Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Masa Muda Rasululloh dan Tetes Keringat Buruh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2020
  • print Cetak

 

Oleh : Ivan Aulia Hasan

Hampir tidak ada riwayat dari sumber-sumber tradisional yang secara lengkap menggambarkan masa muda Nabi Muhammad. Kita memang mengetahui masa kecilnya sejak lahir hingga berusia kira-kira 8 tahun ketika ia mulai diasuh pamannya, Abu Talib bin Abdul Mutalib. Tapi periode setelah itu, di umur sekitar 12-20 tahun, gambaran yang kita dapatkan hanya sepotong-sepotong.

Pada periode tersebut ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Abu Talib. Sang paman menyayangi keponakannya yang yatim piatu itu seperti anak kandung sendiri.

Muhammad kecil pernah diajak pamannya berniaga hingga Syam (Siria). Kisah-kisah Nabi Muhammad hasil kompilasi sejarawan Persia Abu Ja’far al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk yang disusun pada abad ke-10 mengisahkan bahwa dalam suatu pemberhentian di Busra, seorang pendeta Kristen Nestorian bernama Bukhaira melihat tanda-tanda khusus pada diri Muhammad. Bukhaira meramalkan Muhammad kelak akan menjadi nabi dan meminta Abu Talib untuk melindungi keponakannya.

Riwayat-riwayat menyebutkan pula bahwa Nabi Muhammad tumbuh sebagai remaja tampan yang rendah hati. Tapi bukan keistimewaannya. Ia dikenal seantero Makkah sebagai pemuda jujur yang bisa dipercaya siapapun. Dari kualitas pribadi macam itulah kemudian muncul panggilan “al-amin” untuknya. Julukan tersebut bermakna “ia yang bisa dipercaya”.

Abu Talib memiliki delapan anak kandung. Ditambah satu keponakannya, berarti ia harus bertanggung jawab untuk memberi nafkah sembilan anak. Ini barangkali agak berat baginya sebab ia bukan orang yang kaya raya.

Karena itu, ketika Muhammad sudah cukup umur untuk bekerja, ia merasa harus membantu meringankan beban pamannya. Di masa itu salah satu harta paling berharga dari klan-klan di Makkah adalah kepemilikan kambing. Para pemilik kambing butuh penggembala agar hewan ternak mereka bisa memperoleh rumput dengan teratur. Anggota-anggota klan lazimnya mempekerjakan anak muda untuk menggembalakan kambing-kambing itu.

Muhammad kemudian menjadi seorang penggembala yang merawat kambing-kambing baik milik keluarganya maupun milik keluarga lain. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan upah sekadarnya. Upah yang ia peroleh kemudian diserahkan kepada pamannya. Abu Talib sangat bersyukur mempunyai keponakan yang baik hati.

Salah satu biografer Nabi Muhammad dari zaman modern yang secara agak dramatis menceritakan periode penggembalaan ini adalah Muhammad Husain Haekal. Dalam Sejarah Hidup Muhammad (pertama kali diterbitkan di Mesir pada 1935), Haekal mengisahkan babak kehidupan tersebut dengan penuh romantisme.

“Pada siang hari, di tengah udara dan suasana yang agak bebas, serta di bawah paparan sinar matahari, dan di malam hari ditemani kemilau bintang-bintang, penggembala kambing berhati suci itu menemukan tempat yang tepat untuk berpikir dan merenung. Muhammad menerawang jauh di tengah suasana alam seperti itu dan berharap dapat melihat sesuatu di balik semua itu,” urai Haekal (hlm. 140).

Interpretasi Haekal mengarah kepada gagasan bahwa Nabi Muhammad mulai merenungi secara mendalam hal-hal ketuhanan, tanda-tanda alam, dan spiritualitas ketika ia menggembalakan kambing. Haekal juga mencatat Nabi Muhammad selalu berbangga dengan pekerjaannya sebagai penggembala.

“Musa diutus, dan dia adalah penggembala kambing. Daud diutus, dan ia adalah penggembala kambing. Aku diutus, dan aku juga seorang penggembala kambing,” ujar sang Nabi dalam sebuah hadis.

Bekerja Untuk Khadizah

Ketika usia Muhammad semakin dewasa, ia tampaknya harus mencari pekerjaan lain yang bisa mendatangkan upah lebih besar. Bagaimanapun, kebutuhan keluarga Abu Talib semakin bertambah.

Secara kebetulan, ketika Muhammad sedang mencari profesi baru, seorang saudagar kaya Makkah tengah membutuhkan pekerja. Khadijah, saudagar itu, adalah pemilik usaha perdagangan kain yang menjual barang-barangnya hingga ke kota-kota yang jauh. Ia sendiri tidak turun langsung sebagai kafilah. Khadijah mempekerjakan orang untuk berniaga.

Abu Talib mengenal saudagar itu dengan sangat baik sejak dahulu sebelum suami Khadijah meninggal. Abu Talib lalu mendatangi rumah Khadijah dan menawarkan kepadanya apakah ia bersedia menerima Muhammad bekerja.

Khadijah juga mengenal Muhammad. Perempuan itu tahu reputasi Muhammad sebagai al-amin dan menaruh respek kepadanya. Karena itu, ketika Abu Talib meminta upah dua kali lipat lebih tinggi untuk Muhammad, Khadijah tak menolaknya. Maka demikianlah, mulai saat itu Muhammad bekerja kepada Khadijah dan memperdagangkan kain-kainnya ke luar kota.

Tugas pertama Muhammad adalah berniaga ke Syam. Ia ditemani seorang budak perempuan bernama Maisaroh untuk membantunya selama perjalanan. Pekerjaan ini sukses besar. Dagangan milik Khadijah laku keras.

“Dengan kejujuran dan kecakapannya, Muhammad mampu menjalankan amanat Khadijah. Bahkan, beliau mampu mendapat keuntungan yang jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang lain yang pernah bekerja untuk Khadijah,” catat Haekal (hlm. 145).

Atas informasi dari Maisaroh, Khadijah mendengar betapa jujur Muhammad dalam berniaga. Orang-orang yang membeli dagangannya juga terkesan dengan kerendahan hati lelaki muda dari Makkah itu. Khadijah rupanya jatuh cinta kepada Muhammad, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua kemudian menikah dan sisanya adalah sejarah.

Jika ditafsirkan dengan perspektif modern, hubungan kerja antara Khadijah dan Muhammad adalah relasi pemilik modal dengan buruh. Dalam sumber-sumber tradisional Islam memang tidak diceritakan apakah sistem kerja tersebut berupa pengupahan atau bagi hasil. Tapi yang jelas, Muhammad mendapatkan timbal balik atas pekerjaannya (dalam sebuah riwayat disebut berupa empat ekor unta).

Dalam konteks hubungan kerja itu, Muhammad hanya memiliki tenaga dan tidak menguasai alat-alat produksi; sementara Khadijah mempunyai kapital. Sehingga bisa dikatakan, saat itu Muhammad-si-pemilik-tenaga bekerja untuk Khadijah-si-pemilik-modal.

Dari seseorang yang pernah berpeluh sebagai buruh itulah kemudian muncul kalimat menggetarkan: “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering.”***

Dicopy dari Torto.id

Mandailing Online telah merubah judul asli tulisan di Tirto.id : “Nabi Muhammad Merasakan Tetes Keringat sebagai Buruh & Penggembala”

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lagi, Pemerintah Berulah Terhadap Ormas Islam!

    Lagi, Pemerintah Berulah Terhadap Ormas Islam!

    • calendar_month Minggu, 3 Jan 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Langkah pemerintah menyatakan Front Pembela Islam (FPI) sebagai ormas terlarang memicu polemik. Prokontra pun mengemuka menyikapi pembubaran ormas yang dipimpin Habib Rizieq Shihab itu. Politikus Partai Demokrat, Rachland Nashidik menilai cara pemerintah “menggebuk” FPI membahayakan hak konstitusi warga negara Melalui Twitternya, Rachland mendilai pemerintah telah mengambil […]

  • Ranto Panjang Minta Rambin Diganti Jembatan

    Ranto Panjang Minta Rambin Diganti Jembatan

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    Manisak (Mandailing Online) – Warga Desa Ranto Panjang, Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) meminta rambin yang ada di desa ditu diganti dengan jembatan besi. Kondisi jembatan rambin yang menghungkan Desa Ranto Panjang dengan dengan Desa Tandike dan Desa Sampuran ini sangat rawan terjadi kecelakaan, karena sudah rapuh dan sering anak-anak sekolah yang melintas […]

  • Batu Bara Fokus Terima Tenaga Teknis & Guru

    Batu Bara Fokus Terima Tenaga Teknis & Guru

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang direncanakan pada bulan November ini, Pemkab Batu Bara lebih memfokuskan usulan formasi untuk tenaga teknis dan guru. “Untuk formasi CPNS Batu Bara yang telah kita ajukan ke Menpan lebih dominan formasi teknis dan guru. Di mana saat ini kita masih kekurangan tenaga teknis dan guru,” kata Kepala […]

  • Distan Palas Panen Kedelai di Lahan Tiga Poktan

    Distan Palas Panen Kedelai di Lahan Tiga Poktan

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Padang Lawas (Palas) melakukan panen kedelai di lahan tanaman kedelai yang dikelola oleh tiga Kelompok Tani (Poktan) seluas 30 Ha, di Desa Botung, Kecamatan Batang Lubu Sutam (Balutam), Selasa (30/9). Ketiga Poktan tersebut yakni Poktan Bersama, Poktan Garingging dan Poktan Makmur Jaya. Poktan tersebut merupakan dampingan Distan Palas, peserta program […]

  • Warga Hutarimbaru Tolak Tirta Madina

    Warga Hutarimbaru Tolak Tirta Madina

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Desa Hutarimbaru Kecamatan Kotanopan menolak Aek Garingging sebagai sumber pengambilan air untuk perusahaan daerah air bersih Tirta Madina. Alasan warga, jangankan untuk Tirta Madina, untuk kepentingan pengairan areal persawahan petani saja debit air Aek Garingging masih kurang, apalagi jika musim kemarau. Salah seorang tokoh masyarakat Desa Hutarimbaru, M. Darwin menjelaskan […]

  • SURAT MARYAM MENGGUGAHKU UNTUK MASUK ISLAM

    SURAT MARYAM MENGGUGAHKU UNTUK MASUK ISLAM

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    “Entahlah, jika temanku tidak pernah memberikanku sebuah al-Qur’an terjemahan, mungkin aku akan tersesat selamanya. Sebab, melalui al-Qur’an inilah aku menemukan setetes hidayah yang aku cari selama ini. Di sini akhirnya aku temukan sebuah kebenaran bahwa Isa bukanlah Tuhan, tapi hanya seorang Nabi.” Demikian pengakuan Ahmad Beben, laki-laki keturunan Tionghoa yang kemudian masuk Islam setelah mem­baca […]

expand_less