Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 3)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 7 Feb 2017
  • print Cetak


Oleh: HARIS SUTAN LUBIS
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Willem Iskander

 

Dengan rasa kagum melihat keberanian dan kecekatan putra raja, kontelir akhirnya memberikan senjata itu sebagai hadiah. Dari cerita dapat dilihat betapa tanggung jawab merupakan sesuatu yang harus dijunjung tinggi apabila seseorang ditugaskan melakukan suatu pekerjaan. Di samping itu, cerita tersebut pun memberikan gambaran bahwa Willem Iskander ingin memperlihatkan kepada bangsa Belanda bahwa putra Indonesia memiliki harga diri yang boleh dipertaruhkan dengan nyawa sekalipun, daripada harus menanggung malu dan membuat kekeliruan dengan tidak bisa mengemban tugas yang telah dipercayakan kepadanya.

Cerita yang kedua berjudul, Amamate ni Alak na Lidang (Meninggalnya Orang yang Jujur) memiliki tema keagamaan. Cerita ini mengisahkan kepasrahan seseorang yang selama ini dikenal sebagai sangat jujur, dalam menerima kematian yang memang pasti datang pada setiap makhluk Allah. Kepasrahan yang didasari oleh kekuatan iman sang tokoh sebagai manusia beragama, memperlihatkan betapa pentingnya setiap orang untuk bersyukur terhadap apa-apa yang sudah diperolehnya selama ini di dunia, termasuk usia dan anak yang bakal ditinggalkannya. Kepasrahan itu ditandai lagi oleh kesadaran dan keyakinan yang kuat yang dilandasi oleh iman bahwa kehidupan di akhirat itu akan lebih menyenangkan dibandingkan di dunia, apabila selama hidupnya manusia itu selalu ingat dan bertaqwa kepada Allah SWT. Melalui cerita ini juga Willem Iskander secara jelas dan tegas mengingatkan manusia untuk tetap takut kepada Allah SWT, takut dalam arti untuk menjalankan perintah-Nya agar kelak dapat dapat hidup bahagia. Maka jelaslah bahwa pesan agar setiap manusia itu mempertebal keimanannya merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Cerita yang ketiga berjudul, Na Dangol Muda Na So Binoto (Sedih Kalau Tak Tahu) bertemakan pendidikan. Cerita ini mengisahkan seorang raja dari pulau P yang pergi mengunjungi rumah seorang Asisten Residen Belanda. Sewaktu ia bertemu, di rumah itu pun sedang ada beberapa orang kulit putih yang sedang berbincang-bincang dengan Asisten Residen. Sebagaimana kebiasaan terhidanglah segelas teh panas menyambut sang raja yang baru duduk dan raja pulau P belum pernah mendapatkan suguhan seperti itu. Oleh karena itu, iapun mulai bingung memikirkan bagaimana caranya meminum teh panas tersebut.

Dalam keadaan bingung dan malu untuk bertanya, maka diteguknya teh itu cepat-cepat. Melihat teh panas secepat itu direguk, sang pelayan pun kembali mengisikan minuman panas selanjutnya, karena mengira raja pulau P sangat haus. Raja pulau P yang melihat betapa cepatnya sang pelayanan mengisi kembali gelasnya, segera pula mereguk suguhan kedua tersebut, karena mengira memang begitulah aturan meminumnya. Kejadian itu berlangsung terus sampai tujuh gelas teh panas habis diteguk sang raja. Asisten Residen beserta kedua tamu menjadi bingung dan mereka berpikir betapa hausnya raja dari pulau P itu. Melihat itu sang raja minta ampun, sambil berkata, kalau memang raja pulau P telah berbuat kesalahan tolonglah diampuni dan kalau hendak dihukum tolonglah hukuman yang lain saja, karena perutnya sudah tak sanggup lagi menampung bergelas-gelas air panas. Mendengar komentar itu, tak tertahankan lagi bagi sang Asisten Residen, kedua tamu dan pelayannya untuk tertawa terbahak-bahak. Setelah mengetahui kesalahpahaman yang terjadi, sang Asisten Residen pun menjelaskan itu bukanlah hukuman, namun untuk melarang raja meminum dengan cara begitu, sang Asisten takut kalau-kalau raja akan malu.

Dari paparan itu dapat dilihat betapa sesatnya orang yang tidak tahu cara-cara bertamu dan berjamu. Oleh karena itu setiap sesuatu yang belum diketahui sebaiknya dipertanyakan dulu tanpa harus merasa malu untuk mengakui bahwa kita memang belum mengetahuinya. Di samping itu, melalui cerita ini Willem Iskander kelihatannya ingin menyindir pola hidup kaum bangsawan dulu yang kurang memperlihakan betapa pentingnya pendidikan itu, seperti mengetahui etika/tata pergaulan.

Cerita yang keempat berjudul, Pidong Garudo Bosar (Burung Garuda Besar) memiliki tema rasa tanggung jawab sesama makhluk. Cerita yang mengambil lokasi di daerah Eropa ini mengisahkan tiga orang abang beradik yang ingin mengambil burung garuda yang bersarang di lembah yang sangat curam. Usaha mengambil anak burung garuda ini ternyata mendapat perlawanan yang berarti dari induknya dan burung garuda lainnya, karena memang burung juga memiliki naluri untuk menjaga keselamatan anak-anaknya serta sesamanya. Hal itulah yang digambarkan Willem Iskander melalui cerita keempat ini yang hampir mengakibatkan kematian ketiga anak tersebut dari serangan burung garuda dan kawan-kawannya.

Cerita kelima dan keenam merupakan cerita yang bersambung yang berjudul, Tiruan ni Olong Ni Roa Marangka Maranggi (Contoh Kasih Sayang yang Bersaudara). Jelaslah temanya merupakan rasa kasih sayang sesama saudara. Cerita ini juga mengambil lokasi di Eropa dan menuju India. Ketegaran kasih sayang ini digambarkan ketika kandasnya sebuah kapal layar yang membawa beratus orang penumpang. Untuk menyelamatkan diri setelah kapal itu pecah, maka kapten kapal memerintahkan agar setiap sekoci yang tersedia dimuat dengan sembilan belas orang.

Namun keselamatan sekoci ini pun pada akhirnya tidak dapat dijamin, karena sudah mulai kekurangan bahan makanan, dan biasanya hanya dipersiapkan untuk empat orang penumpang. Maka diadakanlah perembukan dan akibatnya beberapa orang harus dijatuhkan ke laut. Ternyata di antara yang harus dibuang itu terdapat seorang lelaki yang memiliki seorang adik yang juga berada dalam sekoci dan tidak ikut untuk dibuang ke laut. Mengetahui sang abang akan dijadikan korban, sang adik dengan perasaan kasih sayang meminta agar ia saja yang menggantikan abangnya dengan alasan bahwa abangnya itu sudah berkeluarga, oleh karena itu harus memelihara kehidupan anak dan isterinya lagi. Melihat pengorbanan adiknya yang tulus itu, sang abang akhirnya merasa harus menghargai dan membuktikan kasih sayangnya.

Maka dengan alasan sang adik nantinya akan menggantikan kedudukannya sebagai kepala keluarga bagi anaknya, sang abang pun tetap berkeras hati untuk mencebur ke laut. Ketika hendak ia melompat, tiba-tiba saja sang adik mencegah dan secepatnya mencebur ke laut. Rupanya sang adik seorang yang sangat mahir berenang, maka dengan usaha yang gigih, sang adik terus saja berenang mengikuti sekoci, meskipun beberapa kali ditolong oleh sebuah kapal yang berlayar menuju India.

Cerita ketujuh dan kedelapanan berjudul, Na Binuat Tingon Barita ni Tuan Colombus (Yang Diambil dari Cerita Tuan Colombus) merupakan juga dua cerita yang bersambungan yang menceritakan kisah perjalanan Colombus, si penemu benua Amerika. Cerita yang bertemakan manfaat ilmu pengetahuan bagi kesejahteraan umat manusia ini mengisahkan keunggulan Colombus memanfaatkan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi.

Cerita yang kesembilan yang berjudul, Si Baroar, merupakan sebuah legenda Mandailing yang bertemakan, siapa yang melakukan/meniatkan kejahatan terhadap orang lain, biasanya orang itulah yang akan menemui celakanya. Cerita ini mengisahkan usaha pembunuhan yang direncanakan Raja Hutabargot Sutan Pulungan terhadap Si Baroar, dengan cara menjerumuskannya ke dalam sebuah lobang yang dipersiapkan. Namun sialnya ternyata anak Sutan Pulungan sendirilah yang menjadi korbannya, karena adanya kesalahpahaman.

Demikianlah telah diuraikan tema dan gambaran isi mengenai kesembilan prosa Willem Iskander tersebut. Kesembilan cerita itu pada dasarnya menitikberatkan pesan pada masalah pendidikan moral, keagamaan, kemanusiaan, kepahlawanan, dan ilmu pengetahuan.

Dengan menyimpulkan tema-tema yang diangkat oleh Willem Iskander melalui cerita tersebut dapat dilihat bahwa wawasan serta orientasi ide yang ditampilkannya benar-benar telah meninggalkan pandangan dan pola pikir masyarakat tradisional dalam konteks cipta sastra, sebagai salah satu tindak komunikasi dan kreatifitasnya dalam tradisi kesusasteraan daerah se Indonesia. Kalau dibandingkan dengan masalah-masalah yang diangkat oleh pengarang sezaman kesusasteraan Indonesia modern, maka apa yang dilakukan oleh Willem Iskander sebenarnya dapat mengikuti kesejajaran dari segi tema dan isinya.

Apabila ditinjau unsur-unsur yang terdapat di dalam kesembilan cerita Willem Iskander tersebut, maka hampir seluruh unsur cerita pendek ada di dalamnya, sehingga sangat berhasil membentuk bagan suatu cerita pendek sebagaimana dikenal kemudian di dalam kesusastraan Indonesia modern.

Pada unsur plot, dapat dilihat bagaimana Willem Iskander menyusun cara penceritaannya yang dimulai dari pelukisan keadaan (situation), keterkaitan peristiwa (generating circumtances) menuju kepada keadaan-keadaan terutama tertentu yang cukup memuncak (rising action), baru kemudian ke arah klimaks, dan diakhiri dengan penyelesaian ceritanya. Kalau diperhatikan secara seksama kesembilan cerita tersebut, maka secara konvensional Willem Iskander memakai hampir semua babakan yang dimaksud. (bersambung)


Sumber awal: LOGAT, JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Volume III No. 1 April Tahun 2007 (Halaman 18 – 25), lihat http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16669/3/log-apr2007-3%20(1).pdf.txt.

Sumber kedua : http://gondang.blogspot.co.id/search/label/puisi%20dan%20prosa%20lama

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prinsip Penyusunan APBD 2022 Terbaik Sepanjang Sejarah Madina

    Prinsip Penyusunan APBD 2022 Terbaik Sepanjang Sejarah Madina

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – APBD Kabupaten Madina TA 2022 disetujui oleh DPRD Madina pada rapat paripurna, Selasa (30/11/2021). Pembahasan APBD ini menjadi yang terbaik dalam sejarah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dari sisi prinsip dan progresnya sebagaimana yang dikehendaki undang-undang penyusunan APBD suatu daerah. Empat poin penting yang dikehendaki Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun […]

  • Warga Hanyut di Natal Belum Ditemukan

    Warga Hanyut di Natal Belum Ditemukan

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NATAL (Mandailing Online) – Hingga kini seorang warga yang hanyut di Natal belum ditemukan. Warga yang hanyut itu bernama Zein Bisri berumur sekira 45 tahun, penduduk Desa Setia Karya, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Dia hanyut terbawa arus sungai di titik muara Natal (muara Sungai Batang Natal), Minggu sore (19/12/2021) saat memeriksa kapal penangkap […]

  • Aktivis Sebut Saipullah Layak Pimpin Madina

    Aktivis Sebut Saipullah Layak Pimpin Madina

    • calendar_month Kamis, 3 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aktivis dan mantan ketua DPD Partai Berkarya Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Salman Rais menilai H. Saipullah Nasution layak dan tepat memimpin kabupaten paling selatan sumatera Utara ini lima tahun mendatang, karena memiliki kematangan memimpin birokrasi. “Bang Saipullah pulang kampung karena terpanggil untuk membenahi Kabupaten Madina ke arah yang lebih baik,” kata […]

  • Buta Aksara Sumut Tinggal 2,6%

    Buta Aksara Sumut Tinggal 2,6%

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) terus berupaya menurunkan persentase penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas. Terbukti, hingga saat ini tinggal 2,16% atau 150.511 jiwa penduduk Sumut buta aksara. Capaian dalam memberantas buta aksara di Sumut hingga tersisa 2,16% tersebut menjadi catatan penting yang dicapai Provinsi Sumut dalam memenuhi target deklarasi dakar […]

  • Beginilah Kronologis Penyerangan Kantor Polsek Hamparan Perak

    Beginilah Kronologis Penyerangan Kantor Polsek Hamparan Perak

    • calendar_month Rabu, 22 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rabu (22/9/2010) sekira pukul 00.30 WIB suasana hening menggelayuti kawasan Hamparan Perak, Deliserdang, Sumatera Utara. Sebagian besar warga telah tertidur lelap. Namun, tiba-tiba datang segerombolan orang menaiki delapan unit sepeda motor mendatangi kantor Polsek yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan 01, Hamparan Perak. Empat sepeda motor memasuki kawasan halaman polsek, sedangkan empat sepeda motor lagi […]

  • KSAD: Status Waspada jika Selisih Hasil Pilpres Kurang dari Lima Persen

    KSAD: Status Waspada jika Selisih Hasil Pilpres Kurang dari Lima Persen

    • calendar_month Minggu, 6 Jul 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TNI menyebut status waspada jika selisih suara hasil pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli besok antara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK hanya di bawah lima persen. "Kalau selisih nya dibawah lima persen kita waspada, kalau di atas lima persen aman," jelas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman usai menggelar teleconference bersama KPU, Bawaslu dan 17 Pangdam […]

expand_less