Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode

Akar Persoalan Keterpurukan Bangsa

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 26 Okt 2010
  • print Cetak

PERTANYAAN mendasar yang sering muncul ke permukaan adalah: apakah negara yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya 65 tahun lalu ini, benar-benar sudah merdeka? Merdeka dalam arti berdaulat dalam segala aspek kehidupan bernegara? Untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut, tentu kita harus melihat situasi global dan nasional saat ini. Situasi global saat ini ditandai pertarungan bangsa-bangsa dalam membangun pengaruh demi kepentingan ekonomi.
Setelah runtuhnya Uni Soviet sebagai panglima kubu sosialis, maka kubu kapitalis yang dikomandani Amerika Serikat semakin menunjukkan pengarunya di muka bumi ini. Dunia yang sekarang diwarnai perdagangan bebas, krisis energi, krisis pangan, dan krisis lingkungan hidup.
Perdagangan bebas yang dimotori negara-negara maju/industri melalui WTO, WB dan IMF, pada dasarnya adalah bagaimana agar produk industri dari negara-negara maju bisa disebarkan ke seluruh dunia dan bagaimana agar negara maju bisa mengeksploitasi kekayaan alam negara berkembang.

Era perdagangan bebas ditandai dengan kebutuhan energi yang semakin banyak. Sementara jumlah energi terbatas. Negara yang paling banyak menggunakan energi adalah Amerika Serikat, yakni sepertiga dari pemakaian energi di dunia. Untuk memenuhi kebutuhan dan cadangan energinya, maka berbagai penghisapan dilakukan terhadap negara penghasil minyak. Oleh sebab itu, negara adikuasa ini sangat berkepentingan terhadap negara penghasil minyak bumi, seperti negara-negara di Timur Tengah.

Perdagangan bebas hanya menguntungkan negara-negara industri. Sementara negara-negara berkembang selalu menjadi objek penindasan yang menyebabkan kemiskinan. Dari 6,6 miliar penduduk bumi, sekitar 925 juta penduduk terancam kelaparan. Dari jumlah tersebut, banyak terdapat di Indonesia, negara yang katanya subur tetapi rakyatnya lapar. FAO mencatat setiap 6 detik seorang anak mati kelaparan di jagad raya ini.

Eksploitasi alam yang berlebihan menyebabkan rusaknya lingkungan hidup. Salah satu akibatnya adalah pemanasan global. Sehingga negara-negara industri mengalihkan perhatian dan mengharapkan negara berkembang seperti Indonesia untuk menjaga hutannya. Ini adalah suatu ketidakadilan global.

Selain itu, isu terorisme semakin mendunia sejak peristiwa pemboman gedung WTC 11 September 2001. Terorisme pun akhirnya menjadi musuh dunia. Bahkan di Indonesia, isu ini terus menghiasi media.

Situasi Nasional
Adapaun berbagai persoalan yang mengakibatkan bangsa ini terus terpuruk. Di antaranya adalah aset-aset negara dikuasai asing (melalui privatisasi BUMN dan aset-aset strategis lainnya seperti minyak dan gas), pasar domestik dibanjiri produk asing (menggulung industri rakyat dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang tergantung pada asing).

Utang luar negeri semakin meningkat, kenaikan harga barang (tak terlepas dari kenaikan BBM dan TDL), krisis listrik (seringkali terjadi pemadaman listrik, khususnya di Jawa dan Bali), kemiskinan (sekitar 31 juta jiwa penduduk Indonesia hidup miskin, dan mayoritas tinggal di pedesaan), pengangguran (sekitar 8,59 juta penduduk usia kerja menganggur), kelaparan (sekitar 14,7 juta orang kurang gizi, khususnya di Indonesia bagian Timur, seperti di NTT).

Bencana alam (sesungguhnya akibat ekslpoitasi yang berlebihan), sawitisasi (pengalihfungsian lahan pertanian menjadi lahan kelapa sawit), kecelakaan transportasi, korupsi (baik di legislatif, eksekutif dan yudikatif), kekerasan (mengatasnamakan agama dan kelompok, serta kekerasan dari negara itu sendiri), aksi-aksi perampokan yang diduga dilakukan kelompok teroris, masalah perbatasan dengan negara tetangga, komersialisasi pendidikan (semakin memarjinalkan golongan menengah ke bawah), dan berbagai persoalan lainnya.

Akar Persoalan
Situasi yang terjadi sekarang di negara ini bukan kebetulan atau berdiri sendiri. Persoalan tersebut saling berhubungan dengan yang lain dan mempunyai hubungan kausalitas (sebab-akibat). Karena persolan sekarang adalah produk masa lalu. Ada beberapa hal yang menyebabkan bangsa ini tetap terpuruk.

Pertama, situasi nasional dikendalikan kepentingan kapitalisme global (negara maju). Metode penjajahan sekarang bukan lagi dengan kekuatan militer (senjata) melainkan melalui ekonomi (perdagangan). Dalam hal ini negara maju mengintervensi ekonomi Indonesia melalui pinjaman, perjanjian perdagangan, penanaman modal, dan relokasi industri

Kedua, kebijakan nasional mengikuti arus neoliberalisme. Segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia sudah dirasuki oleh neoliberalisme. Pendidikan, kesehatan, pertanian, energi, dan perdagangan telah diserahkan kepada pasar melalui pengurangan atau pencabutan subsidi.

Ketiga, perselingkuhan antara penguasa dengan pemodal. Pada umumnya penguasa berasal dari pengusaha, atau penguasa ditopang oleh pengusaha. Sehingga kekuasaan digunakan untuk mengembangbiakkan kepentingan modal dan melindungi para pemodal. Tentu yang menjadi tumbal adalah rakyat (buruh, petani, nelayan, dan kaum miskin kota).

Keempat, mandulnya penegakan hukum. Kepercayaan publik terhadap penegakan hukum semakin menurun. Hal ini karena aparat penegak hukum sendiri yang melanggar hukum. Koruptor dilindungi hukum, dengan hukuman yang seringan-ringannya, ditambah lagi remisi. Sementara rakyat kecil yang dihukum seberat-beratnya. Frustrasi masyarakat terhadap ketidakadilan hukum bisa jadi ditunjukkan dengan perilaku kekerasan.

Beberapa Pertanyaan
Dengan melihat situasi nasional, apakah negara ini masih berdaulat? Siapa yang diuntungkan atau berkepentingan dari situasi nasional saat ini? Jika situasi nasional tetap dipertahankan, negara ini mau ke mana? Apakah kita hanya diam atau menonton persoalan nasional? Bagaimana peran kita?***

Penulis adalah aktivis PRISMA (Perhimpunan Suluh Muda). (Jhon Rivel Purba)
Sumber : Medan Bisnis

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penerima Raskin Di Madina Berkurang

    Penerima Raskin Di Madina Berkurang

    • calendar_month Selasa, 24 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (MO) – Jumlah rumah tangga sasaran beras miskin berkurang di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Perubahannya dari total 35.548 Rumah Tangga Sasaran (RTS) menjadi 31.710 RTS. “Ini hasil pendataan BPS (Badan Pusat Statistik) dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan,” ungkap Kasubbag Produksi Pertanian Bagian Perekonomian Pemkab Madina, M.Z.Lubis kepada Mandailing Online, Senin (23/7). Penyaluran beras […]

  • Beasiswa Miskin Tahun 2015 Belum Cair?

    Beasiswa Miskin Tahun 2015 Belum Cair?

    • calendar_month Selasa, 19 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Beasiswa tahun 2015 untuk mahasiswa miskin asal Mandailing Natal sejauh ini belum dikatahui nasibnya. Pasalnya hingga Januari 2016 belum ada diterima mahasiswa peserta. Akibatnya, para mahasiswa kebingungan, ada apa gerangan, sudah bagaiamana nasib dana itu, karena sudah berganti tahun belum juga ada kabar. Beasiswa ini ditujukan kepada mahasiswa miskin berprestasi asal […]

  • Buang Sampah Tanpa Dipilah, Siap-Siap Didenda Rp100 Ribu

    Buang Sampah Tanpa Dipilah, Siap-Siap Didenda Rp100 Ribu

    • calendar_month Kamis, 11 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MALANG-: Warga Kota Malang, Jawa Timur, sekarang harus berhati-hati jika ingin membuang sampah. Membuang sampah rumah tangga dan industri tanpa dipilah antara sampah basah dan kering, siap-siaplah menerima denda sebesar Rp100 ribu. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang Wasto, Rabu (10/11), di Malang, mengatakan, meski belum memiliki tong sampah yang sudah terpilah bukan […]

  • PTPN IV DISOMASI

    PTPN IV DISOMASI

    • calendar_month Selasa, 2 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tenderkan Lahan Bermasalah PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PT. Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) Medan akan digugat ke pengadilan karena diduga telah menenderkan lahan yang bermasalah kepada kontraktor untuk Pekerjaan Tanaman Baru Kelapa Sawit Tahun 2012 di proyek Plasma Madina Paket II KUD Setia Budi. Gugatan ini akan dilayangkan tim advokad dari Kantor Advokat Law Office […]

  • Maret Berdarah di Sumatera Timur

    Maret Berdarah di Sumatera Timur

    • calendar_month Kamis, 24 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tanah itu tak luas. Ukurannya hanya sekitar 2 x 3 meter. Kondisinya tampak tak terurus. Rumput tumbuh sembarang. Lokasinya berada di halaman depan Masjid Raya Tuan Ahmadsyah, Tanjung Balai, sekitar empat meter dari bangunan masjid. Tak banyak orang yang tahu bahwa tanah tersebut adalah sebuah kuburan massal. Sebanyak 73 nama terpahat di nisan tersebut. Mereka […]

  • Perilaku Sebagian Elit di Negara Ini Menjijikkan

    Perilaku Sebagian Elit di Negara Ini Menjijikkan

    • calendar_month Minggu, 22 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA : Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI, Laode Ida mengatakan, perilaku sebagian elite pengambil dan pelaksana kebijakan di negeri ini sudah pada tingkat memalukan dan memuakkan. Ia mengatakan itu di Jakarta, Sabtu, 21 mei 2011 menyusul merebaknya sepak terjang salah satu kader dan petinggi partai penguasa, yang sering bermain uang serta kekuasaan. “Perilaku oknum […]

expand_less