Minggu, 6 Sep 2026
light_mode

Masa Muda Rasululloh dan Tetes Keringat Buruh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2020
  • print Cetak

 

Oleh : Ivan Aulia Hasan

Hampir tidak ada riwayat dari sumber-sumber tradisional yang secara lengkap menggambarkan masa muda Nabi Muhammad. Kita memang mengetahui masa kecilnya sejak lahir hingga berusia kira-kira 8 tahun ketika ia mulai diasuh pamannya, Abu Talib bin Abdul Mutalib. Tapi periode setelah itu, di umur sekitar 12-20 tahun, gambaran yang kita dapatkan hanya sepotong-sepotong.

Pada periode tersebut ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Abu Talib. Sang paman menyayangi keponakannya yang yatim piatu itu seperti anak kandung sendiri.

Muhammad kecil pernah diajak pamannya berniaga hingga Syam (Siria). Kisah-kisah Nabi Muhammad hasil kompilasi sejarawan Persia Abu Ja’far al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk yang disusun pada abad ke-10 mengisahkan bahwa dalam suatu pemberhentian di Busra, seorang pendeta Kristen Nestorian bernama Bukhaira melihat tanda-tanda khusus pada diri Muhammad. Bukhaira meramalkan Muhammad kelak akan menjadi nabi dan meminta Abu Talib untuk melindungi keponakannya.

Riwayat-riwayat menyebutkan pula bahwa Nabi Muhammad tumbuh sebagai remaja tampan yang rendah hati. Tapi bukan keistimewaannya. Ia dikenal seantero Makkah sebagai pemuda jujur yang bisa dipercaya siapapun. Dari kualitas pribadi macam itulah kemudian muncul panggilan “al-amin” untuknya. Julukan tersebut bermakna “ia yang bisa dipercaya”.

Abu Talib memiliki delapan anak kandung. Ditambah satu keponakannya, berarti ia harus bertanggung jawab untuk memberi nafkah sembilan anak. Ini barangkali agak berat baginya sebab ia bukan orang yang kaya raya.

Karena itu, ketika Muhammad sudah cukup umur untuk bekerja, ia merasa harus membantu meringankan beban pamannya. Di masa itu salah satu harta paling berharga dari klan-klan di Makkah adalah kepemilikan kambing. Para pemilik kambing butuh penggembala agar hewan ternak mereka bisa memperoleh rumput dengan teratur. Anggota-anggota klan lazimnya mempekerjakan anak muda untuk menggembalakan kambing-kambing itu.

Muhammad kemudian menjadi seorang penggembala yang merawat kambing-kambing baik milik keluarganya maupun milik keluarga lain. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan upah sekadarnya. Upah yang ia peroleh kemudian diserahkan kepada pamannya. Abu Talib sangat bersyukur mempunyai keponakan yang baik hati.

Salah satu biografer Nabi Muhammad dari zaman modern yang secara agak dramatis menceritakan periode penggembalaan ini adalah Muhammad Husain Haekal. Dalam Sejarah Hidup Muhammad (pertama kali diterbitkan di Mesir pada 1935), Haekal mengisahkan babak kehidupan tersebut dengan penuh romantisme.

“Pada siang hari, di tengah udara dan suasana yang agak bebas, serta di bawah paparan sinar matahari, dan di malam hari ditemani kemilau bintang-bintang, penggembala kambing berhati suci itu menemukan tempat yang tepat untuk berpikir dan merenung. Muhammad menerawang jauh di tengah suasana alam seperti itu dan berharap dapat melihat sesuatu di balik semua itu,” urai Haekal (hlm. 140).

Interpretasi Haekal mengarah kepada gagasan bahwa Nabi Muhammad mulai merenungi secara mendalam hal-hal ketuhanan, tanda-tanda alam, dan spiritualitas ketika ia menggembalakan kambing. Haekal juga mencatat Nabi Muhammad selalu berbangga dengan pekerjaannya sebagai penggembala.

“Musa diutus, dan dia adalah penggembala kambing. Daud diutus, dan ia adalah penggembala kambing. Aku diutus, dan aku juga seorang penggembala kambing,” ujar sang Nabi dalam sebuah hadis.

Bekerja Untuk Khadizah

Ketika usia Muhammad semakin dewasa, ia tampaknya harus mencari pekerjaan lain yang bisa mendatangkan upah lebih besar. Bagaimanapun, kebutuhan keluarga Abu Talib semakin bertambah.

Secara kebetulan, ketika Muhammad sedang mencari profesi baru, seorang saudagar kaya Makkah tengah membutuhkan pekerja. Khadijah, saudagar itu, adalah pemilik usaha perdagangan kain yang menjual barang-barangnya hingga ke kota-kota yang jauh. Ia sendiri tidak turun langsung sebagai kafilah. Khadijah mempekerjakan orang untuk berniaga.

Abu Talib mengenal saudagar itu dengan sangat baik sejak dahulu sebelum suami Khadijah meninggal. Abu Talib lalu mendatangi rumah Khadijah dan menawarkan kepadanya apakah ia bersedia menerima Muhammad bekerja.

Khadijah juga mengenal Muhammad. Perempuan itu tahu reputasi Muhammad sebagai al-amin dan menaruh respek kepadanya. Karena itu, ketika Abu Talib meminta upah dua kali lipat lebih tinggi untuk Muhammad, Khadijah tak menolaknya. Maka demikianlah, mulai saat itu Muhammad bekerja kepada Khadijah dan memperdagangkan kain-kainnya ke luar kota.

Tugas pertama Muhammad adalah berniaga ke Syam. Ia ditemani seorang budak perempuan bernama Maisaroh untuk membantunya selama perjalanan. Pekerjaan ini sukses besar. Dagangan milik Khadijah laku keras.

“Dengan kejujuran dan kecakapannya, Muhammad mampu menjalankan amanat Khadijah. Bahkan, beliau mampu mendapat keuntungan yang jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang lain yang pernah bekerja untuk Khadijah,” catat Haekal (hlm. 145).

Atas informasi dari Maisaroh, Khadijah mendengar betapa jujur Muhammad dalam berniaga. Orang-orang yang membeli dagangannya juga terkesan dengan kerendahan hati lelaki muda dari Makkah itu. Khadijah rupanya jatuh cinta kepada Muhammad, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua kemudian menikah dan sisanya adalah sejarah.

Jika ditafsirkan dengan perspektif modern, hubungan kerja antara Khadijah dan Muhammad adalah relasi pemilik modal dengan buruh. Dalam sumber-sumber tradisional Islam memang tidak diceritakan apakah sistem kerja tersebut berupa pengupahan atau bagi hasil. Tapi yang jelas, Muhammad mendapatkan timbal balik atas pekerjaannya (dalam sebuah riwayat disebut berupa empat ekor unta).

Dalam konteks hubungan kerja itu, Muhammad hanya memiliki tenaga dan tidak menguasai alat-alat produksi; sementara Khadijah mempunyai kapital. Sehingga bisa dikatakan, saat itu Muhammad-si-pemilik-tenaga bekerja untuk Khadijah-si-pemilik-modal.

Dari seseorang yang pernah berpeluh sebagai buruh itulah kemudian muncul kalimat menggetarkan: “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering.”***

Dicopy dari Torto.id

Mandailing Online telah merubah judul asli tulisan di Tirto.id : “Nabi Muhammad Merasakan Tetes Keringat sebagai Buruh & Penggembala”

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota Koramil 14 Kotanopan Bantah Terlibat Tambang Emas Ilegal Dikawasan TMBG Madina

    Anggota Koramil 14 Kotanopan Bantah Terlibat Tambang Emas Ilegal Dikawasan TMBG Madina

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Madina-Mandailing Online : anggota Koramil 14 Kotanopan inisial DT dan M membantah keras memback up atau terlibat dalam aktifitas tambang emas ilegal  yang ada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) wilayah desa Batahan Kecamatan Kotanopan, Madina. Kepada wartawan, DT dan M menjelaskan informasi yang diterima redaksi dalam pemberitaan menyebut dugaan keterlibatan oknum anggota koramil […]

  • Polres Periksa Kadis Kesehatan Madina

    Polres Periksa Kadis Kesehatan Madina

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal (Madina) telah periksa Kepala Dinas Kesehatan Madina, Drg.Ismail Lubis kasus dugaan penghinaan terhadap wartawan tanggal 18 September 2014 di Kantor Dinas Kesehatan. Demikian disampaikan Kapolres Madina, AKBP.Mardiaz K.D,S.Ik,M.Hum kepada Wartawan di ruang kerjanya, Rabu (22/10/2014). Drg.Ismail Lubis diperiksa sebagai saksi. Kapolres menjelaskan, kasus dugaan penghinaan terus ditingkatkan dan […]

  • Catatan 26 Tahun Madina: Pendekatan Sejarah, Soiologi, Antropologi, dan Kultural

    Catatan 26 Tahun Madina: Pendekatan Sejarah, Soiologi, Antropologi, dan Kultural

    • calendar_month Sabtu, 15 Mar 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Budayawan Mandailing Askolani Nasution menyampaikan catatan ringkas di Focus Grup Discussion yang diselenggarakan KNPI Mandaiiling Natal di D’San Hotel, Panyabungan, Jum’at (14/3/2025). Askolani melihat peluang pembangunan Mandailing Natal berdasar potensi kultural dan alamnya, namun pemerintah justru mengabaikannya. Padahal, menurut Askolani, sejarah Mandailing Natal (Madina) adalah sejarah gemilang pada masa lalu. Belasan kerajaan besar menancapkan pengaruhnya […]

  • Disdik Madina kutip dana sertifikasi?

    Disdik Madina kutip dana sertifikasi?

    • calendar_month Senin, 24 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Keterbukaan Informasi Publik (KIP) di jajaran pegawai negeri sipil (PNS) Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sangat tertutup. Apalagi, terkait kasus dugaan pengutipan dana sertifikasi, insentif dari gubernur dan dan non sertifikasi kepada guru. Sehingga terkesan terciptanya sarang korupsi. Salah seorang guru yang telah bersertifikasi, mengungkapkan pada awalnya mereka tidak setuju adanya […]

  • Saipullah Santuni 127 Yatim di 6 Desa Kawasan Panyabungan

    Saipullah Santuni 127 Yatim di 6 Desa Kawasan Panyabungan

    • calendar_month Sabtu, 12 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Saipullah Nasution kembali menyantuni anak yatim. Kali ini sebanyak 127 anak yatim yang tersebar di enam desa di Kecamatan Panyabungan mendapat santunan dari Saipullah pada Sabtu (12/10/2024). Wajah anak-aanak-anak yatim tampak ceria menyambut kedatangan Saipullah. Untuk Desa Panyabungan Julu, anak yatim berkumpul […]

  • Harga Sayur Mayur di Madina Turun

    Harga Sayur Mayur di Madina Turun

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam beberapa hari terakhir harga berbagai jenis sayuran di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengalami penurunan. Penurunan antara Rp.500 hingga Rp.2.000/ ikat dan / kg. Pantauan wartawan di Pasar Baru Panyabungan, Rabu (26/3/2014) turunya harga diakibatkan menumpuknya pasokan pedagang. “Harga sayuran turun, karena kita masih banyak memiliki stok […]

expand_less