kira ada yang diam-diam berpikir mencoba genre lain, pop misalnya. Tapi produser lagu Tapsel-Madina tampaknya tidak berani mencoba. Kita terlalu takut mengambil resiko, karena berpuluh tahun hanya genre dangdut yang kita kenal. Kita hanya berfokus pada pasar musik tradisional saja, kelompok menengah ke bawah. Menengah ke atas nyaris tak kita sentuh. Karena itu penggemar lagu Mandailing terkooptasi kepada kelompok sosial tertentu. Kalangan pelajar sekolah menengah misalnya nyaris tak pernah kita lirik sebagai perluasan pasar baru. Kelompok ini lebih menyukai lagu-lagu pop nasional karena menilai musik Mandailing amat kampungan. Saya tahu persis tentang itu, karena saya bekas guru.

Semua produser kan ingin bisnis yang aman?

Ril-nya seperti itu kurang lebih. Makanya produk-produk bermutu lebih sering lahir dari kerja sama sponsor. Tapi saya kira begini: kita tetap bisa idealis tanpa melawan arus pasar. Berapa banyak film garapan Teguh Karya yang tetap bisa menjaga daya tarik pasar dan mutu. Berapa banyak musik Eros Jarot yang juga seperti itu, teater Rendra, Arifin C. Noer, dan sebagainya. Seorang entertainment seharusnya dapat memelihara tantangan, cerdik melihat pangsa pasar baru, jangan hanya berkutat di segmen konvensional. Ketika sutradara Steven Spielberg mengemas film-film sains fiction, dikira akan rugi, nyatanya booming semua. Ketika film “Avatar” menggunakan genre 3-D, Steven Spielberg juga ragu, nyatanya booming juga. Banyak genre terobosan yang terbukti laris manis. Ketika genre tahun 70-an hanya mengandalkan lelaki berotot dan perempuan bahenol, Teguh Karya berani menampilkan aktor Slamet Raharjo dan Christina Hakim yang kurus kerempeng dalam film “Perkawinan 74”, dan itu laku. Ketika awal 90-an identik dengan film-film berbau porno, Rudi Sujarwo menampilkan film tema remaja “Ada Apa Dengan Cinta” dan itu laku. Hal yang sama terjadi pada film inovatif semacam “Petualangan Sherina”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Denias”, dan sebagainya. Maksudnya, setiap inovasi genre selalu sukses, kita saja yang selalu ragu.

Karena itu Anda memproduksi “Biola Na Mabugang”?

Awalnya memang karena keprihatinan itu. Kita dan kawan-kawan mencoba satu kemasan film Mandailing berbudaya, jangan hanya lagu saja. Dengan dana patungan sebesar tujuh juta rupiah, kita garap film itu bulan Juli 2009. Dua tahun kita tawarkan kepada produser lagu-lagu Tapsel-Madina, semua menolak. Alasannya belum pernah ada film daerah, tidak diyakini lagu, karena film katanya hanya sekali tonton saja. Kita hampir putus asa waktu itu. Akhirnya kita nekad. Kita gandeng Maulana Production, dan jadi. Di luar perkiraan kita, tak sampai dua bulan film itu menembus angka penjualan lebih dari 10.000 keping. Itu meyakinkan kita bahwa kita bisa mengubah pasar.

Karena itu Anda terus berproduksi?

Jujur, ya! Kita tak semata-mata mengejar keuntungan finansial. Kita ingin mengubah mainstream publik Mandailing, mencoba membentuk pola pikir baru bahwa budaya Mandailing bisa ‘dijual’. Selain itu, kita ingin membangkitkan kecintaan terhadap segala karakteristik Mandailing. Pencerdasan, pemberdayaan, itu istilahnya. Karena kami yakin bahwa Mandailing itu suatu keajaiban. Kita memiliki sejarah yang amat membanggakan. Kita ini satu etnik yang bermartabat, pernah memiliki kemajuan yang luar biasa dalam berbagai bidang sejak dahulu.

Seperti apa?

Tahun 1365 Mandailing sudah dikenal dalam perdagangan antar bangsa. Itu terbukti dalam buku Negarakertagama. Panyabungan tahun 1830 sudah menjadi ibu negeri Residen Tapanuli sebelum dipndahkan ke Sibolga. Kita juga punya kweekschool Tano Bato, sekolah keguruan ketiga yang berdiri di Indonesia. Itu luar biasa. Banyak lagi.

Karena itu Anda menolak Mandailing disebut Batak?

Tentu saja. Tidak ada satu klausal yang menguatkan Mandailing sebagai bagian dari etnik Batak. Itu kerjaan Rafles yang mencoba memisahkan kawasan antara Kerajaan Aceh dan Kerajaan Minangkabau yang berbau Islam, yang dalam mainstream kolonial dianggap sebagai ancaman terhadap misionaris. Asal-usul kita berbeda, tipikal berbeda. Orang Batak bangsa pengembara yang suka berkuda dan memilih perkampungan di perbukitan. Orang mandailing bangsa petani berpindah yang lebih suka tinggal di lereng-lereng bukit. Dalam penelitian-penelitian sebelum masuknya Eropah ke Batak, juga digambarkan perbedaan itu. Pertengahan abad 18 ketika Eropah masuk ke Silindung, penduduk di kawasan itu masih amat primitif. Sementara Mandailing sudah menjadi pusat kebudayaan pada waktu itu. Prof. Uli Kozok dari Jerman juga mengatakan dengan tegas bahwa aksara Batak berasal dari Mandailing. Dengan begitu, kita yang lebih dahulu mengenal huruf, itu pertanda berakhirnya masa prasejarah, sekaligus tanda bangsa yang sudah memiliki kebudayaan. Hanya entis-etnis besar yang memiliki aksara tertentu.bersambung……..(MO/holik)

Bersambung….

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemprovsu Diminta Bangun Jembatan Pulopadang

    Pemprovsu Diminta Bangun Jembatan Pulopadang

    • calendar_month Kamis, 19 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Jembatan Pulopadang yang menghubungkan Kecamatan Linggabayu dengan Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), diharapkan dibangun. Lantai jembatan yang terbuat dari papan ini sangat memperihatinkan, padahal kendaraan yang melintas cukup padat mulai dari truk dan kendaraan roda dua.(Mo)

  • Sampuran Caroke Yang Eksotis (foto 3)

    Sampuran Caroke Yang Eksotis (foto 3)

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sampuran (air terjun) Caroce di Desa Tandikek, Kecamatan Ranto Baek, Mandailing Natal. Lokasi Sampuran Caroce berjarak sekitar 500 meter di sisi kanan pemukiman Desa Tandikek. Masuk ke lokasi tergolong mudah karena pengunjung dapat menaiki kenderaan roda 2 dan mobil roda 4. Desa Tandikek berjarak sekitar 30 Km dari Simpang Gambir. Simpang Gambir berjarak sekitar 41 […]

  • Hadapi Berbagai Isu, Manajemen RSUD Panyabungan Buka Suara Mulai Dari Isu Anggaran Sampai Pengolahan Limbah dan TPS

    Hadapi Berbagai Isu, Manajemen RSUD Panyabungan Buka Suara Mulai Dari Isu Anggaran Sampai Pengolahan Limbah dan TPS

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN || Mandailing Online – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal akhirnya buka suara terkait sejumlah pemberitaan, mulai dari pengelolaan anggaran hingga persoalan limbah B3 dan Tempat Penampungan Sementara (TPS). Kepala Bidang Penunjang RSUD Panyabungan, Wiwin Ferdiansyah, menegaskan bahwa penanganan sampah medis menjadi prioritas utama dan didukung oleh anggaran khusus yang […]

  • Polres Madina Percepat Pemeriksaan Kasus Kebakaran Pasar Hilir

    Polres Madina Percepat Pemeriksaan Kasus Kebakaran Pasar Hilir

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim Percepatan Pemeriksaan Polres Madina terjun langusung di lokasi melakukan pemeriksaan tambahan dalam memproses penyebab kebakaran di Pasar Hilir, Panyabungan, Selasa (11/10). Tim berada di lokasi membawa peralatan lengkap dan menemui para korban kebakaran untuk mengumpulkan bukti-bukti tambahan penyebab kebakaran yang menghaguskan 17 rumah penduduk yang terjadi tanggal 26 September lalu […]

  • Penghujan, Harga Cabai Kian Pedas

    Penghujan, Harga Cabai Kian Pedas

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga cabai berbagai jenis terus naik di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Pantauan Mandailing Online, di Pasar Baru Panyabungan, Jum’at (27/10/2023) harga merangkak naik dari kemarin. Kenaikan mencapai kisaran 4.000 Rupiah per kilogram (kg). Sejumlah pedagang menyatakan kenaikan dipicu durasi hujan yang tinggi. Jenis cabai merah sebelumnya Rp 40.000 per kg […]

  • Ima Madina : Kondisi Madina Makin Parah, Ridwan Rangkuti : Bupati Madina Harus Rangkul Semua Elemen

    Ima Madina : Kondisi Madina Makin Parah, Ridwan Rangkuti : Bupati Madina Harus Rangkul Semua Elemen

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Madina harus merangkul semua elemen agar roda pemerintahan sukses lima tahun ke depan. “Kalau tidak, yakinlah bupati dan wakil bupati akan kewalahan di masa mendatang,” kata Ketua Persatuan Advokad Indonesia Wilayah Tabagsel, Ridwan Rangkuti,SH.MH yang dilansir Malintang Pos, Sabtu (20/8/2016). “Saya pikir setelah mengamati selama hampir tiga bulan ini, langkah […]

expand_less